
Di sisi lain tepatnya di markas bawah tanah Klan Yakuza, dalam kepemimpinan keluarga besar Takkeru. Kini terlihat sosok bocah cilik tampan yang dengan lihainya memainkan beberapa alat berbahaya di sana. Tentunya atas pengawasan Marsel, dan tanpa sepengetahuan Jovin. Bisa di larang habis-habisan nanti jika ketahuan pemuda itu.
Diam-diam Marsel mengajarkan beberapa teknik bela diri dan juga cara menembak jitu pada Zio, anak itu juga terlihat begitu antusias mendapatkan pelajaran dari yang lebih dewasa. Sudah bahwasanya anak kecil itu jenius, jadi hanya berlatih beberapa menit saja ia sudah dengan mudah nya menyerap pelatihan tersebut. Marsel tersenyum lebar melihat kecerdasan anak itu, ia jadi ingin mempunyai anak seperti Zio. Tapi sayang nya anaknya adalah seorang gadis.
Oh ya! ngomong-ngomong Marsel juga sudah menikah dengan Nita satu tahun yang lalu, dan kini ia sudah di karuniai anak prempuan begitu imut, mereka menikah karena terjadi kecelakaan jika kalian tau. Bisa tebak sendiri kecelakaan apa yang di maksud kan mereka, Apa lagi kalau bukan hamil di luar nikah, salahkan hormon Marsel yang tidak bisa terkendali itu.
"Zio....kau tidak takut jika Daddy mu tau hm? pasti dia akan membunuhku," ucap Marsel, sedikit bimbang.
"ck.... itu urusanmu dengan Daddy ku," ketusnya santai sembari duduk menyenderkan punggungnya pada sisi dinding dengan kedua tangan terselip di kedua saku celananya.
Marsel menggigit bibir bawahnya geram
Sial.... kenapa anak ini begitu menyebalkan seperti ayahnya? jika saja aku tak ingat kau adalah bagian dari bosku, sudah ku pastikan kau akan aku tenggelam kan di dasar laut. Geramnya dalam hati.
"apa kau melihatku seperti itu ha? kau sedang menyumpahi ku begitu?," tebak Zio tepat sasaran. Membuat Marsel menelan ludah nya kasar.
Ck....sebenarnya bocah ini jelmaan iblis mana, kenapa sifatnya dingin sekali.
"oh ya.... boleh Paman tau, apa tujuanmu belajar menembak dan juga belajar bela diri?," tanya Marsel ingin tahu.
"tentu saja untuk melindungi Mommy ku," sahutnya mantap.
Marsel tersenyum bangga pada sosok anak kecil ini, dia mempunyai ambisius yang begitu tinggi.
"tapi janji pada Paman, jangan salah gunakan kepandaian mu dalam bermain senjata untuk melakukan kejahatan, kau mengerti hm?," seru Marsel memperingati.
"em...aku mengerti," sahutnya sembari membidik titik sasaran nya menggunakan senjata tembak di kedua tangannya.
Jujur Marsel sangat kagum dengan kemampuan bocah kecil ini, ia yakin suatu hari nanti pasti dia akan menjadi seorang pemuda yang hebat.
"Zio...ayo kembali ke Mansion, sebelum kedua orang tua mu mengetahui tingkah nakal mu ini, apa lagi hari ini kau juga bolos sekolah. Astaga.....," jengah Marsel karena lagi-lagi ia harus mencari alasan untuk meloloskan bocah cilik itu dari urusan yang namanya pelajaran sekolah.
Di perjalanan pulang ke Mansion, Marsel sengaja berputar arah dari sekolah Zio. Agar seolah-olah mereka baru pulang dari sekolah. Padahal nyatanya tidak, masalah pelajaran sekolah jangan tanyakan lagi. Zio tanpa belajar pun bisa mendapat peringkat pertama, karna kemampuan IQ nya yang melebihi di atas rata-rata.
__ADS_1
"Zio...Paman tidak mau tau, kau tidak boleh bolos sekolah lagi ini yang terakhir. Jika kau berniat bolos lagi...maka Paman akan mengadukan mu pada Daddy mu agar kau di hukum. Kau mengerti?," ancam Marsel sungguh-sungguh.
Yang mana membuat Zio berdecak malas, jika harus berurusan dengan sang Daddy.
"iya-iya....aku tau, tapi ada syaratnya...Paman harus mengajariku teknik-teknik bela diri lainya," pinta nya, dan di angguki setuju oleh Marsel.
