Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
TUJUH DUA


__ADS_3

Setelah kepergian Kenzi, Abila segera berlari menghampiri Jovin beserta anak-anaknya. Ia memeluk erat tubuh Jovin yang terlihat penuh luka itu. Gaun pengantin yang tadinya berwarna putih kini sudah penuh noda darah.


"kau bodoh...kenapa tak melawan," isaknya di tengah tangisan pilu.


Jovin hanya tersenyum lemah seraya melepaskan pelukannya.


"karena aku bukanlah Jovin yang dulu, yang selalu menggunakan egonya...Jovin yang sekarang adalah Jovin yang siap kapan saja menyerahkan nyawanya hanya untuk mu sayang...," ucap Jovin sebelum tiba-tiba pemuda itu tak sadarkan diri. Abila begitu panik, begitu pula dengan semua orang. Mereka segera membawa Jovin pergi ke rumah sakit.


Setelah beberapa saat yang lalu sampai ke rumah sakit, kini Jovin sudah mendapatkan perawatan. Abila beserta kedua anaknya selalu setia menunggu di samping tubuh lemah pemuda tersebut, yang masih setia menutup kedua kelopak matanya.


Abila menoleh ke arah Zio yang terlihat sedang duduk di sofa sembari bersedekap dada, anak itu masih saja termenung. Abila jadi teringat dengan apa yang tadi anaknya ucapkan di altar. Bolehkah jika Abila takut? takut jika Zio nantinya akan seperti Jovin.


Akhirnya Abila mendekati Zio dan bertanya.


"sayang nya Mommy....kenapa kau diam saja hm?," tanya Abila lembut.


"aku benci Grandpa..," sahutnya begitu dingin.


"kenapa kau membenci nya hm?,"


"karena Grandpa sudah menyuruh orang-orang tadi memukul Daddy, sampai Daddy sakit begini," isaknya.


Abila memeluk sayang tubuh kecil anak lelakinya.


"tenanglah.,. kau tidak boleh seperti itu sayang, percaya dengan Mommy... Daddy pasti akan baik-baik saja ok," lirih Abila, ia juga ikut terisak membayangkan kejadian tadi.


Tak berapa lama Keluarga Nichol dan keluarga Takkeru datang, mereka sempat pulang tadi untuk sekedar berganti baju.


Zio menatap nyalang kearah Tuan Daisuke, ia marah , benci, melihat Kakeknya sendiri.


"bagaimana keadaan Jovin ?," tanya Johan yang terlihat sedang bergandengan tangan dengan Adira tanpa peduli dengan sekitar.


"dia belum juga sadar," lirih Abila.


Beberapa saat kemudian yang di tunggu-tunggu pun akhirnya bangun dari lelapnya. Jovin berlahan membuka kedua matanya pelan, dan membisikkan nama Abila.


"Abila.....," begitu lirihnya.


Abila segera mendekati tubuh Jovin dan menggenggam tangan erat.


"sayang...kau sudah bangun, jangan membuatku khawatir," Abila tak kuasa membendung air matanya.

__ADS_1


"aku baik-baik saja, kenapa kau menangis sayang," Jovin berusaha tersenyum.


"bodoh... apanya yang baik-baik saja..," elak Abila sambil menyeka air matanya.


Suasana menjadi hening kala keluarga Takkeru mendekati tubuh lemah Jovin.


Tuan Daisuke berdiri angkuh di samping brangkar pembaringan Jovin, Jovin terdiam ia pasrah jika orang tersebut akan kembali memukulinya karena telah berani menghancurkan acara pernikahan Abila tadi.


Namun di luar dugaan, pria tersebut malah tersenyum lembut serta mengelus pucuk kepala Jovin.


"kau hebat nak..... kau sudah menunjukkan pada ku, betapa kau mencintai anakku. Aku percaya pada mu, kau pasti bisa menjaga anak beserta cucu-cucu ku kelak. Kau lulus dalam seleksi sebagai calon menantu ku, dan sekarang aku merestui hubungan kalian berdua. Nikahi Abila secepatnya, sebelum aku berubah fikiran," goda Tuan Daisuke di akhir kalimat nya.


Jovin tersenyum bahagia, sungguh jika ia tidak sedang sakit, ia sudah melompat kegirangan saat ini.


"terima kasih Tuan...," lirih Jovin.


"panggil aku Papa.... karena aku sudah menganggap mu seperti anak ku sendiri," pinta Tuan Daisuke, dan di balas anggukan oleh Jovin.


Abila begitu bahagia, ia memeluk sayang kedua orang tua nya.


