Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
DUA BELAS


__ADS_3

Setiap saat di penghujung hari, dimana Abila bisa bernafas lega karena terbebas dari keluarga Nichol. Ia bisa beristirahat di Apartemen nya tanpa di awasi oleh Tuan muda yang terbilang cukup posesif itu. Walau ia masih di jaga oleh beberapa Bodyguard di luar Apartemen nya, tapi tak apalah tidak terlalu mengganggu juga. Abila hanya bisa berdoa sebelum tidur, semoga hari esok akan menjadi hari yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


Namun ternyata keesokan harinya dewi fortuna belum berpihak pada nya. Semakin hari hidup nya semakin bertambah sial. Jovin bahkan tidak pernah memberikan kebebasan sedikit pun untuk nya. Pemuda itu hanya bisa menyuruh Abila mengikuti nya kemana pun ia pergi. Padahal Abila sangat ingin bertemu dengan teman-teman nya , namun tak di berikan ijin . Hingga ia benar-benar merasa begitu muak di perlakukan seperti itu. Hidup pemuda itu terlalu monoton, tak berwarna .


Hanya satu yang Abila takutkan jika selalu berada di dekat pemuda itu, ia takut jatuh terlalu dalam oleh cinta yang tumbuh di setiap waktu. Semakin sering Abila menghabiskan hari nya bersama Jovin, semakin banyak pula cinta yang tumbuh bersemi di hati nya , ia takut tidak bisa menyembunyikan perasaan itu. Memang benar Abila berkata tidak mencintai Jovin, namun hati nya menolak ucapan itu.


Dan pada akhirnya Abila meluapkan emosi nya pada Johan, karena gara-gara ulah pemuda itu ia jadi terjebak di dalam perasaan yang begitu rumit ini.


Abila mengajak bertemu Johan di Apartemen nya selepas pulang dari Mansion keluarga Nichol.


"Kenapa kau menyuruhku untuk datang ke sini hm? kau merindukanku ya?." goda Johan sambil menaik-turunkan alisnya.


Abila hanya merotasi bola matanya, terlalu malas mendengar penuturan pemuda di samping nya ini.


"ch.... menjijikan, buat apa aku merindukan manusia jadi-jadian seperti mu ha..?" decih Abila sambil melempar bantal sofa ke wajah Johan.


Johan terkekeh renyah.


"lalu... kenapa kau meminta ku datang ke sini? kau membutuhkan sesuatu?." tanya nya kemudian, serius.


Abila hanya menggeleng pelan dan menjawab.


"tidak... aku tak butuh apa pun, kapan penderitaan ku ini akan berakhir Kak? aku malas jika setiap hari harus menemani Jovin kemana-mana." keluhnya.


Johan duduk menghadap gadis itu dan tersenyum begitu lembut.


"sungguh ? karena alasan malas ? bukan karena alasan yang lain?." lebih tepat nya sebuah pernyataan bukan pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu.


Abila memiringkan kepalanya, seraya bertanya.


"apa yang Kakak maksud?."


"aku yakin kau mengerti ucapan ku Bil, karena aku tau kau bukan gadis yang bodoh."


"aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau ucapkan Kak,." elak nya lagi.


"hah, perlukah aku menjelaskan nya? baiklah akan aku jelaskan. Kau hanya beralasan malas menemani Jovin, karena sesungguhnya kau hanya ingin menghindari nya. Kau takut dengan perasaan mu, kau menepis rasa ketertarikan mu pada Jovin. Apa semua yang aku ucapkan benar Abila?." tutur Johan dengan mengangkat sebelah bibir nya.


Abila membelalakkan kedua bola matanya, jemari lentik nya meremas ujung gaun nya, hingga kuku-kuku nya terlihat memutih.


"ba... bagaimana Kakak tau?." lirihnya begitu takut.

__ADS_1


" hanya orang bodoh yang tidak menyadari nya." sahutnya datar.


Abila sudah terisak, ia takut karena apa yang ia rasakan itu semua salah.


"ma... maafkan aku Kak.... maaf kan aku." isaknya begitu terdengar memilukan.


Johan mendekati tubuh gadis itu dan merengkuh nya ke dalam pelukan.


