Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
SEBELAS


__ADS_3

Abila masih terduduk di pangkuan Jovin, sambil membenarkan dasi pemuda itu yang sedikit tidak rapi.


Abila yakin dengan perubahan Jovin yang seperti saat ini pasti banyak gadis yang bertekuk lutut mengemis cinta nya.


Betapa bodohnya Adira yang sudah menyia-nyiakan pemuda sesempurna Jovin.


Entahlah Abila sedikit merasa tidak suka jika membayangkan nanti nya akan ada banyak gadis yang mendekati pemuda itu. Namun ia kembali sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, dan tidak punya hak untuk merasa tidak suka.


"pasti nanti di Kantor akan banyak sekali gadis yang melirik mu." celetuk Abila tiba-tiba.


Jovin menyunggingkan sebelah bibir nya seraya mendekatkan wajahnya di samping wajah Abila, begitu dekat hingga deru nafas hangat nya begitu terasa menghembus ceruk leher Abila.


Nafas gadis itu mulai terasa berat, cuaca didalam ruangan mendadak berubah panas, padahal AC di ruangan itu masih menyala.


"sayang.... apa kau cemburu hm?." bisiknya dengan suara rendahnya.


"iya aku tidak suka ada gadis lain yang mendekati mu." entahlah kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Abila.


"aku sangat senang kau cemburu pada ku sayang, sungguh aku menyukai nya." desahnya begitu sexy di pendengaran Abila, Jovin mendekati wajah Abila, mengelus pipi mulus nya dengan jemari besarnya. menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi kening gadis itu dan menyelipkan nya di belakang telinga.


"kau begitu cantik sayang,...aku mencintaimu." ucapnya lagi , masih dengan mengelus pipi gadis itu . Jovin semakin mengeratkan pelukannnya , sampai tiada jarak di antara tubuh mereka.


Jovin mulai berani mengelus bibir Abila dengan ibu jari nya , kedua matanya tak lepas memandangi bibir merah merona yang terlihat sedikit terbuka itu. Semakin dekat seakan ada gaya magnet yang menarik kedua nya. Nafas hangat keduanya begitu terasa menyapu wajah mereka. Jujur Abila sangat menyukai aroma mint dari pemuda itu, begitu manly menurutnya .


Entah sejak kapan kini bibir keduanya sudah menyatu, Abila tak membalas ci*man Jovin, ia hanya diam karena memang ia tidak tau harus membalas yang bagaimana.


Namun reflek kedua tangannya melingkar di leher Jovin, hingga pemuda itu semakin lihai memperdalam ci*manya. Sungguh Abila tak mengerti apa yang sekarang sedang terjadi yang jelas ia tidak bisa menolak perlakuan manis itu. Seakan ia melupakan segala nya.


__ADS_1


"Adira....aku mencintaimu." ucap Jovin selepas melepaskan pagutan nya, seraya mengusap bibir gadis itu yang sedikit membengkak.


Bagai di hujam beribu samurai rasanya hati Abila, begitu perih, sakit, mendengar nama yang baru saja di ucapkan pemuda itu.


Adira?... seharusnya aku ingat posisi ku, aku tak pantas mengharapkan lebih dari pemuda ini . Karena memang hati nya hanya untuk Adira bukan aku. Andai suatu saat nanti kau mengerti kebenaran nya, apa kau masih mau menyentuh ku Tuan muda?.


Abila memandang sayu wajah Jovin, tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipinya.


Membuat Jovin kelabakan dan panik.


"sayang...kau kenapa menangis hm? apa aku menyakiti mu? apa kau marah atas perlakuan ku padamu , maaf kan aku sayang... aku janji tidak akan melakukan nya lagi."


Abila hanya menggeleng, dengan cepat ia memeluk erat tubuh Jovin.


"jangan tinggalkan aku, aku menyayangimu." ucap Abila, kata-kata itu seolah meluncur begitu saja tanpa bisa untuk ia tahan.


