
Roger membaca lembaran biodata lengkap seorang gadis bernama Hazel, di tangan kanannya. Kedua alisnya bertaut seakan terkejut dengan apa yang baru saja ia ketahui. "Ini mustahil, nama yang berbeda, tanggal kelahiran yang sama, Apa mungkin gadis ini adalah kembaran Hazly? Tapi ... kenapa Hazly bilang bahwa dia tidak punya saudara?" batin Roger merasa begitu bingung. "Boleh ku tau, apa gadis ini mempunyai saudara kembar?" tanya Roger, menatap begitu intens kearah Jeslyn. Morgan yang tak tau apa-apa hanya memilih diam, memperhatikan percakapan mereka berdua. Atau mungkin tak ingin tahu. "Setahuku memang benar dia punya saudara kembar, dan yang menyebabkan dia harus bekerja di sini juga saudara kembarnya itu." jelas Jeslyn dengan santainya. Roger mengernyitkan dahinya. Tak mengerti maksud gadis dihadapannya ini. "Bisa kau jelaskan apa maksudmu?" pintanya. "Hezel hanya bercerita sedikit, dia bilang jika dirinya saat ini tengah terbelit hutang. Namun dia hanyalah korban dari ulah saudaranya. Gadis itu yang berhutang, Hazel yang harus menanggungnya, hah! Kasihan sekali nasibnya." Jeslyn menatap nanar ke arah Hazel. Roger sedikit menyunggingkan sebelah bibirnya. 'Terbelit hutang ya? bagus ... mungkin ini akan mempermudah rencana ku.' Gumam Roger. Katakan jika dia jahat, namun ini jalan satu-satunya agar ia terbebas dari tekanan Mark. Dan kemungkinan besar adiknya akan sembuh dari depresi yang dideritanya. "Aku ingin memesan gadis itu." pinta Roger. Jeslyn mengernyitkan dahinya. Apa maksud pemuda ini? Memesan dalam hal bagaimana? Pikirnya. "Maaf Tuan, Hazel tak melayani dalam hal seperti itu." ucap Jeslyn seraya melirik ke arah Roger. Roger yang mengerti arah ucapan Jeslyn hanya terkekeh. "Maksudmu apa, hm?" tanya Roger sedikit menggoda gadis di hadapannya. Morgan yang sedari tadi menyaksikan percakapan itu hanya berdehem. "Maaf, maksudku, Hazel hanya melayani pengunjung dalam sebatas mendengarkan curhatan mereka, tanpa ada sentuhan fisik." jelas Jeslyn. Riger tersenyum, ia tak salah memasukkan gadis itu dalam rencananya, karena ternyata gadis itu adalah gadis baik-baik yang menjunjung harga diri nya. Batin Roger. "Baiklah, aku mengerti, aku hanya ingin membicarakan sesuatu padanya." "Kau ingin bicara apa, bisa kau memberitahuku? Hazel spesial di sini, tak sembarangan orang bisa mengajaknya membahas masalah pribadi." ucap Jeslyn begitu datar. Ia hanya ingin melindungi adik kesayangannya. "Baiklah akan aku ceritakan semua tujuanku pada gadis itu." Roger mulai bercerita. "Aku mempunyai seorang adik laki-laki, dia sedang sakit. Dan kau tau semua itu ulah saudara kembar Hazel, Gadis itu bernama Hazly. Adikku terus saja mencari keberadaan Hazly, dan menyuruhku untuk mencarinya. Jika gadis itu tak ketemu, maka adikku akan bunuh diri. Jadi aku ingin meminta bantuan kepada Hazel untuk berpura-pura sebagai saudara kembarnya. Sampai adikku sembuh, aku berjanji akan membebaskan Hazel." cerita Roger dengan tatapan sedih. Jeslyn ikut sedih mengingat masa lalu nya, ia juga pernah mempunyai seorang adik laki-laki, dan adiknya juga bunuh diri, karena kedua orang tuanya melarang untuk menjalin hubungan dengan gadis impiannya. Hal itulah yang sampai sekarang masih terngiang di otak Jeslyn, sampai detik ini Jeslyn masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa menjaga adiknya dengan baik, hingga ia harus kehilangan sosok adik tersayangnya itu. "Aku mengerti apa yang sedang kau rasakan, bujuk Hazel agar dia mau membantumu, jangan buat dirimu menyesal untuk selamanya karena harus kehilangan adik yang kau sayangi, seperti diriku." lirihnya di akhir kalimat. "Jadi kau mengijinkan