Mereka pun sampai di Mansion Keluarga Jovin. Zio turun dari mobilnya di susul Zia yang baru saja pulang di jemput oleh sang sopir pribadi. Sedang Marsel segera kembali ke kediaman nya, ngomong-ngomong dia sangat merindukan putri kecilnya jika kalian tau.
Zia menghampiri Saudara nya.
"hei beruang kutub....darimana saja kau? kau bolos lagi ya?," ketus Zia, ia sedikit menyunggingkan sebelah bibirnya. Karena merasa ada sasaran empuk untuk memoroti uang saku seseorang, batinya. Zia memang menuruni sedikit sifat licik. Bukan, lebih tepatnya sifat cerdik dari Adira yang notabene nya sebagai Tante si kembar.
"jika iya memang kenapa?," sahutnya dengan wajah menyebalkan.
"ck...sok tampan, aku akan mengadukan mu pada Daddy," seru Zia dengan seringaian nya.
Zio merolling bola matanya malas, terlampau hafal dengan sifat licik gadis cilik ini.
"uang saku ku satu bulan untuk mu," ketus Zio tanpa basa-basi, ia bukan tipe anak yang suka banyak bicara.
Mereka memasuki Mansion nya.
"aku pulang..." seru kedua nya.
Dan di sahut oleh kedua orang tua nya yang terlihat tengah terduduk di ruang tamu dengan Jovin yang terlihat sedang sibuk dengan laptop di hadapannya dan Abila yang tengah serius membaca majalah.
"kalian sudah pulang sayang.... cepat ganti baju kalian dan kita makan siang bersama," pinta sang Mommy. Dan di angguki paham oleh si kembar.
Setelah selesai ganti baju mereka segera menuju ke ruang makan tak lupa mereka ribut terlebih dahulu saat menuruni tangga hanya karena tidak ingin berdampingan.
"hei....aku duluan," bentak Zio.
"gadis terlebih dahulu, dan kau sebagai lelaki harus mengalah," sahut Zia tak mau kalah.
Hingga terpaksa Abila harus berteriak murka dari arah ruang makan.
__ADS_1
"berhenti bertengkar....atau kalian tidak dapat jatah makan siang," geram nya, dan sukses membungkam kedua mulut cerewet si kembar.
Mereka berdua duduk diam di kursi ruang makan. Zio tengah asyik mengincar sesuatu yang entah apa dengan tangan kanan memegang sebutir kelereng dan ia dekat kan di sebelah mata kanannya sembari memicingkan mata kirinya. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Jovin.
Dan.
"CTAKKKK.....
Tepat sasaran, Zio tengah membidik sesuatu lubang benda guci hias yang jaraknya sekitar hampir tiga meter dari arah nya duduk. Dan berhasil, kelereng yang ia lemparkan masuk kedalam lubang tersebut.
Sontak membuat Jovin mengernyit heran, bagaimana bisa anak ini melempar benda begitu jitu tepat sasaran di usia nya yang masih begitu kecil, seolah dia sudah terlatih, batin Jovin curiga.
"bisa kau coba lagi boy...? Daddy sepertinya tertarik," ucap Jovin dengan nada datar nya.
Zio tidak bodoh untuk tak menyadari gelagat kecurigaan sang Daddy.
Oh.... jadi Daddy menyadari kemampuan ku... baiklah lihat ini pak tua...
Kekehnya dalam hati.
Zio melempar kelerengnya lagi, dan.
"PRANG.....
Kelereng itu mengenai ukiran piring hias di lemari hingga pecah berantakan, yang mana piring itu merupakan barang kesayangan Abila. Zio sengaja memeleset kan bidikannya jika kalian sadar.
"Zioo.....," teriak Abila syok.
"Daddy...Momm... yang menyuruh ku," adu Zio melirik Daddy nya dengan lirikan mengejek.
Jovin meraup wajahnya frustasi.
Sial.... lagi-lagi aku kena jebakan dari iblis kecil ini. Tuhan....ingin rasanya ku kembalikan anak ini menjadi embrio.
Jadilah Jovin kena amuk istri tercinta nya dan harus rela merogoh black card untuk membeli keramik hias yang harganya puluhan juta itu.
__ADS_1
Sedang di kembar hanya terkikik geli dan saling bertos ria, karena berhasil menistakan sang Daddy. Benar-benar anak tak punya akhlak memang.