
Setiap saat di penghujung hari, dimana Hazel bisa bernafas lega karena terbebas dari keluarga Harold. Ia bisa beristirahat di apartemen nya tanpa di awasi oleh tuan muda yang terbilang cukup posesif itu. Walau ia masih di jaga oleh beberapa bodyguard di luar apartemen nya, tapi tak apalah tidak terlalu mengganggu juga. Hazel hanya bisa berdoa sebelum tidur, semoga hari esok akan menjadi hari yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Namun ternyata keesokan harinya dewi fortuna belum berpihak pada nya. Semakin hari hidup nya semakin bertambah sial. Mark bahkan tidak pernah memberikan kebebasan sedikit pun untuk nya. Pemuda itu hanya bisa menyuruh Hazel mengikuti nya kemana pun ia pergi. Padahal Hazel sangat ingin bertemu dengan teman-teman nya, namun tak di berikan ijin. Hingga ia benar-benar merasa begitu muak di perlakukan seperti itu. Hidup pemuda itu terlalu monoton, tak berwarna. Hanya satu yang Hazel takutkan jika selalu berada di dekat pemuda itu, ia takut jatuh terlalu dalam oleh cinta yang tumbuh di setiap waktu. Semakin sering Hazel menghabiskan hari nya bersama Mark, semakin banyak pula cinta yang tumbuh bersemi di hati nya, ia takut tidak bisa menyembunyikan perasaan itu. Memang benar Hazel berkata tidak mencintai Mark, namun hati nya menolak ucapan itu. Dan pada akhirnya Hazel meluapkan emosi nya pada Roger, karena gara-gara ulah pemuda itu ia jadi terjebak di dalam perasaan yang begitu rumit ini. Hazel mengajak bertemu Roger di Apartemen nya selepas pulang dari Mansion keluarga Harold. "Kenapa kamu menyuruhku untuk datang ke sini, hm? Kamu merindukanku, ya?" goda Roger sambil menaik-turunkan alisnya. Hazel hanya merotasi bola matanya, terlalu malas mendengar penuturan pemuda di samping nya ini. "Ch, menjijikan, buat apa aku merindukan manusia jadi-jadian seperti mu, hah?" decih Hazel sambil melempar bantal sofa ke wajah Roger. Roger terkekeh renyah. "Lalu, kenapa kau meminta ku datang ke sini? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya nya kemudian, serius. Hazel hanya menggeleng pelan dan menjawab. "Tidak ... aku tak butuh apa pun, kapan penderitaan ku ini akan berakhir Kak? Aku malas jika setiap hari harus menemani Mark kemana-mana." keluhnya. Roger duduk menghadap gadis itu dan tersenyum begitu lembut. "Sungguh? Karena alasan malas? Bukan karena alasan yang lain?" lebih tepat nya sebuah pernyataan bukan pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu. Hazel memiringkan kepalanya, seraya bertanya. "Spa yang Kakak maksud?" "Aku yakin kamu mengerti ucapan ku Zel, karena aku tau kamu bukan gadis yang bodoh." "Sku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu ucapkan Kak," elak nya lagi. "Hah, perlukah aku menjelaskan nya? Baiklah akan aku jelaskan. Kamu hanya beralasan malas menemani Mark, karena sesungguhnya kamu hanya ingin menghindari nya. Kamu takut dengan perasaan mu, kamu menepis rasa ketertarikan mu pada Mark. Apa semua yang aku ucapkan benar Hazel?" tutur Roger dengan mengangkat sebelah bibir nya. Hazel membelalakkan kedua bola matanya, jemari lentik nya meremas ujung gaun nya, hingga kuku-kuku nya terlihat memutih. "Ba-bagaimana Kakak tau?" lirihnya begitu takut. "Hanya orang bodoh yang tidak menyadari nya." sahutnya datar. Hazel sudah terisak, ia takut karena apa yang ia rasakan itu semua salah. "Ma-maafkan aku Kak ... maafkan aku." isaknya begitu terdengar memilukan. Roger mendekati tubuh gadis itu dan merengkuh nya ke dalam pelukan. "Kamu tidak sala .... tidak ada yang tau kapan perasaan itu datang. Jika kamu merasakan cinta terhadap Mark itu hal yang wajar, setiap hari kau bersama nya, menerima perhatian