
Haze dan Mark masih melanjutkan acara kencan mereka berdua. Sementara para anggota keluarga Harold sedang membincangkan masalah bagaimana cara agar Mark tidak mencium kebohongan yang telah mereka semua rencanakan. "Dad, aku mulai khawatir dengan hubungan Mark dan Hazel." tutur Roger memulai percakapan. "Memang nya kenapa? Apa ada masalah?" sahut Tuan Harold. "Aku takut, Mark mulai mencurigai Hazel, biar bagaimanapun Hazel sangat berbeda dengan Hazely." "Apa kamu belum menemukan keberadaan Hazely?" kini Nyonya Harold yang bersuara. "Belum Mom, aku lebih berharap agar gadis itu menghilang untuk selamanya dari muka bumi ini." geram Roger. "Daddy juga berharap begitu." sahutnya. "Jika gadis itu kembali semua akan hancur, begitupula dengan hati Hazel." tutur Roger sendu. Tuan dan Nyonya Harold memandang Roger dengan raut wajah penuh tanda tanya. "Maksudmu, dengan hati Hazel? Ada apa dengan gadis itu? Jangan bilang kalau dia benar-benar menyukai Mark." tebak Nyonya Harold. Roger menganggukkan kepalanya. "Iya, tebakan Mommy benar, Hazel jatuh cinta dengan Mark. Dan aku tidak akan rela jika nanti nya dia harus tersakiti." Tuan Harold meraup wajahnya. "Astaga!! Kenapa semua menjadi rumit begini? Semua akan susah jika berhubungan dengan yang namanya hati. Roger, Daddy minta padamu, tolong jaga Hazel, jika suatu saat nanti terjadi hal buruk pada nya." pinta Tuan Harold. Roger hanya mengangguk sebagai jawaban. --- Di sisi lain, Mark dan Hazel sedang merencanakan kencan kedua. Semua atas permintaan Hazel tentu nya, jadi dengan senang hati Mark mengambil cuti untuk tidak masuk kantor esok, selama mereka berkencan. "Kita mau kemana hari ini?" tanya Mark sambil mengelus rambut panjang Hazel yang terlihat manja menyender di dada pemuda tersebut. "Kemana saja, yang penting aku selalu bersama mu." sahut Hazel. "Sayang, bagaimana kalau kita menginap di villa keluargaku? Hanya berdua saja." usul Mark. Hazel sedikit berfikir. "Emm ... bagaimana dengan pekerjaanmu? Spa mommy dan daddy tidak keberatan?" tanya nya begitu sanksi. "Tidak akan ada yang berani menentang ku." jawab Mark mantap. Dan akhirnya Hazel hanya mengangguk setuju dengan usulan Mark. "Bagaimana kalau besok kita berangkat ke villa." Titah Mark, yang sukses membuat bola mata Hazel terbelalak. "Apa tidak terlalu cepat?! Bahkan kamu belum meminta ijin pada .ommy dan daddy." "Lebih cepat lebih baik, aku tak sabar ingin menghabiskan waktu bersama mu lagi." bisik Mark sensual. "Awas! Jangan berani macam-macam." sahut Hazel dengan mengacungkan jari telunjuk nya di hadapan wajah Mark. Mark meraih telunjuk gadis itu lembut, sembari mengecup nya. "Tidak akan Sayang, percaya pada ku, aku akan menjaga kehormatan mu. Aku berjanji tidak akan merusak mu sebelum kita menjadi pasangan yang sah nanti nya." ucap Mark meyakinkan Hazel. Hazel kembali mengagumi sifat pemuda di hadapannya ini. 'Kamu begitu berbeda dengan pemuda lain. Maafkan aku kalau aku terlalu lancang terlanjur mencintaimu.' --- Keesokan harinya, sesuai rencana Mark kini mereka berangkat menuju villa pribadi keluarga Harold. Kedua orang tua pemuda itu hanya bisa memandang sedih kepergian mereka berdua. "Andai kebahagiaan di antara mereka berdua tanpa di dasari sebuah kebohongan, pasti aku akan sangat beruntung mempunyai calon menantu seperti Hazel." gumam Nyonya Harold. Tuan Harold tersenyum teduh ke arah istrinya, seraya berkata. "Kita serahkan semua nya kepada Tuhan, semoga Mark dan Hazel bisa bersatu." Setelahnya Tuan Harold merengkuh pundak sang istri dan mengajak nya masuk ke dalam mansion. ▪️▪️▪️ Beberapa jam kemudian. Mark dan Hazel