
Di kediaman keluarga Nichol.
Jovin tengah termenung di dalam kamar nya, mensecroll gambar-gambar dirinya bersama Abila di layar laptop nya.
Tak sadar seutas senyuman begitu jelas tertera di bibirnya. Ia teramat sangat merindukan gadis itu, kenapa di saat dia benar-benar ingin berubah, gadis itu malah pergi meninggalkan nya entah kemana. Jovin seakan kehilangan arah tujuan, tak tau harus berbuat apa. Ia tak punya gairah hidup.
Abila adalah kekuatan sekaligus nyawa untuk Jovin, namun gadis itu kini telah tiada, ia menghilang tanpa jejak. Jika separuh nyawa nya sudah pergi jauh meninggalkan dirinya, lalu bagaimana cara nya untuk Jovin bisa meneruskan perjalanan hidupnya.
Entah sudah berapa juta kali Jovin memandang foto dirinya dengan gadis pujaannya itu, ia berimajinasi seolah foto-foto itu bisa hidup dan bergerak seperti kejadian-kejadian yang telah berlalu.
Mereka begitu terlihat menikmati momen-momen saat mereka menginap di Villa . Begitu indah , terlalu berat untuk di lupakan. Kenapa baru sekarang ia menyadari kesalahannya, menyadari bahwa dirinya terlalu egois. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat, lalu dimana sekarang ia harus menemukan gadis pujaannya. Bahkan seluruh kelompok dunia bawah nya sudah ia kerahkan untuk menelisik ke berbagai penjuru di Negara ini, namun belum juga membuahkan hasil.
Jovin hanya mengurung diri di dalam kamar nya, tidak ingin melakukan aktivitas seperti biasa, tubuhnya pun juga terlihat tak begitu terawat. Pemuda itu berusaha merenungi semua kesalahan nya selama ini.
Jika saja ia di suruh memilih antara kekuasaan dan cinta, maka ia akan lebih memilih opsi nomor dua, kekuasaan tidak bisa menjamin dirinya untuk melanjutkan hidup, namun cinta, dengan cinta bisa membuatnya lebih bersemangat , bergairah, karena cinta merupakan kekuatan terbesar dalam hidupnya. Abila, gadis itu merupakan kekuatan sekaligus kelemahan untuk Jovin.
Pemuda itu hanya bisa menangis , menyesali kesalahan besar yang pernah ia lakukan, hingga membuat gadis yang ia cintai pergi meninggalkan nya.
"Abila....kau di mana sayang... aku merindukanmu, merindukan calon anak-anak kita. Aku ingin melihat perkembangan babys didalam perutmu, ingin mengelus nya. Aku ingin merasakan momen-momen itu , Abila....kembalilah sayang." runtuh sudah ke aroganan seorang pemuda angkuh Jovin Nichol. Sekarang dirinya tak lebih dari seorang pemuda yang sangat lemah dan juga rapuh.
Nyonya Nichol yang melihat keadaan putra kedua nya hanya bisa menangis dalam diam, ia bermaksud memberikan makanan untuk pemuda itu, namun urung karena mendengar isakan memilukan yang keluar dari mulut pemuda tersebut. Nyonya Nichol tak kuasa untuk melihat anak tersayang nya begitu terlihat menyedihkan. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang bawah menemui Johan dan juga suaminya.
__ADS_1
"Mom...kenapa menangis? apa Jovin menyakiti Mommy?," tanya Johan khawatir sambil merengkuh tubuh sang Mommy.
Nyonya Nichol hanya menggeleng lemah.
"tidak.... Mommy hanya merasa sedih , lakukan sesuatu untuk Jovin. Kumohon ," pinta nya sambil menangis sesenggukan.
Johan memandang ke arah Daddy nya, ia juga bingung harus berbuat apa. Pasalnya sudah hampir genap empat bulan ini ia mengerahkan seluruh anggotanya, bahkan menyewa para detektif handal. Namun belum juga ada titik terang. Ia semakin penasaran, sebenarnya siapa sosok yang menyembunyikan keberadaan gadis itu, ia jadi ingin menyelidiki masalah ini.
