Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
DELAPAN EMPAT


__ADS_3

Enam bulan berlalu.


Keluarga Jovin terlihat semakin harmonis. Walau terkadang Jovin masih suka bersaing dengan putra kesayangan nya, untuk mencari perhatian dari sang Mommy.


Namun tak apa, kericuhan antar anak dan Daddy itu seolah sudah menjadi kebahagiaan yang hakiki di mata Abila.


Seperti halnya saat ini, keluarga itu terlihat begitu sibuk bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan Johan dan Adira yang akan di gelar hari ini.


"Mommy....di mana dasi kupu-kupu ku," teriak nyaring sang putra. Sedang Abila tengah sibuk mendandani sang putri.


"Jo... tolong kau urus Zio sebentar," teriak Abila dari kamar Zia.


Jovin yang masih sibuk mengancingkan kemejanya segera mendongak dan berteriak dari arah kamar nya.


"iya sayang.... sebentar,



Jovin segera berlari menuju ke kamar Zio.


"sayang....kau butuh sesuatu?," tanya Jovin, seraya memasuki kamar anaknya.


"tidak Dad.....aku sudah siap, lihatlah.... bahkan ketampanan ku melebihi dirimu," ketus Zio sombong.



Jovin merolling bola matanya malas.


"tidak ada yang bisa menyaingi ketampanan Daddy," bela Jovin tidak mau kalah.


"dasar Pak tua, lihat saja... pasti Mommy lebih mencintai ku dari pada Daddy," cerca Zio.


"jangan berani-berani nya kau iblis kecil, karena Mommy hanya milik Daddy seorang,"


"mau buat penawaran padaku Pak tua hm?," Zio menaik turun kan kedua alisnya.


Jovin melirik sejenak wajah licik sang anak, ia mulai merasa ada aura buruk yang mendekati nya.


"apa..... siapa yang mau membuat penawaran dengan iblis licik seperti mu ha?,"


"ya sudah kalau Daddy tidak mau, aku akan mengganggu Mommy terus," kekeh Zio evil.


"jangan ganggu Mommy , Daddy akan membelikan robot keluaran terbaru untuk mu," rayu Jovin seraya memakai jas berwarna navy nya.


"Daddy fikir aku masih bayi, aku tidak mau," sergah nya.

__ADS_1


"play station , setudio musik, bagaimana hm? apa kau tidak tergiur sayang," Jovin menyunggingkan sebelah bibirnya.


"ck....penawaran murahan sekali," decihnya, yang mana membuat Jovin sedikit heran.


"lalu maumu apa ? cepat katakan pada Daddy,"


"dunia bawah tanah milikku," bisik Zio begitu mengerikan di samping tubuh Jovin, sontak membuat Jovin terdiam beku. Otak nya kembali berputar, bagaimana bisa anak nya ini tau tentang dunia bawah yang selama ini ia sembunyikan?.


Zio hanya tersenyum melihat keterkejutan Daddy nya, hingga tiba-tiba suara cempreng seorang anak gadis mengagetkan atensi mereka.


"ayolah....kalian para pria kenapa berdandan lama sekali," gerutu gadis kecil yang tidak lain adalah Zia.



"ah...iya kita sudah siap , ayo Dad...," Zio menarik lengan sang Daddy yang masih terdiam.


"Dad... jangan fikirkan ucapan ku, sesungguhnya aku tidak tau apa itu dunia bawah. Namun aku sangat faham," kekeh Zio dalam hati di akhir kalimat nya.


Jovin menghela nafas lega, ternyata ucapan Zio hanyalah lelucon semata, batinya.


Mereka pun berangkat bersama ke Mansion Takkeru, tanpa menyadari ada seseorang di dalam mobil hitam di belakang mereka yang sedari tadi sudah siap siaga menunggu keberangkatan keluarga itu.


"target sudah di depan mata Tuan," lapor sosok di dalam mobil itu seraya menekan earphone di telinga kanannya.


"baik," tuturnya patuh, sembari melajukan mobilnya menguntit mobil keluarga Jovin.


Sesampainya di di Mansion Takkeru, keluarga Jovin segera turun dari mobilnya dan masuk ke gedung yang kini telah di sulap bak istana negri dongeng tersebut.


Abila langsung berjalan tergesa menghampiri Saudara kembarnya di atas altar, membuat Jovin sedikit was-was melihatnya.


"astaga sayang...jangan cepat-cepat jalannya! nanti kau terjatuh," ucap Jovin sambil mencekal lengan istrinya agar memelankan jalanya.


