
Sesampainya di Bandar Udara internasional Tokyo, Tokyo Kokusai Kuko atau biasa di sebut dengan Bandar Udara Haneda. Mereka berempat yakni Marsel, Nita , Abila dan juga Adira. Menuruni maskapai yang mereka tumpangi.
Setibanya mereka di sana sudah di sambut puluhan pengawal berpakaian setelan jas rapi, berdiri di samping jajaran mobil-mobil keluaran terbaru yang mungkin harga nya sangat diluar nalar, membayangkannya saja sudah sangat pusing . Bagaimana tidak jika harga satu unit mobil saja bisa mencapai 15 Milyar.
Nissan GT-R 50, dimana hanya di produksi sebanyak 50 unit saja di Jepang, dan tentunya itu semua milik keluarga besar Takkeru.
Dua gadis kembar itu terperangah kaget, masih bingung sebenarnya siapa mereka? kenapa harus di sambut bak seorang ratu? gumamnya.
Jelas saja mereka bingung karena Marsel dan juga Nita belum sempat bercerita tadi.
"silahkan masuk Nona muda," tutur salah satu pengawal sambil membukakan pintu mobil mewah itu untuk Abila dan juga Adira, mereka berdua terdiam saling bertatapan, seolah mengatakan. Siapa mereka sebenarnya?.
Marsel yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya merasa jengah dengan kedua gadis itu. Apakah mereka berdua belum sadar jika mereka anak konglomerat? batinya.
"sudahlah cepat masuk, nanti akan aku jelaskan semuanya jika sudah sampai kerumah kalian," tutur Marsel pada akhirnya.
Lagi-lagi gadis kembar itu hanya mengerjapkan kedua matanya. Rumah? mereka punya rumah di sini? gumam mereka bingung. Tak ambil pusing memikirkan apa yang sedang terjadi, akhirnya Abila dan Adira masuk kedalam mobil hitam tersebut.
Sedang Nita dan Marsel memasuki mobil yang tak kalah mewah di belakang mobil yang di tumpangi si kembar.
Di dalam perjalanan, Adira menatap lekat wajah Abila yang terlihat pucat dan juga sedikit murung. Ia ingin memperbaiki semua nya, mungkin ini waktu yang tepat untuk meminta maaf kepada gadis itu. Fikir nya.
"Bil...." panggilannya, dan yang merasa terpanggil pun hanya menoleh dengan tatapan sendu nya.
"iya...," sahut Abila begitu lemah.
__ADS_1
"maukah kau memaafkan kesalahanku?," tanya Adira takut-takut jika saja kembaranya ini tidak mau memaafkan nya.
Abila sedikit tersenyum, seraya menjawab.
"aku sudah memaafkan mu dari dulu, kau tidak salah apa-apa, aku yang harus nya meminta maaf kepada mu. Karena aku tidak bisa membahagiakan mu," tuturnya begitu bijak, ia berfikir untuk apa ia harus membenci Saudara nya sendiri, toh itu semua tidak akan pernah merubah segalanya yang sudah terjadi, dan mungkin semakin memperumit masalah. Jadi jalan satu-satunya adalah memberikan kesempatan untuk Adira agar memperbaiki semua kesalahan nya. Siapa tau gadis itu bersungguh-sungguh ingin berubah.
"kau tidak marah padaku?," tanya Adira memastikan, bagaimana bisa Abila begitu mudahnya memaafkan kesalahannya yang mungkin sudah tidak bisa untuk termaafkan.
"untuk apa aku marah kepada mu hm? atas dasar apa, aku harus membenci Saudara kembar ku," sahutnya kemudian.
"aku telah banyak melakukan kesalahan pada mu, aku yang telah menghancurkan hidup mu kau harus nya membenciku Abila," tangis Adira.
"semua sudah terjadi, ini semua sudah takdir. Kau tidak usah menyalahkan diri mu sendiri. Yang terpenting sekarang kau harus mengubah hidup mu menjadi Adira yang lebih baik." ucap Abila seraya mengelus rambut panjang gadis di sampingnya itu.
Adira tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya, ia lega karena Abila sudah bisa memaafkan kesalahannya.
"Abila..... terima kasih," ucapnya sambil memeluk erat tubuh ringkih kembaranya, Adira menangis tersedu-sedu di pundak Abila.
Ia juga sangat lega setidaknya Abila sudah berubah, dan dia ada teman untuk berbagi keluh kesahnya nanti.
"apa kau benar-benar menyesali kelasahannmu?," tanya Abila memastikan.
Adira segera melepaskan pelukannya dan mengusap kasar air matanya, dengan bibir mengerucut lucu.
"tentu saja aku menyesal kau tidak percaya padaku ha? apa perlu aku melompat dari mobil ini agar kau bisa mempercayai ku?," ancam Adira, sedikit bercanda.
Abila terkekeh tak di sangka ternyata Adira masihlah Saudara kembar nya yang begitu menggemaskan dan juga kekanak-kanakaan seperti Adira yang dulu.
"kau ingin mati jomblo apa? iya-iya aku percaya pada mu," Abila tersenyum manis sambil mengusak poni Adira hingga sedikit berantakan.
__ADS_1
"terima kasih, karena kau sudah memaafkan ku," Adira merangkul pinggang Saudara kembar nya manja.
"iya.... dan terima kasih karena kau sudah mau berubah," sahut Abila selanjutnya.
"oiya....kau sedikit pucat, apa kau sedang sakit?," tanya Adira , mendongakkan kepalanya ke arah wajah Abila.
"tidak..." jawab Abila dusta.
"emm.... bagaimana hubunganmu dengan Jovin?," tanya Adira selanjutnya.
Tiada sahutan dari gadis itu, ia hanya diam memandang jauh ke luar jendela mobil mewah itu.
Adira sedikit merasa bersalah karena bertanya seperti itu kepada Abila.
Namun ia sangat penasaran dengan apa yang pemuda itu perbuat pada Saudara nya.
"apa dia berbuat kasar kepada mu Bil?," tanya nya lagi.
"apa kau masih mencintainya," bukanya menjawab Abila malah justru bertanya balik.
"dulu iya, sekarang tidak...aku tidak tau kenapa hatiku sering sekali berubah-ubah. Jika melihat pemuda tampan aku langsung menyukai nya dan melupakan yang lain," kekehnya.
"dasar anak nakal.... jangan salah kan Tuhan, jika suatu saat nanti kau akan menggilai satu pemuda dan pemuda itu akan mengacuhkan mu," ucap Abila sambil tersenyum.
"kenapa doamu jelek sekali? dasar, tidak ada dalam kamus ku seorang Adira akan mengemis cinta pada seorang pemuda, yang ada malah sebaliknya," sahut Adira percaya diri.
Abila hanya tertawa lirih.
"ingat lah... karma masih berlaku , berhati-hati lah mulai sekarang. Jangan suka mempermainkan perasaan orang lain," tutur nya.
__ADS_1
Jujur Adira sedikit percaya dengan ucapan kembarnya, boleh kah jika ia sedikit takut bermain cinta saat ini?.
Kedepannya aku mau satuin pemeran utama para reader.....😘😘😘