
Abila benar-benar ingin menghabiskan waktu akhir pekan ini bersama Jovin, Abila merasa bahwa pemuda di samping nya ini sebentar lagi akan pergi meninggalkan nya , entah itu hanya perasaan nya saja atau kah akan menjadi nyata.
"Sayang... aku ingin membeli gelembung air itu....." rengek Abila.
"kenapa manis sekali sih... pacar ku ini, jadi tidak sabar ingin segera meminang mu." ucap Jovin sambil menguyel pipi kekasihnya.
Abila pun membeli benda itu , dan terduduk di rerumputan sebuah taman, Ia sedari kecil memang sangat menyukai mainan itu, seolah sudah tenggelam dalam kebahagiaan nya , Abila tertawa dengan riang tanpa menyadari bahwa Jovin sedari tadi menatap nya tanpa berkedip.
Adira ... selama ini kau tak pernah menunjukkan senyuman mu, keceriaan mu benar-benar terlihat begitu alami. Aku mencintaimu, ditambah dengan sikap mu yang kekanak-kanakan membuat diriku semakin jatuh dalam pesona mu, senyuman mu mampu membuat hatiku bahagia, aku tidak merasakan hal ini semasa dengan Adira yang dulu. Kau yang dulu hanya memikirkan kemewahan. tapi kau yang sekarang sangat jauh dari kata mewah, terima kasih sudah mengajarkan aku arti kesederhanaan, jika begini aku tak butuh harta melimpah rasanya, karena hanya melihat senyuman mu saja sudah membuat ku merasa bahagia.
"sayang... setelah ini giliran ku yang menentukan tempat dimana kita harus mengunjungi nya." ucap Jovin.
Abila menoleh dan berkata.
"boleh .... asal jangan ada yang berbau kemewahan, aku tidak suka." ketusnya.
Jovin hanya mengangguk.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi, sebelum menjelang sore. Abila benar-benar tidak ingin membuang waktu sedikit pun. Hari ini adalah hari paling spesial di dalam hidup nya. Katakanlah jika dia egois karena ingin membuat Jovin jatuh dalam dekapan nya.
Aku berjanji pada mu, aku akan membuat mu melupakan Adira dan mencintai ku seutuhnya, walau aku tidak yakin setidaknya aku sudah pernah mencoba.
Jovin menutup kedua mata Abila, dan menuntunnya ke suatu tempat.
"sayang kita mau kemana?." tanya gadis itu.
"kesuatu tempat yang sangat indah, kita sudah sampai." Jovin membuka kain yang menutupi kedua mata kekasih nya.
Abila membelalakkan kedua bola matanya lebar-lebar. Ia sangat terpesona dengan pemandangan indah di depan matanya ini. Hamparan kebun anggur hijau yang luas, serta pemandangan perbukitan yang benar-benar menakjubkan.
__ADS_1
"sayang... apakah aku sedang ada di surga?." tanya nya.
"iya surga kita berdua." bisik Jovin sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang kekasih.
"terima kasih, aku sangat menyukai nya." girang nya.
Abila menyeret lengan kekar pemuda itu dan mengajak nya berlari.
Jovin tertawa bahagia.
Aku benar-benar bahagia, aku merasakan yang namanya hidup . Aku jadi merasa bodoh karena sempat ingin mengakhiri hidupku sendiri. Terima kasih sayang... karena kau sudah membuka kedua mataku, menyadarkan ku arti hidup yang sebenarnya .
"sayang....ayo kita memetik anggur, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya memetik anggur dengan tangan ku sendiri." teriaknya.
"jangan berteriak baby.... telinga ku sakit mendengar nya." kekeh Jovin bercanda.
Abila memukul manja pundak pemuda itu.
"bukan buahnya yang tinggi sayang...tapi kau yang terlalu pendek." goda Jovin tanpa ada niat untuk membantu kekasih nya.
Hingga pada akhirnya Abila kelelahan melompat, keseimbangan tubuhnya tidak terkendali dan akhirnya limbung hampir terjatuh, untung saja ada Jovin yang dengan sigap menangkap nya.