Hazel kerja denganku?" tanya Roger tak percaya. "Semua keputusan ada di tangan Hazel, aku tak punya hak untuk melarangnya atau pun memaksanya." ucapnya begitu tulus. Morgan tersenyum simpul, tak menyangka gadis yang ia puja-puja ternyata begitu bijak. Ia semakin yakin jika ia tidak salah pilih. Mereka saling bertatapan dan tersenyum. Roger mendekati Hazel, dan berbisik. "Aku menyewamu, ayo ikut aku ke ruang VIP, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu." ucapnya. Hazel mengernyitkan dahinya. Ruang VIP? Untuk apa? Pikirnya was-was. "Maaf Tuan, aku tak melayani lebih." ucapnya sembari tertunduk malu. Roger terkekeh geli, lucu sekali gadis ini. Terlalu polos. Gumamnya dalam hati. "Kau tidak usah takut, aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam, hanya ingin membicarakan sesuatu hal yang penting." jelas Roger. Hazel hanya mengangguk dan mengikuti Roger menuju ruang VIP. Sesampainya di ruangan itu, Hazel menduduki sofa merah yang sudah tersedia di sana, beserta Roger yang juga ikut duduk di hadapannya dengan meja sebagai penghalang jarak antara mereka berdua. "Boleh langsung bicarakan apa keinginan Tuan?" tanya Hazel mengawali. Roger meraup wajahnya kasar, ia bingung harus berkata bagaimana, ia takut gadis ini akan menolak keinginan hatinya. Biar bagaimanapun permintaannya ini tidaklah mudah. "Aku bermaksud meminta bantuanmu." akhirnya Roger berucap. Hazel sedikit terkejut, bantuan apa yang pemuda ini inginkan? Batinnya. "Bantuanku? Ah, tunggu perkenalkan namaku Hazel." Hazel mengalihkan kecanggungan. "Ah, iya. Maaf, aku sampai lupa memperkenalkan diriku, perkenalkan namaku Roger." Sahut Roger sambil mengelus tengkuknya malu. Bagaimana bisa ia tiba-tiba meminta bantuan tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Konyol sekali. Ia merutuki kebodohannya. "Emm .. baiklah, kembali ke topik masalah. Sebenarnya apa yang bisa ku bantu untuk, Tuan?" tanya Hazel selanjutnya. "Kau kenal gadis ini?" Roger menyodorkan foto seorang gadis cantik di hadapan Hazel, sosok gambar gadis yang sangat mirip dengannya. Reflek Hazel membolakan kedua bola matanya. "Hazly?" ucapnya. Roger mengangguk, kemudian melanjutkan ucapannya. "Kau mengenalnya?" "Dia saudara kembarku." jawab Hazel lirih. "Hazly telah menyebabkan adik kesayanganku hampir gila, selama dua tahun ini dia depresi karena ditinggalkan tanpa sebab oleh Hazly. Ku mohon bantu aku, menyamarlah sebagai Hazly." pinta Roger. Hazel tertunduk, sial! Lagi-lagi karena ulah kembaranya ia terjerumus ke dalam lubang masalah lagi. Gumam Hazel kesal. "Maaf Tuan, ini terlalu beresiko. Aku tak bisa membantumu!" tolak Hazel sedikit ketus. Jujur ia sedikit terpancing emosi. "Aku akan menggajimu tinggi dua kali lipat dari pekerjaanmu di sini." rayu Roger. "Tidak mau," tolaknya. "Tiga kali lipat." imbuh pemuda itu. "Aku tetap tidak mau! Cepat pergi dari sini. Jika kau ke sini hanya untuk membujukku untuk masalah itu. Jawabanku tetap sama, aku tetap tidak mau." Hazel tersungut-sungut. "Bukan kah kau sedang butuh uang untuk melunasi hutang- hutangmu? Aku bisa dengan mudah melunasinya, aku bisa memberikan apartemen untukmu, mobil, apapun yang kau inginkan, asalkan kau mau membantuku." mohon Roger. "Maaf Tuan, aku bukan gadis murahan yang bisa dengan mudahnya akan tergiur dengan iming-iming uangmu. Aku sama sekali tak tertarik!" sarkas Hazel, ia semakin merasa direndahkan dengan ucapan Roger. Johan terdiam, gadis ini sangat berbeda. Jujur, ia merasa bangga pada gadis ini, ternyata tak semua wanita itu menginginkan harta, buktinya Hazel. Roger sangat berharap gadis ini kelak menjadi jodoh adiknya. Doanya dalam hati.