"kau tidak salah.... tidak ada yang tau kapan perasaan itu datang. Jika kau merasakan cinta terhadap Jovin itu hal yang wajar, setiap hari kau bersama nya, menerima perhatian nya. Tidak di pungkiri rasa cinta mu akan tumbuh dengan sendirinya. Namun harus ku ingatkan pada mu, kau hanya akan merasa sakit pada akhirnya. Jovin mencintai mu hanya karena ia menganggap dirimu sebagai Adira. Aku tidak ingin kau merasa kecewa nanti nya. Walau jujur, aku lebih setuju jika Jovin bersanding dengan mu di banding dengan Adira."


"aku harus bagaimana....? apa yang harus aku lakukan Kak?." tanya Abila frustasi.


"semuanya tergantung pada dirimu, hanya kau yang bisa mengendalikan semua nya." jawabnya sambil mengelus surai hitam gadis itu.


Keesokan harinya Abila melakukan rutinitas nya seperti biasa, pergi ke Mansion keluarga Nichol untuk bertemu dengan Jovin.


Abila langsung menuju ke kamar Jovin.


"sayang... boleh kah hari ini aku tidak ikut dengan mu ke kantor?." ucap nya.


Jovin menghampiri Abila dan duduk di samping nya.


"aku hanya bosan." rengek nya.


Jovin tersenyum lembut sembari menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam pada gadis itu.


"emmm....ini ."


Abila bingung, dengan tatapan penuh tanda tanya.


"apa ini?."


"black card. " jawab nya dengan raut wajah tak berdosa nya.


"iya semua orang juga tau kalau itu black card , dasar idiot." umpat nya.


"bukan kah tadi kau bilang kalau kau bosan, dulu kalau kau merasa bosan, kau selalu ingin jalan-jalan dan berbelanja ."


Abila masih terdiam sambil berfikir.


Apa sebenarnya yang ada di dalam otak nya, aku tak menyangka bahwa dulu Adira begitu materialistis.

__ADS_1


"ah... sudah lah jangan banyak berfikir, ayo aku temani." titah Jovin, mungkin kekasih nya saat ini sedang ingin di temani, batinya.


Jovin menggandeng pergelangan tangan Abila, tanpa mendengar penolakan dari gadis itu.


"hei... bagaimana dengan pekerjaan mu ." tanya Abila sedikit berteriak.


"libur sehari tidak apa kan? demi kekasihku tercinta." sahutnya begitu santai.


Abila sedikit tersenyum.


Andai kau benar-benar milikku, pasti aku akan merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia ini. Tapi semua hanya lah sebuah andaian semata, tidak akan pernah bisa menjadi nyata.


Mereka pun memasuki mobil mewah yang sudah siap bertender di halaman Mansion megah itu.


Jovin melajukan mobilnya ke suatu tempat, yang entah kemana Abila pun tak tau.


Astaga, kemana lagi pemuda ini akan membawaku pergi? awas saja jika dia berani membawaku ke hotel dan melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak. Akan ku mutilasi sampai habis kebanggaan nya.


Abila tak henti menggerutu di dalam hati nya dengan bibir terpout.


Jovin yang merasa aneh pun bertanya.


"sayang... kenapa kau cemberut saja hm?."


"sebenarnya kau ingin mengajak ku kemana?." bukan nya menjawab , Abila justru balik bertanya.


"kesuatu tempat, kita akan bersenang-senang sayang." jawab Jovin dengan senyum cerianya.


Abila menggigit bibir bawahnya.


Nah kan.... dia bilang ingin bersenang-senang, maksud nya bersenang-senang yang bagaimana? oh Tuhan tolong jaga keperawanan ku.


Tanpa sadar Abila menutup dada nya dengan kedua telapak tangan nya.


"sayang....kau kedinginan? kenapa memeluk tubuh mu sendiri seperti itu?." tanya Jovin dengan tampang polosnya.


"he..he..tidak, aku hanya sedikit tidak nyaman karena AC nya menyala." kekeh nya hambar.


"oh... kenapa tidak bilang dari tadi? biar aku matikan sekarang." Jovin mematikan AC mobilnya. Dan melanjutkan perjalanan tanpa bersuara lagi. Tak lama mobil itu berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan barang-barang Branded terbesar di kota itu.


Abila sedikit bingung, kenapa pemuda ini mengajak ku kesini? jadi semua pemikiran ku tadi salah?. batin nya

__ADS_1


__ADS_2