Jarak mereka begitu dekat, hingga mereka berdua bisa merasakan detak jantung masing-masing, Tatapan mereka menyatu seolah ada struman listrik yang menarik nya agar terus mendekat, tak tau siapa yang mendahului nya yang jelas sekarang bibir mereka berdua sudah menyatu begitu mesra.
Jovin menyudahi pagutan di antara keduanya, ia menatap lekat wajah sang kekasih yang masih senantiasa menutup kedua matanya dengan mulut sedikit terbuka, sepertinya gadis itu masih terbuai oleh euforia nya.
Jovin tak berkedip melihat wajah Abila dalam posisi seperti ini, sungguh sexy di penglihatannya. Ia jadi ingin lagi, seakan bibir gadis itu sudah menjadi candunya sekarang.
Apa kau sekarang benar-benar sudah bisa menerima ku ? karena kau yang dulu sangat terlihat begitu menolak sentuhan ku, dan sekarang kau mau menerima sentuhan ku , aku melihat ketulusan di sorot kedua mata indah mu. Boleh kah aku merasa bahagia sekarang?.
"sampai kapan kau akan menutup kedua mata indah mu hm? atau..... kau ingin aku menciumu lagi." goda Jovin dengan senyum evilnya.
__ADS_1
Seketika Abila membuka matanya lebar-lebar.
Dan mendorong tubuh Jovin , lalu berlari. Sungguh ia sangat malu, kedua pipinya sudah memerah bak buah strawberry.
"dasar..... mesum." teriaknya dari kejauhan.
Jovin sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol kekasih nya itu.
"hai...tunggu aku sayang...." teriaknya sambil mengejar sang pujaan hati.
Setelah cukup lama mereka berlari, akhirnya mereka berdua terhenti di bawah pohon rindang yang begitu menyejukkan di iringi angin yang tertiup lembut, menyapu wajah kedua nya.
"aku sangat bahagia hari ini, terima kasih sudah membuat ku tersenyum." ucap Abila.
Jovin tersenyum lembut, dan meninggalkan Abila sebentar. Abila hanya menoleh memperhatikan apa yang sedang dilakukan pemuda itu tanpa bertanya.
Terlihat Jovin sedang mengambil sedikit ranting pohon anggur itu dan merangkai nya menjadi sebuah cincin.
Mendekati sang kekasih dan meraih tangan kiri kekasih nya, menyematkan benda itu ke jari tengah nya, sambil berkata.
"tempat ini akan menjadi saksi indah kita berdua, cincin ini akan menjadi pengikat untuk mu, aku tau ini hanya lah terbuat dari ranting. Tapi aku berjanji pada mu , suatu hari nanti aku akan mewujudkan nya di atas altar di acara pernikahan kita. Aku akan membuat impian kita menjadi nyata, maukah kau menjadi pendamping hidup ku? dan menjadi calon ibu dari anak-anakku?."
Abila tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata nya. Ia sungguh terharu dengan perlakuan Jovin, walaupun cincin yang tersemat di jemarinya hanya lah simbol semata. Bukan seberapa mahal dan mewah nya benda itu, melainkan niat dan ketulusan hati pemuda itu yang membuat nya bahagia.
"iya ... aku mau menjadi pendamping hidup mu, jika saja semua nya bisa menjadi nyata, bukan lah drama semu." gumam Abila di akhir kalimat nya, gadis itu semakin terisak membuat Jovin bingung, apa kah ia salah bicara? fikirnya.
"sayang.... kenapa kau menangis? apa kau terpaksa mengatakan nya? jika iya , aku tak apa sayang...aku akan setia menanti sampai kau siap hm." Jovin mengusap lembut air mata yang membasahi pipi gembil kekasih nya.
Abila menggeleng brutal.
"tidak... bukan itu, aku bahkan sangat bahagia." ucapnya kemudian. Bohong jika ia merasa bahagia, nyata nya hatinya terasa hancur berkeping tak berbentuk, tak ada yang tau seberapa parah rasa sakit itu, luka menganga tak kasat mata yang tertoreh di dalam hati Abila. Hanya dia sendiri yang merasakan nya, seakan rasa sakit itu bisa membunuhnya saat itu juga.
__ADS_1