telah sampai di villa yang mereka tuju. Hazel segera turun dari mobil dan berlari kecil ke halaman villa, ia sangat mengagumi keindahan bangunan itu. "Tempat ini sangat indah, seperti mimpi rasanya." senyum lebar tak luntur dari bibir gadis cantik itu. "Kamu menyukai nya? Villa ini hanya salah satu di antara puluhan villa yang keluargaku miliki." tutur Mark sambil mengangkat koper dari dalam bagasi mobilnya. Hazel terkejut, tak bisa terfikirkan dalam otak nya seberapa kaya pemuda yang menyandang status sebagai kekasih nya ini. "Tak ku sangka kau sangat kaya!" kagum Hazel. "Masih ada banyak hal yang belum kamu ketahui tentang keluarga ku, Sayang, suatu saat nanti jika kamu sudah menjadi istri ku, aku akan memberitahu mu semua rahasia yang Keluarga ku sembunyikan." ucap Mark sambil menyeret kedua koper besar nya ke dalam villa. Senyuman Hazel luntur seketika, ia menatap lekat punggung pemuda itu. 'Andai saja kamu tau, kita tidak akan pernah bisa bersama. Aku tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari keluarga mu.' Setelah mereka selesai membereskan barang-barang nya, Mark mengajak Hazel ke suatu tempat yang menjadi favorit nya di area villa ini. Tempat itu hanyalah sebuah peternakan kuda yang tidak terlalu lebar, namun pemandanganya sangat indah. Lagi pula Mark juga sangat merindukan kuda jantan kesayangan nya yang ia beri nama Hercules. Sesampainya di tempat itu. Mark langsung mendatangi seorang pria paruh baya, mungkin bisa di bilang dia orang kepercayaan Mark untuk mengurus kuda-kuda piaraan nya. Mark menuntun kuda jantan yang terlihat begitu gagah itu keluar kandang. "Ayo naiklah! Aku akan mengajak mu jalan-jalan ke padang ilalang tak jauh dari sini." pinta Mark, sambil mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Hazel agar menaiki punggung kuda berwarna coklat itu. Hazel tersenyum dan menerima uluran tangan kekasihnya, seraya menaiki punggung kuda tersebut. "Apa kamu bahagia?" tanya Mark sambil mengecup pipi mulus kekasih nya. "Aku sangat bahagia." jawab Hazel sembari menatap jauh hamparan rumput ilalang yang begitu indah dengan bunga nya yang berwarna putih. "Maafkan aku, baru bisa mengajak mu kesini sekarang. Kamu tahu? Kamu adalah gadis pertama yang aku ajak ke tempat ini." ucap Mark, yang mana membuat kedua pipi Hazel memerah. Ada rasa menggelitik di dalam hati nya, yang membuat nya ingin selalu tersenyum. 'Jadi aku gadis pertama yang dia ajak kesini? Bahkan Hazely juga belum pernah melihat tempat ini. Aku beruntung sekali.' Setelah lelah berkuda akhirnya Mark mengajak Hazel duduk di bawah pohon, dan mengikat kuda jantan nya di dahan pohon tak jauh dari tempat nya duduk. "Sayang, lihatlah kudamu sangat terlihat begitu tampan jika saja dia menjadi manusia." ucap Hazel berusaha membuat kekasih nya tersenyum. Namun di luar dugaan pemuda itu malah merajuk, membuat Hazel semakin gencar untuk menggoda nya. "Jadi lebih tampan siapa? Aku atau Hercules?" tanya nya sambil memalingkan wajahnya pura-pura marah. "Em ... Hercules." jawab Hazel sambil mencubit pipi Mark. Mark menepis tangan kekasihnya. "Ya sudah, pacaran sana dengan kudaku!" ketus Mark tentunya hanya main-main. "Astaga ... kamu cemburu dengan seekor kuda, lucu sekali." Hazel tertawa terbahak-bahak. "Sayang, tunggu di sini! Aku ingin mengambil bunga liar itu." titah Mark, beranjak pergi mengambil bunga liar berwarna putih yang terlihat menjalar di batang pohon. Dengan lihai Mark merangkai bunga itu menjadi sebuah mahkota dan membawanya ke dekat Hazel. Mark mendekati Hazel dengan menenteng sebuah mahkota terbuat dari bunga liar berwarna putih, entah