
Jovin mendekati Abila dengan menenteng sebuah mahkota terbuat dari bunga liar berwarna putih, entah bunga apa itu yang jelas terlihat bagus.
"kau membawa apa?." tanya Abila , kala Jovin terlihat sudah mendekat ke arah nya.
"sesuatu yang akan membuat mu terlihat lebih cantik." ucapnya sembari memakaikan benda berbentuk lingkaran itu di atas surai hitam sang kekasih.
Abila hanya tersenyum malu, kenapa pemuda ini senang sekali membuat wajahnya memanas?.
"kau benar-benar terlihat cantik sayang.." ucapannya lagi sambil mengecup pipi gadis itu.
"kau selalu saja menggoda ku.." sahut Abila malu.
"sekarang giliran ku, mana hadiah untukku?." pinta nya.
Dengan cepat Abila mencium pipi pemuda itu, lalu berbalik badan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
Jovin tersenyum bangga, akhirnya cinta nya selama ini terbalas juga oleh gadis impian nya.
"hari sudah hampir gelap, ayo kita pulang...nanti aku akan mengajak mu ke kedai marshmellow dekat sini. Dulu aku dan Kak Johan selalu pergi ke sana jika kami sedang berkunjung ke Villa." jelas Jovin , sambil membantu Abila berdiri dari duduknya.
Mereka kembali ke Villa dengan menaiki kuda nya kembali.
Sesampainya di Villa Abila langsung menuju ke kamarnya, jika kalian tau mereka sekamar berdua. Tapi tenang saja Jovin bukan tipe pemuda yang tidak bisa mengontrol hormon nya. Jovin merupakan tipe Pemuda yang menjunjung tinggi prinsip hidup.
"sayang.... cepat kau mandi duluan." suruh Jovin.
Abila hanya mengangguk dan menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Abila sudah selesai dengan acara mandinya dan keluar.
"sayang,. sekarang giliran mu, aku sudah menghangat kan airnya." pinta Abila sambil mengeringkan rambut panjang nya dengan handuk.
Jovin memasuki kamar mandi, beberapa menit setelah nya ia sudah keluar dengan menggunakan boxer hitam nya tanpa menggunakan atasan. Sehingga memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya dan jangan lupa kan enam roti sobek yang terlihat jelas di area perutnya.
Abila berbalik badan , ia begitu terkejut melihat penampilan pemuda itu. Dengan cepat ia menutup matanya dengan kedua telapak tangan nya.
"uwaaaa.....dasar mesum, kemana bajumu.. cepat pakai." teriak Abila masih dengan posisi menutupi wajah nya.
Jovin menyunggingkan sebelah bibir nya, mungkin sedikit mengerjai kekasihnya akan menyenangkan, batinya.
"bilang saja kalau kau mengagumi tubuh sexy ku." ucap Jovin percaya diri.
__ADS_1
"dasar.... cepat pakai baju mu, atau aku akan kabur dari sini." ancam Abila, sukses membuat Jovin kelabakan dan segera memakai kaos putih nya.
▪️▪️▪️
Jovin dan Abila sudah selesai bersiap-siap, sesuai dengan janji Jovin bahwa ia akan mengajak Abila untuk pergi ke kedai marshmellow favorit nya.
"kau sudah siap sayang?...ayo kita pergi, tempat nya tak jauh dari sini, jadi kita jalan kaki saja biar lebih terlihat romantis." ucapnya, sambil menaik turun kan kedua alisnya.
Abila hanya terkekeh dan menjawab.
"terserah mu saja, aku menurut pada mu lagi pula jika aku lelah tinggal minta gendong dirimu." tutur nya begitu enteng.
Mereka berjalan dengan posisi tangan saling bertaut, sesekali bercanda dan saling mengejar , benar-benar dunia serasa milik berdua yang lain nyempil.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di kedai tersebut.
"Tuan Jovin...." sapa pemilik kedai itu dengan senyum sumringah nya.
" iya Paman ...ini aku Jovin, bagaimana kabar Paman?." tanya Jovin selanjutnya.
"saya baik Tuan, bagaimana dengan Tuan? sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini." titah pria itu lagi.
"saya juga baik-baik saja Paman, kebetulan keluarga ku sedang sibuk sekali jadi tidak ada waktu untuk berkunjung ke sini." jawabnya.
"oh begitu, oh ya... siapa Nona ini?."
