
Abila hanya bisa terisak , menahan kesakitan jiwa dan raga yang kini tengah benar-benar di hancurkan oleh pemuda ba**ngan yang sayang nya sangat lah tampan paripurna.
Abila menggigit bibir bawahnya sambil memegang perutnya dari hentakan-hentakan kasar yang di berikan oleh Jovin.
"sa...sakit tolong hentikan," rintih gadis itu dengan memandang sayu memohon pengampunan.
Jovin seakan abai, ia tak peduli walau melihat bercak darah, entah itu darah apa yang jelas keluar dari lu**ng kenikmatan gadis yang sedang ia ga**hi.
Seakan buta dan tidak peduli Jovin terus menghentakan pinggulnya mengejar kenikmatan tersendiri tanpa memperdulikan kesakitan yang tengah gadis itu rasakan.
Abila terlalu lemas untuk melawan ,ia hanya bisa pasrah menerima hujaman pemuda itu, meringis menahan kesakitan yang tak berpenghujung. Hanya satu yang ada di dalam otak gadis itu, ia hanya bisa berharap semoga janin yang ada di dalam kandungan bisa bertahan hidup untuk nya kelak.
Abila benar-benar sudah sangat lemas dan lelah tak berdaya, hingga kegelapan mulai menghampiri nya . Berlahan pancaran mata itu meredup dan tidak sadarkan diri. Jovin begitu masa bodoh ia tak peduli walau sudah melihat gadis itu tak sadarkan diri, ia tetap melanjutkan aksinya, mencari kepuasan hingga pagi hampir menjelang.
Matahari pagi yang begitu cerah, berlahan cahaya menyilaukan menembus sela-sela kelambu kaca besar ruangan itu. Mengusik gadis manis yang masih terlelap memejamkan kedua mata indah nya. Tak lama kedua mata indah itu mengerjap pelan , merasa silau karena ada cahaya yang menerobos masuk ke dalam indra penglihatannya.
__ADS_1
Abila terdiam memandang langit-langit kamar itu, mencoba mengumpulkan segenap kesadaran nya, mengingat apa yang tengah terjadi semalam.
Ia berharap semua yang terjadi tadi malam hanya lah mimpi buruk, ia mencoba memejamkan kedua matanya dan kemudian membuka nya kembali. Tidak! dia masih di tempat yang sama. Arti nya ini semua adalah nyata, siksaan yang di lakukan Jovin semalam benar adanya, Abila berlahan menyingkap selimut tebal yang menutupi setengah badannya, seketika kedua mata nya terasa panas melihat keadaan tubuh yang tanpa busana, dengan bekas-bekas tanda merah serta bekas cakaran menghiasi tubuh putih nya. Kenapa kejadian itu terulang kembali?.
Abila menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati sosok pemuda yang telah menghancurkan nya tertidur dengan damai.
Sakit hati kian membuncah kala ia melihat wajah pemuda itu berada begitu dekat dengan wajahnya. Ia tidak pernah menyangka bagaimana bisa dulu pernah menyimpan rasa pada pemuda itu, sungguh ia sangat menyesal.
Abila menangis dalam diam, seraya membekap mulutnya takut membangun kan seekor singa jantan di samping nya, ia tak mau sosok itu kembali menyiksanya.
"ngghhh," Jovin menggeliat. Melihat itu Abila segera mengusap air matanya cepat, dan memejamkan matanya berpura-pura tidur , sungguh ia benar-benar takut.
"sayang.... maaf kan aku hm, aku sungguh mencintaimu, aku tak ingin kau pergi lagi dari ku, ku mohon jangan tinggalkan aku sendiri," ucapnya begitu menyedihkan, sambil mengusap lembut pipi gadis itu, yang terlihat sedikit memar bekas tamparan yang ia lakukan semalam.
"apa ini sakit sekali sayang....hik....hik....tolong maafkan aku telah berani menyakiti mu, aku benci jika kau memberontak sayang," isaknya, seolah-olah orang yang di ajak nya bicara sedang menghadap dirinya, jika kalian tau Jovin benar-benar merasa tersiksa. Ia tidak bisa mengendalikan emosi dan ego nya.
__ADS_1
Kalau boleh Abila ingin rasanya menangis, dan memeluk pemuda di samping nya ini jika saja pemuda itu tak pernah menyiksanya. Tapi sekarang ia terlanjur membenci nya. Hingga rasanya ingin sekali pergi jauh dan tak bertemu lagi dengan pemuda itu untuk selama-lamanya.
Jo... kau telah di butakan oleh cinta, karena obsesi gilamu, kau nekat menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan ku. Sadarkah kau... dengan cara mu yang seperti ini, kau akan membuatku semakin menjauhimu. Gumam Abila dalam hati.
Jovin beranjak bangun dari berbaring nya, mengusap air matanya dan memenahi selimut di tubuh Abila. Menuju ke kamar mandi, membersihkan diri nya dan bersiap-siap untuk kembali menjalani aktifitas nya bekerja di kantor. Persetan dengan nanti harus bertemu dengan Kakaknya.
Setelah siap pemuda itu menghampiri gadis yang terlihat masih terlelap itu, menghampiri nya dan mengecup sekilas kening gadis itu.
"tidur yang nyenyak sayang....aku mencintaimu. Aku pergi dulu hm," ucap Jovin terdengar begitu tulus, jujur Abila merasa hatinya menghangat mendengar kata-kata lembut pemuda itu. Tapi kebencian di dalam hati nya terlalu mendominasi, pemuda itu sulit di tebak sikapnya selalu berubah-ubah. Terkadang lembut dan tiba-tiba berubah kasar kembali.
Setelah kepergian Jovin. Abila kembali membuka kedua matanya, air mata sudah tidak dapat ia bendung lagi. Abila menangis sejadinya, meraung-raung seorang diri.
"hik....hik...Jovin....! kenapa kau jadi begini. Cara mu mencintai ku itu salah, harusnya kau tidak begini....aku sakit Jovin... aku sakit", Abila memukul dadanya yang terasa begitu berat hanya sekedar untuk bernafas.
Jovin menuruni anak tangga yang terhubung dengan kamarnya ke ruang utama, dan memanggil maid paruh baya kepercayaan nya, yang kerap ia panggil sebagai Bibi Yul. Jovin sudah menganggap wanita itu sebagai ibu kedua untuk nya.
__ADS_1
"Bi....Bibi Yul.." panggil nya.
"iya Tuan muda...ada yang bisa Bibi lakukan untuk mu hm?", tanya wanita itu, senyum keibuan tertera di bibirnya.