bunga apa itu yang jelas terlihat bagus. "Kamu membawa apa?" tanya Hazel, kala Mark terlihat sudah mendekat ke arah nya. "Sesuatu yang akan membuat mu terlihat lebih cantik." ucapnya sembari memakaikan benda berbentuk lingkaran itu di atas surai hitam sang kekasih. Hazel hanya tersenyum malu, kenapa pemuda ini senang sekali membuat wajahnya memanas?. "Kamu benar-benar terlihat cantik Sayang." ucapannya lagi sambil mengecup pipi gadis itu. "Kamu selalu saja menggodaku." sahut Hazel malu. "Sekarang giliran ku, mana hadiah untukku?" pinta nya. Dengan cepat Hazel mencium pipi pemuda itu, lalu berbalik badan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Mark tersenyum bangga, akhirnya cinta nya selama ini terbalas juga oleh gadis impian nya. "Hari sudah hampir gelap, ayo kita pulang, nanti aku akan mengajak mu ke kedai marshmellow dekat sini. Dulu aku dan kak Roger selalu pergi ke sana jika kami sedang berkunjung ke villa." jelas Mark, sambil membantu Hazel berdiri dari duduknya. Mereka kembali ke villa dengan menaiki kuda nya kembali. Sesampainya di villa, Hazel langsung menuju ke kamarnya, jika kalian tau mereka sekamar berdua. Tapi tenang saja Mark bukan tipe pemuda yang tidak bisa mengontrol hormon nya. Mark merupakan tipe pemuda yang menjunjung tinggi prinsip hidup. "Sayang, cepat kau mandi duluan." suruh Mark. Hazel hanya mengangguk dan menuju ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian Hazel sudah selesai dengan acara mandinya dan keluar. "Sayang, sekarang giliran mu, aku sudah menghangat kan airnya." pinta Hazel sambil mengeringkan rambut panjang nya dengan handuk. Mark memasuki kamar mandi, beberapa menit setelah nya ia sudah keluar dengan menggunakan boxer hitam nya tanpa menggunakan atasan. Sehingga memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya dan jangan lupa kan enam roti sobek yang terlihat jelas di area perutnya. Hazel berbalik badan, ia begitu terkejut melihat penampilan pemuda itu. Dengan cepat ia menutup matanya dengan kedua telapak tangan nya. "Aaaa!!! Dasar mesum, kemana bajumu?!! Cepat pakai!!" teriak Hazel masih dengan posisi menutupi wajah nya. Mark menyunggingkan sebelah bibir nya, mungkin sedikit mengerjai kekasihnya akan menyenangkan, batinya. "Bilang saja kalau kamu mengagumi tubuh sexyku." ucap Mark percaya diri. "Dasar!! Cepat pakai baju mu, atau aku akan kabur dari sini." ancam Hazel, sukses membuat Mark kelabakan dan segera memakai kaos putih nya. ▪️▪️▪️ Mark dan Hazel sudah selesai bersiap-siap, sesuai dengan janji Mark bahwa ia akan mengajak Hazel untuk pergi ke kedai marshmellow favorit nya. "Kamu sudah siap Sayang? Ayo kita pergi, tempat nya tak jauh dari sini, jadi kita jalan kaki saja biar lebih terlihat romantis." ucapnya, sambil menaik turun kan kedua alisnya. Hazel hanya terkekeh dan menjawab. "Terserah mu saja, aku menurut pada mu lagi pula jika aku lelah tinggal minta gendong dirimu." tutur nya begitu enteng. Mereka berjalan dengan posisi tangan saling bertaut, sesekali bercanda dan saling mengejar, benar-benar dunia serasa milik berdua yang lain nyempil. