Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
Chapter 08


__ADS_3

Hari berganti hari, Hazel semakin terbiasa dengan pekerjaan nya yang sekarang. Begitu juga dengan keadaan Mark. Semakin hari keadaan nya semakin membaik. Kini pemuda itu tak lagi harus ketergantungan dengan peralatan rumah sakit. Hanya tinggal pemulihan kesehatan nya saja. Dan itu juga berkat Hazel yang dengan telaten, sepenuh hati merawat pemuda itu. Hazel terlihat sedikit murung siang ini, Ia menemani Mark istirahat sehabis meminum obat. Setelah memastikan pemuda itu sudah terlelap sepenuhnya, berlahan Hazel meninggalkan sosok tersebut. Ia berjalan gontai ke taman belakang mansion besar itu dan terduduk di salah satu kursi panjang berwarna putih di sana. Gadis itu memandang hamparan bunga-bunga yang terlihat begitu indah. Pasti Nyonya Harold selalu merawat bunga-bunga itu dengan baik. Gumamnya. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak nya dan membuat nya sedikit terjengit kaget. PUUKK! "Astaga!!" kagetnya, seraya menoleh ke belakang dan mendapati Roger yang tersenyum teduh pada nya. "Ah. Tuan, sejak kapan kamu di situ?" tanyanya. "Panggil aku Kakak, percuma saja kau memanggilku dengan sebutan Tuan jika cara bicara mu saja terlalu bar-bar." cibir pemuda itu, bercanda. Sedang Hazel hanya nyengir bodoh, benar juga apa yang di katakan pemuda itu. Gumamnya, terkikik geli. "Tidak, aku merasa tak pantas memanggil mu dengan sebutan itu." ucap Hazel sambil menundukkan kepalanya. "Lalu, apa kabar dengan dirimu yang selalu mengumpati ku, apa itu pantas, hah?!" sindirnya kemudian. Lagi-lagi membuat Hazel tertawa hambar. "Em, baiklah-baiklah ... aku akan memanggil mu dengan sebutan Kakak." putus Hazel selanjutnya. Roger menyunggingkan sebelah bibir nya. menyenangkan sekali membuat gadis ini kesal. Batinnya merasa lucu dengan sikap Hazel. "Emm ... kenapa kamu ada di sini? Apa Mark tidak mencari mu?" tanya Roger selanjutnya. "Dia sedang tidur, Kak." lirihnya. "Kenapa kamu terlihat murung? Apa kamu sedang ada masalah?. Cerita saja pada ku! Aku akan menjadi pendengar setia mu." pintanya, ia hanya tidak ingin membuat gadis ini merasa kesepian. Hazel menghembuskan nafasnya dan menerawang melihat langit biru nan jauh tak tersentuh di atas nirwana. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang akhir-akhir ini begitu mengganggu fikiranku." jawabnya kemudian. "Memangnya masalah apa yang selalu mengganggu fikiranmu?" tanya Roger penasaran. "Aku hanya berfikir, bagaimana reaksi Mark, jika ia tau bahwa aku bukan lah kekasihnya." curhat gadis itu sambil memainkan jemarinya. Roger terdiam, bohong jika dia tidak memikirkan hal yang sama dengan yang di fikirkan Hazel. 'Asal kamu tahu, Zel. Aku juga memikirkan cara agar kedokmu tidak terbongkar secepatnya, karena aku tau bagaimana sifat Mark, dia paling tidak suka dengan yang namanya kebohongan. Bukan hanya kamu yang terkena masalah, namun aku juga.' Roger berusaha menutupi kegelisahan nya, biar bagaimanapun ia harus memberikan semangat kepada Hazel. "Tenanglah ... rahasia ini hanya keluargaku yang tau, selama mereka tetap tutup mulut, maka, kamu akan tetap aman." ucap Roger sambil mengelus rambut panjang gadis di sampingnya. Hazel hanya mengangguk, walau rasa khawatir itu tetap saja bergejolak di dalam hatinya. "Sampai kapan aku akan tetap membohongi tuan Mark, Kak?" tanya Hazel, sungguh ia ingin sekali terbebas dari mansion megah ini. Dan kembali ke kehidupan lamanya. "Sampai aku menemukan keberadaan Hazely." Singkat, padat, jelas. Namun begitu menyesakkan di hati Hazel. 