
Roger berjalan masuk ke dalam kamar adiknya, Sedang Hazel mengekor di belakang pemuda tersebut, pelan sambil melihat ke sekeliling, melihat beberapa pajangan foto besar yang terpampang gambar seorang pemuda yang terlihat begitu tampan. Membayangkan ... Kenapa Hazely begitu bodoh? Tega menyia-nyiakan pemuda setampan dia. Batin gadis itu. Hingga langkah kakinya terhenti. Hatinya begitu perih melihat pemandangan didepannya. Hazel menutup mulutnya yang sedikit terbuka, karena keterkejutan nya melihat keadaan sosok pemuda yang tak lain adalah Mark, yang begitu memprihatinkan. Pemuda itu dalam keadaan terbaring tak berdaya, wajah tirus, tubuh kurus, bagaikan tinggal tulang, dengan selang peralatan rumah sakit yang terpasang di bagian tubuhnya. Benarkah ini pemuda yang ada di dalam foto tadi? Kenapa sangat berbeda. Batin Hazel, miris. Roger membangunkan adiknya tersebut, yang kini masih setia menutup kedua matanya. "Mark! Ayo, buka matamu! Kau tidak ingin melihat siapa yang aku bawa untuk mu, hm?" ucap pemuda itu begitu lirih dan lembut. Berlahan Mark membuka kelopak matanya. "Kakak ... apa kau membawa Hazely-ku?" tanyanya. Roger hanya mengangguk pelan dan menoleh ke arah gadis di sampingnya. Mark mengikuti arah pandang sang kakak. Seketika kedua mata Mark berkaca-kaca. Apakah ini nyata? Hazely ku kembali? Monolognya dalam hati. "Ha-Hazely?! Benarkah itu kau, Sayang? Aku masih hidup bukan? Ini bukan hayalanku saja, kan?" ucapnya masih belum yakin. Hazel segera mendekati tubuh pemuda tersebut. "I-iya, ini aku, Hazel-ly. Ah, iya, Hazely." jawab Hazel terbata, gugub tak karuan. Mark dengan susah payah mendudukan tubuhnya, Hazel merasa iba, dengan segera membantu pemuda itu, tanpa ia sangka Mark langsung memeluk tubuh Hazel dan menenggelamkan wajahnya di perut gadis tersebut. Sontak membuatnya terbelalak, awal nya ia hanya diam namun mendengar isakan dari pemuda itu tanganya reflek mengelus surai lembut Mark, sedikit aneh karena memang dia tidak pernah melakukan hal itu. "Sayang, terima kasih kamu sudah kembali untukku, aku sungguh ingin mati jika kamu tidak kembali." isaknya. "Naafkan aku Mark ... maafkan aku." tanpa sadar Hazel ikut menitikkan air matanya, hatinya berdenyut sakit melihat penderitaan pemuda di pelukannya ini. 'Ini semua karena ulah Hazely, tenanglah tuan aku berjanji akan menyembuhkan mu, untuk menebus semua kesalahan saudara kembarku.' Roger mengusap air matanya, ia sedih sekaligus bahagia. Sedih karena terpaksa harus membohongi adik kesayangannya dan bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah adiknya, meski semuanya hanya sebuah sandiwara belaka. Terima kasih Tuhan ... sudah mengirimkan gadis manis seperti Hazel, untuk penyembuh adikku. Syukur Roger dalam hati. "Kakak ... terima kasih sudah menempati janjimu padaku." Mark menoleh ke arah sang kakak. "Apapun untukmu, karena kamu adalah permata di keluarga Harold." jawab Roger sambil tersenyum bahagia. Hazel ikut tersenyum, hati nya ikut menghangat melihat kebahagiaan mereka. Setidaknya aku bisa membuat mereka tersenyum, walaupun aku bukan siapa-siapa di sini. Mark semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Hazel. "Mark, bisa kamu