Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
Chapter 06


__ADS_3

Hazel kembali memasuki area club. Sambil menunggu para pengunjung datang, dia hanya duduk di kursi depan meja Bartender. sesekali menyesap minuman bersoda dari gelas kecil di pegangannya. "Kenapa tak berkumpul bersama teman-teman mu, hm?." tanya Nita dengan senyum manis nya. "Aku sedang malas Kak, kaki ku terasa ngilu memakai sepatu berhak tinggi. Mungkin belum terbiasa kali, ya?" Nita hanya menggeleng mendengar penuturan Hazel. Kemudian pandangan nya teralih pada pintu masuk club. "sttt ... sttt ... lihat tuh pelanggan tetap mu datang lagi." Nita mengode dengan dagunya. Hazel menaikkan sebelah alisnya, kemudian memutar badan melihat siapa gerangan yang di maksud Nita. Setelah melihat siapa orang itu, Hazel mendadak bad mood. "Astaga orang itu lagi, apa tidak bosan dia mendatangi ku selama seminggu ini." Hazel merolling bola matanya malas. Sudah terhitung satu minggu lama nya Roger mendatangi Hazel. Tidak ada kata menyerah untuk nya selagi gadis itu belum mau menyetujui permintaan nya, ia akan tetap berjuang. "Apa kau tidak bosan, Tuan? setiap hari kesini?" ucap Hazel sambil menggoyangkan isi minumannya., sepertinya gelas yang di pegang lebih menarik perhatiannya. Dari pada harus melihat pemuda yang ada di dekat nya ini. Ck ... membuat mataku sakit saja ... setiap hari harus melihat wajahnya. "Aku tidak pernah merasa bosan sedikit pun Nona, selama kau masih belum menyetujui permintaan ku." lirih Roger merasa begitu putus asa. "Hah ... sungguh kepala ku terasa pening mendengar ucapan mu Tuan, kenapa Anda tidak mau mengerti. Jawabanku tetap lah sama, aku tidak bisa. Maaf Tuan muda yang terhormat." jengah Hazel. Roger terdiam tubuhnya merosot kebawah, dan bersimpuh di samping kaki Hazel. sembari memohon. "Ku mohon Nona, tolonglah aku. Aku sangat butuh bantuanmu, andai aku bisa meminta tolong pada orang lain akan aku lakukan, tapi sayang nya tidak bisa. Hanya kau seorang yang bisa menolong hidup adikku. Ku mohon, jika kau tidak bisa menolong ku maka adikku akan bunuh diri." Hazel mendongakkan kepalanya dan menggenggam tangan Hazel, air mata entah sejak kapan sudah membasahi pipinya. Hazel terdiam, ucapan Roger begitu dalam. Hatinya terasa berdesir. Lubuk hati terdalamnya merasa begitu iba, apa lagi terlihat ada ketulusan terpancar di kedua netra pemuda itu. Sebenarnya seperti apa sosok adikmu itu? Kenapa dia begitu memuja Hazely. Hingga dia rela mengorbankan nyawa hanya untuk gadis itu. Hazel memejamkan kedua matanya. Berusaha menetralkan emosi yang semakin bertambah di dalam dadanya. Mungkin ini adalah keputusan yang benar-benar ingin aku ambil. Semoga aku tak salah mengambil keputusan ini. "Baiklah ... aku akan mencoba menolong Anda Tuan. Tapi dengan satu syarat." putus Hazel. Sontak membuat Roger berbinar dan berdiri dari duduk bersimpuh nya. "Benarkah kau mau membantuku? Terima kasih, aku sangat berterima kasih kepada mu Nona." Roger mengguncang bahu Maria saking bahagianya. "Tuan ... hentikan ini, kau belum menyetujui persyaratan ku." risih Hazel, melepaskan pegangan tangan Roger dari bahunya. "Ah, iya maaf, aku sampai lupa.. apa persyaratan yang kau minta, hm?" "Aku tak ingin ada kontak fisik dengan adik anda Tuan." pinta Hazel. Roger tersenyum, dan berkata. "Kau tak perlu khawatir tentang itu, selama adikku dekat dengan Hazely, dia tidak pernah menyentuh gadis itu dalam hal int*m. Mungkin hanya sekedar berciuman saja tidak lebih!" seru Roger.. Hazel mengangguk paham. "kapan aku mulai bekerja Tuan?" "Nanti lusa, kita persiapkan dirimu terlebih dahulu agar benar-benar mirip