
Di sebuah Mansion megah, tempat di mana seorang pemuda tampan tinggal, bersama dengan tiga anggota keluarga lainnya. Pagi ini terlihat begitu kacau, pasalnya sudah hampir dua tahun lamanya putra kedua dari keluarga Harold yang bernama Mark Harold, tengah mengalami gangguan jiwa, depresi berat. Semua itu dimulai dari hilangnya sosok gadis yang diketahui bernotaben sebagai kekasih dari pemuda tersebut secara tiba-tiba, beberapa tahun silam. Dan sampai sekarang pun belum juga ada petunjuk di mana gadis itu berada. Roger Harold, selaku kakak dari pemuda bernama Mark Harold, begitu terpukul melihat adik kesayangannya terlihat begitu mengenaskan. Setiap harinya hanya mengamuk dan meraung memanggil sosok gadis yang diketahui bernama Hazly. Sungguh, Roger sangat malas hanya sekedar menyebut namanya saja. Seperti hari ini, Mark kembali mengamuk dengan membanting seluruh benda yang ada di dekatnya. Melepas semua alat perawatan medis yang menempel pada bagian tubuhnya. BRAKKK!!! PRANGGG!!! Suara benda pecah itu seakan sudah menjadi alunan melodi musik di waktu pagi, di setiap harinya. Roger hampir frustasi, ia bingung bagaimana cara menanggulangi adik kesayangannya ini. Bahkan kedua orang tuanya pun sudah mendatangkan berbagai dokter psikolog handal, untuk bisa menyembuhkan putranya tersebut. Namun, hingga sekarang hasilnya tetap lah nihil tak ada perkembangan. Mark terus saja memberontak dan berteriak memanggil nama sosok gadis yang tak lain adalah Hazly. Roger sampai heran dibuatnya, sebenarnya mantra apa yang sudah gadis itu berikan kepada adiknya tersebut, hingga membuatnya nyaris gila seperti ini. Padahal setahu Roger, Mark juga belum pernah menyentuh gadis itu, atau mungkin hanya sebatas memeluk dan menciumnya saja. "Mark! Sadarlah. Jangan seperti ini! Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Ku mohon, hentikan Mark! Aku menyayangimu, kau tidak sendiri. Masih ada aku dan juga mommy, daddy." ucap sang kakak, seraya merangkul tubuh ringkih adiknya agar berhenti memberontak. "Semua orang yang kau suruh untuk mencari Hazly, semuanya bodoh, Kak! Kenapa mereka tidak bisa menemukan Hazly-ku? Kenapa Kak? Atau mungkin Kakak tidak pernah mencarinya. Iya, kan Kak? Jawab Kak!" racau Mark, mengguncang tubuh kakaknya. Seakan sudah bosan dengan pertanyaan Mark yang setiap hari tetaplah sama. Nama gadis itu yang selalu keluar dari bibir pucat pemuda tersebut. Roger memilih diam. Roger meraup wajahnya kasar, seraya bergumam. "Sadarlah Mark, sampai kapan kau akan begini, sampai kapan kau tetap di butakan oleh gadis itu? Andai saja kau tau, bahwa gadis itu tak lebih dari seorang ******, yang mendekatimu hanya sekedar menginginkan hartamu saja. Aku ingin memberi tau mu. Namun aku yakin, kau tak akan mudah untuk percaya. Cepatlah sembuh agar kau bisa melihat kebenarannya dengan mata kepala mu sendiri." "Aku berjanji akan menemukan Hazly secepatnya, asalkan kau juga harus berjanji padaku, kau harus mau menjalani perawatan dan segera sembuh," tutur Roger, sambil mengelus pucuk rambut adiknya yang mulai terlihat memanjang. "Kakakmu benar Mark, kau harus mau menjalani perawatan, apa kau mau melihat kekasihmu kabur lagi? Saat dia kembali dan melihat dirimu seperti mayat hidup begini, hm?" bujuk dokter wanita yang diketahui Jizi itu, selaku dokter pribadi di keluarga Harold. Sekaligus wanita terdekat dari Roger Harold. Belum ada yang tau tentang hubungan mereka, karena mereka masih belum yakin, akan hubungan keduanya yang masih terbilang abu-abu. "Benarkah yang kau ucapkan, Dokter?" tanya Mark, dengan wajah cengo nya. "Tentu saja benar, aku seorang wanita. Jadi aku tau, bagaimana perasaan kekasihmu nantinya. Em, sekarang kau harus