Sedang Zio , ia berhenti sejenak di depan gedung megah tersebut. Menoleh ke belakang, menelisik ke segala arah dan tatapannya berhenti pada sosok di dalam mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya.


Zio menyunggingkan sebelah bibirnya, dan mendekati seorang pengawal di depan gedung itu.


"Paman....boleh aku pinjam phonsel mu sebentar? aku ingin menghubungi saudara ku," rengek Zio seperti anak kecil seumuranya. Nyatanya otak anak itu berfikir melebihi anak sebaya nya.


Pengawal tersebut tersenyum gemas dan menyodorkan telphone pintar nya pada Zio.


Zio segera mendial nomor Marsel dan menghubunginya.


"Paman...kau di mana?,"


"......."

__ADS_1


"cepat datang ke Mansion Granpa ku , dan bawa sahabat kesayangan ku," perintah Zio mutlak lalu memutuskan hubungan sepihak, tanpa menghiraukan umpatan dari sang lawan bicaranya.


Zio masih berada di luar Mansion, sedikit bercanda dengan para pengawal di sana. Namun tatapan matanya sesekali melirik ke arah sosok yang masih setia di dalam mobil itu.


Ternyata ada hama di sini, berani macam-macam pada keluarga ku. Akan ku habisi kalian. Ck....sedikit bermain-main dengan Paman itu mungkin menyenangkan. Batin Zio penuh semangat menggebu.


Tak lama kemudian Marsel datang tergesa-gesa dan langsung menghampiri Zio.


"dasar anak bodoh, kenapa kau menyuruhku membawa ini ha?," geram Marsel sambil memasukkan tangannya kanannya di dalam saku jas, seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Paman sudah bawa sahabat ku? berikan kepada ku," pinta nya sembari melenggang pergi ke belakang Mansion yang terlihat sepi. Marsel hanya menggeleng jengah, namun tetap mengikuti arah anak itu pergi.


Sesampainya di belakang Mansion, Zio berdiri angkuh dengan tatapan mata tajam.


"mana Paman?," seraya mengulurkan tangannya.


Marsel berdecak malas dan merogoh saku jasnya mengambil sebuah benda berwarna emas, yang ia sebut dengan revolver.


"Zio....ini untuk apa? katakan pada Paman," ucapan Marsel berubah serius, ia tidak ingin Zio menyalah gunakan benda tersebut.


"ada hama kecil yang berani bermain-main dengan keluarga ku Paman," ucap nya santai, sambil memeriksa keadaan senjata nya.


"Zio....kau masih kecil, jangan pernah bermain dengan penjahat. Bilang pada Paman siapa orang itu, biar aku yang menghabisinya untuk mu,"


"ini bagian ku Paman, hitung-hitung untuk pembelajaran gratis... iya kan?," Zio tersenyum evil.


Marsel sudah pasrah akan sikap keras kepala anak ini, ia hanya bisa mengikuti alur permainan bocah ini saja, serta memantau dari jarak jauh. Walau ia sudah sangat percaya dengan kemampuan anak ini, namun ia masih sedikit takut. Biar bagaimanapun Zio masihlah seorang anak kecil, yang sayang nya ber IQ tinggi.


Zio memasukan senjata itu ke dalam saku mantel jas nya, berjalan kembali memasuki Mansion tersebut. Tak lupa melirik sedikit ke arah sosok di dalam mobil tadi. Dengan lirikan bak dewa kematian.



"he...he....calon mangsaku," kekeh nya pelan. Jika saja ada yang mendengar mungkin akan merinding dibuatnya.


Zio menetralkan ekspresi nya menatap lekat pasangan yang tengah berbahagia di atas altar, yang terlihat tengah mengabadikan momen pernikahannya.




Zio mendekati pasangan tersebut, dan menyuruh seorang fotografer menyingkir dari tempat nya.


"hei nenek sihir....selamat atas pernikahanmu," ketusnya datar.


Adira tersenyum manis, ia tau meski sikap Zio begitu dingin terhadap nya namun anak itu sebenarnya sangat menyayanginya. Terbukti saat Ia akan mencoba melakukan percobaan bunuh diri, anak itu yang telah menyelamatkan hidupnya. Tanpa pertolongan anak itu Adira tak akan bisa berdiri di atas altar ini sekarang. Jadi Adira sangat berterima kasih pada sosok bocah dingin tersebut, yang tak lain adalah Zio.

__ADS_1


__ADS_2