dengan Hazely." "Baiklah ... aku akan meminta ijin pada Kak Nita dulu." "Baiklah, oiya, aku akan melunasi seluruh hutangmu dan juga ini kunci mobil mu." ucap Roger sambil mengulurkan kunci mobil di tangannya untuk Hazel. "Tidak perlu Tuan, kau sudah melunasi hutang-hutang ku dan memberikan gaji bulanan ku saja sudah lebih dari cukup. Aku tak perlu mobil atau pun Apartemen. Aku akan tinggal bersama teman ku untuk sementara waktu." titah Hazel.. Roger tersenyum simpul. kau benar-benar gadis yang baik, gadis lain pasti akan dengan senang hati menerima jika di berikan fasilitas mewah, tapi kau malah menolak nya. Gadis yang langka. "Kenapa kau menolak nya, hm?." tanya Roger penasaran. "Aku hanya ingin membantu mu Tuan, kau cukup membayar gaji bulanan ku saja." sahut Hazel dengan senyum teduhnya. Semenjak saat itu Hazel sudah meminta ijin kepada Nita untuk berhenti bekerja di club dan beralih bekerja dengan Roger. Roger sering mengajak Hazel bertemu di cafe sekedar membahas tentang kehidupan Mark, agar Hazel mengerti apa saja yang harus ia lakukan. Saat menjalankan pekerjaan nya nanti. Seperti saat ini, Roger menyuruh Morgan untuk menjemput Hazel dan mengajak nya bertemu di sebuah cafe langganan mereka. Di dalam perjalanan menuju cafe Morgan dan Hazel sedikit bercanda mengusir kejenuhan. "Zel ... kalau boleh jujur kau terlihat lebih cantik kalau berdandan natural seperti ini." puji Roger. Hazel tersenyum malu, sambil berkata. "apaan sih Kak ... berarti mata Kakak perlu di periksakan ke dokter." sahutnya. Morgan menautkan kedua alisnya. Kedua mata ku baik-baik saja kenapa di suruh periksa ke dokter? "kenapa begitu? aku tidak sakit." jawab Morgan bingung. "Karena Kakak orang pertama yang memuji ku cantik...." sahut Hazel kemudian. Morgan terkekeh, Hazel benar-benar gadis yang berbeda. "Aku berkata jujur tau ... oh ya, aku mau bertanya kepada mu, emm.... apakah temanmu yang bernama Nita sudah mempunyai seorang kekasih?." tanya Morgan penuh harap. "Mungkin belum Kak, Karena aku belum pernah melihat nya dekat dengan seorang pemuda." Jawab Hazel seraya menoleh ke samping melihat reaksi Morgan. Morgan tersenyum lebar dengan mengetuk kecil kemudinya. "Kenapa Kakak bertanya seperti itu haa? apa Kakak menyukai temanku?." goda Hazel sedikit menaik turun kan kedua alisnya. Roger mengelus tengkuknya sambil tersenyum. "Emm ... sepertinya begitu." ucap nya. Tak terasa akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka pun masuk dan mencari tempat duduk yang kosong, menunggu kedatangan Roger. "Ku kira Tuan Roger sudah datang, kenapa dia lama sekali?" gerutu Hazel. "Tidak usah formal begitu, panggil Roger Kakak saja seperti kau memanggilku." tutur Morgan. Hazel hanya mengangguk paham. Tak lama yang di tunggu-tunggu pun tiba. Roger datang dan menenteng banyak sekali paper bag di kedua tangannya. BRAKKK!!! ... Roger menaruh barang-barang itu di meja depan Hazel dan Morgan duduk. "Astaga ... berat sekali." keluhnya. "Itu apa Tuan?." tanya Hazel heran. "Ini perlengkapan mu untuk bekerja, coba kau lihat? semoga saja kau menyukai nya." ucap Roger. Hazel menurut dan mengambil salah satu paper bag itu, melihat isinya. Seketika kedua bola matanya terbuka lebar. Gadis itu tercengang melihat isi-isi paper bag di hadapannya yang isinya semua barang-barang branded , serta perhiasan yang mungkin harga tak terjangkau oleh otak nya. "Tuan ini semua untuk ku?." tanya Hazel tak percaya. " iya ... untuk menunjang penampilan mu, karena Hazely suka berpakaian dan memakai aksesoris seperti itu. Jadi kau harus merubah tampilan mu." sahut Roger. Hazel masih tak habis fikir dengan gaya hidup