lepaskan pelukanmu? Aku sesak!" seru Hazel karena ia mulai merasa tidak nyaman. Roger yang mengerti situasi segera ambil bicara. "Mark kamu tidak ingin melepaskan kekasihmu? Lihatlah ... dia kehabisan nafas. Kau ingin membunuhnya, hm?" kekeh Roger, bukan apa-apa ia hanya merasa lucu melihat ekspresi Hazel yang terkesan aneh. Ia tau gadis itu merasa risih. Akhirnya dengan terpaksa, Mark melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, kasar. "Ah, maaf kan aku, aku hanya sangat merindukanmu, Sayang ... duduk lah di sampingku, aku tak ingin kau pergi jauh dari ku lagi." Hazel menurut dan duduk di samping pemuda tersebut, dengan manjanya Mark menyenderkan kepalanya di paha putih yang sedikit terbuka milik Hazel. GLEG!! Hazel menelan ludah nya kasar, baru kali ini ia bersentuhan dengan pemuda sampai sedekat ini. Ingin rasanya gadis itu melempar kepala pemuda di pangkuannya ini sekarang juga. Jika tidak ingat tengah berakting. "Sayang ... kenapa kamu diam saja, hm? Apa kamu tidak suka bertemu denganku lagi?" tanya Mark sambil menatap lekat wajah gadis yang berstatus sebagai kekasih ayahnya itu, dari bawah. Hazel rasanya ingin menendang pemuda di pangkuannya ini, tak tau saja dia, jika jantungnya sudah berdetak kencang karena terlalu gugub. Berasa mau loncat dari tempatnya. "Kenapa kamu bilang begitu, Sayang ...? Aku sangat bahagia bisa bersamamu lagi." sahut Hazel selembut mungkin, walau jujur dalam hati ia begitu geli menyebut kata 'sayang'. Roger pergi meninggalkan mereka berdua, memberikan privasi pada adik tercintanya untuk berduaan bersama kekasih 'bohongannya'. "Sayang ... boleh aku bertanya sesuatu padamu? Dari mana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tidak memberikan ku kabar?" Hazel menghela napas dan menjawab, semoga jawaban kali ini benar. Doanya dalam hati. "Maafkan aku Sayang ... adikku sedang sakit parah, dan phonsel ku hilang, jadi aku tidak bisa menghubungimu." ucap Hazel berusaha bersikap sedih, agar pemuda itu percaya. Mark sontak menegakkan tubuhnya, dan menangkup kedua pipi gembil kekasihnya. "Sayang ... kenapa kamu tak bilang pada ku, hm? Kamu bisa mendatangi ku, aku bisa membantu pengobatan adikmu, dan juga bukan kah kamu biasa meminta phonsel padaku? Jika kamu tidak punya ponsel. Aku akan dengan senang hati membelikannya untuk mu." ucap Mark panjang lebar, membuat Hazel mati kutu. Bingung harus menjawab apa. Scenario yang diberikan Roger padanya terlalu sedikit, itupun dia sudah lupa. Sial! Aku harus bicara apa, sudah ku duga ini pasti akan terjadi. Tuhan tolong bantu aku. Teriak Hazel dalam hati. "Ah, sudahlah Sayang ... yang terpenting sekarang aku sudah bersama mu, dan jangan membicarakan hal itu lagi, okay ... karena hanya akan membuat ku sedih." Hazel melengkung kan bibirnya ke bawah, bersiap untuk melakukan akting menangisnya. "Sayang ... jangan menangis kumohon, maafkan aku telah membuatmu bersedih, hm." Mark memeluk tubuh gadis itu kembali. Hazel menghembuskan nafasnya lega, setidaknya ia terhindar dari pertanyaan jebakan yang tidak bisa ia jawab. "Sayang ... dimana adik angkat mu yang kamu bilang sedang sakit itu? Apa dia sudah sembuh? Kapan-kapan kita