Kekasih Pengganti

Kekasih Pengganti
KE TUJUH


__ADS_3

Johan lagi-lagi memberikan sebuah kotak bludru berwarna merah ke pada Abila.


"ini apa lagi Tuan?." tanya Abila bingung, pasalnya baru kali ini ia melihat barang-barang aneh seperti itu.


"untukmu, untuk menunjang penampilan mu agar terlihat semakin anggun." jelas Johan.


Abila membuka kotak , bludru warna merah itu, dan lagi ia terkejut luar biasa.


"i...ini perhiasan berlian asli Tuan?." tanyanya masih tidak percaya. karena harga berlian yang ia pegang kemungkinan mencapai Milyaran . Abila tak bisa membayangkan betapa kayanya pemuda ini.


"iya itu asli, Adira tidak pernah memakai barang-barang KW seperti mu." sindir Johan, yang mana membuat gadis itu cemberut.


"aku tidak bisa menerima nya Tuan, aku takut nanti hilang dan aku tidak bisa menggantikanya." ucap Abila begitu polos nya.


Marsel yang sedari melihat tingkah Abila sedikit terkejut. Sembari bergumam.


"gadis yang aneh, bagaimana bisa dia menolak sebuah berlian yang harganya saja bisa untuk membeli rumah? gadis yang polos tidak matre, benar-benar calon istri idaman."


"sekarang kau harus belajar etika sopan santun, karena ini wajib kau lakukan ketika sedang berkencan dengan Jovin dan juga saat berkumpul dengan keluarga Nichol." kemudian Johan memanggil seseorang untuk mengajarkan Abila.


"astaga... Tuan sudah mempersiapkan pelatih juga." Abila syok, pasalnya ia belum siap.


"tentu saja aku sudah mempersiapkannya, aku bukan lah tipe orang yang melakukan sesuatu hanya setengah-setengah." ujar Johan.


"Tuan....taukah Anda, aku sangat pusing. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus berubah menjadi sosok gadis cantik, anggun, lemah gemulai. Sungguh Tuan, memikirkan nya saja aku tidak sanggup." keluh Abila dengan melengkungkan bibir nya ke bawah.


"dasar pemalas, ... pantas saja kau tidak punya kekasih . Sikap mu saja terlalu bar-bar." cibir Johan.


"aku lebih suka diriku yang apa adanya, di banding harus bersikap manis untuk menutupi keburukan." ucap Abila lesu.


Johan terpaku, ia semakin penasaran dengan gadis ini. Sifat nya sangat susah untuk di tebak. Tidak seperti kebanyakan gadis-gadis yang sering ia temui .


Dua minggu berlalu, selama itu juga Abila harus belajar menjadi sosok Adira. Begitu melelahkan, namun ia harus bisa karena terlanjur terjebak kontrak dengan Johan.


Kini sudah waktunya Johan membawa Abila ke kediaman Nichol.


"Tuan....aku takut." cicit Abila sambil melihat penampilan nya di depan cermin.


"tenanglah, kau harus rileks . Jangan sampai gugup, Adik ku tak semenyeramkan seperti yang ada di fikiran mu." ucap Johan memberikan semangat.

__ADS_1


"lalu orang tua Anda bagaimana?." tanya nya lagi.


"kau tidak usah memikirkan semua itu. Aku sudah mengatur semua nya." sahut Johan selanjutnya. Abila hanya mengangguk, dan mereka pun pergi menuju Mansion Nichol.


Beberapa jam kemudian mereka sampai di kediaman Nichol.


Abila terkejut bukan main, kedua bola matanya melotot dengan mulut sedikit terbuka. Baru kali ini ia melihat pintu gerbang menjulang tinggi dengan polesan warna *g*old.


Apakah ini sebuah kerajaan? atau aku sedang bermimpi?.


"hei...ada apa dengan raut wajah bodoh mu itu, kau tidak pernah melihat Mansion mewah ya?". cibir Johan.


Abila melirik tajam ke arah Johan.


Dasar orang kaya sombong, mentang-mentang punya Mansion mewah.


"kenapa lagi dengan lirikan matamu mu itu haa? kau seolah-olah ingin membunuhku saja." kekeh Johan kemudian.


"dasar tidak waras." gerutu Abila lirih.


"jaga sikap mu, jangan terlalu terlihat terkejut begitu. Bisa-bisa Adik ku curiga nanti."


