
"pasti teman mu itu sangat menarik, aku jadi ingin melihat nya," ucap Adira, berusaha menutupi kegelisahan nya.
Ch....sok tegar. Gumam Johan sembari tersenyum meremehkan. Jelas-jelas Johan melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa tubuh beserta tangan gadis itu sudah bergetar, bahkan raut wajah nya pun sudah berubah pucat pasi.
"kau tidak perlu penasaran seperti itu, karena sebentar lagi dia akan da..---,"
ucapan Johan terhenti karena suara bel kamar itu berbunyi.
"astaga.. dia sudah sampai, tidak ku sangka dia akan sampai secepat ini," ucap Johan berbinar, dia sudah tidak sabar melihat kehancuran gadis di hadapannya ini, semua kelakuan nya pada Abila akan segera terbayar, memang benar Abila tidak membalas perlakuan Adira, namun Johan lah yang akan membalaskan untuk nya.
Seolah suara bel pintu itu seperti suara alarm berbahaya di pendengaran Adira, tubuhnya membeku, keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuh nya.
Tubuh Adira mematung, seakan jantung nya sudah meloncat dari tempatnya karena terlalu cepat berdetak kencang. Pemuda yang selama ini ia hindari, ia takuti , sekarang berdiri angkuh di hadapannya dengan seringaian tajam tertera di bibirnya.
Bagai tersambar petir di siang hari , Adira benar-benar takut, ia tak bisa kabur .
__ADS_1
Tuhan semoga ini hanya mimpi buruk saja.
Harapnya dalam hati.
Ya! pemuda itu adalah sosok yang terakhir kali Adira tipu untuk merebut aset kekayaan keluarga nya dari tangan sang Paman. Ketika pemuda Bangsawan itu ingin mengajak nya bertunangan, sekaligus meminang Adira untuk menjadi istrinya yang kesekian kali, Adira malah kabur kembali ke tanah kelahirannya.
Dan sekarang pemuda itu sedang berdiri di depan nya, dua pemuda berbadan besar yang mungkin Bodyguard pemuda itu, menyeret paksa lengan Adira dengan begitu kasar.
Adira meronta tak ingin ikut dengan pemuda itu. Namun semua percuma ia sudah tidak bisa berkutik lagi, tiada yang bisa menolong dirinya saat ini.
Adira meronta, berteriak dan menangis sejadinya. Ia berusaha meminta bantuan Johan.
"Kak... Johan, tolong aku.... bukan untuk diriku...tapi untuk Jovin, kau menyayangi nya bukan? bagaimana kalau dia mencari ku? dia akan kembali depresi Kak, kau tidak kasihan pada nya?," teriaknya mencoba mengelabuhi otak Johan, namun Johan bukanlah pemuda yang bodoh untuk termakan ucapan gadis itu.
"cih....dasar gadis licik, racun mu tidak akan mempan kepada ku. Asal kau tahu, kenapa aku diam selama ini? karena aku ingin Adik ku berfikir dewasa dan tidak di butakan oleh yang namanya cinta, tapi aku tidak bisa diam saja kalau kau berani menyakiti Abila, kau tau? bahkan penderitaan yang kau terima saat ini belum setimpal dengan semua penderitaan yang kau berikan pada Abila. Aku sempat berpikir sebenarnya salah apa gadis itu padamu, hingga kau begitu membencinya. Dia menjagamu, merawatmu sewaktu orang tua kalian tiada. Tapi kenapa kau tak menghargai nya? dia saudara mu , darah kalian mengalir dari orang tua yang sama. Kalian hidup berbagi dalam satu rahim . Aku tanya pada mu, apa Abila pernah menyakitimu? apa dia pernah memarahimu? apa dia tidak pernah menuruti semua keinginanmu ?. Abila berusaha mencukupi semua kebutuhan hidupmu Adira, tapi kau yang tidak bisa bersyukur, malah memberikan penderitaan. ck...dasar tak tau diri," Johan terkekeh miris.
__ADS_1
Adira menangis meraung memanggil nama Abila, ia sadar sekarang bahwa dia telah berbuat salah. Abila menyayanginya, namun kenapa dia malah sebaliknya, ia ingin meminta maaf kepada saudara kembar nya jika ia bisa kabur dari pemuda ini.
"Abila ..... maafkan aku, maafkan aku," racaunya di sela isakan pilu.
"kata maaf tak akan bisa menebus semua kesalahan mu Adira , gara-gara ulah mu Jovin berani menghancurkan hidup Abila," geram Johan begitu emosi.
Adira mendongak kan kepalanya menghadap Johan, dengan mata berkaca-kaca, berisi penuh air mata yang sesekali mengalir tanpa di beri aba-aba.
"a...apa maksudmu , katakan," teriak Adira frustasi.
"kau ingin tau apa yang terjadi pada saudara kembar mu? dengarkan aku baik-baik, Abila telah di lecehkan oleh Jovin, harga diri nya terenggut begitu saja . Semua ini karna ulahmu Adira, karna mu hidup Abila benar-benar hancur hingga titik terendah, jika itu terjadi pada mu, aku yakin kau akan lebih memilih mengakhiri hidupmu," Ucap Johan menggebu-gebu, sambil sesekali mengusap air mata yang entah sejak kapan mengalir di ujung mata nya, ia sakit membayangkan kejadian yang menimpa Abila.
Adira semakin menangis , hatinya terasa sesak . Ia tak menyangka jika akan berakhir seperti ini, ia telah berdosa , ia telah menghancurkan hidup saudara kembar nya yang selama ini selalu menjaganya dengan sepenuh hati, Abila telah kehilangan semuanya. Apa yang sedang terjadi pada Abila sekarang? dimana gadis itu tinggal saat ini? bagaimana keadaan nya sekarang?. Penyesalan itu muncul di benak Adira. Tapi semua sudah terlambat, semua yang sudah hilang tidak bisa kembali lagi.
Abila....hik.... maafkan aku....aku berjanji padamu , suatu hari nanti jika aku kembali terbebas dari pemuda ini, aku akan menebus semua kesalahanku padamu, tunggu aku kembali saudara kembar ku , aku menyayangi mu. Maaf aku telat menyadarinya.
__ADS_1