Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
Chapter 10


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Hazel kembali menemani Mark pergi ke kantor nya. Hazel lumayan mengenal semua pegawai di kantor itu karena mereka sering bertemu. Tak terkecuali dengan Sekretaris Mark, yang bernama Sasa. Seiring berjalannya waktu Hazel menjalin persahabatan dengan gadis itu. Seperti saat ini, Hazel sedang merasa bosan berada di ruangan Mark, jadi ia meminta ijin untuk ke ruangan Sasa. "Sayang, aku ingin pergi ke ruangan Sasa boleh?" tanya nya. "Untuk apa, hm?" jawab Mark, sambil menatap fokus pada layar laptop di hadapannya. "Aku hanya bosan, aku berjanji akan segera kembali ke sini." ujar nya. Mark hanya mengangguk tanda mengijinkan. Hazel memasuki ruang kerja Sasa, menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Hai, Sa ... kamu sibuk atau tidak?" "Tidak juga, kebiasaan tidak mengetuk pintu." cerca nya. Hazel hanya terkekeh tak berdosa. "He .. he, aku lupa, maaf." "Tumben sekali kamu ke ruangan ku, kau tidak takut kalau pawang mu marah?" goda Sasa. "Aku sudah meminta ijin kepada nya tadi." ujar Hazel, pandangan nya menelisik ke bawah meja. "Sa ... boleh aku pinjam majalah mu itu?" ijin Hazel kemudian. "Pinjam saja, aku sudah membaca nya ... oh ya, di situ ada ramalan bintang nya dan sudah berulang kali aku mencoba keberuntungan dengan ramalan itu." sahut Sasa serius. "Astaga, hari gini kau masih percaya saja dengan yang namanya ramalan bintang." cibir Hazel. "Ya, boleh percaya boleh tidak sih, taapi aku sedikit mempercayai nya." ucap Sasa. "Terserah mu saja ... majalah nya aku bawa ya, seperti nya aku sedikit penasaran dengan yang kau ucapkan." ucap Hazel dan kemudian pergi tanpa mengucapkan permisi, Sasa hanya tersenyum seraya menggeleng pelan. Terlalu hafal dengan tabiat kekasih atasannya ini. Hazel dengan riang membawa majalah itu ke ruang kerja Mark, Ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruangan itu, sambil membuka lembar demi lembar majalah di tangan nya. Pemandangan itu tak luput dari tatapan Mark. Benarkah dia Hazely ku? Seorang Hazely membaca majalah murahan seperti itu? Apakah aku tidak salah lihat? Gumamnya. Semakin hari Mark semakin merasakan perbedaan antara Hazely yang sekarang dengan Hazely yang dulu. Sifat Hazely yang sekarang benar-benar berbanding terbalik dengan sifat Hazely yang dulu. Jika boleh jujur Mark lebih menyukai Hazely yang sekarang, karena lebih manis, ramah dan lebih suka hidup sederhana. Bolehkah jika Mark kembali jatuh cinta pada kekasih nya yang sekarang?. Waktu berlalu begitu saja, Mark sudah menyelesaikan semua tugas kantor nya begitu juga Hazel ia juga sudah menyelesaikan acara membaca majalah nya. Kini mereka memutuskan untuk segera pulang. Hari ini Hazel sengaja tak ingin di antarkan Mark, karena ia ingin pergi ke rumah Mika, Hazel begitu merindukan sosok sahabat nya ngomong-ngomong. Dengan beribu alasan akhirnya Hazel mendapatkan ijin dari pemuda itu. Akhir pekan merupakan hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Harold, pasalnya keluarga itu selalu memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di bandingkan dengan bepergian keluar rumah. Begitu juga dengan Hazel, gadis itu sudah datang ke Mansion Harold pagi-pagi sekali. Semua anggota keluarga sibuk dengan aktivitas nya masing-masing. Roger dan Mark sedang bermain game, Tuan Harold sedang membaca koran pagi, sedang Hazel dan Nyonya Harold sedang membaca majalah edisi terbaru yang baru saja di belikan oleh Mark kemarin. Nyonya Harold begitu menyukai sifat Hazel, walau masih belum lama saling mengenal, namun Nyonya Harold sudah bisa menilai bahwa Hazel adalah sosok