
Hubungan antara Zia dan Ruka semakin dekat, tanpa sepengetahuan Zio dan keluarga nya.
Hingga suatu ketika Zia penasaran dengan sepintas kehidupan kekasihnya yang terkesan penuh misteri. Ia terkadang berfikir, rasanya tidak asing dengan nama belakang Ruka, namun ia tidak terlalu ingat siapa. Ah! mungkin saja ia pernah mendengar nama itu saat menonton film, fikirnya.
Rasa penasaran Zia semakin menjadi, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya tentang latar belakang kehidupan pemuda tersebut.
"Ruka...boleh aku bertanya sesuatu? kita kan sudah menjadi sepasang kekasih, jadi tak salah kan jika aku ingin mengenalmu lebih jauh?," tanya Zia, tanpa memandang wajah lawan nya.
Ruka menatap nyalang wajah Zia, mengunci tubuh gadis di hadapannya pada pohon di belakangnya.
"kenapa hm? apa kau begitu penasaran sayang?," tanya Ruka dengan suara husky nya.
Zia menundukkan kepalanya, sungguh ia takut pada sosok di depannya ini, seakan pemuda ini mempunyai aura membunuh. Mungkin hanya perasaan nya saja, elak hati Zia.
"aku hanya ingin tau siapa keluarga mu Ruka," sahut Zia, memberanikan diri.
"jika aku menjawabnya apa kau akan puas hm?," sahutnya.
"mungkin..," singkat Zia.
"keluarga ku sudah tiada, mereka meninggalkan ku di depan mataku, seseorang telah membunuhnya dengan begitu keji, aku depresi, aku hampir gila..." ucapnya penuh penekanan.
Zia membolakan kedua matanya, tak percaya bahwa kekasihnya memiliki masa lalu yang begitu kelam. Ingatkan jika saat pembunuhan keluarga Ruka, Zia tidak ada di TKP tersebut. Jadi gadis itu tak tau menahu tentang masalah di masa lalu yang telah terjadi antara keluarga Ruka dan keluarga nya.
Zia menatap lekat wajah tampan yang penuh akan aura dendam membara di hadapannya, bibirnya bergetar, tanpa sadar air mata yang tanpa di suruh itu sudah mengalir indah membentuk anakan sungai di kedua pipinya.
"Ru...Ruka.... maafkan aku, aku tidak tahu jika kau dan keluarga mu mengalami hal buruk seperti itu,," gagab Zia.
"kau tidak salah Zia...tapi orang yang membunuh keluarga ku itu yang bersalah," ucapnya penuh penekanan di akhir kalimat nya.
"siapapun orang yang berani melukai keluarga mu itu benar-benar iblis," emosi Zia tak terima.
Ya... kau benar Zia, keluarga mu memang benar-benar iblis, bukan kah iblis seharusnya hidup di neraka Zia? bukannya hidup di muka bumi ini? jadi apakah aku salah jika aku akan mengembalikan iblis pada tempatnya?. Bersama dirimu...kekeh Ruka dalam hati.
"kau benar, mereka benar-benar iblis...Zia," ucap Ruka begitu mengerikan di pendengaran Zia.
__ADS_1
"aku akan membantu mu untuk membalas kan dendam kedua orang tua mu," ucap Zia yakin, tanpa bertanya siapa pelakunya.
"kau berjanji akan membantu ku, sayang?," tanya Ruka dengan seringaian nya.
Zia bergidik, entah mengapa ia merasa bahwa ucapan kekasihnya itu sangat mengarah kepada nya.
"i..iya, aku berjanji," jawab Zia ragu.
Ruka menyunggingkan sebelah senyumnya.
Kau tidak usah melakukan nya Zia, karena tanpa sadar kau sudah masuk dalam rencana balas dendam ku.
Mereka melanjutkan sesi berkencan nya ke suatu tempat, mereka sengaja berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan di pinggiran sungai. Ruka tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakaan Zia yang tak henti berceloteh bak anak kecil, sambil mengguncang kan tautan tangannya dengan tangan Ruka, ke depan ke belakang, sampai Ruka merasa lelah sendiri.