▪️▪️▪️
Sedang di mansion besar keluarga Takkeru.
Kini kandungan Abila genap menginjak bulan ke tujuh, perut gadis itu sedikit terlihat lebih besar di banding dengan orang hamil normal biasanya, karena memang ia tengah mengandung bayi kembar.
Dan pemandangan itu tak luput dari penglihatan Abila, juga Mama dan Papa mereka, walau mereka berdua dalam posisi duduk di kursi roda. Oiya, dalam kurun waktu empat bulan ini banyak keajaiban yang terjadi di keluarga Takkeru. Keadaan Tuan Daisuke semakin membaik di susul dengan Nyonya Hikari Takkeru yang tiba-tiba terbangun dari komanya setelah belasan tahun lamanya. Kedatangannya dua gadis kembar itu benar-benar membawa dampak positif bagi keluarga Takkeru.
Namun Abila juga merasa bahagia karena Adira begitu perhatian kepada nya. Kini mereka berdua sedang terduduk di kursi panjang taman tersebut, menikmati hangatnya matahari pagi.
"Bil....apa sangat berat?," tanyanya begitu aneh, membuat Adira mengernyitkan keningnya.
"apanya? kau sebenarnya ingin bertanya apa ?,"
"itu....perutmu, apa terasa berat?," tanya Adira lagi sambil nyengir tak berdosa.
Abila hanya terkikik geli mendengar pertanyaan Adira yang menurut nya sangat konyol.
"tentu saja berat...kau ingin mencobanya?," goda Abila.
__ADS_1
"tidak mau....aku mau hamil dengan pemuda yang benar-benar menjadi pilihan ku kelak," ucap Adira sambil menerawang birunya langit pagi itu.
"bagaimana mau dapat kekasih yang benar-benar serius dengan mu, jika dirimu saja gampang bosan dengan satu pasangan," cibir Abila.
"kau selalu saja menggoda ku, setidaknya doakan kembaranmu yang imut ini agar cepat dapat jodoh," timbalnya kemudian.
Abila hanya tertawa dan mengiyakan permintaan gadis itu.
"Bil.... apa kau tak merindukan Jovin?," celetuk Adira tiba-tiba.
Abila hanya menunduk sembari mengelus perut besar nya.
"jujur akhir-akhir ini aku selalu memikirkan nya, mungkin babys sedang merindukan Ayahnya. Tapi aku tidak ingin bertemu dengannya nya, aku bahagia hidup di sini bersama keluarga kita. Dan kau juga tau sendiri bahwa keluarga kita melarang keras agar kita tidak berhubungan dengan keluarga Nichol," tutur Abila, tersirat kesedihan yang begitu mendalam di nada ucapan nya.
Adira tak bodoh untuk tak menyadari perubahan ekspresi Saudara nya.
"jangan membohongi perasaanmu sendiri Bil,...katakan saja jika kau juga mencintai Jovin, sebagai mana pemuda itu mencintaimu," sahut Adira dengan tersenyum manis.
"sekalipun aku mencintai nya, tidak ada yang bisa aku lakukan. Semua hanya akan menjadi kenangan, kita tidak akan bisa bersatu," lirihnya.
"kau pernah dengar... jika di kamus seorang Adira Pramudita tidak ada kata mustahil,"
"dasar.... kau itu selalu saja menyombongkan diri, jangan banyak tingkah Dir..... kita ikuti saja aturan dari keluarga ini," ucap Abila.
Adira hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Abila.
Kau lupa siapa diriku Bil... kau tahu sendiri bahwa diriku suka menentang sesuatu yang mustahil, aku adalah Adira, gadis yang tak takut dengan resiko sebesar apapun, sekalipun harus melanggar aturan keluarga Takkeru, aku tak perduli. Aku suka kebebasan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menebus semua kesalahanku padamu Abila.
__ADS_1