"wah... selamat Tuan, semoga hubungan kalian berdua langgeng." ucap pria itu sembari memberikan sepiring penuh marshmellow panggang favorit Jovin, pria itu sudah terlalu hafal dengan makanan favorit Tuan mudanya ini. Meski Jovin anak orang kaya, tak di pungkiri dia sangat lah ramah terhadap orang sekitar. Dia tidak pernah membedakan kasta. Sikap itulah yang membuat semua orang mengaguminya.
"coba lah .,ini sangat enak." ucap Jovin sambil menyuapkan satu potong marshmellow ke mulut Abila.
Dan Abila menerima nya dengan senang hati.
"iya...ini benar-benar lembut,."ucap Abila di sela-sela mengunyah nya.
"sekarang giliran mu,...aaaaa." Abila menyuapkan sepotong marshmellow ke pada Jovin.
"manis sekali,... bukan karena rasa marshmellow nya namun karena kau yang menyuapiku." ucap Jovin sambil memandang wajah cantik kekasihnya.
"benarkah? jika aku memberi mu racun, apa rasanya akan tetap manis?." tanya Abila, pertanyaan singkat namun mendalam.
"apa pun yang kau berikan padaku, aku akan selalu menerima nya." sahut Jovin tanpa rasa curiga sedikitpun pada pertanyaan Abila.
"benarkah begitu? jika aku memberi mu kesedihan, kekecewaan, apa kau akan tetap menerima nya?." tanya Abila selanjutnya.
__ADS_1
"apa pun itu, karena aku sudah terlalu jatuh dalam zona cinta mu, Adira ku tersayang."
"jika aku bukan lah Adira mu , apa kau akan tetap menerima nya?." Abila begitu penasaran dengan jawaban pemuda itu kali ini.
"di hati ku hanya lah ada satu nama Adira, tidak ada yang bisa menghapuskan nama mu di dalam hati ku ." jawaban itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Abila.
Gadis itu tersenyum manis, sangat manis di mata Jovin. Namun yang sebenarnya senyuman itu hanyalah senyuman palsu, penuh kekecewaan, begitu miris . Harus mencintai orang yang tidak akan pernah mengerti seberapa besar cinta yang ia miliki. Abila harus memendam dalam-dalam rasa cintanya itu.
"oh ya... sayang, kau mau pesan minuman apa?." tanya Jovin memecah keheningan.
"teh hangat saja." jawab Abila.
Jovin mengernyitkan dahi nya.
"sejak kapan kau jadi penyuka teh? bukan kah kau sangat membencinya? biasanya kau meminum minuman beralkohol rendah."
Abila gugub lagi-lagi ia salah bicara.
"ah... baiklah kalau begitu pesan minuman yang sama dengan mu saja." ucap Abila selanjutnya.
Sial.... bagaimana ini? bahkan aku belum pernah merasakan minuman beralkohol, bagaimana bisa nanti aku meminumnya?.
Dua kaleng minuman sudah datang. Dan Jovin langsung membukakan minuman milik Abila.
Abila meminum minuman itu dengan ragu-ragu.
"sayang... kenapa tidak kau minum? minuman itu hanya lah minuman biasa yang dulu kau minum." tutur Jovin sambil meneguk minuman dari kaleng yang di pegang nya.
Mau tak mau akhirnya Abila meminum minuman itu dengan sekali teguk dari pada kedoknya terbongkar.
Selang beberapa menit, Abila mulai merasakan pusing yang luar biasa di kepala nya.
Astaga... ada apa dengan kepala ku, kenapa sakit sekali.
Jovin menautkan kedua alisnya melihat perubahan ekspresi kekasih nya.
"sayang.... kau tidak apa-apa?" tanya nya sambil menangkup kedua pipi Abila yang terlihat memerah.
Apa? kau mabuk? sejak kapan kau tidak kuat meminum minuman beralkohol . Setahuku kau adalah peminum yang handal. Adira siapa sebenarnya dirimu?.
Abila mulai meracau tidak jelas, sesekali tertawa cekikikan.
"sayang....ayo kita pulang, kau sedang mabuk." ajak Jovin.
"siapa bilang aku mabuk? aku tidak mabuk pemuda tampan..."ucap nya lalu tertawa lagi.
__ADS_1
"sayang ayo kita pulang, ini sudah malam."
"pulang? baiklah....tapi gendong aku." pinta Abila sambil menjulurkan kedua tangannya.