"kau tidak lelah berbicara sedari tadi hm?," tanya Ruka dalam mode suara normal.
Zia tersenyum, jujur ia suka Ruka yang seperti ini.
"tidak,...aku terlalu bahagia saat bersamamu," ucap Zia polos.
"karena aku ingin mempunyai kekasih yang benar-benar bisa menghargai diriku, dan aku melihat mu begitu, kau sangat sulit untuk di tebak. Kau berbeda dari yang lain...," sahut Zia apa adanya.
"beda? maksudmu?," tanya Ruka, mengernyit kan keningnya.
"em...kau beda tidak mesum seperti pemuda lainnya," bisik Zia di samping telinga Ruka.
Ruka berdecak kagum pada gadis di sampingnya, ternyata Zia tidak gampangan seperti gadis lainnya. Ruka tenggelam dalam dunia nyata, hingga sedikit melupakan sejenak kebenciannya terhadap keluarga gadis itu.
Hingga tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang jauh di belakang Ruka, sedang Ruka masih sibuk berselancar di dunia lamunannya, memandang lekat wajah cantik di sampingnya.
Zia memelototkan kedua bola matanya kala melihat mobil di belakang Ruka semakin mendekat.
"Ruka... awas," Zia menarik lengan Ruka, hingga beralih dirinya yang menghadapi mobil itu, Zia terpaku. Kedua kakinya terasa berat untuk beranjak. Ruka yang menyadari itu semua, segera menarik tubuh Zia hingga terjatuh di pinggiran jalan terguling bersamanya.
Zia mendudukkan tubuhnya susah payah, tubuhnya terasa sakit, dan juga sikunya sedikit tergores.
"sssshh.... sakit sekali," rintih Zia. Ruka masih dalam fikiran fantasinya.
__ADS_1
"kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri untuk menyelamatkan ku ha? apa kau bodoh Zia?," bentak Ruka, membuat Zia terkejut. Ada apa sebenarnya dengan pemuda ini?, batin Zia bingung.
"A...aku,... hanya tidak ingin kau terluka," jawab Zia, takut.
"apa kau tidak berfikir jika mobil itu menabrak mu kau bisa mati Zia," marah Ruka, entah mengapa ia merasa tak terima saat Zia menyelamatkan diri nya.
"kan ada dirimu yang selalu menyelamatkan hidupku, aku akan merasa aman saat berada di sisimu Ruka," ucap Zia dengan senyum manis nya, mengabaikan kemarahan pemuda di hadapannya.
Ruka terdiam sejenak, ia kembali berfikir.
Ada apa dengan ku? kenapa aku menyelamatkan gadis ini? harus nya aku bahagia jika Zia tertabrak mobil. Namun kenapa tubuhku seakan berkehendak lain dengan pemikiran ku?. Tanya Ruka pada dirinya sendiri.
"Ruka...kau tak apa?," tanya Zia sembari memiringkan kepalanya.
Ruka menggeleng kan kepalanya, dan segera bersikap normal kembali.
"A..ah,,. apa kau terluka?," tanya pemuda itu selanjutnya, sambil memeriksa lengan gadis di depannya.
"em...iya," manja Zia, memperlihatkan luka gores di lengan kanannya.
"kenapa kau ceroboh sekali, hah! ayo kita pergi ke klinik dekat sini," ajak Ruka.
Zia terdiam, memandang Ruka yang berdiri di hadapannya.
"ada apa ayo bangun," pinta Ruka.
"kaki ku terkilir, aku tidak bisa berjalan," keluh Zia.
"heh... kenapa kau tidak bilang dari tadi astaga," jengah Ruka, mendudukkan tubuhnya dan merengkuh tubuh kecil gadis tersebut, menggendong nya ala bridal style.
Zia tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih.
"terima kasih, aku mencintaimu," ucap Zia di gendongan pemuda itu.
"em...aku tau," gumam pemuda yang menggendong tubuh Zia. Zia terdiam tak ingin berbicara lagi.
Ruka.... kenapa kau tidak pernah menjawab dengan kalimat aku mencintaimu, untuk ku? kau sebenarnya sungguh-sungguh mencintaiku atau tidak?.
__ADS_1