Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
DUA LIMA


__ADS_3

Di perjalanan, Johan tidak berani bertanya apa-apa kepada Abila tentang masalah yang sedang menimpa antara Jovin dan dirinya. Ia hanya bisa melirik Gadis itu yang terlihat memandang jauh ke arah luar jendela mobil nya. Tersirat kepedihan yang begitu mendalam dari raut wajahnya. Johan tidak tau pasti, apa yang sudah di lakukan Adik nya pada Abila. Yang jelas ia ingin sekali menghajar Pemuda itu, namun itu bukan pilihan yang baik. Mengingat sikap Jovin yang begitu keras kepala dan tidak ingin di salah kan. Hanya kata-kata lembut nan menusuk yang bisa membuat nya menyadari kesalahannya.


"Kak....antar aku kerumah Sahabat ku, Mika." Tutur Abila lemah.


Johan hanya mengangguk, dan melajukanya mobilnya menuju rumah Mika.


Setibanya di rumah Mika, Abila langsung menuruni mobil Johan tanpa mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Bukan tipe Abila sekali, namun Johan tidak mempermasalahkan semua itu, ia tau sekarang ini Gadis itu sedang dalam keadaan yang sangat terpuruk.


Abila memang sering pulang ke kediaman Mika, jadi dia sudah terbiasa keluar masuk rumah itu seperti rumahnya sendiri.


Abila membuang asal jas yang tersampir menutupi tubuh nya, ia berjalan gontai menuju kamar nya dengan pandangan yang begitu kosong persis seperti orang yang tengah kesurupan. Seakan Abila buta dan tuli, ia berjalan tanpa menyadari adanya Mika dan juga Nita yang terlihat sedang bercengkrama di ruang tamu.


Mika dan Nita terdiam melihat kedatangan Abila yang terlihat begitu berantakan, baju sobek, luka dan bekas ****** di sekujur tubuhnya. Mika dan Nita saling bertatapan bingung, otak mereka berdua seolah sedang memikirkan hal yang sama.


Seketika mereka berucap secara bersamaan.

__ADS_1


"Abila di per**sa." Serunya, dengan kedua bola mata melotot tak percaya.


Mika dan Nita tidak bisa terima Sahabat nya diperlukan tidak manusiawi, namun mereka belum tahu pasti siapa yang berani melakukan hal sekeji itu pada Abila, mereka hanya bisa menerka-nerka bahwa itu mungkin kelakuan Pemuda yang selama ini bersama Abila, Jovin hanya satu nama itu yang dapat mereka simpul kan saat ini.


Abila menangis sejadinya di dalam kamar nya. Meraung frustasi, membanting seluruh barang yang ada di atas meja. Ia tersimpuh di lantai seraya menjambak surai panjang nya yang terlihat begitu berantakan. Gadis itu memukul dadanya sendiri, yang terasa begitu sesak, sakit tak berpenghujung.


Abila menuju kamar mandi nya, melepas piyama yang menempel di tubuhnya dan membuangnya ke tempat sampah. Ya! tempat sampah seperti nya adalah tempat yang cocok untuk membuang semua kenangan antara dirinya bersama Pemuda yang menurut nya tak lebih dari seonggok sampah yang begitu menjijikan itu. Benci yang teramat mendalam , ingin rasanya Abila melenyapkan Pemuda itu jika ia bisa. Ia sudah mempersiapkan kado ulang tahun untuk Pemuda itu, tapi apa, ia malah meminta hadiah yang lebih dari Abila. Pemuda itu merenggut kesucianya, sebagai kado di hari ulang tahun nya.


Abila memasuki Bathtub kamar mandi nya, menyalakan shower dan mengucur di atas kepala nya. Abila masih terisak lirih, memandang langit-langit kamar mandi nya, bola mata hitam kelam itu memandang jauh entah kemana, bibir Cherry yang penuh luka gigitan itu mengatup rapat, seolah tak mau terbuka untuk selamanya.


Dasar ja**ng murahan, beraninya kau menipu ku,... sudah berapa kali kau tidur dengan Kakak ku...dasar Gadis murahan..... sekali murahan tetap lah murahan untuk selamanya......


Ucapan Jovin seakan sudah menjadi mantra , yang selalu terapal di dalam otaknya.


"tidakkkkk..... hentikan suara itu hentikannnn....a...aku bukan ja**ng,..hentikan suara itu...ku mohon hentikan."

__ADS_1


Abila menjambak rambut nya dan berteriak histeris, kedua bola matanya bergulir gelisah, ia terlihat sangat ketakutan, seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.


Bayangan Jovin yang dengan kasar mencumbu nya semakin jelas terngiang di depan matanya .


"arrggghhhhh...." Abila semakin menjambak rambut nya kasar seraya menggeleng brutal, berharap ingatan itu hilang dari dalam otaknya.


Dasar ja**ng murahan.... beraninya kau mendekati ku, berapa besar Johan membayar mu untuk melayaninya haa....aku juga bisa membayar mu lebih banyak, tapi sayang nya aku tak sudi, karena kau sudah di beli Johan untuk ku, maka layani aku hingga aku puas.


Buka kaki mu ja**ng, seperti yang kau lakukan pada pelanggan mu...


Jovin merendahkan harga diri Abila sampai ke titik yang paling rendah, seakan membuat Abila tidak bisa bangkit lagi.


Abila memang di bayar oleh Johan, namun hanya sebatas formalitas sebagai partner kerja pada umumnya yang membedakan hanya pekerjaanya yang terkesan tidak lazim.


Abila kembali mengingat, betapa bodohnya dia menerima tawaran Johan. Andai bukan karena kasihan kepada Jovin , Abila tidak mungkin mau menyamar sebagai Adira. Salah kah jika Abila ingin menyelamatkan nyawa seseorang? apakah ini semua balasan atas kebaikan nya selama ini?.

__ADS_1


Abila melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin, bekas cumbuan, cakaran dan tamparan yang Jovin berikan masih terlihat jelas di sekujur tubuhnya.


__ADS_2