Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
KE DELAPAN


__ADS_3

Johan berjalan masuk ke dalam kamar Jovin, Abila mengekor di belakang Johan pelan sambil melihat ke sekeliling, melihat beberapa pajangan foto besar yang terpampang gambar seorang pemuda yang terlihat begitu tampan.


Kenapa Adira begitu bodoh ? menyia-nyiakan pemuda setampan dia. Batin Abila.


Hingga langkah nya terhenti. Hatinya begitu perih melihat pemandangan didepannya. Abila menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena keterkejutan nya melihat keadaan Jovin yang begitu memprihatinkan. Pemuda itu dalam keadaan terbaring tak berdaya, wajah tirus, tubuh kurus tinggal tulang, dengan selang peralatan rumah sakit yang terpasang di bagian tubuhnya.


Benarkah ini pemuda yang ada di dalam foto tadi? kenapa sangat berbeda.


Johan membangunkan Adiknya yang masih setia menutup kedua matanya.


"Jovin.....ayo buka mata mu! kau tidak ingin melihat siapa yang aku bawa untuk mu hm?." ucap Johan begitu lirih dan lembut.


Berlahan Jovin membuka kelopak matanya.


"Kakak... apa kau membawa Adira ku?." tanya nya. Johan hanya mengangguk pelan dan menoleh ke arah Abila. Jovin mengikuti arah pandang sang Kakak.


Seketika kedua mata Jovin berkaca-kaca. Apakah ini nyata? Adira ku kembali?. monolog nya dalam hati.


"A...Adira... benar kah itu kau sayang? aku masih hidup bukan? ini bukan hayalanku saja kan?." ucapnya masih belum yakin.


Abila segera mendekati Jovin .


"i... iya, ini aku Adira." jawab Abila terbata.


Jovin dengan susah payah mendudukan tubuhnya, Abila segera membantu dan tanpa ia sangka Jovin langsung memeluk tubuh Abila dan menenggelamkan wajahnya di perut Abila.


Sontak membuat nya terbelalak, awal nya ia hanya diam namun mendengar isakan dari pemuda itu tanganya reflek mengelus surai lembutnya.


"sayang terima kasih kau sudah kembali untuk ku, aku sungguh ingin mati jika kau tidak kembali." isaknya.


"maafkan aku Jovin.... maafkan aku." tanpa sadar Abila ikut menitikkan air mata nya, hatinya berdenyut sakit melihat penderitaan pemuda di pelukannya ini.


Ini semua karena ulah Adira, tenanglah Tuan aku berjanji akan menyembuhkan mu, untuk menebus semua kesalahan saudara kembar ku.


Johan mengusap air mata nya, ia sedih sekaligus bahagia. Sedih karena terpaksa harus membohongi Adik kesayangannya dan bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Adiknya.


Terima kasih Tuhan... sudah mengirimkan gadis manis, untuk penyembuh Adik ku.

__ADS_1


"Kakak... terima kasih sudah menempati janji mu pada ku." Jovin menoleh ke arah Johan.


"apa pun untuk mu, karena kau adalah permata di keluarga Nichol." jawab Johan sambil tersenyum bahagia.


Abila ikut tersenyum, hati nya ikut menghangat melihat kebahagiaan mereka.


setidaknya aku bisa membuat mereka tersenyum.


Jovin semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Abila.


"Jo....bisa kau lepaskan pelukan mu ?." seru Abila karena ia mulai merasa tidak nyaman.


Johan yang mengerti situasi segera ambil bicara.


"Jo... kau tidak ingin melepaskan kekasih mu? lihat lah dia kehabisan nafas. Kau ingin membunuhnya hm?." kekeh Johan, bukan apa-apa ia hanya merasa lucu melihat ekspresi Abila. Ia tau gadis itu merasa risih .


Akhirnya Jovin melepaskan pelukannya dan menghapus air mata nya.


"ah... maaf kan aku, aku hanya sangat merindukanmu sayang.. duduk lah di samping ku, aku tak ingin kau pergi jauh dari ku lagi."


"glegg....


Abila menelan ludah nya kasar, baru kali ini ia bersentuhan dengan pemuda sampai sedekat ini.


"sayang... kenapa kau diam saja hm? apa kau tidak suka bertemu dengan ku lagi?." tanya Jovin sambil menatap lekat wajah Abila dari bawah.


