
Hari ini merupakan hari yang begitu membahagiakan bagi keluarga Nichol. Pasalnya Tuan muda ke dua yang paling mereka sayangi akhirnya ada sedikit kemajuan dan semua itu berkat gadis cantik Abila yang merubah dirinya menjadi Adira.
"sayang...kau harus makan yang banyak dan minum obat yang teratur ." pinta Abila lembut.
"aku sudah kenyang sayang... aku sudah muak setiap hari harus meminum obat itu." tolak Jovin.
Abila menghela nafas, begitu kesal kenapa pemuda ini begitu manja seperti bayi? batinya. Akhirnya mau tak mau Abila mencoba membujuknya lagi.
"jadi kau tidak ingin sembuh ya... hah! aku sedih sekali, padahal aku sangat ingin kau sembuh dan kita jalan-jalan bersama." rajuk Abila.
"baiklah-baiklah.... semua ini karena mu sayang, aku ingin cepat sembuh dan kembali mengajak mu jalan-jalan seperti dulu." Akhirnya Jovin mau meminum obat nya, tak lama pemuda itu tertidur karena efek obat yang baru saja di minumnya. Setelah nya Abila bisa bernafas lega dan kembali pulang.
Abila menuruni lift , dan menuju ruang utama untuk berpamitan pulang kepada sang Tuan rumah, sekaligus meminta Johan untuk mengantarkan nya pulang.
"permisi Tuan... Nyonya, saya ingin meminta ijin pulang." ucapnya sopan.
"ah....Abila em.. maaf maksud ku Adira, kesini sebentar nak...." pinta Nyonya Nichol, sebenarnya keluarga itu begitu ramah, hanya saja terkadang bersikap terlalu dingin terhadap orang asing. Namun sekarang Abila bukan orang asing lagi bagi keluarga Nichol.
"i...iya Nyonya, maaf ada apa? apa saya berbuat salah?." tanya Abila takut.
"tidak nak, justru kami ingin berterima kasih kepada mu karena sudah mengembalikan senyuman putra kesayangan kami." ucap Nyonya Nichol begitu tulus.
Abila tersenyum malu.
"i..itu sudah tugas saya Nyonya." jawab Abila.
Mereka pun berbincang-bincang cukup lama, hingga pada akhirnya Johan memutuskan untuk mengantarkan Abila pulang.
Sesampainya di rumah, lebih tepatnya Apartemen yang di berikan Johan. Sebenarnya Abila sudah menolaknya namun Johan tetap bersikeras memberikan nya pada Abila, jadi nya ia menurut saja. Abila langsung menuju kamar nya tanpa mengganti baju ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.
Tubuhnya terasa begitu letih, kakinya seperti ingin lepas dari tempat nya karena terlalu lama memakai sepatu hak tinggi, belum lagi ia harus berjalan kesana-kemari mengambilkan semua kebutuhan Jovin, rasa ia seperti seorang Baby Sister untuk seorang bayi besar.
"ah....lelah sekali, padahal ini baru satu hari aku bekerja, pokoknya aku harus ekstra membantu penyembuhan Tuan muda itu. Agar dia cepat sembuh dan aku terbebas dari pekerjaan menyebalkan ini." gumam Abila, tak lama ia memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas.
Keesokkan harinya, Jovin terbangun dari tidurnya. Membuka kedua mata dan mencoba mengumpulkan semua ingatan nya. Dan ia mulai teringat sesuatu, dengan cepat Jovin menuruni kasur nya melepas selang infus dari tangannya dan berlari sembari berteriak.
__ADS_1
"Adira.....Adira... dimana kau sayang... Adira."
Suara Jovin mengagetkan seluruh anggota keluarga nya, hingga tanpa menunggu lama semua orang menuju ke kamar Jovin.
"Jovin...kau kenapa Nak? tenangkan dirimu." Tuan Nichol memeluk tubuh Jovin erat , berharap anak itu bisa tenang.
"Daddy....dimana Adira Dad.. cepat cari dia, aku tak ingin kehilangan dirinya lagi." racau Jovin , keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya.
Johan hanya bisa mengurut pangkal hidung nya, tak habis fikir dengan kelakuan gila Adik kesayangan nya ini.
"Jo... tenanglah , sebentar lagi Adira akan kembali kesini." ucap nya.
"tidak ...Kakak pasti berbohong." sahut Jovin tak percaya.