kembaranya yang menurut nya benar-benar gila. Roger lagi-lagi memberikan sebuah kotak bludru berwarna merah ke pada Hazel. "Ini apa lagi Tuan?" tanya Hazel bingung, pasalnya baru kali ini ia melihat barang-barang aneh seperti itu. "Untukmu, untuk menunjang penampilan mu agar terlihat semakin anggun." jelas Roger. Hazel membuka kotak, bludru warna merah itu, dan lagi ia terkejut luar biasa. "I-ini perhiasan berlian asli Tuan?" tanyanya masih tidak percaya. karena harga berlian yang ia pegang kemungkinan mencapai Milyaran. Hazel tak bisa membayangkan betapa kayanya pemuda ini. "Iya itu asli, Hazel tidak pernah memakai barang-barang KW seperti mu." sindir Roger, yang mana membuat gadis itu cemberut. "Aku tidak bisa menerima nya Tuan, aku takut nanti hilang dan aku tidak bisa menggantikannya." ucap Hazel begitu polos nya. Marsel yang sedari melihat tingkah Abila sedikit terkejut. Sembari bergumam. "Gadis yang aneh, bagaimana bisa dia menolak sebuah berlian yang harganya saja bisa untuk membeli rumah? gadis yang polos tidak matre, benar-benar calon istri idaman." "Sekarang kau harus belajar etika sopan santun, karena ini wajib kau lakukan ketika sedang berkencan dengan Mark dan juga saat berkumpul dengan keluarga Hazel." kemudian Roger memanggil seseorang untuk mengajarkan Hazel. "Astaga ... Tuan sudah mempersiapkan pelatih juga." Hazel syok, pasalnya ia belum siap. "Yentu saja aku sudah mempersiapkannya, aku bukan lah tipe orang yang melakukan sesuatu hanya setengah-setengah." ujar Roger. "Tuan ... taukah Anda, aku sangat pusing. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus berubah menjadi sosok gadis cantik, anggun, lemah gemulai. Sungguh Tuan, memikirkan nya saja aku tidak sanggup." keluh Hazel dengan melengkungkan bibir nya ke bawah. "Dasar pemalas, ... pantas saja kau tidak punya kekasih . Sikap mu saja terlalu bar-bar." cibir Roger. "Aku lebih suka diriku yang apa adanya, di banding harus bersikap manis untuk menutupi keburukan." ucap Hazel lesu. Roger terpaku, ia semakin penasaran dengan gadis ini. Sifat nya sangat susah untuk di tebak. Tidak seperti kebanyakan gadis-gadis yang sering ia temui . Dua minggu berlalu, selama itu juga Hazel harus belajar menjadi sosok. Begitu melelahkan, namun ia harus bisa karena terlanjur terjebak kontrak dengan Morgan. Kini sudah waktunya Roger membawa Hazel ke kediaman tempat tinggalkanya. "Tuan ... aku takut." cicit sambil melihat penampilan nya di depan cermin. "Tenanglah, kau harus rileks. Jangan sampai gugup, Adik ku tak semenyeramkan seperti yang ada di fikiran mu." ucap Benz memberikan semangat. "Lalu orang tua Anda bagaimana?" tanya nya lagi. "Kau tidak usah memikirkan semua itu. Aku sudah mengatur semua nya." sahut Roger selanjutnya. Hazel hanya mengangguk, dan mereka pun pergi menuju Mansion milik keluarga Roger. Beberapa jam kemudian mereka sampai di kediaman Roger. Hazel terkejut bukan main, kedua bola matanya melotot dengan mulut sedikit terbuka. Baru kali ini ia melihat pintu gerbang menjulang tinggi dengan polesan warna g**old. Apakah ini sebuah kerajaan? Atau aku sedang bermimpi?. "Hei, ada apa dengan raut wajah bodoh mu itu, kau tidak pernah melihat Mansion mewah ya?". cibir Roger. Hazel melirik tajam ke arah Roger. Dasar orang kaya sombong, mentang-mentang punya Mansion mewah. "Kenapa lagi dengan lirikan matamu mu itu haa? Kau seolah-olah ingin membunuhku saja." kekeh Roger kemudian. "Dasar tidak waras." gerutu Hazel lirih. "Jaga sikap mu, jangan terlalu terlihat terkejut begitu. Bisa-bisa Adik ku curiga nanti." "iya Tuan ... aku akan berusaha." sahut Hazel malas. Mereka berdua sampai di