
Jovin, Marsel dan juga Johan kini menuju ke suatu tempat, entah kemana hanya mengandalkan GPS yang terlacak di laptop yang terpampang di hadapan Marsel.
"sebenarnya kita mau kemana..,?" tanya Jovin sembari mengemudikan kemudi mobilnya mengikuti arahan dari Marsel.
Marsel terlihat begitu fokus pada benda kotak di hadapannya.
"ikuti saja semua arahan dari ku," tuturnya mantap dengan mata terfokus pada titik merah yang terlihat berjalan di layar tersebut.
"sebenarnya apa yang kau ketahui dan tidak kita ketahui Sel?," tanya Johan yang sedari tadi sudah menaruh curiga pada sosok pemuda di sampingnya ini.
"aku tau semuanya," sahutnya singkat, yang mana semakin membuat kedua sosok pemuda lainnya semakin geram.
Marsel bukanya tidak ingin bercerita, hanya saja ia tak ingin mati di tangan Jovin di tempat yang tak elit seperti ini.
Marsel berseringai, karena melihat titik merah menyala itu berhenti.
"good job...." serunya.
"lebih cepat sedikit Jo... kita menuju ke Pulau Aogashima," serunya lagi.
Membuat Jovin menginjak rem mobilnya mendadak.
"CKITTTT......
"sial...." umpat Marsel hampir bersamaan dengan Johan karena hampir saja terjungkal.
"apa kau bilang, Pulau Aogashima? bukankah tempat itu sangat jauh, dan lagi pula untuk apa kita ke sana? bukankah tempat itu sangat terpencil bahkan hanya ada hutan di sana," ucap Jovin terkejut.
Marsel berdecak malas mendengar ocehan panjang pemuda di depan nya itu.
"kau ingin menyelamatkan anak dan istri mu apa tidak?," jengah Marsel.
"tentu saja....tapi kenapa anak dan istri ku ada di sana?," bingungnya.
"kau terlalu banyak bicara, cepat jalankan mobilnya! kita tak punya banyak waktu," sergah Marsel selanjutnya.
Jovin berdecak sebal sembari memalingkan tubuh nya.
__ADS_1
"kau banyak berhutang penjelasan padaku," gerutunya, kemudian menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju tempat tersebut.
Sedang di suatu tempat, sebuah mobil hitam menepi di pinggiran jalan tengah hutan. Terlihat di sana ada seonggok pembangunan rusak yang mungkin di perkirakan sudah puluhan tahun tak terpakai. Terbukti dari tembok bangunan tersebut yang di tumbuhi lumut dan tanaman liar merayap di setiap penjuru gedung itu.
Dua pemuda berbadan besar tengah menuruni mobilnya, berpindah ke kekursi belakang menghampiri sosok wanita yang masih terbaring di kursi tersebut. Salah satu pemuda membuat pintu mobil itu, menarik lengan sang wanita sedikit kasar hingga sosok wanita itu tersentak kaget dan bangun dari pingsannya.
"si....siapa kalian?," berontak wanita itu yang tak lain adalah Abila, ketika ia menyadari bahwa diri nya tengah di culik.
"diam.... cepat ikut aku , atau aku akan memaksamu," bentak salah satu pemuda bertubuh kekar tersebut.
"ti..tidak ....aku tidak mau. Lepaskan aku," Abila berusaha melepaskan cekalan tangan besar yang melingkar di kedua pergelangan tangannya.
Seolah tuli kedua orang itu terus menarik lengan Abila , mengabaikan kesakitan wanita hamil itu.
Zio meremas ujung kemejanya hingga kuku jemarinya terlihat memutih, dengan gigi gemeletuk menahan emosi. Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua mata doe nya.
Kalian..... beraninya menyakiti Mommy ku, ku tandai kalian berdua....kau...dan kau....akan mati di tanganku.
Zio menyunggingkan senyumnya, mengusap air mata nya kasar. Merasa situasi sudah aman. Ia segera turun dari mobil itu, berjalan mengendap-endap melewati semak belukar. Menuju belakang gedung yang kebetulan di situ ada sebuah pintu masuk, terlihat sedikit reot, dengan langkah hati-hati, Zio melirik ke segala penjuru. Ia bersemirk evil, karena tempat itu kelihatan nya tidak terlalu banyak penjaga.
Zio menempel kan telinga nya di balik tembok yang terdapat retakan di setiap sudut nya itu, agar bisa mendengar percakapan orang di sebrang tembok tersebut.
"*Kami sudah menyekap gadis itu Tuan....sesuai dengan keinginan anda."
