Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
TIGA TUJUH


__ADS_3

Jovin membawa Abila pergi jauh, ke suatu tempat dimana hanya akan ada mereka berdua tiada yang lain. Jauh dari keluarga besar nya, jauh dari perusahaan atau pun sahabat-sahabat Abila. Ia tidak ingin di ganggu saat moment-moment berdua nya bersama gadis pujaan yang selalu menghantui fikiranya beberapa bulan ini.


Jovin benar-benar tidak ingin melepaskan gadis itu walau sedetik pun. Katakanlah jika Jovin sangat terobsesi pada Abila.


Sebuah mobil mewah melaju dengan cepatnya, menyusuri jalan di perbatasan kota. membelah jalanan melewati hutan belantara begitu jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


Perjalanan itu memakan waktu hampir enam jam lamanya, hingga mobil mewah itu terhenti tepat di tengah hutan dengan pepohonan besar di sekelilingnya.


Tak jauh dari tempat Jovin menghentikan mobilnya, terlihat sebuah Villa begitu megah bahkan melebihi kemewahan Mansion keluarga Nichol. Gedung itu begitu menjulang tinggi dengan polesan tembok berwarna putih tulang.


Bahkan bisa di bilang ada ratusan pengawal berbaju hitam serta puluhan maid sudah berdiri , berjajar rapi siap menyambut Tuan mudanya. Yang tak lain adalah Jovin.


Jovin sengaja membangun Villa mewah di tengah hutan itu untuk kebutuhan pribadi nya.


Hanya orang paling beruntung yang bisa di ajak pemuda itu untuk singgah di Villa tersebut. Tapi tidak untuk Abila, menurutnya itu hanya sebuah bencana.


Bahkan keluarga Nichol pun tidak tahu menahu tentang adanya Villa yang diam-diam di bangun Jovin tersebut.


Abila mengerjapkan kedua matanya pelan, sedikit menutup matanya dengan punggung telapak tangannya karena merasa silau dengan cahaya yang tiba-tiba masuk kedalam inderanya.


Abila berusaha mengingat semua kejadian yang baru saja menimpanya, ia begitu asing dengan tempat ini. Ruangan bercat putih cerah itu membuat nya bertanya-tanya, sebenarnya dimana dia sekarang?.


"aku di mana?," gumamnya, sambil memandang mengitari ruangan asing tersebut. Hingga suara deritan pintu mengalihkan perhatian nya.

__ADS_1


"KREEEEKK...


Suara pintu terbuka, membuat Abila terperangah kaget. Kedua bola matanya membulat syok, melihat sosok yang begitu ia takuti berada di hadapannya.


"kau sudah bangun sayang? bagaimana tidur mu, apa nyenyak sekali?," tanya nya seraya menyunggingkan senyumnya dengan tatapan mata penuh hasrat yang terpendam.


Jovin mendekati ranjang dimana Abila terduduk, merangkak menaiki ranjang king size itu, Abila berlahan meringsut mundur dengan mencengkeram selimut tebal yang menutupi setengah badannya.


"jangan... jangan berani-berani mendekati ku, menjauh dariku," bentak gadis itu sambil mengacungkan jari telunjuk nya ke arah wajah pemuda itu.


"aku kekasihmu sayang...dan kau kekasihku," ucap Jovin dengan suara rendahnya sambil mengelus pipi Abila, begitu terlihat memuja. Abila sudah terisak ketakutan dan menepis kasar tangan pemuda itu.


"PLAKKK....


"kau berani menamparku eoh?," remeh Jovin dengan seringaian tajam tergambar jelas di bibir sexynya.


"jangan menyentuh ku ba**ngan, ... aku muak dengan sentuhan menjijikan mu itu," bentak Abila frustasi.


Jovin sudah hilang kesabaran, kedua matanya sudah terasa panas, kobaran api kemarahan sudah menguasai hati nya. Ia menggertakan gigi-giginya, hingga terdengar bunyi gemeletuk. Ia hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada gadis di hadapannya saat ini juga.


"aku mencintaimu...dengar...aku mencintaimu..! dasar ja**ng kurang ajar... tidak tau di untung. Harus nya kau bangga karena di cintai pemuda kaya raya seperti diriku, aku bisa memberikan uang sebanyak yang kau mau," teriak Jovin sambil mencengkram dagu Abila begitu kerasnya.


Abila begitu kesakitan, karena Jovin tidak mau melepaskan cengkraman nya. Tanpa menghiraukan tangisan kesakitan yang di rasakan Abila. Sakit hati ketika Jovin mengatainya kembali dengan sebutan ja**ng begitu mendominasi dengan siksaan yang Jovin berikan saat ini.

__ADS_1


"sudah ku bilang...aku bukan ja**ng, perlu ku ingat kan pada mu...,aku tak butuh uangmu. Iblis seperti dirimu tidak pantas berbicara soal cinta Jovin," ucap Abila penuh penekanan.


"sudah berani menceramahi ku rupanya," cerca pemuda tersebut.


Abila menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit hati yang begitu mendalam yang tengah ia rasakan. Namun rasa sakit itu bukanya menghilang tapi malah semakin menjadi, begitu perih bak di sayat sebilah belati tajam.


"buka bajumu," perintah nya begitu dingin.


"ti.... tidak, tolong jangan lakukan itu," Abila meringsut mundur sambil mencengkram baju di bagian dada nya erat.


"AKU BILANG BUKA," Jovin semakin meninggikan suaranya.


"aku tidak mau," Abila menggelengkan kepalanya brutal.


Jovin berseringai ia merangkak dan menduduki paha gadis itu, tanpa berkata apapun Jovin langsung merobek paksa pakaian gadis itu.


Abila tercekat, ia menahan nafasnya yang tersengal-sengal. jangan bilang jika Jovin akan melakukan hal seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu, sungguh Abila sangat ketakutan.


"tolong, jangan lakukan itu lagi Jovin, aku mohon ampuni aku," teriak Abila di iringi tangisan yang terdengar menggema di penjuru ruangan itu.


Jovin tak peduli dengan raungan kesakitan gadis itu, ia tetap melanjutkan aksinya. Hingga kini keadaan Abila yang sudah terbilang begitu memalukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mulus nya.


Jovin tersenyum bangga melihat kemolekan tubuh Abila, namun tangisan memilukan gadis itu membuat nya sangat kesal. Dia hanya ingin gadis itu mendesahkan nama nya bukan malah menangis, yang hanya akan membuat telinga Jovin rasanya ingin pecah.

__ADS_1


__ADS_2