Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
KPTM II 10


__ADS_3

Saat ini Yuki telah di bawa ke rumah sakit dan sedang menjalani operasi. Semua anggota keluarga sudah berdatangan kesana. Marsel begitu kalut kala mendapat kabar bahwa putri kesayangannya hampir meregang nyawa. Ia marah, ingin rasanya memukul Zio. Gara-gara di butakan oleh cinta, putri tercintanya harus mengalami hal seperti saat ini. Ia tidak tau harus bagaimana, ia juga tidak bisa menyalahkan Zio sepenuhnya. Karena ini semua atas kehendak anaknya sendiri. Ia semakin bingung jadinya.


Zio terduduk di kursi ruang tunggu depan pintu ruang operasi, dengan menundukkan wajah, tertumpu kedua telapak tangannya, tubuhnya terlihat bergetar sembari terisak.


Abila, ikut terisak di pelukan sang suami. Ia tak tega melihat Zio bersedih, baru kali ini ia melihat anak itu menangis lagi, setelah sekian lama.


Tak berapa lama keluarga Marsel datang, terlihat pemuda itu berjalan dengan tergesa-gesa sembari merapalkan kedua tangannya.


"bre*ngsek.... sampai kapan kau akan membuat anak ku menderita ha?," teriak Marsel murka, seraya membogem mentah wajah Zio. Hingga pemuda tersebut jatuh tersungkur di lantai tanpa adanya perlawanan.


Jovin segera melerai Marsel, jika tidak Zio pasti akan mati di tangan pemuda itu detik ini.


"Sel...tenanglah, jangan begini... kita selesaikan dengan kepala dingin ok," ucapnya berusaha menenangkan lelaki yang tengah terbakar emosi itu.


"dengarkan aku baik-baik, jika sampai terjadi apa-apa pada anakku, aku tak akan pernah memberimu ampun Zio, sudah cukup kau memberikan penderitaan pada Yuki, aku selama ini.... hanya bisa diam. Saat mengetahui bahwa kau mengacuhkan perasaan nya, tapi sekarang tidak lagi. Aku akan menjauhkan Yuki dari iblis sepertimu," marah Marsel.


Zio berusaha terbangun, dengan tangisan pilu yang begitu terdengar menyayat hati. Ia menyesal, kenapa ia baru sadar jika Yuki begitu berarti dalam hidupnya. Sekarang ia merasa di hantui rasa bersalah yang sangat mendalam hingga ke dasar hatinya, mungkinkah ini sebuah karma untuknya?.



"Paman...tolong, beri aku kesempatan untuk menebus semua salahku pada Yuki, ku mohon Paman," tangis Zio bersimpuh di bawah kaki Marsel memohon.


"Zio,...jauhi Yuki, jika kau ingin menebus kesalahanmu. Biarkan dia melupakanmu... keluarga ku tak pantas berdekatan dengan keluarga majikan. Aku akan tetap setia mengabdi pada keluarga mu, tapi tolong jauhi anakku... jangan buat dia menderita, aku tak ingin melihat anak ku satu-satunya tersiksa. Setiap malam dia menangis sendirian, dia selalu menyebut namamu dalam tidurnya. Yuki hanyalah sosok gadis lemah yang terlalu pandai menyembunyikan kesedihannya di balik sikap cerianya," tangis Marsel tak kuasa mengingat kebiasaan putrinya, tanpa sepengetahuan gadis tersebut. Diam-diam Marsel selalu memperhatikan tingkah Yuki di setiap malam.


Jovin mendekati tubuh Marsel menepuk bahunya pelan.


"Sel... maaf aku ikut campur dalam urusan keluarga mu, tapi ini juga menyangkut putraku. Tak bisakah kau memberikan Zio kesempatan sedikit saja hm?,"


Marsel menggeleng kan kepalanya frustasi.


"kau tidak tau bagaimana perasaan ku Vin, aku takut kehilangan anakku,"


"aku sangat tau bagaimana perasaan mu, aku juga kehilangan anakku, kau seharus nya bersyukur Yuki masih ada di depan matamu, jangan siksa dia dengan menjauhkan cinta sejatinya. Sedang aku, aku sudah bertahun-tahun kehilangan anak ku Sel," tutur Jovin sedih, mengingat kembali anak nya yang telah lama hilang.

__ADS_1


Marsel terdiam sejenak sebelum berucap.


