Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
Chapter 05


__ADS_3

Roger mengusap rambutnya kasar, tak tau harus memakai cara yang bagaimana lagi untuk bisa membujuk gadis ini. "Ku tanya sekali lagi, kau butuh uang, hm?" frustasi Roger. "Tentu saja, aku munafik jika menjawab tidak butuh uang." jawab Hazel tanpa merasa malu. "Aku bisa memberikan sepuluh kali lipat dari hasil kerjamu setiap malam, bagaimana? Apa kau tetap akan menolak?" tanya Roger dengan percaya dirinya, ia sangat yakin bahwa gadis itu pasti akan setuju. Hazel menaruh jari telunjuk di dagunya dengan pose berpikir. 'Penawaran yang menggiurkan, apa lagi di saat posisiku sedang tercekik ekonomi begini. Apa aku terima saja ya, penawaran pemuda itu. Ah! tunggu, aku tidak boleh menerima begitu saja. Aku harus tau lebih jelas tentang pekerjaan nya.' Hazel bertarung dengan pemikirannya. "bisa kau jelaskan bagaimana pekerjaannya, Tuan?" tanya Hazel pada akhirnya. Roger tersenyum, setidaknya gadis ini merespon penawarannya. "Menemani adikku, Mark Harold." sahut Roger. "Maksudmu? Menemani yang bagaimana Tuan?" Hazel memiringkan kepalanya. "Temani adikku setiap hari, dan turuti semua keinginannya." jawabnya. Hazel terkekeh, pekerjaan macam apa itu? Apa pemuda ini tidak salah orang? Batinnya. "Kau mencari baby sister, ya? Jika iya, kau salah tempat, Tuan." ejek Hazel sambil tertawa. Morgan yang mendengar percakapan Roger dari kejauhan sudah tidak tahan untuk tidak tertawa. Seorang pewaris perusahaan terkaya di negara ini harus memohon pada gadis club malam, sangat lucu. Gumamnya. "Aku tak ingin mencari baby sister, aku hanya ingin kau berpura-pura menjadi Hazly," ucapnya meyakinkan Hazel. Hazel mendengus kesal. "Astaga, Tuan, sudah ku bilang aku tidak bisa, kenapa anda begitu memaksaku." "Ku mohon berapa pun imbalan yang kau mau akan ku berikan, kau mau salah satu saham perusahaan  keluarga Harold? Aku juga bisa memberikannya kepadamu." mohon Roger, mungkin ini sudah tawaran terakhir yang diajukanya, dan berharap gadis ini mau menerima. Namun semua di luar expektasinya. Bukannya menerima penawaran yang ia berikan, Hazel malah menggebrak meja dengan tidak elitnya. BRAKKK!!!! "Sudah ku bilang berapa kali pada mu, Tuan. Aku tak butuh uangmu, ataupun semua harta yang kau punya. Aku tak bisa kau tukar dengan hartamu, Tuan. Ku mohon aku masih punya harga diri, kenapa kau merendahkan ku seperti itu. Aku menolak tawaranmu bukan karena tawaran uang yang anda berikan masih kurang, bukan Tuan. Aku menolak karena pekerjaan itu tidaklah mudah. Bagaimana kalau misalnya adik anda mengetahui kalau aku bukanlah Hazly? Biarpun kami kembar namun kami sangatlah berbeda. Sekali lagi maaf Tuan, aku tak bisa membantu anda, permisi." jelas Hazel, melenggang pergi meninggalkan Roger. Roger memijit pelipisnya, terlalu penat. Ternyata tak semudah yang ia pikirkan. Gadis ini terlalu sulit untuk dibujuk. Roger menyesap segelas minuman yang ada di hadapannya, meredam otak yang sedari tadi terus bekerja memikirkan cara agar gadis itu luluh. "Hah, bagaimana ini? Apa aku terlalu gegabah? Terlalu sombong. Astaga, aku tanpa sadar telah merendahkan harga diri gadis itu. Aku tak akan menyerah begitu saja, aku akan mencari cara lain untuk membujuknya nanti. Demi Mark." Jika Hazel mau menerima permintaan Roger, setidaknya pemuda tersebut bisa mengulur waktu untuk bisa menemukan keberadaan Hazly Sekaligus untuk menyembuhkan otak adiknya yang miring menjadi waras kembali. Roger memutuskan untuk pulang dan akan kembali ke club ini esok hari untuk membujuk Hazel lagi, sampai gadis itu mau membantunya. Roger kembali kerumahnya dengan berjalan sempoyongan, sedikit mabuk. Untung saja  tadi