gadis baik-baik. Ia tau sifat Hazel tidak seperti Hazely yang sangat gila harta. Nyonya Harold sangat berharap agar suatu saat nanti Hazel benar-benar menjadi menantu nya bukan sebagai menantu pura-pura lagi. Roger tersenyum melihat kedekatan Hazel dengan kedua orang tua nya. Kamu hebat Hazel, bahkan dengan pesona mu kau bisa dengan mudah mengambil hati kedua orang tua ku, yang notabene nya mereka sangat memilih untuk jodoh anak-anak nya. Roger menyunggingkan sebelah bibir nya, terbesit di otaknya untuk sedikit mengerjai gadis itu. "Untuk apa kamu membaca majalah seperti itu? Kurang kerjaan saja." cibir Roger. Hazel hanya merotasi bola matanya, lagi-lagi harus berurusan dengan pemuda itu, batinya. "Memang nya kenapa? Aku menyukai nya, iya kan Mom?" tanya nya sembari menoleh ke arah Nyonya Harold. Nyonya Harold tersenyum manis, dan berkata. "Benar sekali, tau apa mereka tentang wanita, iya kan menantuku?" Hazel dibuat tersipu oleh kata-kata yang baru di ucapkan Nyonya Harold. Mereka terlalu asyik bercanda ria, hingga mengabaikan sosok pemuda yang sedari tadi mengamati tingkah mereka. Pemuda itu tak lain adalah Mark. Kenapa semua semakin membingungkan, sebenarnya siapa kau Hazely? Kenapa kau bisa begitu dekat dengan Kakak ku, dan juga Mommy tadi baru saja menyebut Hazely sebagai menantu nya? Sejak kapan Mommy menyukai Hazely? Bukan kah dulu Mommy begitu menentang hubungan ku. Sebenarnya apa yang selama ini tidak ku mengerti. Tuan Harold mengedip-ngedipkan kan sebelah mata nya, memberikan isyarat ke pada mereka bertiga bahwa Mark sedang mengamati gerak gerik mereka. Semua terdiam, hingga Hazel segera mengambil tindakan. Ia mendekati Mark dan memeluknya dari belakang. "Sayang ... aku ingin jalan-jalan, kamu bisa menemani ku, hm?" tanya nya begitu manja. Mark tersenyum dan mengecup pipi mulus gadis itu. "Apa pun untuk mu, Sayang ... kamu mau kemana, hm?" "Nanti akan aku tunjukkan ke suatu tempat yang membuat mu tidak akan bisa melupakan momen itu dalam hidup mu." sahut Hazek, boleh kah jika ia menciptakan dunia nya sendiri bersama Mark? Ia ingin punya kenangan bersama pemuda itu. Mark mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Hazel, hingga mobil nya terhenti tepat di sebuah wahana seperti pasar malam, yang terkesan sederhana tiada kemewahan sedikit pun. "Kamu tidak salah tempat kan, Sayang?" tanya Mark memastikan. "Tidak, aku akan menunjukkan pada mu bahwa kebahagiaan tidak harus di beli dengan harga yang mahal." ucapnya sambil memasuki tempat itu. Mark sedikit terkejut, melihat ke sekeliling banyak pasangan kekasih yang terlihat begitu bahagia menikmati kebersamaan mereka. Selama ini ia belum pernah merasakan dunia bebas seperti malam ini. "Sayang, kamu lihat baju cople itu? Aku ingin membelinya dan memakai nya bersama mu!" pekik Hazel, sambil menunjuk ke arah penjual baju di hadapannya. Mark mengernyitkan dahi nya. "Sayang itu baju murahan, aku bisa membelikan mu baju bermerk dari butik termahal yang ada di sini. Memang nya kau tidak takut tubuh mu gatal-gatal?" titah Mark khawatir. "Sudah ku bilang, bahagia itu tidak harus mahal, kan." Hazel menarik Mark menuju ke penjual baju itu, mau tak mau Mark akhirnya menuruti kemauan kekasih nya. Mereka pun selesai membeli baju itu dan memakai nya. Mereka pun memutuskan untuk mengabadikan momen mereka berdua. Hazel ingin tertawa rasanya melihat ekspresi datar pemuda itu. "Astaga ... apa kamu tidak bisa tersenyum sedikit saja?" tanya nya sambil tertawa terbahak. "Aku hanya tidak terbiasa berpose di depan kamera, Sayang." "Setelah ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat lagi, aku tak mau ada penolakan." pinta Hazel. Mark hanya