nya. Tidak di pungkiri rasa cinta mu akan tumbuh dengan sendirinya. Namun harus ku ingatkan pada mu, kamu hanya akan merasa sakit pada akhirnya. Mark mencintai mu hanya karena ia menganggap dirimu sebagai Hazely. Aku tidak ingin kamu merasa kecewa nanti nya. Walau jujur, aku lebih setuju jika Mark bersanding dengan mu di banding dengan Hazel." "Aku harus bagaimana.? Apa yang harus aku lakukan Kak?" tanya Hazel frustasi. "Semuanya tergantung pada dirimu, hanya kamu yang bisa mengendalikan semua nya." jawabnya sambil mengelus surai hitam gadis itu. Keesokan harinya Hazel melakukan rutinitas nya seperti biasa, pergi ke Mansion keluarga Harold untuk bertemu dengan Mark.. Hazel langsung menuju ke kamar Mark. "Sayang ... boleh kah hari ini aku tidak ikut dengan mu ke kantor?" ucap nya. Mark menghampiri Hazel dan duduk di samping nya. "Kenapa, hm?" tanya Mark balik. "Aku hanya bosan." rengek nya. Mark tersenyum lembut sembari menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam pada gadis itu. "Emmm ... ini." Hazel bingung, dengan tatapan penuh tanda tanya. "Spa ini?" "Black card. " jawab nya dengan raut wajah tak berdosa nya. "Iya semua orang juga tau kalau itu black card, dasar idiot." umpat nya. "Bukan kah tadi kamu bilang kalau kamu bosan, dulu kalau kau merasa bosan, kamu selalu ingin jalan-jalan dan berbelanja." Hazel masih terdiam sambil berfikir. Apa sebenarnya yang ada di dalam otak nya, aku tak menyangka bahwa dulu Hazely begitu materialistis. "Ah ... sudah lah jangan banyak berfikir, ayo aku temani." titah Mark, mungkin kekasih nya saat ini sedang ingin di temani, batinya. Mark menggandeng pergelangan tangan Hazel, tanpa mendengar penolakan dari gadis itu. "Hei, bagaimana dengan pekerjaan mu." tanya Hazel sedikit berteriak. "Libur sehari tidak apa kan? Demi kekasihku tercinta." sahutnya begitu santai. Hazel sedikit tersenyum. Andai kamu benar-benar milikku, pasti aku akan merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia ini. Tapi semua hanya lah sebuah andaian semata, tidak akan pernah bisa menjadi nyata. Mereka pun memasuki mobil mewah yang sudah siap bertender di halaman Mansion megah itu. Mark melajukan mobilnya ke suatu tempat, yang entah kemana Hazel pun tak tau. 'Astaga, kemana lagi pemuda ini akan membawaku pergi? Awas saja jika dia berani membawaku ke hotel dan melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak. Akan ku mutilasi sampai habis kebanggaan nya.' Hazel tak henti menggerutu di dalam hati nya dengan bibir terpout. Mark yang merasa aneh pun bertanya. "sayang ... kenapa kau cemberut saja hm?." "Sebenarnya kau ingin mengajak ku kemana?" bukan nya menjawab, Hazel justru balik bertanya. "Ke suatu tempat, kita akan bersenang-senang sayang." jawab Mark dengan senyum cerianya. Hazel menggigit bibir bawahnya. Nah kan ... dia bilang ingin bersenang-senang, maksud nya bersenang-senang yang bagaimana? Oh, Tuhan tolong jaga keperawanan ku. Tanpa sadar Hazel menutup dada nya dengan kedua telapak tangan nya. "Sayang ... kamu kedinginan? Kenapa memeluk tubuh mu sendiri seperti itu?" tanya Hazel dengan tampang polosnya. "he..he.. tidak, aku hanya sedikit tidak nyaman karena AC nya menyala." kekeh nya hambar. "Oh, .. kenapa tidak bilang dari tadi? Biar aku matikan sekarang." Mark mematikan AC mobilnya. Dan melanjutkan perjalanan tanpa bersuara lagi. Tak lama mobil itu berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan barang-barang Branded terbesar di kota itu. Hazel sedikit bingung, kenapa pemuda ini mengajak ku kesini? Jadi semua pemikiran ku tadi salah? batin nya. Mark mengajak Hazel memasuki toko langganan keluarga nya, lebih tepatnya toko itu adalah sebagian dari cabang perusahaan keluarga Harold. Kedua mata Hazel tak henti menelisik barang-barang Branded yang berjajar begitu indah nya, menyilaukan setiap mata yang memandang nya. Hazel baru pertama kali ini memasuki toko sekaligus melihat barang-barang yang harganya selangit. Mungkin satu barang bisa untuk membeli satu Apartemen, fikirnya. "Kamu ingin apa Baby? Pilihlah sesuka mu." ucap Mark begitu manis. Hazel mengerjapkan mata nya beberapa kali. 