"ha...ha...ha.... bagus... kerja bagus, sekarang* kita tinggal menyaksikan kehancuran keluarga Takkeru."
kira-kira seperti itu percakapan yang terdengar samar-samar di balik tembok. Zio semakin berfikir, sebenarnya siapa orang itu? kenapa mereka mengenal keluarga ku? gumam Zio penasaran.
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi ketukan sepatu berjalan menjauh dari balik tembok, Zio mengintip dari lubang kecil di hadapannya. Benar saja orang itu sudah tiada di sana. Zio memasuki ruangan tersebut, kemudian menelisik satu lorong yang ia yakini orang-orang tadi melewati jalan tersebut.
Zio bersembunyi di balik dinding karena melihat tiga orang tengah mengelilingi satu wanita dalam posisi terikat di kursi dengan mulut terlilit lakban hitam.
Wanita itu terlihat memberontak, berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu pergelangan tangan nya di belakang kursi. Meski semua itu hanya sia-sia.
Salah satu pria berpakaian rapi yang sudah di prediksi itu merupakan kepala penculikan, sosok itu mendekat kan wajahnya dengan wajah wanita itu, dengan senyuman jahat terpatri di bibirnya.
"kira berjumpa lagi.... keponakan ku yang cantik," kekeh nya, seraya melepaskan penutup mulut Abila dengan kasar. Membuat wanita itu berdesis, karena merasakan perih di area bibir nya.
__ADS_1
"kau.... kenapa kau lakukan ini Paman? apa salahku? tidak puaskan selama ini kau membuat ku menderita?," tangis Abila.
Ya! pria itu adalah Daichi, Paman Abila. Sosok itu kini tertawa nista, entah apa yang menurut nya begitu jenaka.
"kau... masih bertanya apa salahmu hm? polos sekali..... kau dan keluarga mu harus hancur," teriaknya penuh kebencian.
"kenapa.... Paman.. kenapa?," rintih nya.
"karena keluarga mu sudah menghancurkan ku, jadi keluarga mu juga harus menderita. Kau dengar....," bentak Daichi dengan kedua mata memerah.
Sementara Zio, menahan isakan nya. Ia tidak menyangka jika yang menculik Mommy nya saat ini merupakan anggota keluarga nya juga. Bocah itu berlahan merogoh saku mantel tebal nya dengan tangan bergetar, mampu kah ia menghabisi pria itu? kemudian muncul seringaian tajam dari bibir mungil nya.
Kenapa tidak bisa? jika dia saja berani menyakiti keluarga ku, lalu kenapa diriku tidak bisa hm?.
Seolah muncul dua kepribadian yang berbeda di jiwa Zio. Jiwa yang kuat akan muncul begitu saja jika ia merasa tengah terancam.
Daichi merogoh saku jasnya, mengambil sebuah benda pipih, bermaksud menghubungi seseorang yang entah siapa, hanya dia yang tau.
Belum sempat ia menekan layar benda itu, bunyi teriakan seseorang terdengar menggema di belakang nya.
"Tuan.... hentikan perbuatan gilamu ini," teriak Marsel di iringi Johan dan Jovin di belakang nya, yang masih terlihat begitu bingung dengan situasi yang terjadi.
"Marsel.....senang sekali bisa berjumpa dengan mu hm?," kekeh nya di iringi tepuk tangan penuh ejekan.
Daichi menoleh ke arah dua pemuda di samping Marsel.
"pasti kau suami keponakan ku yang manis itu, tak ku sangka gadis itu pintar mencari suami. Ngomong-ngomong kau membayarnya berapa untuk menjadi ja*langmu?," hinanya.
Jovin merepal kan genggaman tangannya erat, ia baru paham sekarang bahwa pria di hadapannya ini ternyata adalah Paman Abila, orang yang selama ini membuat istrinya itu menderita. Ia emosi, lebih-lebih ketika mendengar hinaan pria itu yang di layangkan pada istri tercintanya.
"tutup mulut kotor mu tua bangka, jangan pernah kau menghina istriku! atau aku tak akan segan-segan untuk melenyapkan nyawa mu saat ini juga," gerutu Jovin marah.
Pria itu hanya tersenyum pongah, dan menoleh ke belakang dimana terlihat dua sosok bawahanya sedang menodongkan sebuah pistol di pelipis Abila.
"kau yakin akan membunuhku hm? yang ada istri cantik mu yang akan terbunuh sebelum kau menyentuhku," pria itu tertawa penuh kemenangan.
"sialan kau..... iblis bia*dap....," teriak Johan selanjutnya, ia geram, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia takut jika Abila dalam bahaya.
__ADS_1