"makasih... Ma....Pa.....aku menyayangi kalian," ucap Abila, di sela tangisan bahagia nya.


Tuan Nichol memeluk erat tubuh Tuan Daisuke.


"terima kasih..... sudah memberikan kesempatan kepada anak ku," ucap Tuan Nichol sembari menepuk pelan punggung rivalnya, bukan lagi! lebih tepatnya calon besan.


"jangan formal begitu... sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga. Dan kita akan menjadikan Klan kita semakin kuat. Aku tak menyangka jika akan menjadi besan musuhku sendiri," kekeh Tuan Daisuke sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Tuan Nichol.


Semua orang terlihat begitu akrab, begitu juga dengan kedua Nyonya besar itu. Mereka terlihat saling bercanda dan tertawa layaknya ibu-ibu sosialita yang sedang mengadakan arisan.


Adira yang sedari tadi merasa terabaikan segera menghampiri Papa nya.


"Pa..... berarti pertunangan ku juga di batalkan, aku juga mau menikah dengan Johan," ucap Adira dengan cengiran bodohnya, yang membuat semua orang menggeleng kan kepalanya.


"siapa yang bilang kalau Papa akan merestui mu dengan Johan ha?," goda sang Papa.


Adira mengerucutkan bibirnya sembari memeluk erat tubuh Johan.


"aku tidak peduli, jika Papa tidak merestui ku..aku akan hamil duluan," ancamnya seraya menyeret lengan Johan Dann meninggalkan tempat itu dengan menghentak-hentakan kakinya, yang mana membuat semua orang tertawa di buatnya.


"dasar gadis bar-bar," gerutu Tuan Daisuke, merasa malu dengan sikap Adira.

__ADS_1


"kau harus sabar menerima Adira menjadi menantu mu nanti, gadis itu selalu membuat ku pusing," ucap Tuan Daisuke sambil tersenyum lebar.


Tuan Nichol tertawa menanggapi ucapan calon besannya ini.


"tenang lah...aku tak mempermasalahkan itu semua, aku bahagia jika melihat anak-anak ku bahagia,"


Hingga mereka sampai mengabaikan dua sosok yang kini sudah saling memadu kasih, berpagut mesra dengan saling ******* bibir. Mengabaikan atensi semua mata yang melihatnya. Siapa dua sosok itu jika bukan Abila dan Jovin.


"hai...anak muda, jaga hormonmu... tunggu sampai kalian menikah," teriak Tuan Daisuke tiba-tiba, mengagetkan dua sosok tersebut.


Dengan cepat Abila melepaskan ciuman Jovin dan berlari ke toilet, menahan malu. Untung saja kedua bocah kecil tadi sudah tertidur di pangkuan Nenek mereka. Jika tidak kedua pasang mata suci mereka akan tercemar dengan pemandangan hari ini.


Semua tertawa terbahak-bahak melihat tingkah anak-anaknya.


"seperti nya sebentar lagi kita akan menerima cucu lagi," kekeh Tuan Nichol, yang di sambut tawa oleh semua orang.


Di tempat lain, Johan dan Adira tengah menuju ke Apartemen Johan.


Sesampainya di sana Adira mendudukan bokongnya di sofa dan Johan berbaring di pangkuannya.


"sayang....kau ingin secepatnya menikah atau bagaimana?," tanya Johan.


"em...aku ingin kita mengenal lebih jauh dulu, aku ingin kita menikmati masa-masa indah kebersamaan kita," sahut Adira, Johan hanya mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya.


"baiklah....aku akan setia menunggu sampai kau benar-benar siap, lagi pula kau sudah mutlak menjadi milikku," kekeh Johan, dan sukses mendapatkan jitakan sayang dari sang gadis.


"dasar .... jika aku tidak mabuk, aku juga tidak mau melakukan nya," malu Adira dengan pipi meronanya.


"benarkah....kau tidak mau hm?," bisik Johan sensual, dia hanya ingin menggoda gadis itu tidak lebih.


Tubuh Adira meremang mendengar bisikan Johan.


"i....iya...aku tidak mau," gugub nya.


Johan meledakan tawanya melihat ekspresi wajah Adira.


"kau menolak ku tapi tidak dengan tubuhmu sayang.." goda Johan lagi.


Adira memukul dada bidang pemuda tersebut, dan berlari ke dapur. Sungguh ia sangat malu mendengar godaan pemuda mesum itu.


Bentar lagi VinRa nikah ....😁😁😁 ada yang nungguin gag ya???

__ADS_1


__ADS_2