menjenguknya, yaa." ucap Mark sambil mengelus punggung sempit Hazel. Hazel lantas membelalakkan matanya lagi. pertanyaan apalagi ini? Bahkan Roger tidak pernah mengajarkan aku untuk menjawab pertanyaan ini. Sial! Scenario yang pemuda itu berikan tidak efektif. "Hik ... hik ... di-dia sudah meninggal Sayang, Dokter tidak bisa menolong nyawanya. Adik kecilku yang malang." Akhirnya Hazel meledakan tangisan nya. Bukan menangis sedih masalah adiknya tiada, karena memang sosok adik itu hanya rekayasa, ia menangis karena sedih terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Ingin berlari jika saja dia bisa. "Sayang ... maaf aku tidak tau, tolong maafkan kekasihmu yang bodoh ini, karena selalu membuatmu sedih." Mark mengusap air mata Hazel sambil meracau menyalahkan diri nya sendiri. Membuat gadis itu terdiam, ia terfokus pada ucapan pemuda itu. Sebegitu cinta kah dirimu pada saudara ku, hingga kamu selalu saja rela menyalahkan dirimu sendiri. Andai aku ada di posisi Hazely, aku tidak akan menyia-nyiakan pemuda sebaik dirimu. Namun nyatanya aku disini hanya lah menggantikan posisinya saja. Ck, hidupku selalu miris. "Sayang ... kenapa kamu terdiam, apa kamu marah padaku? Kamu mau memukulku? Pukul aku jika bisa membuat mu bahagia, Sayang ... aku rela." Hazel hanya menggeleng dan kembali memeluk Mark. Pemuda ini benar-benar gila karena Hazely. "Kamu pemuda yang sangat baik, bagaimana aku bisa memukulmu." ucap Hazel tanpa sadar, terbawa emosi. "Ehem!" Suara deheman menghentikan acara berpelukan mereka berdua, dan suara itu berasal dari Tuan Harold, beserta Roger lengkap dengan Nyonya Harold disampingnya. Hazel segera melepaskan pelukannya, tertunduk malu karena terciduk sedang berpelukan dengan sang tuan muda di rumah ini. Astaga ... aku malu sekali, sejak kapan mereka berdiri di situ bodohnya aku tak menyadari kedatangan mereka. Batin gadis itu. Hari ini merupakan hari yang begitu membahagiakan bagi keluarga Harold. Pasalnya tuan muda ke dua yang paling mereka sayangi akhirnya ada sedikit kemajuan dan semua itu berkat gadis cantik bernama Hazel yang rela merubah dirinya menjadi Hazely. "Sayang, kamu harus makan yang banyak dan minum obat yang teratur." pinta Hazel kemudian, lembut. "Aku sudah kenyang, Sayang ... aku sudah muak setiap hari harus meminum obat itu." tolak Mark. Hazel menghela napas, begitu kesal kenapa pemuda ini begitu manja seperti bayi? Batinnya. Akhirnya mau tak mau Hazel mencoba membujuknya lagi. "Jadi kamu tidak ingin sembuh, ya? Hah! Aku sedih sekali, padahal aku sangat ingin kamu sembuh dan kita jalan-jalan bersama." rajuk Hazel. "Baiklah-baiklah, semua ini karenamu Sayang, aku ingin cepat sembuh dan kembali mengajakmu jalan-jalan seperti dulu." Akhirnya Mark mau meminum obatnya, tak lama pemuda itu tertidur karena efek obat yang baru saja di minumnya. Setelahnya Hazel bisa bernafas lega dan kembali pulang. Hazel menuruni lift bangunan mansion Harold, menuju ruang utama untuk berpamitan pulang kepada sang tuan rumah, sekaligus meminta Roger untuk mengantarkannya pulang. "Oermisi Tuan., Nyonya, saya ingin meminta ijin pulang." ucapnya sopan. "Ah, Hazel. Em, maaf maksudku Hazely, kesini sebentar, Nak!." pinta