Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
DUA ENAM


__ADS_3

"hik...hik...aku kotor....aku hina." Abila meracau di tengah isakan tangis sambil memeluk tubuh nya.


Abila mengambil spon mandi dan menggosokan ke tubuhnya dengan kasar, berharap bekas-bekas menjijikan itu akan hilang dari sana. Abila memandang pantulan diri nya ke hadapan cermin kembali , ia benci melihat bekas-bekas ruam merah keunguan itu semakin terlihat begitu jelas. Abila marah ia mengambil botol shampoo dan melemparkannya ke arah cermin itu hingga benda tersebut hancur berkeping-keping. Tak cukup di situ, Gadis itu memandang nanar ke arah pecahan cermin tadi. Entah mengapa pecahan kaca tajam itu begitu menarik di pandang nya.


Abila mengambil satu pecahan kaca di dekat nya, memandang nya dengan penuh minat.


Mungkin dengan benda ini bekasnya akan hilang.


Dengan begitu yakin Abila menggoreskan pecahan kaca itu ke setiap bekas cumbuan Jovin. darah mulai mengalir dari tubuh ringkih itu dan bercampur dengan guyuran air dari shower, mengalir begitu indah nya kedalam Bathtub. Rasa perih sayatan kaca itu tak lagi ia rasa. Karena rasa sakit hati yang di torehkan Jovin jauh lebih menyakitkan di banding luka sayatan yang menurut nya tidak ada apa-apanya.


"kenapa.....bekas ini tidak hilang, aku benci diriku sendiri. Aku benci...." Teriaknya sambil menjambak surai nya kasar hingga ada sebagian yang rontok beberapa helai di kedua tangannya.


Abila lelah, lelah memikirkan semuanya. Lelah berteriak tidak jelas. Dan kini tubuh nya sudah terlihat mulai pucat karena sudah hampir tiga jam lamanya ia berendam di dalam Bathtub, di tambah darah segar yang terus mengalir dari luka bekas sayatan itu.


"Ma....Pa....aku lelah hidup seperti ini, maafkan aku yang tidak bisa menjaga kehormatan ku. Aku telah kehilangan semuanya, tidak ada gunanya lagi aku hidup, aku telah mengecewakan kalian. Bawa aku pergi bersama dengan kalian." Lirih Abila, berlahan ia menekuk kedua lututnya hingga otomatis kepalanya yang tadi menyender di pinggiran Bathtub kini berlahan terbenam ke dalam air bercampur dengan darah itu.

__ADS_1


Sedang Nita dan Mika yang merasa janggal dengan keadaan Abila mulai curiga. Pasalnya sudah lebih dari tiga jam lamanya Gadis itu belum keluar dari dalam kamar nya.


Hingga mereka berdua berinisiatif untuk mengecek keadaan Gadis itu.


Sesampainya di depan kamar Abila, Nita mengetuk pintu itu beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Kemudian Mika mencoba membuka nya dan ternyata tidak terkunci oleh sang empunya.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar itu, menelisik ke sekeliling tapi tidak juga mendapati keberadaan Abila, hingga tatapan mereka berdua tertuju pada pintu kamar mandi yang terlihat tertutup. Mereka menghela nafas lega, karena mendengar bunyi gemericik air yang mengalir dari shower. Berarti Gadis itu baik-baik saja. Fikirnya.


Mika mencoba memanggil nama Gadis itu untuk memastikan bahwa dia benar-benar dalam keadaan baik.


"Abila... jawab aku jika kau baik-baik saja." Kini berganti Nita yang menyerukan nama Gadis itu. Tetap saja tidak ada sahutan, mereka berdua mulai cemas. Pemikiran-pemikiran buruk mulai memenuhi otak mereka berdua.


"Bil...buka pintu nya atau aku akan mendobrak nya." Gertak Nita, berharap jika Abila sedang mengerjai mereka berdua.


"baiklah.... kau ingin main-main dengan Kakak hm, aku akan menghitung nya sampai tiga. Jika kau tidak membuka nya aku akan mendobrak nya dan aku akan memarahi mu habis-habisan." Ancam Nita lagi , hatinya terasa sesak karena tidak juga ada sahutan dari dalam.

__ADS_1


"satu...dua...hik..kumohon Bil... jangan bercanda seperti ini." Tangis Mika pecah saat itu juga, hati nya mulai resah.


"tidak ada cara lain Nit...ayo kita dobrak pintu ini." Pinta Mika dan di angguki oleh Nita.


Dengan sekuat tenaga mereka mulai mendobrak pintu itu beberapa kali hingga bahu mereka terasa ngilu. Namun belum juga berhasil.


"BRAKKK...


Mereka mendobrak dalam tiga hentakan dan belum juga membuahkan hasil, hingga pada akhirnya Mika mengambil sebatang besi, memukulkannya pada lubang kunci pintu itu. Hingga pintu itu rusak dan akhirnya terbuka.


Mereka berdua begitu syok melihat keadaan kamar mandi Abila yang terlihat begitu berantakan. Hingga pandangan mereka tertuju pada genangan air bercampur darah yang mengalir di lantai dari arah dalam Bathtub.


Mika membekap mulutnya dengan bola mata melotot . Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan terpampang di hadapannya, Tubuh Abila mengambang di genangan air dalam Bathtub yang berwarna merah bercampur darah itu. Dengan cekatan mereka merengkuh tubuh Abila, membawanya keluar dari dalam air itu.


"Mik.... cepat ambil piyama untuk Abila." Teriak Nita frustasi di sela isakan tangisnya yang memilukan.

__ADS_1


Tak menunggu lama Mika segera mengambil piyama milik Abila yang tersampir di pinggiran pintu kamar mandi nya. Menutup tubuh Gadis itu dan memindahkan nya ke kasur dengan susah payah, biar bagaimanapun mereka berdua adalah seorang Gadis yang tak memiliki kekuatan seperti Pria. Jadi mereka begitu keberatan memindahkan tubuh Abila yang hampir sama besarnya dengan tubuh mereka.


__ADS_2