Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
DUA PULUH


__ADS_3

Jovin mengangkat panggilan yang tertera di Phonesel nya, menggeser tombol berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih itu di telinga kiri nya. Mendadak keringat dingin mulai menuruni pelipis Pemuda itu, di sertai degupan jantung yang tak beraturan.


Ia sendiri juga tidak tau mengapa mendadak perasaan nya menjadi gelisah.


Hingga pada akhirnya suara seorang Gadis terdengar dari benda itu.


"hallo sayang....."


Kata pertama yang di ucapkan Gadis itu dari sebrang.


"siapa kau..." Tanya Jovin, hati nya semakin tidak tenang.


"astaga.... aku kekasihmu." Ucap nya lagi.


"Adira?.. kenapa kau mengganti nomor telphone mu?." Tanya Jovin sedikit curiga.


"itu tidak penting, sekarang temui aku di Hotel XXX , aku menunggumu." Pinta nya.


Jovin mengernyitkan dahi nya, pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di dalam otak nya. Untuk apa Adira berada di Hotel? kenapa semua mendadak menjadi aneh? atau ada orang yang sedang ingin mempermainkanku? lebih baik aku memastikan apakah Adira berada di Mansion atau tidak. Gumamnya.


Belum Jovin menghubungi Adira, suara dalam Phonsel itu kembali terdengar.


"jika kau tidak datang sekarang, Adira mu ini akan mati dan kau akan menyesal."


Ancam Gadis itu, Jovin semakin kalang kabut . Otak nya seolah berhenti bekerja. Tanpa fikir panjang ia segera menyambar jas nya yang tersampir di kursi kebesaran nya. Berlari tak tentu arah. Membuat Sasa, Sekretaris pribadi nya terkejut melihat tingkah atasannya, seraya menegur Pemuda itu.

__ADS_1


"Tuan.... anda mau kemana? kenapa terburu-buru sekali.?." Tanya nya ikut panik.


"nanti jika Kakak ku kesini , bilang pada nya bahwa aku menemui kekasih ku di Hotel XXX." Ucapnya, dan berlalu pergi.


Sasa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlalu bingung dengan atasannya itu. Tapi ya sudahlah, ia tidak ingin ikut campur.


Bodohnya Jovin tanpa memastikan terlebih dahulu apakah kekasih nya saat ini ada di Mansion atau tidak. Yang ada di dalam otak nya sekarang hanyalah Adira.... Adira...dan Adira. Ia tidak ingin kehilangan cinta nya untuk yang kedua kalinya.


▪️▪️▪️


Di tempat lain tepat nya di cabang perusahaan keluarga Nichol yang di kelola oleh Johan.


"BRAKKK...


"SIALLLAN....


Johan sudah menyuruh seseorang untuk melacak keberadaan Gadis itu, tak menunggu lama posisi Gadis itu sudah di ketemukan.


"oh .... ternyata kau masih belum menjalankan rencanamu Gadis ja**ng." Johan berseringai, tanpa ia ketahui bahwa Adira sudah menjalankan rencana satu langkah dari diri nya.


"oh aku harus memastikan bahwa Jovin masih ada di Kantor, lagi pula tadi aku sudah berjanji untuk menemui nya dan pulang bersama. Aku juga tak sabar ingin melihat kejutan apa yang sudah di siapkan oleh orang rumah." Gumamnya, dan bersiap-siap untuk menuju Kantor cabang perusahaan yang di kelola Jovin.


▪️▪️▪️


Sedangkan di Mansion, keluarga Nichol sedang di sibukkan dengan persiapan ulang tahun untuk sang Tuan muda kedua. Abila begitu antusias menyiapkan masakan bersama Nyonya Nichol tentu nya di bantu oleh puluhan maid. Tiba-tiba Tuan Nichol menghubungi Nyonya Nichol dan menyuruh nya untuk menemani dirinya pergi ke luar kota saat ini juga.

__ADS_1


Dengan tak enak hati Nyonya Nichol menghampiri Abila.


"sayang.... maafkan Mommi harus pergi sekarang, kau tidak apa-apa kan di Mansion sendirian?." Tanya nya sambil mengelus pundak Gadis itu.


Abila tersenyum sembari menjawab.


"tiada apa-apa Nyonya,." Ucapnya begitu sopan.


"bisakah kau memanggilku dengan sebutan Mommi? seperti saat ada Jovin , aku sudah menganggap mu sebagai anakku sendiri sayang.." Tutur nya, begitu keibuan.


"tidak Nyonya, saya hanya menjalankan tugas. Posisi saya disini sama dengan para maid. Saya cukup tau batasan Nyonya, setelah kekasih Tuan Jovin kembali saya akan pergi dari sini." Sahut nya, meski rasanya begitu berat hanya sekedar berucap.


"tidak sayang....kau adalah bagian dari keluarga kami, jangan pernah samakan posisi mu dengan para maid di sini hm! Mommi pergi dulu sayang, jaga dirimu baik-baik." Pamit Nyonya Nichol, terakhir mengecup kening Abila. Abila hanya tersenyum memandang kepergian Wanita itu, ingin rasanya ia menangis saat itu juga, jikalau saja ia tidak ingat siapa dirinya. Tak sepantasnya dia menangisi orang yang bukan miliknya, ia ibarat hanya secuil krikil di muka bumi, yang tidak akan pernah bisa bersanding dengan bintang di langit yang begitu jauh dari jangkauan nya.


▪️▪️▪️


Adira tersenyum pongah membaca lembaran-lembaran yang baru saja di kirimkan oleh anak buahnya.


"oh...surat kontrak ya?...ck...tak kusangka kau sama hinanya seperti diriku Abila. Bahkan kau juga pernah bekerja di Club malam, sangat miris." Serunya , membaca satu persatu lembaran informasi mengenai kehidupan Saudara kembarnya, beserta surat perjanjian antara Johan dan Abila. Terlalu mudah untuk nya mendapatkan semua informasi tentang kembaranya itu.


Jovin memasuki kamar Hotel yang di beritahukan Adira. Langkah nya terasa begitu berat, ia merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi. Semoga saja itu hanyalah perasaan belaka.


Dengan hati-hati Jovin membuka pintu kamar itu, karena memang sengaja tidak di kunci oleh sang penghuni.


Jovin memasuki ruangan itu, betapa terkejutnya dia melihat penampilan Gadis pujaan nya. Yang terlihat sekarang Gadis itu memakai baju yang begitu minim bahkan tembus pandang, dengan posisi tertidur miring dengan satu tangan sebagai penyangga kepalanya. Satu tangan memegang segelas anggur, dan sesekali menyesap cairan merah delima itu dari dalam gelas nya. Begitu ketara Gadis itu memang sengaja ingin menggoda nya.

__ADS_1


Jovin berlahan melangkah maju, bohong jika dia tidak tergoda dengan penampilan Gadis itu. Namun aneh, hati nya seakan menolak . Jovin masih bingung dengan sikap kekasih nya ini, kenapa sangat berbeda dengan Adira yang ia temui tadi pagi di Mansion?. Fikirnya.


__ADS_2