'A-apa tadi dia bilang? Baby? Astaga manis sekali, bisa-bisa aku terkena diabetes kalau begini.' Setiap kali Mark menawarkan kepada Hazel, untuk membeli tas, sepatu, atau baju, Hazel hanya menggeleng sebagai jawaban. Mark sedikit heran dengan tingkah kekasih nya ini. Pasalnya seingatnya Hazely yang dulu akan merasa sangat bahagia kalau di ajak berbelanja barang-barang Branded, bahkan belanja merupakan salah satu hobi nya. Lalu kali ini ada apa dengan Hazely yang sekarang? Kenapa dia seolah tak tertarik sedikit pun? Mark jadi bingung. "Baiklah ... jika kamu tidak tertarik barang-barang di sini, mungkin tempat yang aku tunjukkan kali ini akan membuat mu berubah fikiran." ucap nya seraya menarik lengan Hazel. Hazel hanya menggeleng frustasi. Hah....mau mengajak ku kemana lagi pemuda ini? Tak berapa lama sampai lah mereka di sebuah toko perhiasan yang tertera nama Harold Brilian. Lagi-lagi Hazel di buat terkejut. 'Astaga... toko perhiasan ternama di Negara ini, apakah aku sedang bermimpi? Toko yang biasanya hanya bisa ku lihat di layar TV, sekarang aku bisa melihat nya begitu nyata. Bahkan menginjakan kaki ku di dalam nya.' "Sayang ... kenapa kamu diam? Kamu tidak menyukai nya?" tanya Mark bingung. "Bu-bukan begitu." jawab Hazel terbata. "Apa model nya terlalu jelek? Biar aku menegur Manager di toko ini." ucap Mark menggebu, ia paling tidak suka ada yang mengecewakan kekasih tercinta nya. Mark sudah melangkahkan kakinya, namun dengan segera Hazel meraih pergelangan tangan pemuda itu. "Jangan! mereka tidak salah, aku hanya tidak berminat. Lagi pula perhiasan yang kau belikan tempo hari masih belum aku pakai semua nya. Sayang, kan jika kau menghamburkan uang mu hanya untuk sesuatu yang tidak penting." Mark kembali menautkan kedua alisnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu Hazely? Apa yang membuat mu berubah sedrastis ini, tapi jujur aku lebih suka diri mu yang sekarang. "Lalu kamu mau kemana, hm? Mau ke pusat hiburan? Ayo aku akan membawamu ke tempat yang paling elit di sini." ucap Mark sambil menggenggam jemari Hazel. Hazel terdiam, membuat Mark bertanya-tanya. "Mark, bisa kah kamu hentikan kekonyolan mu ini, Aku lelah. Aku hanya ingin pulang dan istirahat di Apartemen." jengah Hazel, sedikit membentak pemuda di hadapannya. Mark menggigit bibir bawahnya berusaha menetralkan emosinya, ia tidak suka ada orang yang berani berucap dengan nada tinggi kepada nya. Apa lagi yang membentak nya adalah kekasihnya sendiri. Tunggu, sejak kapan Hazely berani membentak ku? Seingatku baru kali ini ia berbicara kasar pada ku. "Jenapa kamu membentak ku Hazely? Aku hanya ingin membuat mu bahagia." ucap Mark begitu dingin, seraya menundukkan kepalanya agar tidak menatap kedua mata gadis itu. Yang nantinya akan menambah emosi nya kian membuncah. "Ma-maafkan aku Mark, aku hanya tidak suka dengan sikap mu yang terlalu super royal. Yang menurut ku hanya buang-buang waktu dan juga pemborosan. Aku tidak butuh semua kemewahan yang kau miliki, aku hanya ingin kau ajak bicara, bercanda, bukan hanya sebagai pajangan. Tidak semua kebahagiaan bisa kau beli dengan uang. Aku hanya ingin seperti pasangan normal lainnya." tutur