dia pergi bersama sekretarisnya. "Rog, kau baik-baik saja? Perlu bantuanku?" tanya Morgan, menyembulkan kepalanya dari jendela mobil, melihat punggung Roger yang sedang berjalan memasuki mansionnya. "Aku baik-baik saja, pulanglah." sahut Roger tanpa menoleh ke belakang serta mengangkat tangan kanannya. Morgan manggut-manggut, lalu menyalakan mobilnya dan berlalu pergi. Roger langsung menuju ke kamarnya ingin segera tidur, kepalanya begitu sakit serasa mau pecah. Mungkin efek terlalu banyak fikiran dan juga mabuk. Baru saja ingin merebahkan tubuh, dirinya kembali tersentak kala mendengar suara bantingan pintu. BRAKKK!!! "Sialan! Siapa yang menggangguku malam-malam begini?" Sungguh, demi Tuhan Roger kaget, rasanya kepalanya semakin berdenyut nyeri. Samar-samar Roger mengedarkan pandangannya ke arah pintu. Dan dia bisa melihat dengan jelas sosok pemuda yang tengah berdiri dengan satu tangan kanan menempel pada daun pintu. Roger menghembuskan nafasnya, sudah ia pastikan pemuda yang bertengger di mulut pintu itu adalah Mark. "Astaga ... bocah itu lagi, Tuhan ... lindungi aku, hah! Masalah apa lagi yang akan diberikanya untukku kali ini." mirisnya. "Kenapa kau datang kesini, Mark? Ini sudah malam, tidurlah! Aku juga mau tidur, kepalaku sangat pusing." keluh sang kakak menjambak rambutnya frustasi. "Mana janjimu, Kak? Kau pembohong!!" teriak Mark dengan nafas memburu. "Mark, tak bisakah kita bicarakan masalah itu besok pagi saja? Demi Tuhan aku sangat lelah, aku butuh istirahat jika kau tau." jengah Roger, namun ia mencoba setenang mungkin agar tak terpancing emosi. "Kau membohongiku! Kau bilang akan membawa pulang Hazly, sampai detik ini kau masih belum menemukannya!" marah Mark semakin menjadi. "ARRGGHHH!! Bolehkah kali ini aku berteriak, sungguh aku sangat bosan mendengar pertanyaan itu." teriaknya dalam hati. Walau dalam hati Morgan sudah menyumpah serapah pemuda yang berstatus sebagai adiknya ini. Namun ia masih sadar, bahwa adiknya ini sedang sakit, jadi dia harus mencoba untuk bersabar. "Mark, dengarkan Kakak, aku sudah menemukan keberadaan Hazly. Sekarang kau istirahat, hm! Aku janji akan membawanya pulang secepatnya." tutur Roger menghampiri adik kesayangannya. "Benarkah, Kak? Lalu kenapa kau tidak membawanya pulang sekarang?" tanya Mark begitu antusias. "Dia tidak bisa ikut kesini sekarang, karena dia sedang merawat adiknya yang sedang sakit, jadi dia harus menjaganya." ucap Roger, tidak masalah bukan? Jika berbohong sedikit saja untuk mencari aman. "Adik? Sejak kapan Hazly punya saudara?" kernyit Mark. "Aisshhh ... dasar otak sialan kenapa aku mencari alasan yang salah." gerutunya dalam hati. Roger sedikit berpikir lalu berkata. "Ah, adik angkat, dia mengadopsi seorang anak kecil. Kau tau Hazly begitu murah hati hingga ia merasa sangat tidak tega melihat anak kecil terlantar, jadi dia mengangkatnya sebagai adik," alasannya. 'Cih, ingin muntah rasanya aku harus berucap begini.' decih Roger diujung kalimatnya. "Sungguh, Kak?" tanya Mark lagi dengan raut wajah ceria. "Hn." Roger hanya membalas ucapan adiknya dengan gumaman, terlalu malas untuk menjawab. Yang ia inginkan saat ini hanyalah tidur, tubuhnya serasa remuk. "Sekarang Kakak istirahatlah, aku sangat bahagia akhirnya Hazly-ku sudah ketemu." ucap Mark, yang mungkin sudah tidak bisa didengar lagi oleh Roger. Karena nyawanya sudah berada di alam mimpi. Mark pergi meninggalkan kamar Roger, menutup pintu dengan sangat pelan agar sang empunya kamar tak terganggu. Tersirat senyuman bahagia di bibir pucat nya. Perjalanan sandiwara akan segera di mulai, bertahan antara cinta dan kebohongan. Di mana kebohongan itu akan terungkap cepat atau lambat.


__ADS_2