"iya Tuan... aku akan berusaha." sahut Abila malas.


Abila semakin terkesima dengan bangunan di hadapannya. Mansion ini lebih tepat disebut sebagai gedung pencakar langit. Tingginya yang mencapai entah berapa ribu meter, tentu nya tidak bisa di bayangkan oleh otak kecil Abila.


"ayo masuk... sampai kapan kau akan tetap berdiri dan menatap Mansion ini?." lagi-lagi Johan menggoda gadis itu .


Abila segera mengikuti Johan, dan mereka pun mulai memasuki ruang utama Mansion itu.


Lagi-lagi Abila di buat terkejut dengan sambutan puluhan pelayanan wanita dengan berseragam berjajar rapi serta menundukan kepala mereka.


"sambutan yang luar biasa, aku berasa menjadi seorang ratu di sini." batin Abila kagum.


Kedua mata Abila seakan enggan untuk berkedip, membelalak kesana-kemari mengitari setiap inci keindahan Mansion itu serta jajaran hiasan furniture yang terlihat begitu mewah, membuat Abila seolah terhipnotis.


"bersikap biasa saja, Mommi dan Daddy ku sudah menunggu kita." bisik Johan.


Abila mengangguk paham, dan menetralkan sikapnya.

__ADS_1


Tak lama mereka berdua sampai di ruangan tempat Tuan rumah Mansion ini menunggu.


Terlihat dua orang paruh baya yang sedang terduduk di sofa mewah nya sambil menyesap minuman dari cangkir dengan gambaran ukiran rumit di pegangannya.


Dua orang itu tak lain adalah Tuan dan Nyonya Nichol. Mereka terlihat sangat anggun dan penuh wibawa.


Abila sudah keringat dingin ia begitu gugup berhadapan dengan mereka berdua.


Ternyata aura orang kaya dan orang miskin itu benar-benar berbeda, astaga.. aku tak bisa membayangkan bagaimana bisa Adira hidup berdampingan di antara mereka semua.


Abila bersikap seramah mungkin, sekedar menyapa mengucapkan salam. Salah kan Johan yang sedari tadi meninggalkan Abila sendirian di hadapan Tuan rumah, gara-gara alasan ingin ke toilet.


"selamat pagi Tuan dan Nyonya." sapanya.


mereka berdua hanya bergumam sebagai jawaban, Nyonya Nichol menatap setiap inci tubuh Abila dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Abila merinding dibuatnya.


Johan... dimana kau, cepat datang... sebelum aku mati berdiri karena tatapan tajam kedua orang tua mu.


"ah maaf aku meninggalkan mu terlalu lama." cengir Johan yang baru kembali.


Abila menghela nafas lega, Akhirnya ia terbebas dari dua manusia yang terlihat mempunyai aura hitam, menakutkan . Seakan hanya dengan menatapnya saja mangsanya akan mati terbakar.


"ayo ikut aku, akan aku tunjukkan di mana kamar Adik ku." tutur Johan selanjutnya.


Sebelum mereka berdua berjalan memasuki lift Tuan Nichol menghentikan nya, lebih tepatnya menghentikan Johan.


"tunggu Han... apa dia gadis itu?."


"bukan Dad.... dia Abila, saudara kembarnya Adira." jawab Johan.


Tuan Nichol hanya mengangguk, dan berkata lagi.


"ku harap kau bisa lebih berhati-hati Han... jangan sampai ketahuan, kau tau sendiri bukan bagaimana tabiat Adikmu itu."


"iya Dad... aku mengerti." sahutnya dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kamar Jovin.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di lantai 5 Mansion itu. Melewati puluhan ruangan yang tertutup, entah ruangan apa itu.


Hingga pada akhirnya langkah mereka terhenti di depan pintu besar berwarna dark blue. Pintu itu terlihat lebih besar di antara pintu-pintu ruangan lain nya. Dan Abila semakin yakin bahwa itu adalah kamar Tuan muda Jovin.

__ADS_1


Johan membuka pintu besar itu. Mereka pun masuk ke ruangan itu. Sunyi, sepi, gelap mencekam itulah yang di rasakan Abila saat menginjakan kaki pertama kali.


"kenapa aku merasa sedang memasuki rumah angker? benarkah ini ruangan Tuan muda itu? mewah namun mengerikan."


__ADS_2