depan Mansion, dan langsung di sambut oleh seorang Bodyguard mengambil alih kunci mobil Roger. Hazel semakin terkesima dengan bangunan di hadapannya. Mansion ini lebih tepat disebut sebagai gedung pencakar langit. Tingginya yang mencapai entah berapa ribu meter, tentu nya tidak bisa di bayangkan oleh otak kecil Hazel. "Ayo masuk... sampai kapan kau akan tetap berdiri dan menatap Mansion ini?" lagi-lagi Hazel menggoda gadis itu . Abila segera mengikuti Roger, dan mereka pun mulai memasuki ruang utama Mansion itu. Lagi-lagi Hazel di buat terkejut dengan sambutan puluhan pelayanan wanita dengan berseragam berjajar rapi serta menundukan kepala mereka. "Sambutan yang luar biasa, aku berasa menjadi seorang ratu di sini." batin Hazel kagum. Kedua mata Hazel seakan enggan untuk berkedip, membelalak kesana-kemari mengitari setiap inci keindahan Mansion itu serta jajaran hiasan furniture yang terlihat begitu mewah, membuat Hazel seolah terhipnotis. "Bersikap biasa saja, Mommi dan Daddy ku sudah menunggu kita." bisik Roger. Hazel mengangguk paham, dan menetralkan sikapnya. Tak lama mereka berdua sampai di ruangan tempat Tuan rumah Mansion ini menunggu. Terlihat dua orang paruh baya yang sedang terduduk di sofa mewah nya sambil menyesap minuman dari cangkir dengan gambaran ukiran rumit di pegangannya. Dua orang itu tak lain adalah Tuan dan Nyonya Harold. Mereka terlihat sangat anggun dan penuh wibawa. Hazel sudah keringat dingin ia begitu gugup berhadapan dengan mereka berdua. Ternyata aura orang kaya dan orang miskin itu benar-benar berbeda, astaga.. aku tak bisa membayangkan bagaimana bisa Hazely hidup berdampingan di antara mereka semua. Hazel bersikap seramah mungkin, sekedar menyapa mengucapkan salam. Salah kan Roger yang sedari tadi meninggalkan Hazel sendirian di hadapan Tuan rumah, gara-gara alasan ingin ke toilet. "Selamat pagi Tuan dan Nyonya." sapanya. mereka berdua hanya bergumam sebagai jawaban, Nyonya Harold menatap setiap inci tubuh Hazel dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Hazel merinding dibuatnya. Roger ... dimana kau, cepat datang ... sebelum aku mati berdiri karena tatapan tajam kedua orang tua mu. "Ah, maaf aku meninggalkan mu terlalu lama." cengir Roger yang baru kembali. Hazel menghela nafas lega, Akhirnya ia terbebas dari dua manusia yang terlihat mempunyai aura hitam, menakutkan. Seakan hanya dengan menatapnya saja mangsanya akan mati terbakar. "Ayo, ikut aku, akan aku tunjukkan di mana kamar adikku." tutur Roger selanjutnya. Sebelum mereka berdua berjalan memasuki lift Tuan Harold menghentikan nya, lebih tepatnya menghentikan Roger. "tunggu Rog, apa dia gadis itu? ---" "bukan Dad ... dia Hazel, saudara kembarnya Hazely." jawab Roger. Tuan Harold hanya mengangguk, dan berkata lagi. "Ku harap kau bisa lebih berhati-hati Rog, jangan sampai ketahuan, kau tau sendiri bukan bagaimana tabiat adikmu itu." "Iya Dad ... aku mengerti." sahutnya dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kamar Mark. Beberapa menit kemudian mereka sampai di lantai 5 mansion itu. Melewati puluhan ruangan yang tertutup, entah ruangan apa itu. Hingga pada akhirnya langkah mereka terhenti di depan pintu besar berwarna dark blue. Pintu itu terlihat lebih besar di antara pintu-pintu ruangan lain nya. Dan Hazel semakin yakin bahwa itu adalah kamar Tuan Muda Mark. Roger membuka pintu besar itu. Mereka pun masuk ke ruangan itu. Sunyi, sepi, gelap mencekam itulah yang di rasakan Hazel saat menginjakan kaki pertama kali. "Kenapa aku merasa sedang memasuki rumah angker? Benarkah ini ruangan tuan muda itu? Mewah namun mengerikan." gumamnya.


__ADS_2