makan yang banyak dan minum obat, ok." ucap Jizi, sambil memasang infus di pergelangan tangan Mark kembali, saat dirasa pemuda itu sudah terlihat tenang. "Kak, berjanjilah padaku, jika kau akan membawa kembali Hazly untukku," ucap Mark, begitu sendu. Roger hanya mengangguk tanda mengiyakan permintaan adiknya. Walau dalam hatinya ia tak yakin bisa memenuhi keinginan pemuda itu. Nyonya Harold, selaku ibu dari Mark dan Roger. Beliau baru saja pulang dari luar negeri menemani suaminya, tuan Harold. Untuk menemui rapat penting di New York. Sesampainya di mansion, nyonya Harold langsung menuju kamar Mark. Melihat bagaimana perkembangan anak kesayangannya itu. "Rog, bagaimana keadaan adikmu? Apa sudah ada perkembangan?" tanyanya. Roger hanya menggeleng pelan. Membuat nyonya Harold menghela napas panjang, tak tau harus bagaimana. "Rog, lakukan sesuatu, kerahkan seluruh detektif handal di negara ini untuk mencari keberadaan gadis itu, jika terus begini, Daddy khawatir, Mark akan semakin parah," ucap Tuan Harold, sambil terduduk memijit pelipisnya. ▫️▫️▫️ Di sisi lain, di sebuah kontrakan kecil. Seorang gadis manis tengah terlihat begitu gelisah, Ia bingung karena tepat hari ini sudah jatuh tempo untuk melunasi hutang-hutang saudara kembarnya. Sedang dirinya sama sekali tak memegang uang sepeserpun. Hingga ia berpikir untuk melarikan diri ke rumah sahabatnya. Gadis ini bernama Hazel, korban dari ke licikan saudara kembarnya-Hazly. Jika dia tak bisa melunasi hutangnya saat ini juga, maka gadis itu akan dijadikan budak oleh rentenir yang memberinya pinjaman tersebut. Hanya sekedar membayangkannya saja, sudah sangat mengerikan. Batinnya. Hazel segera bergegas membereskan semua pakaiannya ke dalam ransel, karena memang jumlah pakaian gadis itu juga tak terlalu banyak. "Brengsek! Sialan! Ini semua karena ulah Hazly." gerutunya, sambil membereskan barang-barang yang akan ia bawa. Jangan berpikir jika Hazel itu gadis yang lemah gemulai, dia memang baik mempunyai jiwa yang lembut. Namun, nyatanya cara bicara gadis itu sedikit bar-bar. Beda dengan Hazly, gadis itu menutupi keburukan hatinya, dengan sikap lemah lembut, tutur bahasa yang sopan. Namun nyatanya hatinya begitu picik. Siapa pun yang baru mengenal mereka berdua pasti akan mengira bahwa Hazel-lah yang buruk, Dan Hazly yang baik hati. Tapi kenyataan justru sebaliknya. Sesampainya di sebuah rumah lumayan besar. Hazel segera menekan bel pintu rumah tersebut. TING ... TONG ... TING ... TONG ... Tak butuh waktu lama sang empunya rumah membukakan pintu. Laliza, sahabat Hazel, sedikit kaget karena melihat sahabatnya pagi-pagi begini sudah berdiri di ambang pintu rumahnya. Kedua netranya membelalak melihat satu ransel besar yang berada digendongan gadis tersebut. "Hez, kau baik-baik saja? Cepat masuk dan ceritakan semuanya!" pinta Laliza, seraya memberikan jalan untuk Hazel masuk ke dalam rumahnya. Hazel hanya mengangguk, dan masuk ke dalam rumah Laliza, mendudukan bokongnya di atas sofa ruang tamu. Sedangkan Laliza, ia pergi berlalu ke dapur untuk mengambilkan minuman. "Hez, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa ini ulah kembaran mu lagi?" tanya Laliza, to the poin, sambil memberikan segelas teh kepada gadis tersebut. "Begitulah, dia membuatku dikejar-kejar para penagih hutang, brengsek!" jawab Hazel, seraya menyesap segelas teh hangat dari gelas yang dipegangnya. "Aku tak menyangka dia bisa sekejam itu pada saudaranya sendiri. Padahal selama ini kau yang merawatnya, mencari kan uang untuknya. Dan sekarang, dia malah memberikan kesengsaraan untukmu. Benar-bebar gadis biadap," gerutu Laliza, terbawa emosi. Sungguh ia sangat kesal pada gadis yang bernama Hazly tersebut.