mengangguk, yang penting kekasihnya nya bahagia. Jujur Mark baru kali ini merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Hazely yang dulu tidak pernah membuat nya tersenyum lepas seperti saat ini. Hazel benar-benar ingin menghabiskan waktu akhir pekan ini bersama Mark, Hazel merasa bahwa pemuda di samping nya ini sebentar lagi akan pergi meninggalkan nya, entah itu hanya perasaan nya saja atau kah akan menjadi nyata. "Sayang ... aku ingin membeli gelembung air itu." rengek Hazel. "Kenapa manis sekali sih, pacar ku ini, jadi tidak sabar ingin segera meminang mu." ucap Mark sambil menguyel pipi kekasihnya. Hazel pun membeli benda itu, dan terduduk di rerumputan sebuah taman, Ia sedari kecil memang sangat menyukai mainan itu, seolah sudah tenggelam dalam kebahagiaan nya, Hazel tertawa dengan riang tanpa menyadari bahwa Mark sedari tadi menatap nya tanpa berkedip. Hazely ... selama ini kamu tak pernah menunjukkan senyuman mu, keceriaan mu benar-benar terlihat begitu alami. Aku mencintaimu, ditambah dengan sikap mu yang kekanak-kanakan membuat diriku semakin jatuh dalam pesona mu, senyuman mu mampu membuat hatiku bahagia, aku tidak merasakan hal ini semasa dengan Hazely yang dulu. Kau yang dulu hanya memikirkan kemewahan. tapi kamu yang sekarang sangat jauh dari kata mewah, terima kasih sudah mengajarkan aku arti kesederhanaan, jika begini aku tak butuh harta melimpah rasanya, karena hanya melihat senyuman mu saja sudah membuat ku merasa bahagia. "Sayang ... setelah ini giliran ku yang menentukan tempat dimana kita harus mengunjungi nya." ucap Mark. Hazel menoleh dan berkata. "Boleh ... asal jangan ada yang berbau kemewahan, aku tidak suka!" ketusnya. Mark hanya mengangguk. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi, sebelum menjelang sore. Hazel benar-benar tidak ingin membuang waktu sedikit pun. Hari ini adalah hari paling spesial di dalam hidup nya. Katakanlah jika dia egois karena ingin membuat Mark jatuh dalam dekapan nya. Aku berjanji pada mu, aku akan membuat mu melupakan Hazely dan mencintai ku seutuhnya, walau aku tidak yakin setidaknya aku sudah pernah mencoba. Mark menutup kedua mata Hazel, dan menuntunnya ke suatu tempat. "Sayang kita mau kemana?" tanya gadis itu. "Ke suatu tempat yang sangat indah, kita sudah sampai." Mark membuka kain yang menutupi kedua mata kekasih nya. Hazel membelalakkan kedua bola matanya lebar-lebar. Ia sangat terpesona dengan pemandangan indah di depan matanya ini. Hamparan kebun anggur hijau yang luas, serta pemandangan perbukitan yang benar-benar menakjubkan. "Sayang ... apakah aku sedang ada di surga?" tanyanya. "Iya surga kita berdua." bisik Mark sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang kekasih. "Terima kasih, aku sangat menyukai nya." girang nya. Hazel menyeret lengan kekar pemuda itu dan mengajak nya berlari. Mark tertawa bahagia. Aku benar-benar bahagia, aku merasakan yang namanya hidup. Aku jadi merasa bodoh karena sempat ingin mengakhiri hidupku sendiri. Terima kasih sayang ... karena kau sudah membuka kedua mataku, menyadarkan ku arti hidup yang sebenarnya. "Sayang ... ayo kita memetik anggur, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya memetik anggur dengan tangan ku sendiri!!" teriaknya. "Jangan berteriak Baby, telinga ku sakit mendengar nya." kekeh Mark bercanda. Hazel memukul manja pundak pemuda itu. "Kenapa tinggi sekali buahnya, aku jadi kesulitan untuk mendapatkan nya." keluh Hazel sambil melompat berusaha mengambil buah anggur yang tergantung di atas nya. "Bukan buahnya yang tinggi Sayang, tapi kamu yang terlalu pendek." goda Mark tanpa ada niat untuk membantu kekasih nya. Hingga pada akhirnya Hazel kelelahan