Tak berapa lama masuklah seorang gadis yang sedari tadi menjadi perbincangan hangat di keluarga itu.
"maaf... ada apa ini?." tanya gadis itu tak lain adalah Abila.
Semua atensi mata melihat ke arahnya tak terkecuali Jovin, pemuda itu langsung berlari dan menerjang tubuh Abila . Memeluk nya begitu erat hingga gadis itu hampir limbung.
Abila merasa begitu kesal dengan kelakuan pemuda ini, tapi ia mencoba sesabar mungkin untuk menghadapinya.
"sayang... tenang lah, aku tak mungkin meninggalkan mu, aku menyayangi mu. Percaya padaku." ucap Abila seraya menatap lembut wajah Jovin.
Jovin mengecup bibir Abila singkat, membuat gadis itu terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak, terkejut hingga rasanya dunia nya berhenti berputar. Begitu pula dengan para anggota keluarga yang lain mereka begitu syok, sejak kapan Jovin berani melakukan itu di depan keluarganya. Bahkan dulu dengan Adira pun ia belum pernah melakukan nya.
Beberapa saat kemudian munculah Dokter Jeni, menyadarkan keterkejutan mereka semua.
"maaf...apa aku mengganggu kalian Tuan dan Nyonya? ." tanyanya bingung melihat ekspresi blank anggota keluarga itu.
"ah tidak Dokter, ..." sahut Nyonya Nichol canggung.
"baiklah Tuan muda, aku harus memeriksa keadaan Tuan." pinta Dokter Jeni, dan di balas anggukan oleh Jovin.
Jovin pergi menuju kamar nya bersama Dokter dan juga kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Johan dan Abila di ruangan itu.
"Tuan... kau bilang tidak ada sentuhan, tadi itu apa ha... Adikmu mencium ku. Astaga, ciuman pertama ku sudah hilang. Padahal aku ingin yang mencium bibir ku yang pertama kali adalah cinta sejatiku kelak. Tapi sekarang sudah di ambil orang lain." ucap Abila sambil mengelus bibir cherry nya.
Johan jadi gemas melihat tingkah Abila, kepolosan gadis itu membuat nya selalu ingin tertawa.
"hanya kecupan saja bukan ciuman, jangan panik seperti itu." goda Johan.
Abila melirik Johan dengan tatapan tajam seolah meminta penjelasan tentang ucapan nya tadi.
"apa kau bilang tadi ha?... dasar mesum." gerutu Abila, sambil pergi meninggalkan Johan dengan menghentak-hentakan kakinya.
Johan sudah tertawa terbahak-bahak, sangat menyenangkan menggoda gadis itu. Batinya.
Abila duduk di samping Jovin sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Pemuda itu.
"makan yang banyak hm... agar kau cepat sembuh dan aku bebas dari jeratan mu." batin Abila di akhir kalimat nya.
"asal kau yang merawat ku , aku janji akan cepat sembuh dan segera melamar mu." ucap Jovin di sela mengunyah nya.
Abila merinding mendengar ucapan pemuda itu. Sampai-sampai sendok bubur yang di pegang nya ikut bergetar.
"sayang... kenapa kau bergetar? a.. apa kau sakit?." tanya Jovin panik.
"ti.. tidak, aku hanya belum sarapan tadi." ucapnya reflek.
Astaga dasar mulut sialan, apa yang aku ucapkan barusan. Kenapa memalukan sekali dasar otak bodoh. Bisa-bisanya aku mengucap alasan konyol di depan orang kaya.
Abila menggigit bibirnya, merutuki kekonyolan nya yang selalu saja datang tidak mengerti situasi.
Jovin terkekeh melihat kelucuan kekasih nya. Sejak kapan kekasihnya bersikap menggemaskan seperti ini? setahunya dulu Adira adalah sosok yang selalu menjaga image . ah! mungkin karena sudah terlalu lama tidak bertemu jadi ia banyak berubah. Batin Jovin.
"astaga sayang.... kenapa tidak bilang dari tadi jika kau lapar. Ayo biar aku suapi juga." ucap Jovin sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Abila.
Dengan berat hati Abila menerima suapan bubur yang di berikan oleh Jovin. Sambil bersumpah serapah dalam hati nya.
__ADS_1
kenapa jadi aku yang kena batunya, harus nya yang memakan buburnya kau Jovin . Kenapa jadi aku ha..? dasar pemuda sialan.