"aku ingin Zio menyadari semuanya, dan bisa berfikir lebih dewasa. Aku hanya tak ingin dia mempermainkan putriku," sahut Marsel kemudian. Jovin tersenyum dan mengangguk paham.


Tak berapa lama pintu ruang operasi terbuka, Marsel segera berlari ke arah salah satu Dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


"bagaimana keadaan anakku Dok?," tanya nya memburu.


Dokter itu tersenyum dan berucap.


"keadaan anak anda sudah stabil Tuan, untung nya kedua peluru yang menembus dada putri anda tidak mengenai organ vital nya," tutur Dokter itu sabar dan kemudian meninggalkan mereka semua. Marsel akhirnya bisa bernafas lega. Sedang Nita dia tidak ikut ke rumah sakit, karena setelah mendengar kabar tentang anaknya, wanita itu sempat pingsan beberapa kali, alhasil ia harus berbaring lemah di kediamannya bersama orang tuanya.


Di tempat lain, terlihat Zia tengah berkencan dengan Ruka. Ia belum mendengar berita tentang peristiwa yang menimpa Yuki, di karenakan phonesel nya kehabisan daya.


"Zia... bagaimana jawabanmu? kau menerima cintaku atau tidak? karena aku tak akan berucap untuk yang kedua kalinya, aku bukan tipe lelaki yang suka menunggu," tuturnya sedikit sombong, seolah Zia yang harus mengejar dirinya dan mengemis cintanya.


Zia sedikit bimbang, ia merasa aneh dengan perubahan sikap Ruka yang terbilang sangat drastis.


"aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya," lirih Zia takut menyinggung perasaan pemuda di sampingnya.


"tu... tunggu, apa maksudmu Ruka, aku belum memberi jawaban," gelisah gadis tersebut.


Ruka melirik Zia, sembari tertawa menang dalam hati.



Kau tidak akan pernah bisa jauh dariku Zia, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku dan selanjutnya akan ku hempaskan dirimu di titik terendah, dimana kau tidak akan sanggup untuk melanjutkan hidupmu.


"lalu apa jawabanmu, capat katakan," sergah Ruka lagi, sengaja memojokkan Zia.


"i...iya,... aku mau," tutur Zia tak begitu yakin.


Ruka tersenyum bahagia.

__ADS_1


"kau mau apa hm? katakan yang jelas," goda pemuda itu.


"aku mau menjadi kekasih mu," ucapan Zia cepat.


Lagi-lagi Ruka tertawa dalam hati.


Bahkan kau sendiri yang menawarkan untuk menjadi pacarku, aku tidak pernah menyinggung mu untuk menjadi kekasih ku bit*ch.


"baiklah.... sekarang kau milikku," ucap Ruka penuh penekanan.


Entahlah, Zia merasa sedikit canggung. Kenapa hatinya merasa gelisah? harusnya ia bahagia karena pemuda yang ia sukai sudah resmi menjadi kekasih nya sekarang ini. Tapi kenapa hatinya seolah berkata lain.


Ruka mendekat kan wajahnya ke wajah Zia, dan mengecup bibir gadis itu singkat.


"anggap saja sebagai peresmian hari jadi kita," bisik pemuda itu yang membuat wajah Zia memanas.


Di rumah sakit, Yuki sudah di pindahkan ke ruang rawat dan kini gadis itu sudah sadarkan diri. Zio sangat antusias menemani gadis berwajah pucat itu.


"Yuki... terima kasih untuk semua nya, maafkan aku. Karena ku kau jadi begini," sesal Zio.


Yuki tersenyum tipis, dan berkata.


"tidak apa, ini sudah tugas ku dan keluarga ku bukan? untuk melindungi keluarga kalian," ucap Yuki datar.


"Deg....


Zio tersentak dengan ucapan gadis tersebut, kenapa Yuki berubah? kemana Yuki yang selalu ceria kemarin? batinya.


"Yuki... setelah kau sembuh, aku janji akan menuruti semua keinginanmu," ucap Zio semangat.


Namun di balas gelengan lemah oleh Yuki, membuat senyuman Zio luntur seketika.


"kenapa? bukankah kau dulu sangat senang saat aku menuruti keinginan mu?,'

__ADS_1


Yuki memandang lekat wajah Zio.


Aku tidak ingin kau simpati pada ku hanya karena kau merasa berhutang budi pada ku, aku hanya ingin kau tulus melakukan itu semua dari hati mu, Zio aku lelah mengejar cinta mu....


__ADS_2