'Apa dia bilang? Sampai Hazely ketemu? Dan kapan Hazely akan di temukan? Bahkan belum ada kepastian sama sekali. Aku ingin segera bebas, aku ingin hidup tenang tanpa di hantui rasa bersalah.' "Hazel, kamu, ok?" tanya Roger lagi. Hazel lagi-lagi hanya bergumam sebagai jawaban. "Em, aku pergi dulu Kak, aku takut nanti tuan muda mencari ku." ucap Hazel dan melenggang pergi meninggalkan Roger seorang diri. Roger menatap lekat punggung gadis itu yang mulai menjauh dari pandangannya. Maafkan aku, aku tau kamu begitu tersiksa berada dalam situasi seperti ini. Aku yang salah karena sudah memasukkan gadis polos seperti mu ke dalam rencana gila ku, aku berjanji akan selalu menjagamu. Kamu sudah banyak membantu keluargaku, aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. Jika terjadi sesuatu padamu, sungguh ... aku tak akan bisa memaafkan diri ku sendiri. Hazel memasuki kamar Mark, dan melihat pemuda itu sudah terbangun duduk bersender di kepala ranjang sembari memandang Hazel begitu dalam. Hazel terkesiap. "Sayang ... kamu sudah bangun? Maaf, aku meninggalkan mu sebentar tadi." ucap Hazel, mendekati ranjang sang tuan muda. "Kemana kamu pergi?" tanya pemuda itu datar. "Aku habis dari taman belakang, kemarin aku tak sengaja melihat bunga-bunga di sana sedang bermekaran, jadi aku begitu tertarik dan ingin melihat nya lagi." jawabnya, mencari alasan karena memang dia dari taman, namun bukan untuk melihat bunga-bunga bermekaran melainkan untuk merenung. Dan beruntung sekali Mark dengan mudah mempercayai nya. Hari berganti hari, minggu berganti bulan. Kini Mark sudah kembali sehat dan menjelma menjadi sosok pemuda tampan. Pemuda yang dulu nya seperti layaknya mayat hidup, sekarang berubah menjadi sosok malaikat tak bersayap. Hari ini merupakan hari pertama untuk Mark kembali melakukan aktivitasnya terdahulu yaitu menjadi CEO di perusahaan yang sempat terbengkalai selama beberapa tahun lalu. Hazel kembali ke mansion megah itu, seperti biasa ia bertugas merawat Mark meski pemuda itu sudah sembuh sepenuhnya. Perjanjiannya dia bisa berhenti bekerja adalah setelah Hazely di ketemukan bukan?. Hazel memasuki kamar Mark, seperti biasa, sedikit tertegun melihat penampilan sang tuan muda hari ini. Seakan kedua mata gadis itu tak bisa untuk berkedip karena terlalu terpana dengan pemandangan didepannya. Kedua kaki nya terasa begitu berat untuk melangkah. Dadanya terasa sesak serasa ingin pingsan saat itu juga. 'Apakah aku sedang melihat seorang pangeran di pagi hari? apa ini mimpi? kenapa mimpi ku indah sekali?' Hazel tanpa sadar mengagumi pemuda itu. Hari ini dia sangat terlihat berbeda dan penuh wibawa. Memakai setelan jas berwarna abu di padu dengan kemeja yang senada dan jangan lupakan dasi bergaris yang menambah dirinya terlihat semakin mempesona. Ditambah lagi, pemuda itu sedang melirik kearahnya, dengan kerlingan mata menggoda. Sial! "Sayang ... kenapa hanya berdiri di situ, hm? Sebegitu tampankah kekasihmu ini?" godanya. Hazel menelan ludah nya gugup dan kemudian mendekati tubuh pemuda itu, dengan kurang ajar nya pemuda tersebut menarik pinggang sang gadis hingga gadis itu terduduk di pangkuan sang pemuda. Hazel gemetar, tanpa bersuara. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Tuhan ... tolong aku! Apakah aku terkena penyakit jantung akhir-akhir ini?. "Sayang, kenapa wajah mu memerah, apa kamu sakit?" tanya Mark lagi, karena merasa begitu aneh dengan sikap kekasih nya. "Ti-tidak, Sayang, a-aku baik-baik saja. Sungguh, kamu sangat terlihat tampan hari ini." cicit nya lirih. Hazel merutuki kebodohannya lagi. 'Dasar mulut tidak punya etika, kenapa aku memujinya lagi, sadar lah ... aku bukan siapa-siapa di sini. Kamu hanya seseorang yang menggantikan posisi gadis lain tak lebih dari itu.' Hazel sedikit terdiam, ia takut terjatuh dalam pesona pemuda ini. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah sebuah alat pengganti, yang kapan saja bisa terbuang jika pemilik asli nya sudah kembali. Hazel masih terduduk di pangkuan sang tuan muda, sambil membenarkan dasi pemuda itu yang sedikit tidak rapi. Hazel yakin dengan perubahan Mark yang seperti saat ini pasti banyak gadis yang bertekuk lutut mengemis cinta nya. Betapa bodohnya Hazely yang sudah menyia-nyiakan pemuda sesempurna Mark. Entahlah, Hazel sedikit merasa tidak suka jika membayangkan nanti nya akan ada banyak gadis yang mendekati pemuda itu. Namun ia kembali sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, dan tidak punya hak untuk merasa tidak suka. "Pasti nanti di kantor akan banyak sekali gadis yang melirik mu." celetuk gadis itu tiba-tiba. Rasa resah di dalam hatinya tak dapat lagi ia bendung. Mark menyunggingkan sebelah bibir nya seraya mendekatkan wajahnya di samping wajah Hazel, begitu dekat hingga deru napas hangatnya begitu terasa menghembus ceruk leher gadis itu. Nafas Hazel itu mulai terasa berat, cuaca di dalam ruangan mendadak berubah panas, padahal AC di ruangan itu masih menyala. "Sayang ... apa kamu cemburu, hm?" bisiknya dengan suara rendah. "Iya, aku tidak suka ada gadis lain yang mendekatimu." entahlah, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Hazel. "Aku sangat senang kamu cemburu pada ku, Sayang. Sungguh, aku sangat menyukai nya." Bisikan pemuda begitu sexy di pendengaran Hazel, Mark mendekati wajah gadis tersebut, mengelus pipi mulusnya dengan jemari besarnya. menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi kening gadis itu dan menyelipkan nya di belakang telinga. "Kamu begitu cantik, aku mencintaimu." ucapnya lagi, masih dengan posisi mengelus pipi gadis itu. Mark semakin mengeratkan pelukannnya, sampai tiada jarak di antara tubuh mereka berdua. Mark mulai berani mengelus bibir Hazel dengan ibu jarinya, kedua matanya tak lepas memandangi bibir merah merona yang terlihat sedikit terbuka itu. Semakin dekat seakan ada gaya magnet yang menarik keduanya. Nafas hangat keduanya begitu terasa menyapu wajah mereka. Jujur, Hazel sangat menyukai aroma mint yang menguat dari pemuda itu, begitu manly menurutnya. Entah sejak kapan kini bibir keduanya sudah menyatu, Hazel tak membalas ci*man Mark, ia hanya diam karena memang ia tidak tau harus membalas yang bagaimana. Namun reflek kedua tangannya melingkar di leher pemuda tersebut, hingga pemuda itu semakin lihai memperdalam ci*manya. Sungguh, Hazel tak mengerti apa yang sekarang sedang terjadi yang jelas ia tidak bisa menolak perlakuan manis itu. Seakan ia melupakan segala nya. "Hazely ... aku mencintaimu." ucap Mark, selepas melepaskan pagutannya, seraya mengusap bibir gadis itu yang sedikit membengkak. Bagai di hujam beribu samurai rasanya hati Hazel, begitu perih, sakit, mendengar nama yang baru saja di ucapkan pemuda itu. 'Hazely? Seharusnya aku ingat posisi ku, aku tak pantas mengharapkan lebih dari pemuda ini. Karena memang hati dia hanya untuk Hazely, bukan aku. Andai suatu saat nanti kamu mengerti kebenaran nya, apa kamu masih mau menyentuhku Tuan Muda?' miris Hazel. Hazel memandang sayu wajah Mark, tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipinya. Membuat Mark kelabakan dan panik. "Sayang ... kamu kenapa menangis, hm? Apa aku menyakitimu? Apa kamu marah atas perlakuan ku padamu? Maafkan aku Sayang, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Hazel hanya menggeleng, dengan cepat ia memeluk erat tubuh Mark. "Jangan tinggalkan aku, aku menyayangimu." ucap Hazel, kata-kata itu seolah meluncur begitu saja tanpa bisa untuk ia tahan. "Hei. Sayang, kenapa kau bicara seperti itu