Abila rasanya ingin menendang pemuda di pangkuannya ini, tak tau saja jika jantung nya sudah berdetak kencang karena terlalu gugub.


"kenapa kau bilang begitu sayang...aku sangat bahagia bisa bersamamu lagi." sahut Abila selembut mungkin, walau jujur dalam hati ia begitu geli menyebut kata 'sayang'.


Johan pergi meninggalkan mereka berdua, memberikan privasi pada Adik tercintanya untuk berduaan bersama kekasih 'bohonganya'.


"sayang.... boleh aku bertanya sesuatu pada mu? dari mana saja kau selama ini? kenapa kau tidak memberikan ku kabar?."


Abila menghela nafas dan menjawab, semoga jawaban kali ini benar . Doanya dalam hati.


"maaf kan aku sayang... Adik ku sedang sakit parah, dan phonsel ku hilang jadi aku tidak bisa menghubungi mu." ucap Abila berusaha bersikap sedih, agar pemuda itu percaya.

__ADS_1


Jovin menegakkan tubuhnya, dan menangkup kedua pipi gembil Abila.


"sayang... kenapa kau tak bilang pada ku hm? ku bisa mendatangi ku, aku bisa membantu pengobatan Adikmu, dan juga bukan kah kau biasa meminta phonsel pada ku? aku dengan senang hati membelikan nya untuk mu." ucap Jovin panjang lebar, membuat Abila mati kutu . Bingung harus menjawab apa.


sial....aku harus bicara apa, sudah ku duga ini pasti akan terjadi. Tuhan tolong bantu aku...


"ah sudahlah sayang... yang terpenting sekarang aku sudah bersama mu, dan jangan membicarakan hal itu lagi okay.... karena hanya akan membuat ku sedih." Abila melengkung kan bibirnya ke bawah, bersiap untuk melakukan akting menangis nya.


"sayang... jangan menangis kumohon, maafkan aku telah membuat mu bersedih hm." Jovin memeluk tubuh Abila kembali.


Abila menghembuskan nafas nya lega, setidaknya ia terhindar dari pertanyaan jebakan yang tidak bisa ia jawab.


"sayang.... dimana Adik angkat mu yang kau bilang sedang sakit itu? apa dia sudah sembuh, kapan-kapan kita menjenguknya yaa." ucap Jovin sambil mengelus punggung sempit Abila.


Abila membelalakkan matanya lagi.


pertanyaan apalagi ini, bahkan Johan tidak pernah mengajarkan aku untuk menjawab pertanyaan ini.


"hik....hik....di....dia sudah meninggal sayang, Dokter tidak bisa menolong nyawa nya. Adik kecilku yang malang." akhirnya Abila meledakan tangisan nya. Bukan menangis sedih masalah Adiknya tiada karena memang sosok Adik itu hanya rekayasa, ia menangis karena sedih terjebak dalam situasi sulit seperti ini.


"sayang.... maaf aku tidak tau, tolong maafkan kekasih mu yang bodoh ini , karna selalu membuat mu sedih." Jovin mengusap air mata Abila sambil meracau menyalahkan diri nya sendiri.


Abila terdiam, ia terfokus pada ucapan pemuda itu.


Sebegitu cinta kah diri mu pada saudara ku, hingga kau selalu saja rela menyalahkan diri mu sendiri. Andai aku ada di posisi Adira, aku tidak akan menyia-nyiakan pemuda sebaik dirimu. Namun nyatanya aku disini hanya lah menggantikan posisinya saja.


"sayang... kenapa kau terdiam, apa kau marah pada ku? kau mau memukulku? pukul aku jika bisa membuat mu bahagia sayang... aku rela."


Abila hanya menggeleng dan kembali memeluk Jovin.


"kau pemuda yang sangat baik, bagaimana aku bisa memukul mu." ucap Abila tanpa sadar.


"ehem...." suara deheman menghentikan acara berpelukan mereka berdua, dan suara itu berasal dari Tuan Nichol, beserta Johan dan Nyonya Nichol disampingnya.


Abila tertunduk malu karena terciduk sedang berpelukan dengan Tuan muda di rumah ini.


Astaga aku malu sekali, sejak kapan mereka berdiri di situ bodohnya aku tak menyadari kedatangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2