Hazel, katakan jika ia lupa dengan perannya sebagai Hazely. Mark diam mendengarkan perkataan kekasihnya yang menurut nya benar-benar langka. Seorang Hazely peduli dengan arti pemborosan? Itu sangat mustahil bagi Mark. "Sejak kapan kamu tidak mencintai kemewahan, Sayangku?" tanya Mark, penuh penekanan. Membuat Mark kicep seketika, salahkan otak nya yang selalu saja mendorong nya untuk berucap tanpa berfikir panjang terlebih dahulu. "Se-sejak aku hidup sendiri tanpa mu." ucap Hazel pada akhirnya, ia berdoa semoga saja Mark percaya dengan semua ucapan nya. Mark tersenyum teduh dan mengelus rambut panjang Hazel, penuh dengan ketulusan. "Aku semakin mencintaimu Sayang, aku sangat bersyukur bisa memiliki kekasih sebaik dirimu." Hazel tersenyum lega, dan berkata. "Aku yang seharusnya beruntung karena memiliki kekasih setampan dirimu, aku mencintaimu." ucapan Hazel bukan lah bualan semata, ia sungguh-sungguh mengungkapkan isi hatinya. Walau ia tau cinta itu hanyalah cinta sepihak yang tidak mungkin bisa terbalas, setidaknya ia sudah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. "Ayo kita pulang, kau terlihat sangat lelah." ajak Mark. "Bolehkah aku pulang ke Apartemen ku? ini sudah siang, lagi pula kau harus kembali ke kantor. Kasihan kakak sendirian." sahut Hazel. Mark hanya mengangguk, sementara di dalam hati nya muncul pertanyaan-pertanyaan yang begitu memusingkan otaknya. Sejak kapan kamu peduli dengan kak Roger? Bukan kah kalian berdua seperti musuh, bahkan Kak Roger dengan terang-terangan mengungkapkan ketidak sukaanya terhadap mu, begitu pula dirimu. Sesampainya di Apartemen Hazel, Mark segera menuruni mobil mewah nya. Dan berputar membukakan pintu mobilnya untuk Hazel. "Silahkan turun cantikku, kau sudah sampai." ucap Mark sambil membungkukkan setengah badannya. Hazel hanya terkekeh kecil, merasa bahwa pemuda ini terlalu berlebihan. "Ada apa dengan mu Sayang? Kamu menggelikan. Dan terima kasih sudah membuat ku tertawa di siang hari." ucap nya seraya menuruni mobil mewah itu. "Aku masuk dulu, terima kasih untuk hari ini." titah Hazel dan mencium singkat bibir sexy pemuda itu, entah mendapat keberanian dari mana gadis itu, hingga dengan santai nya mencium bibir Mark. Tuhan beriku kesempatan untuk mencintai nya, walau hanya sesaat, sebelum dia pergi jauh meninggalkan diriku. Mark memandang lekat kepergian sang kekasih, hingga tubuh gadis itu menghilang di balik pintu loby Apartemen nya. Hazel, padahal tadi aku hanya mengetes dirimu, sesuai dugaan ku, kau berubah kau yang dulu tidak pernah mengerti arti terima kasih . Kau bahkan paling benci jika ku perlakukan seperti tadi, kau akan bilang bahwa perlakuan ku begitu memalukan. Tapi tadi kau begitu menyukai nya dan mengucapkan terima kasih padaku. Ada apa dengan dirimu Adira? aku seperti mengenal sosok lain dalam dirimu. Mark mengusak rambut nya kasar, dan segera memasuki mobilnya. "huft.." Hazel menghembuskan nafas nya lelah. Ia melepaskan sepatunya dan langsung meringsut ke kasur empuknya. Hanya satu keinginan nya saat ini, tidur tanpa ganguan dari pemuda itu. Hazel menerawang langit-langit Apartemen nya. Otaknya kembali memikirkan sesuatu yang selama ini selalu menghantuinya. Apakah aku siap jika suatu saat Mark mengetahui identitas ku yang sebenarnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa berharap semoga Kak Roger segera menemukan keberadaan Hazely, sehingga aku bisa terlepas dari nya. Walau pun nantinya aku akan merasa terluka melihatmu bahagia dengan Hazely. Aku akan mencoba mengiklaskan mu, karena aku hanyalah ibarat tak kasat mata di hadapanmu yang akan menghilang kapan saja, saat yang asli kembali.