Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
EMPAT PULUH


__ADS_3

"Bi.... tolong rawat kekasihku di kamar! obati dia, beri makanan yang cukup untuk nya, dan jangan biarkan dia keluar dari Villa ini. Oh ya! satu lagi jangan biarkan maid lain masuk ke dalam kamar ku, kecuali dirimu Bi..," perintah Jovin sembari tersenyum manis.


"em.. baiklah," jawab wanita itu, ada sedikit rasa curiga di dalam hati nya, ia merasa ada yang tidak beres dengan Tuan muda ini. Jika di fikir-fikir pemuda itu baru kali ini membawa seseorang untuk singgah di Villa nya, apa lagi dia seorang gadis? siapa gadis itu, yang pasti gadis itu sangat spesial bagi Jovin mungkin, terka Bibi Yul.


▪️▪️▪️


Beralih ke Mansion keluarga Nichol.


pagi ini mereka tengah berkumpul di ruang pribadi Tuan Nichol , bukan hanya keluarga Nichol saja yang ada di dalam ruangan itu, ada satu pemuda kepercayaan Johan juga di situ. Marsel, pemuda itu adalah dia, Johan sudah menganggap Marsel sebagai anggota keluarga nya sendiri maka nya ia mengajak untuk berkumpul di ruang pribadi milik keluarga Nichol, yang notabene nya tempat itu merupakan ruangan paling inti di mana menyimpan semua aset-aset penting serta dokumen-dokumen tentang silsilah keluarga Nichol di simpan.


Di karenakan Marsel sudah sangat lama mengenal keluarga itu jadi mereka sangat mempercayai pemuda itu juga, karena memang sikap Marsel sangat baik selama ini kepada keluarga Nichol.


Mereka tengah kebingungan, pasal nya sudah tiga hari ini Jovin belum kembali semenjak dia bilang, bahwa dia sudah menemukan keberadaan Abila.


Pemikiran buruk mulai menyelimuti otak mereka semua, mereka sangat khawatir. Bukan khawatir pada Jovin melainkan pada Abila. Jahan sudah menghubungi beberapa rekan kerja serta teman-teman dekat Jovin, namun nihil semua tidak ada yang tau. Bahkan nomor phonesel pemuda itu sudah di non aktifkan.


"sialll.... kemana perginya bocah sialan itu,,..astaga kenapa di selalu merepotkan ku," gerutu nya, Johan selalu ingin mengumpat karena tingkah gila yang dilakukan Jovin.


"tenangkan dirimu Han...kita harus bisa berfikir jernih untuk bisa menemukan keberadaan mereka," tutur Marsel menepuk pundak pemuda itu.

__ADS_1


"sudahlah Han...aku yakin Abila akan baik-baik saja." Nyonya Nichol memeluk sayang tubuh putra pertama nya, berusaha menyalurkan ketenangan untuk pemuda tersebut. Walau dalam hati sebenarnya tidak yakin kalau Abila akan baik-baik saja, namun mengingat bahwa Jovin sangat mencintai gadis itu , tidak mungkin ia akan menyakiti nya. Nyonya Nichol mencoba untuk berfikir positif.


Tiba-tiba Johan tersentak saat menerima panggilan telphone dari Sekretaris Jovin, dia bilang bahwa Jovin sudah masuk kantor hari ini.


"Daddy...aku akan pergi ke kantor sekarang, Sekretaris Jovin baru saja menghubungi ku, dia bilang bahwa Jovin sudah masuk kantor hari ini," ucap Johan penuh semangat, tanpa menyadari ada sosok yang tersenyum evil mendengar berita itu.


Kena kau ....aku tidak akan membiarkan mu lolos kali ini. Aku akan menemukan keberadaan gadis itu dalam waktu dekat. Gumam sosok itu.


Seutas senyum tertera di bibir mereka semua, seolah ada setitik cahaya terang dari masalah yang tengah mereka hadapi saat ini. Setidaknya mereka bisa mencoba untuk menemui Jovin dan menanyakan keberadaan Abila. Walau mereka yakin Jovin tidak akan memberitahu mereka dengan mudah.


"Daddy juga akan ikut dengan kalian berdua," seru Tuan Nichol.


"Mommy di rumah saja hm... jaga diri baik-baik," pinta Johan, mengecup sekilas kening sang Mommi lalu bergegas pergi menyusul Marsel dan juga Tuan Nichol yang sudah siap di dalam mobilnya.


▪️▪️▪️


Nita sudah sangat marah , karena tiga hari belum ada kabar tentang keberadaan Abila. Nita mencoba menghubungi Mika siapa tau Abila menghubungi gadis itu.


Mika sangat emosi mendengar kabar dari Nita bahwa Abila pergi dari rumah nya, dan lebih parahnya gadis itu kembali ke Apartemen tempat tinggal nya dulu. Astaga.... sebenarnya apa yang ada di dalam otak gadis itu, kenapa dia kembali ke tempat itu lagi? sama saja dia menyerahkan diri ke kandang singa, Jengah Mika.

__ADS_1


Kemudian bergegas menuju ke rumah Nita untuk mencari kejelasan lebih lanjut, dari pada uring-uringan lewat phonsel lebih baik menemui orang nya langsung, fikirnya.


Kini Mika sudah berada di rumah Nita.


Tanpa basa-basi dia mebrondong beribu pertanyaan kepada Nita. Terjadilah perang mulut , saling mengumpat . Walau masalah yang mereka hadapi saat ini adalah hal yang sama, yaitu tentang menghilangnya Abila.


"astaga Nita... apa kau ini benar-benar bodoh membiarkan Abila pergi sendirian ke kota," bentak Mika dengan nafas terengah-engah.


Ingat kan jika Nita tidak suka ada orang yang berbicara dengan nada tinggi kepada nya.


"pranggg....


Nita membanting vas bunga kaca yang terduduk di meja ruang tamu nya, yang mana membuat Mika mendelik kaget. Baru kali ini ia melihat sisi mengerikan Nita.


"beraninya kau membentak ku, siapa kau," Nita reflek meninggikan suaranya .


"Bu... bukan begitu Nit,, maksutku kenapa kau membiarkan nya pergi," lirih Mika dengan wajah menunduk takut.


Nita yang menyadari perubahan ekspresi sahabat nya segera menetralkan emosi.

__ADS_1


"hah!....andai aku bisa menghentikan nya Mik..." ucap nya dengan nada halus.


"emm...bagaimana kalau kita pergi ke Mansion keluarga Nichol, menanyakan pada keluarga nya siapa tau ada yang mengetahuinya," usul Mika kemudian dan di angguki oleh Nita.


__ADS_2