
Johan sangat kecewa dengan apa yang telah Jovin perbuat. Sejak kapan ia berani melakukan hal keji seperti itu. Kasihan pada Abila yang begitu polos, harus berakhir tragis. Semoga dia tidak frustasi dan melakukan bunuh diri, doa Johan. Karena memang setelah terakhir kali Johan bertemu dengan Abila saat mengantar nya pulang tempo hari, gadis itu tak lagi menghubungi nya. Sungguh ia sangat merasa bersalah padanya. Bagaimana pun caranya ia harus bisa membalas kan rasa sakit hati gadis itu.
Johan mulai menyusun rencana nya kembali untuk menjebak gadis medusa itu, kali ini Johan harus ekstra hati-hati untuk melancarkan aksinya. Mengingat gadis itu sangat lah licik, ia tak ingin kalah telak nantinya.
Johan mengumpulkan berbagai bukti kebejatan Adira, mengorek informasi dari berbagai sumber untuk mengetahui keburukan gadis itu.
Setelah merasa semua bukti sudah cukup, Johan segera pergi ke hotel XXX dimana Adira menginap, sebelum gadis itu mulai menghilang dari jangkauan nya lagi.
Dua jam kemudian, Johan sudah sampai di hotel tersebut. Ia segera menuju ke kamar Adira. Menekan tombol layar intercom pintu itu beberapa kali. Adira yang sedikit merasa terusik oleh suara bel pintu nya segera berlari melihat layar intercom nya. Ia sudah begitu percaya diri bahwa yang datang mengunjungi nya adalah Jovin.
Tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan, pasalnya yang terlihat di layar intercom nya tak lain adalah Johan, pemuda yang paling ia benci.
Ck.... mau apa orang itu kesini, membuang waktu ku saja. Gerutu nya sambil membukakan pintu kamar hotelnya.
Adira menatap remeh ke arah Johan tanpa mempersilahkan masuk pemuda tersebut.
"untuk apa kau datang kesini?," ketusnya.
"kau tidak ingin mempersilahkan masuk calon Kakak mu ini," sahut Johan dengan seringaian nya.
Bohong jika Adira tak merasa bahagia mendengar ucapan Johan barusan, ia begitu yakin bahwa Johan pasti akan menyerah dan merestui hubungan nya dengan Jovin.
Apa Johan sudah bisa menerima ku? sudah ku duga dia benar-benar bodoh. Tidak ada yang berani menolak pesona ku, hah! sebentar lagi impianku untuk menjadi Nyonya muda segera terwujud.
__ADS_1
Gumam Abila begitu percaya diri.
"kau benar-benar tidak ingin menyuruh ku masuk calon Adikku?," tanya Johan lagi, walau rasa nya ia ingin muntah hanya mengucap kata-kata seperti itu.
"a...ah iya Kak maaf, silahkan masuk," ucap Adira begitu gugup.
Johan menyunggingkan sebelah bibir nya.
Dasar gadis bodoh, ku fikir kau tak semudah ini masuk dalam perangkap ku.
Johan dan Adira duduk saling berhadap-hadapan, tatapan sengit terpancar dari mata Johan. Ia begitu membenci gadis dihadapannya ini, jika saja ia tak ingat adanya dosa dan hukum. sudah ia pastikan bahwa ia akan melubangi kepala gadis itu dengan revolver kesayangan nya.
"emm.... untuk apa Kakak ke sini, apa ada yang ingin kau sampaikan kepada ku tentang hubungan ku dengan Jovin?," tanya Adira tak sabaran ingin segera mendengar Johan mengucapkan restu untuk nya dan juga Jovin.
Adira menautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan ucapan Johan. Bukan kah dia kemari untuk merestui hubungan ku dengan Jovin? lalu apa maksud ucapannya tadi?.
"maksud mu apa?,' tanya Adira, masih belum mengerti.
Johan terkekeh serta menjawab.
"aku semakin yakin bahwa kau benar-benar bodoh Adira."
Sekarang Adira mengerti arah pembicaraan pemuda itu, hingga raut wajah yang tadinya di buat semanis mungkin , sekarang berubah kembali ke wujud semula aura sinis terpancar dari wajah cantiknya.
__ADS_1
"ch...dulu saja kau tidak bisa menghentikan ku Tuan Johan yang terhormat dan sekarang pun kau tetap saja tidak bisa, karena apa? karena kau hanya seorang pecundang, kau tidak berani bersikap tegas kepada Adik kesayangan mu itu, hingga aku bisa dengan mudah memperdaya nya," gadis itu berseringai, karena merasa menang.
Johan tetap tenang karena dia masih memegang kartu As gadis itu.
"kau benar , aku memang tidak bisa menghentikan mu, tapi aku yakin temanku bisa menghentikan mu Adira," ucap Johan dengan tersenyum semirk.
Jujur Adira merasa sedikit takut sekarang, ia belum pernah melihat aura kebencian pemuda itu seperti saat ini.
Johan melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.
"kau tahu Adira, teman ku seorang Saudagar kaya dari Arab. Dia bilang pada ku jika tunangannya kabur meninggalkan nya saat hari pertunangan nya, ah! aku jadi ikut sedih. Dan kau tau Adira, kebetulan sekali nama gadis itu sama persis dengan nama mu," lagi-lagi Johan seolah sedang menyindir Adira secara tidak langsung. Dengan ucapan yang sengaja ia buat terbelit-belit.
Adira masih terdiam mendengar cerita Johan, perasaan nya mendadak gelisah, ada ketakutan yang terselip di dalam hati nya.
Johan tersenyum, ia tau gadis itu mulai berfikir tentang siapa sosok yang ia bicarakan.
Hingga Johan kembali melanjutkan cerita nya.
"kau bisa membayangkan bagaimana perasaan teman ku, pasti dia merasa sangat malu di hadapan kerabat nya, karena tunangannya kabur begitu saja. Jadi aku tidak salah bukan? jika aku menyuruh nya kesini untuk berkenalan dengan mu, siapa tau dia bisa melupakan tunangannya setelah bertemu dengan mu, apa lagi nama gadis itu sama seperti namamu," Johan mengangkat sebelah bibir nya.
Adira semakin yakin, hal buruk benar-benar akan menimpanya saat ini, namun ia harus berusaha setenang mungkin.
Semoga dia tidak kesini, semoga bukan dia.
__ADS_1