Sayang. Mana mungkin aku meninggalkanmu jika aku saja hampir mati karena kehilangan dirimu." sahut Mark sambil mengusap air mata gadis itu, seraya mengecup pucuk kepalanya begitu lembut. Roger sudah terlalu lama menunggu kedatangan Mark di aula mansion nya. Hingga ia merasa begitu bosan dan akhirnya ia memutuskan untuk menyusul adiknya tersebut, di kamarnya. Karena ceroboh atau apa, Mark dan Hazel tidak menutup pintu kamarnya. Roger dengan santai ingin melangkah kan kaki nya masuk ke kamar tersebut, namun baru satu langkah ia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang sungguh diluar dugaannya. Dengan cepat Roger menarik kakinya mundur, dan berbalik badan menyender di balik dinding. Pemuda itu begitu terkejut, pandangan matanya mendadak kosong. Bayangan adiknya dan Mark masih berputar di dalam otak nya. 'Ya Tuhan ... apa yang selama ini aku khawatirkan hari ini benar-benar terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Hazel mulai terjatuh dalam zona pesona Mark. Ya Tuhan, tolong beri petunjuk padaku.' Gumam Roger sembari meraup wajahnya kasar. "Sayang ... ikut denganku pergi ke kantor hari ini, apa kamu mau?" tawar Mark setelah melihat gadis itu sedikit tenang. Hazel hanya mengangguk, walau ia begitu malas untuk ikut dengannya. Selanjutnya mereka pun memutuskan untuk pergi bersama. Roger sudah menunggu di dalam mobil, ia mencoba bersikap biasa saja seperti tak pernah melihat sesuatu. "Ayolah! Jalian lama sekali, aku sampai lumutan menunggu kedatangan kalian." keluh Roger berpura-pura kesal. "Maaf Kak, tadi aku sedikit sakit perut jadi aku harus bolak balik ke toilet, iya, kan, Sayang?" Alasan Mark, sambil menengok ke arah gadis di sampingnya dan di balas anggukan lembut oleh gadis itu. Roger hanya berdecak, dan bergumam. 'Sakit perut kepalamu botak apa! Kamu fikir aku tidak tahu, kau asyik bercumbu dengan Hazel.' "Ah, sudahlah ayo kita berangkat, kita hampir terlambat." tutur Roger pada akhirnya. Sesampainya di kantor, Mark sudah di sambut begitu antusias oleh para pegawai nya sekaligus penggemar setianya. Siapa yang tidak kagum dengan CEO muda nan tampan seperti dia?. Sedang Hazel hanya tersenyum ramah ke arah para pegawai itu. Membuat para pegawai di sana sedikit merasa heran dengan sikap kekasih atasannya itu. Karena memang Hazely yang mereka kenal dulu begitu angkuh dan juga sombong. Namun sekarang malah sebaliknya, gadis itu terlihat begitu ramah dan juga murah senyum. Bukan senyuman palsu belaka tetapi senyuman yang terpancar begitu tulus. Belum ada setengah hari Hazel menemani Mark, rasanya sudah begitu bosan. Bagaimana tidak bosan? Jika sedari tadi hanya di suruh duduk manis, bermain dengan phonselnya. Ia baru tau jika Mark ternyata tipe pemuda yang sangat over protektif, Hazel hanya disuruh memperhatikan dirinya yang sedang sibuk bersikutat dengan berkas-berkas nya. Ingin ke toilet pun harus di kawal oleh bodyguard, takut jika kekasihnya hilang lagi katanya. Sungguh, Hazel berasa terkurung dalam sangkar emas. Sesekali Mark menatap ke arah gadis tersebut, dengan wajah datar nya. Tanpa berucap sepatah kata pun, Hazel semakin jengkel. Sebisa mungkin ia mencoba mencari alasan agar bisa terbebas dari pandangan pemuda itu, namun semua gagal. Mark malah menatap tajam ke arah nya, Hazel sedikit bergidik ngeri melihat aura hitam yang menguar dari diri Mark, seolah melihat seekor singa yang siap menerkam mangsa di hadapannya. Terpaksa ia hanya bisa menurut seperti kucing piaraan, hah! Tidak sedang sakit, tidak sedang sehat ternyata sifat pemuda itu tetap lah menyebalkan. Ia baru tau kenapa dulu Hazely sampai mencampakkan nya, mungkin karena sikap pemuda itu yang terlalu mengekang kekasihnya.


__ADS_2