Nyonya Harold, sebenarnya keluarga itu begitu ramah, hanya saja terkadang bersikap terlalu dingin terhadap orang asing. Namun, sekarang Hazel bukan orang asing lagi bagi keluarga Harold. Melainkan malaikat penolong. "I-iya Nyonya, maaf ada apa? Apa saya berbuat salah?" tanya Hazel takut. "Tidak Nak, justru kami ingin berterima kasih kepadamu karena sudah mengembalikan senyuman putra kesayangan kami." ucap Nyonya Harold begitu tulus. Hazel tersenyum malu. "I-itu sudah tugas saya Nyonya." jawab Hazel. Mereka pun berbincang-bincang cukup lama, hingga pada akhirnya Roger memutuskan untuk mengantarkan Hazel pulang. Sesampainya di rumah, lebih tepatnya apartemen yang di berikan Roger, tempo hari. Sebenarnya Hazel sudah menolaknya namun, Roger tetap bersikeras memberikannya pada Hazel, jadi nya ia menurut saja. Hazel langsung menuju kamarnya tanpa mengganti baju ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Tubuhnya terasa begitu letih, kakinya seperti ingin lepas dari tempat nya karena terlalu lama memakai sepatu hak tinggi, belum lagi ia harus berjalan kesana-kemari mengambilkan semua kebutuhan Mark, rasa ia seperti seorang baby sister untuk seorang bayi besar. "Ah, lelah sekali, padahal ini baru satu hari aku bekerja, pokoknya aku harus ekstra membantu penyembuhan tuan muda itu. Agar dia cepat sembuh dan aku terbebas dari pekerjaan menyebalkan ini." gumam Hazel, tak lama ia memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas. Keesokkan harinya, Mark terbangun dari tidurnya. Membuka kedua mata dan mencoba mengumpulkan semua ingatan nya. Dan ia mulai teringat sesuatu, dengan cepat Mark menuruni kasur nya melepas selang infus dari tangannya dan berlari sembari berteriak. "Hazely! Hazely! Dimana kamu, Sayang? Hazely!" Suara Mark mengagetkan seluruh anggota keluarga nya, hingga tanpa menunggu lama semua orang menuju ke kamar pemuda tersebut. "Mark! Kamu kenapa, Nak? Tenangkan dirimu." Tuan Harold memeluk tubuh putranya erat, berharap anak itu bisa tenang. "Daddy! Dimana Hazely, Dad? Cepat cari dia, aku tak ingin kehilangan dirinya lagi." racau Mark, keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya. Roger hanya bisa mengurut pangkal hidungnya, tak habis pikir dengan kelakuan gila adik kesayangan nya ini. "Mark, tenanglah ... sebentar lagi Hazely akan kembali kesini." ucapnya, berusaha menenangkan adik kesayangannya. "Tidak! Kakak pasti berbohong." sahut Mark tak percaya. Pemuda ini mulai gila lagi. Tak berapa lama masuklah seorang gadis yang sedari tadi menjadi perbincangan hangat di keluarga itu. "Maaf, ada apa ini?" tanya gadis itu tak lain adalah Hazel. Semua atensi mata melihat ke arahnya tak terkecuali Mark, pemuda itu langsung berlari dan menerjang tubuh gadis tersebut. Memeluk nya begitu erat hingga gadis itu hampir saja limbung. "Hazely, kamu kembali, Sayang? Aku fikir kamu akan meninggalkanku lagi." racau Mark. Air mata berderai membasahi pipi pemuda tersebut. Hazel merasa begitu kesal dengan kelakuan pemuda ini, tapi ia mencoba sesabar mungkin untuk menghadapinya. "Sayang, tenang lah, aku tak mungkin meninggalkanmu, aku menyayangimu. Percaya padaku." ucap Hazel, seraya menatap lembut