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di kedai tersebut. "Tuan Mark!" Sapa pemilik kedai itu dengan senyum sumringah nya. "Iya Paman, ini aku Mark, bagaimana kabar Paman?" tanya Mark selanjutnya. "Saya baik Tuan, bagaimana dengan Tuan sendiri? Sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini." Titah pria itu lagi. "Saya juga baik-baik saja Paman, kebetulan keluarga ku sedang sibuk sekali jadi tidak ada waktu untuk berkunjung ke sini." jawabnya. "Oh begitu, oh ya ... siapa Nona ini?" "Ah, perkenalkan, dia Hazely, calon istri ku, Paman." "Wah ... selamat Tuan, semoga hubungan kalian berdua langgeng." ucap pria itu sembari memberikan sepiring penuh marshmellow panggang favorit Mark, pria itu sudah terlalu hafal dengan makanan favorit Tuan mudanya ini. Meski Mark anak orang kaya, tak di pungkiri dia sangat lah ramah terhadap orang sekitar. Dia tidak pernah membedakan kasta. Sikap itulah yang membuat semua orang mengaguminya. "Cobalah! Ini sangat enak." ucap Mark sambil menyuapkan satu potong marshmellow ke mulut Hazel. Dan Hazel menerima nya dengan senang hati. "Iya, ini benar-benar lembut," ucap Hazel di sela-sela mengunyah nya. "Sekarang giliranmu, aaaa." Hazel menyuapkan sepotong marshmellow ke pada Mark. "Manis sekali, bukan karena rasa marshmellow nya namun karena kamu yang menyuapiku." ucap Mark sambil memandang wajah cantik kekasihnya. "Benarkah? Jika aku memberi mu racun, apa rasanya akan tetap manis?" tanya Hazel, pertanyaan singkat namun mendalam. "Apa pun yang kamu berikan padaku, aku akan selalu menerima nya." sahut Mark tanpa rasa curiga sedikitpun pada pertanyaan Hazel. "Benarkah begitu? Jika aku memberi mu kesedihan, kekecewaan, apa kamu akan tetap menerima nya?" tanya Hazel selanjutnya. "Apa pun itu, karena aku sudah terlalu jatuh dalam zona cinta mu, Hazely ku tersayang." "Jika aku bukan lah Hazely mu, apa kamu akan tetap menerima nya?" Hazel begitu penasaran dengan jawaban pemuda itu kali ini. "Di hatiku hanya lah ada satu nama Hazely, tidak ada yang bisa menghapuskan nama mu di dalam hati ku." jawaban itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Hazel. Gadis itu tersenyum manis, sangat manis di mata Mark. Namun yang sebenarnya senyuman itu hanyalah senyuman palsu, penuh kekecewaan, begitu miris. Harus mencintai orang yang tidak akan pernah mengerti seberapa besar cinta yang ia miliki. Hazel harus memendam dalam-dalam rasa cintanya itu. "Oh ya, Sayang, kamu mau pesan minuman apa?" tanya Mark memecah keheningan. "Teh hangat saja." jawab Hazel. Mark mengernyitkan dahi nya. "Sejak kapan kamu jadi penyuka teh? Bukan kah kamu sangat membencinya? Biasanya kamu meminum minuman beralkohol rendah." Hazel gugub lagi-lagi ia salah bicara. "ah, baiklah kalau begitu pesan minuman yang sama dengan mu saja." ucap Hazel selanjutnya. 'Sial!! Bagaimana ini? Vahkan aku belum pernah merasakan minuman beralkohol, bagaimana bisa nanti aku meminumnya?' Dua kaleng minuman sudah datang. Dan Mark langsung membukakan minuman milik Hazel. Hazel meminum minuman itu dengan ragu-ragu. "Sayang ... kenapa tidak kamu minum? Minuman itu hanya lah minuman biasa yang dulu kau minum." tutur Mark sambil meneguk minuman dari kaleng yang di pegang nya. Mau tak mau akhirnya Hazel meminum minuman itu dengan sekali teguk dari pada kedoknya terbongkar. Selang beberapa menit, Hazel mulai merasakan pusing yang luar biasa di kepala nya. 'Astaga, ada apa dengan kepala ku, kenapa sakit sekali.' Mark menautkan kedua alisnya melihat perubahan ekspresi kekasih nya. "Sayang ... kamu tidak apa-apa?" tanya nya sambil menangkup kedua pipi Hazel yang terlihat memerah. Apa? Kamu mabuk? Sejak kapan kamu tidak kuat meminum minuman beralkohol? Setahuku kau adalah peminum yang handal. Hazely siapa sebenarnya dirimu?. Hazel mulai meracau tidak jelas, sesekali tertawa cekikikan. "Sayang, ayo kita pulang, kamu sedang mabuk." ajak Mark. "Siapa bilang aku mabuk? Aku tidak mabuk pemuda tampan!!" ucap nya lalu tertawa lagi. "Sayang, ayo kita pulang, ini sudah malam." "Pulang? Baiklah ... tapi gendong aku." pinta Hazel sambil menjulurkan kedua tangannya.