melompat, keseimbangan tubuhnya tidak terkendali dan akhirnya limbung hampir terjatuh, untung saja ada Mark yang dengan sigap menangkap nya. Jarak mereka begitu dekat, hingga mereka berdua bisa merasakan detak jantung masing-masing, Tatapan mereka menyatu seolah ada struman listrik yang menarik nya agar terus mendekat, tak tau siapa yang mendahului nya yang jelas sekarang bibir mereka berdua sudah menyatu begitu mesra. Mark menyudahi pagutan di antara keduanya, ia menatap lekat wajah sang kekasih yang masih senantiasa menutup kedua matanya dengan mulut sedikit terbuka, sepertinya gadis itu masih terbuai oleh euforia nya. Mark tak berkedip melihat wajah Hazel dalam posisi seperti ini, sungguh sexy di penglihatannya. Ia jadi ingin lagi, seakan bibir gadis itu sudah menjadi candunya sekarang. Apa kamu sekarang benar-benar sudah bisa menerima ku? Karena kamu yang dulu sangat terlihat begitu menolak sentuhan ku, dan sekarang kamu mau menerima sentuhan ku, aku melihat ketulusan di sorot kedua mata indah mu. Boleh kah aku merasa bahagia sekarang?. "Dampai kapan kamu akan menutup kedua mata indah mu, hm? Atau ... kamu ingin aku menciumu lagi?" goda Mark dengan senyum evilnya. Seketika Hazel membuka matanya lebar-lebar. Dan mendorong tubuh Mark, lalu berlari. Sungguh ia sangat malu, kedua pipinya sudah memerah bak buah strawberry. "Dasar!!! Mesum!!!" teriaknya dari kejauhan. Mark sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol kekasih nya itu. "Hai!! Tunggu aku, Sayang!!" teriaknya sambil mengejar sang pujaan hati. Setelah cukup lama mereka berlari, akhirnya mereka berdua terhenti di bawah pohon rindang yang begitu menyejukkan di iringi angin yang tertiup lembut, menyapu wajah kedua nya. "Aku sangat bahagia hari ini, terima kasih sudah membuat ku tersenyum." ucap Hazel. Mark tersenyum lembut, dan meninggalkan Hazel sebentar. Hazel hanya menoleh memperhatikan apa yang sedang dilakukan pemuda itu tanpa bertanya. Terlihat Mark sedang mengambil sedikit ranting pohon anggur itu dan merangkai nya menjadi sebuah cincin. Mendekati sang kekasih dan meraih tangan kiri kekasih nya, menyematkan benda itu ke jari tengah nya, sambil berkata. "Tempat ini akan menjadi saksi indah kita berdua, cincin ini akan menjadi pengikat untuk mu, aku tau ini hanya lah terbuat dari ranting. Tapi aku berjanji pada mu, suatu hari nanti aku akan mewujudkan nya di atas altar di acara pernikahan kita. Aku akan membuat impian kita menjadi nyata, maukah kau menjadi pendamping hidup ku? Dan menjadi calon ibu dari anak-anakku?" Hazel tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata nya. Ia sungguh terharu dengan perlakuan Mark, walaupun cincin yang tersemat di jemarinya hanya lah simbol semata. Bukan seberapa mahal dan mewah nya benda itu, melainkan niat dan ketulusan hati pemuda itu yang membuat nya bahagia. "Iya ... aku mau menjadi pendamping hidup mu, 'jika saja semua nya bisa menjadi nyata, bukan lah drama semu.'" gumam Hazel di akhir kalimat nya, gadis itu semakin terisak membuat Mark bingung, apa kah ia salah bicara? fikirnya. "Sayang, kenapa kamu menangis? Apa kamu terpaksa mengatakan nya? Jika iya, aku tak apa Sayang ... aku akan setia menanti sampai kamu siap, hm." Mark mengusap lembut air mata yang membasahi pipi gembil kekasih nya. Hazel menggeleng brutal. "Tidak, bukan itu, aku bahkan sangat bahagia." ucapnya kemudian. Bohong jika ia merasa bahagia, nyata nya hatinya terasa hancur berkeping tak berbentuk, tak ada yang tau seberapa parah rasa sakit itu, luka menganga tak kasat mata yang tertoreh di dalam hati Hazel. Hanya dia sendiri yang merasakan nya, seakan rasa sakit itu bisa membunuhnya saat itu juga.


__ADS_2