
Seorang gadis manis dan juga cantik. Berjalan melenggak-lenggokkan tubuh sexynya. Terduduk di salah satu kursi depan meja bartender. Rambut panjang dengan sedikit sentuhan warna ash brown. Bibir tipis sedikit terpoles liptin berwarna cerry membuatnya semakin terlihat sexy. Dengan dress merah ketat di atas lutut. Membuat kaki jenjang, serta paha putih mulusnya terexpos sedikit. Ya! Gadis itu tak lain adalah Hazel. Jeslyn sebagai pemilik club, awalnya sudah menyuruh Hazel untuk mempertimbangkan keputusannya, untuk bekerja di tempat seperti ini. Namun gadis itu tetap bersikeras untuk bekerja. Mau tak mau akhirnya Jeslyn menyetujui kemauannya. Dalam hati merasa bahagia, bisa berada di dekat gadis polos ini. Hazel melihat seorang pemuda mendatanginya dan terduduk di samping tempat duduknya. Sedikit ada rasa takut dan gemetar, karena ia baru kali ini bekerja mendekati seorang pemuda. Hazel melihat ke arah Jeslyn, dan dibalas anggukan oleh wanita tersebut. Seakan mengatakan 'tenang semua akan baik-baik saja.' Hazel menghela napas panjangnya dan kemudian mendekati pemuda tadi. Pemuda tersebut terlihat begitu stres dan juga frustasi. "Kau mau minum, Tuan?" tanyanya sambil mengambil segelas wine dari meja bartender. Menyodorkan minuman tersebut ke arah pemuda di dekatnya. "Boleh." sahut pemuda itu begitu lirih. "Kau terlihat sedang ada banyak masalah Tuan? Bisa ceritakan padaku? Aku akan senang hati mendengar ceritamu, Tuan." ucapnya begitu lembut, sambil berpura-pura menyesap minuman yang ada di tangan kanannya. Ia belum pernah menyentuh minuman seperti itu jadi ia tak berani meminumnya. Sekian menit pemuda itu menceritakan tentang masalah hidupnya, ia berkata jika istrinya ingin meminta pisah di karenakan dirinya yang terlalu sibuk bekerja. Hingga pada akhirnya Hazel memberinya solusi, dan sedikit memberikan saran. Walau sebenarnya dia sendiri belum pernah merasakan bagaimana kehidupan berumah tangga. "Sebaiknya Tuan bicarakan baik-baik dengan istri anda, jelaskan padanya, dan juga luangkan waktu anda lebih banyak untuk keluarga agar istri anda merasakan kehangatan dalam hubungan rumah tangga kalian." sarannya. pemuda itu tersenyum, ia bangkit dari duduknya, dengan raut wajah berbinar. "Terima kasih Nona, sudah membuka jalan pikiranku." ucapnya, seraya memberikan selembar cek pada Hazel. "Sama-sama Tuan, semoga berhasil ...." sahut Hazel, kemudian ia melihat kertas yang ada di tangannya, seketika kedua mata bulat itu membola lebar. Seakan tak percaya, bagaimana bisa hanya karena ia memberikan solusi, pemuda itu dengan mudahnya memberikan selembar cek yang nominal angkanya begitu besar. Hazel tersenyum lebar dan kemudian menghampiri Jeslyn. "Kak ... lihatlah! Pemuda tadi memberiku sebuah cek." tuturnya bahagia, Jeslyn tersenyum dan mengelus pipi Hazel. "Itu hasil kerja pertamamu, gunakan baik-baik." ucapnya. Hazel mengangguk dan berkata. "Baik, aku akan menggunakan uang ini untuk membayar hutang-hutangku, Kak." Jeslyn dan Hazel memang terpaut perbedaan umur yang cukup jauh, lebih tua Jeslyn. Hingga pada akhirnya Jeslyn menyuruh Hazel untuk memanggilnya sebagai kakak. Jeslyn tersenyum kecut, sedikit miris melihat kehidupan Hazel yang begitu banyak mendapat ujian di usianya yang sangat muda. Di Lain tempat. Roger hampir putus asa mencari keberadaan gadis bernama Hazly itu. Ia kelelahan karena ulah adiknya yang menyuruhnya mencari tanpa henti. Hampir dua tahun lamanya ia mencari keberadaan Hazly, namun belum juga ketemu, ratusan anak buahnya ia kerahkan untuk menelisik seisi negara ini, tapi belum juga ada hasil. Ia tidak menyangka gadis itu ternyata lebih pandai bersembunyi. Hari ini Roger tengah bersama