Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
DUA TUJUH


__ADS_3

Mika segera menghubungi Dokter pribadi keluarga nya, untuk segera mendatangi rumahnya.


Selang beberapa menit Dokter itu datang dan segera memeriksa keadaan Abila yang terlihat terkulai lemah tak berdaya di atas kasur.


"untung kalian menolong gadis ini tepat waktu, jika tidak aku tidak yakin ia akan selamat." tutur Dokter itu sambil mencatat resep obat untuk Abila.


"gadis ini terkena demam, jadi tolong kompres dia dengan air hangat." saran Dokter itu lagi.


"baik Dok... terima kasih." sahut Mika, sambil mengekori Dokter itu keluar dari rumahnya.


Sesuai dengan anjuran Dokter tadi, Nita kini mengompres kening Abila yang masih setia menutup kedua mata indah nya.


"enggghhhh." Abila menggeliat , berlahan ia membuka kedua matanya, dan melihat ke arah Nita yang terlihat sedang tersenyum manis padanya.


Abila kembali mengingat kejadian yang menimpanya. Seketika ia terduduk dan mendorong tubuh Nita agar menjauhinya.


"tidak... tidak... jangan mendekati ku, pergi kalian, aku kotor...aku menjijikan." teriaknya begitu memilukan.


Nita dan Mika segera memeluk tubuh Abila dengan erat, berharap gadis itu bisa sedikit tenang.


"Abila.... dengarkan Kakak, Abila sayang.... kau tidak kotor, kau masih tetap lah Adik ku yang cantik. Kau masih bersih seperti Abila ku yang dulu." ucap Nita lembut, dan sesekali mengecup pucuk kepala gadis itu.


Dan berhasil, terbukti tubuh gadis itu sudah mulai tenang tidak bergetar gelisah seperti tadi.

__ADS_1


"kita selalu ada untuk mu Bil.... karena kau sampai kapan pun tetap akan menjadi sahabat kita yang terbaik," tambah Mika, sambil ikut memeluk tubuh Abila.


Abila akhirnya bisa tersenyum, hati nya kembali menghangat mendengar kata-kata penenang dari para sahabatnya. Ia fikir mereka berdua akan membenci dirinya, namun ternyata perkiraanya salah. Nyatanya mereka tetap setia mendampingi dirinya di saat dalam kondisi terpuruk seperti ini.


"benarkah... kalian tidak membenciku?," tanya Abila memastikan.


"tentu saja tidak.... dasar bodoh, kau dapat pemikiran dari mana ha? kenapa menyimpulkan kalau kami membenci mu, dasar kau fikir kita sahabat macam apa," Mika menggerutu sebal, dalam keadaan masih berpelukan bersama Abila dan juga Nita, dengan posisi Abila yang terhimpit di tengah-tengahnya.


Akan butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan trauma psikis Abila. Mika menyuruh Nita untuk tinggal bersama nya, karena memang rumah Nita yang jauh lebih besar di bandingkan dengan rumah Mika. Abila butuh kenyamanan, di samping itu Nita juga memiliki teman seorang ahli Psikolog. Jadi Nita bisa meminta bantuan teman nya itu untuk memberikan motivasi kepada Abila agar gadis itu cepat sembuh dari trauma yang di deritanya.


▪️▪️▪️


Jovin menggeliat dari acara tidur nyenyak nya. Tangan kanan nya meraba tempat tidur di sampingnya. Merasa tidak ada sosok yang ia raba, ia membuka kedua matanya lebar-lebar.


Jovin terkekeh sinis, mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Tak menyangka ia begitu puas menikmati tubuh Abila. Awalnya ia sedikit ragu melakukan nya , karena memang ia belum pernah melakukan hal seperti itu pada gadis lain. Namun entah mengapa melihat tubuh putih, mulus nan molek gadis itu membuat nafsu nya begitu membuncah. Fikiranya sudah tertutup oleh kabut nafsu, tubuh gadis itu seakan membuatnya ketagihan.


"mungkin ini yang di rasakan Kak Johan ketika meniduri ja**ng itu, sungguh sangat nikmat," gumamnya tanpa menyadari ada nya Johan yang terlihat sedang menyenderkan tubuhnya di ambang pintu dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana nya.


"ehem....begitu nikmat kah tubuh Abila, Adik ku sayang?," sindir Johan yang mana membuat Jovin terkesiap dan segera bangkit memakai bajunya.


"bukan urusanmu," ketus Jovin begitu acuh.


"akan menjadi urusan ku jika semua itu menyangkut Abila," ucap Johan begitu santai.

__ADS_1


Jovin menyunggingkan sebelah bibir nya seraya berkata.


"ch... ternyata ja**ng itu mengadu pada pelanggan nya, kenapa? apa kau marah karena aku memakai nya? bukan kah kau sudah membelinya untuk ku," decih Jovin.


Johan menatap Jovin penuh tanda tanya.


"apa maksudmu?." tanya nya kemudian.


"kau membohongiku, kau fikir aku tidak tahu ha? kau kerja sama dengan nya. Aku sudah tau semua nya," bentak Jovin pada akhirnya, ia begitu tersulut emosi.


Johan hanya terkekeh remeh menanggapi ocehan Jovin.


"oh ... sudah tau ya? baguslah kalau begitu, jadi Abila tidak perlu repot-repot dan menderita harus menyamar sebagai ja**ng kekasih mu itu, gadis itu benar-benar tidak cocok berpakaian seperti ja**ng." cerca Johan menghina Adira secara tidak langsung.


Jovin menggertakan gigi-giginya, kedua tangannya sudah merepal erat. Emosi nya sudah di pucuk ubun-ubun.


"jaga ucapan mulutmu Johan.... jangan sekali-kali kau berani menyebut kekasihku sebagai ja**ng, karena sesungguhnya yang ja**ng itu adalah Abila bukan Adira." bentak Jovin.


Johan yang ikut tersulut emosi pun hanya bisa meredamnya dalam diam, ia harus sabar dan tetap tenang. Ia tidak ingin ada perkelahian di antara dirinya dengan Jovin. Johan berusaha bersikap datar kembali .


Johan memutuskan pergi meninggalkan kamar Jovin dari pada ia kehabisan kesabaran.


"asal kau tahu Jo... Abila melakukan semua itu bukan karena aku membayar nya...ah! sudah lah, untuk apa aku bercerita pada mu. Yang jelas-jelas kau tidak akan pernah percaya dengan ucapanku. Jadi untuk apa aku bercerita tentang Abila." Johan kemudian berbalik badan dan pergi dari ruangan Jovin.

__ADS_1


Sebelum Johan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, sembari berucap.


"ah... aku lupa mengatakan satu hal pada mu Adik ku tercinta, kau sangat cocok dengan pacarmu itu. Yang satu ja**ng dan yang satu ba**ngan, ck...ck... sangat serasi." Johan berdecak kemudian pergi dari hadapan Jovin.


__ADS_2