wajah pemuda di hadapannya. Mark mengecup bibir Hazel singkat, membuat gadis itu terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak, terkejut hingga rasanya dunianya berhenti berputar. Begitu pula dengan para anggota keluarga yang lain mereka begitu syok, sejak kapan Mark berani melakukan hal itu di depan keluarganya. Bahkan dulu dengan Hazely pun ia belum pernah melakukan nya. Beberapa saat kemudian munculah Dokter Jeni, menyadarkan keterkejutan mereka semua. "Maaf, apa aku mengganggu kalian Tuan dan Nyonya?" tanyanya bingung, melihat ekspresi blank anggota keluarga itu. "Ah, tidak Dokter," sahut Nyonya Harold canggung. "Baiklah Tuan Muda, aku harus memeriksa keadaan Tuan, sekarang." pinta Dokter Jeni, dan di balas anggukan oleh Mark. Mark pergi menuju kamarnya bersama sang dokter dan juga kedua orang tuanya. Kini hanya tinggal Roger dan Hazel di ruangan itu. "Tuan, kamu bilang tidak ada sentuhan, tadi itu apa, hah? Adikmu mencium ku. Astaga, ciuman pertama ku sudah hilang. Padahal aku ingin yang mencium bibir ku yang pertama kali adalah cinta sejatiku kelak. Tapi sekarang sudah di ambil orang lain." gerutu Hazel sambil mengelus bibir cherry nya. Roger jadi gemas melihat tingkah gadis di hadapannya, kepolosan gadis itu membuat nya selalu ingin tertawa. "Hanya kecupan saja bukan ciuman, jangan panik seperti itu." goda Roger. Hazel melirik Roger dengan tatapan tajam seolah meminta penjelasan tentang ucapan nya tadi. "Apa kamu bilang tadi, hah? Dasar mesum!!" geram Hazel, sambil pergi meninggalkan pemuda itu, dengan menghentak-hentakan kakinya. Roger sudah tertawa terbahak-bahak, sangat menyenangkan menggoda gadis itu. Batinya. Hazel duduk di samping tempat tidur Mark, sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut pemuda itu. "Makan yang banyak, agar kamu cepat sembuh 'dan aku bebas dari jeratan mu.'" batin Hazel di akhir kalimatnya. "Asal kamu yang merawatku, aku janji akan cepat sembuh dan segera melamar mu." ucap Mark di sela mengunyah nya. Hazel merinding mendengar ucapan pemuda itu. Sampai-sampai sendok bubur yang di pegang nya ikut bergetar. "Sayang ... kenapa tanganmu bergetar? A-apa kamu sakit?" tanya Mark panik. "Ti-tidak, aku hanya belum sarapan tadi." ucapnya reflek. Astaga! Dasar mulut sialan, apa yang aku ucapkan barusan. Kenapa memalukan sekali dasar otak bodoh. Bisa-bisanya aku mengucap alasan konyol di depan orang kaya. Hazel menggigit bibirnya, merutuki kekonyolannya yang selalu saja datang tidak mengerti situasi. Mark terkekeh melihat kelucuan kekasih nya. Sejak kapan kekasihnya bersikap menggemaskan seperti ini? Setahunya dulu Hazely adalah sosok yang selalu menjaga image. Ah! Mungkin karena sudah terlalu lama tidak bertemu jadi ia banyak berubah. Batin Mark, berpikir positif. "Astaga, Sayang ... kenapa tidak bilang dari tadi jika kamu lapar. Ayo biar aku suapi juga." ucap Mark sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut gadis itu. Dengan berat hati Hazel menerima suapan bubur yang di berikan oleh Mark padanya. Sambil bersumpah serapah dalam hatinya. 'Kenapa jadi aku yang kena batunya? Harusnya yang memakan buburnya kamu Mark. Kenapa jadi aku, hah? Dasar pemuda sialan.