sekretaris pribadinya panggil saja dia dengan sebutan Morgan. Pemuda tersebut yang selama ini selalu setia menemani Roger kemana pun, hubungan mereka lebih terlihat seperti sahabat dibanding dengan hubungan sebagai partner kerja. "Rog, kau ingin ke suatu tempat untuk menenangkan fikiran?" tanyanya. Cukup lama mereka bersahabat, jadi tak ada bahasa formal di antara keduanya. "Kemana memangnya? Kau punya rekomendasi tempat yang nyaman?" sahut Roger, santai. "Iya. Ayo ke club milik gadis incaranku. !" ajaknya. "Kau sedang jatuh cinta ternyata, gadis mana yang beruntung itu? Aku jadi penasaran." kekeh Roger, menggoda Morgan. "Dia gadis yang sangat sempurna menurut ku." jawabnya dengan tersenyum simpul. "Ah. sudahlah ayo kita ke sana, dan cepat nyatakan perasaanmu sebelum keduluan orang." Roger tertawa. Dan akhirnya mereka berdua menuju ke luar kantor, memasuki mobil mewahnya, menancap gas menuju ke club malam itu. Sesampainya di club. Roger dan Morgan segera menghampiri meja bartender mencari pemilik club itu. Bermaksud ingin memesan ruang VIP, mereka paling anti dengan yang namanya gadis penghibur, Jadi mereka memesan ruang VIP untuk merasakan kenyamanan tanpa harus digoda oleh gadis-gadis kurang belaian. Sementara menunggu Morgan memesan ruangan, Roger duduk di salah satu kursi agak jauh dari meja bartender, sedikit mencuri pandang melihat gadis-gadis yang sedang asyik menemani pengunjungnya. Hingga tatapan kedua matanya terhenti pada satu titik, di mana terlihat seorang gadis sexy dengan berpakaian dress merah ketat sedang mendengarkan keluhan seorang pemuda di hadapannya. Roger tersenyum pongah, akhirnya gadis yang selama ini ia cari ketemu juga dengan mudahnya. 'Akhirnya aku menemukan dirimu gadis nakal.' Gumamnya dalam hati. "Ternyata kau bersembunyi di sini gadis kecil, tapi tunggu! Kenapa kau berada di dalam club murahan seperti ini? Cara berpakaianmu juga terkesan sangat norak. Jauh dari Hazly yang dulu pernah bersama Mark. Dari penampilanmu saja aku sudah menilai bahwa barang-barang yang kau pakai semua KW. Tapi jujur, kau tetap terlihat cantik dan sexy. Aku baru percaya bahwa kau mempunyai aura pemikat, kau sangat terlihat begitu mempesona. Pantas saja adikku sangat menggilaimu. Gumamnya, bertarung dalam hati. Roger berdiri menghampiri Morgan di depan bartender seraya berbisik lirih. "Gan, aku mau memesan gadis itu." ucapnya. Yang membuat atensi Morgan beralih pada sosok gadis cantik berbaju merah yang ditunjukkan sahabatnya. "Kau yakin? Sejak kapan kau menyukai gadis murahan?" tutur Morgan sedikit heran dengan sikap atasannya ini. "Diam kau! Asal kau tahu, dialah gadis yang selama ini kita cari." bisiknya penuh keyakinan. Morgan membolakan matanya, sedikit terperanjat tidak percaya, bagaimana bisa seorang tuan muda keturunan konglomerat mempunyai kekasih yang bekerja di sebuah club malam begini. Tanyanya dalam hati. "Kau yakin? Tidak salah orang?" tanya Morgan memastikan. "Tentu saja tidak, aku sangat mengenali wajah gadis itu." yakin Roher. Morgan hanya mengangguk mengiyakan permintaan Roger, ia kembali menghadap depan meja bartender, dimana Jeslyn berdiri. "Nona, temanku ingin memesan gadis yang di sana." pinta Morgan. Jeslyn mengikuti arah pandang pemuda itu. "Maksudmu Hazel?" tanyanya. Roger terkejut mendengar nama gadis itu, apa dia bilang? Hazel? Batinya tak percaya. Ia mendekati Jeslyn ingin memastikan kebenarannya. "Kau yakin nama gadis itu Hazel bukan Hazly?" "Tentu saja, aku punya biodata lengkap nya." sahut Jeslyn. "Boleh aku melihatnya? Ini sangat penting, ku mohon izinkan aku melihat nya." mohon Roger. Jeslyn mengangguk dan memberikan biodata lengkap Hazel pada Roger.