Johan sudah terlalu lama menunggu kedatangan Jovin di aula Mansion nya. Hingga ia merasa begitu bosan dan akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Jovin di kamarnya.


Karena ceroboh atau apa, Jovin dan Abila tidak menutup pintu kamar nya. Johan dengan santai ingin melangkah kan kaki nya masuk ke kamar Jovin, namun baru satu langkah ia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang sungguh diluar dugaan nya.


Dengan cepat Johan menarik kakinya mundur, dan berbalik badan menyender di balik dinding. Johan terkejut, pandangannya mendadak kosong . Bayangan Jovin dan Abila masih berputar di dalam otak nya.


Ya Tuhan.... apa yang selama ini aku khawatir kan hari ini terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Abila mulai terjatuh dalam zona pesona Jovin. Ya Tuhan tolong beri petunjuk pada ku.


Gumam Johan sembari meraup wajahnya kasar.


"sayang... ikut dengan ku pergi ke kantor hari ini kau mau?." tawar Jovin setelah melihat gadis itu sedikit tenang.


Abila hanya mengangguk, walau ia begitu malas untuk ikut dengannya.

__ADS_1


Mereka pun memutuskan untuk pergi bersama.


Johan sudah menunggu di dalam mobil, ia mencoba bersikap biasa saja seperti tak pernah melihat sesuatu.


"ayolah.. kalian lama sekali, aku sampai lumutan menunggu kedatangan kalian." keluh Johan berpura-pura kesal.


"maaf Kak, tadi aku sedikit sakit perut jadi aku harus bolak balik ke toilet, iya kan sayang.." alasan Jovin sambil menengok ke arah Abila dan di balas anggukan lembut oleh gadis itu.


Johan hanya berdecak, dan bergumam.


Sakit perut kepalamu botak apa! kau fikir aku tidak tahu kau asyik bercumbu dengan Abila.


"ah.. sudah lah ayo kita berangkat, kita hampir terlambat." tutur Johan pada akhirnya.


Sesampainya di kantor, Jovin sudah di sambut begitu antusias oleh para pegawai nya sekaligus penggemar setia nya. Siapa yang tidak kagum dengan Ceo muda nan tampan seperti dia.


Abila hanya tersenyum ramah ke arah para pegawai itu. Membuat para pegawai itu sedikit merasa heran dengan sikap kekasih atasannya itu.


Karena memang Adira yang mereka kenal dulu begitu angkuh dan juga sombong. Namun sekarang malah sebaliknya, gadis itu terlihat begitu ramah dan juga murah senyum. Bukan senyuman palsu belaka tetapi senyuman yang terpancar begitu tulus.


Belum ada setengah hari Abila menemani Jovin, rasanya sudah begitu bosan. Bagaimana tidak bosan jika sedari tadi hanya di suruh duduk manis, bermain dengan phonsel nya.


Ia baru tau jika Jovin ternyata tipe pemuda yang sangat over protektif, Abila hanya disuruh memperhatikan dirinya yang sedang sibuk bersikutat dengan berkas-berkas nya.


Ingin ke toilet pun harus di kawal oleh Bodyguard, takut jika kekasih nya hilang lagi katanya. Sungguh Abila berasa terkurung dalam sangkar emas .


Sesekali Jovin menatap ke arah Abila, dengan wajah datar nya. Tanpa berucap sepatah kata pun, Abila semakin jengkel. Sebisa mungkin ia mencoba mencari alasan agar bisa terbebas dari pandangan pemuda itu , namun semua gagal. Jovin malah menatap tajam ke arah nya, Abila sedikit bergidik ngeri melihat aura hitam yang menguar dari diri Jovin, seolah melihat seekor singa yang siap menerkam mangsa di hadapannya.


Terpaksa ia hanya bisa menurut seperti kucing piaraan, hah! tidak sedang sakit , tidak sedang sehat ternyata sifat pemuda itu tetap lah menyebalkan. Ia baru tau kenapa dulu Adira sampai mencampakkan nya, mungkin karena sikap Jovin yang terlalu mengekang kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2