
Hazel menceritakan seluruh kejadian yang menimpa dirinya kepada sahabatnya-Laliza. Ia ingin menangis rasanya, jika mengingat semua perlakuan buruk kembarannya itu. Sedangkan Laliza hanya bisa memandang iba terhadap nasip yang menimpa sahabatnya ini. Laliza memeluk tubuh Hazel, mengelus punggung sempit gadis tersebut, seraya mengucapkan kata-kata penenang untuknya. "Sudah ... tenanglah, kau sekarang tak sendiri, masih ada aku yang selalu ada untukmu," ucapnya, berusaha menenangkan gadis di pelukannya. "Aku tak punya tempat tinggal, Liz," keluhnya. "Kau bisa tinggal di rumahku, sesukamu. Anggap rumahku sebagai rumahmu juga, Hez." tutur Laliza. "Tidak Liz, aku akan mencari pekerjaan, tak mungkin aku menumpang di rumahmu selamanya," ucap Hazel, tak enak hati. "Lalu, kau mau kerja apa, hm?," tanya Laliza, selanjutnya. "Aku juga bingung, bisa kah kau membantuku mencari pekerjaan? Aku butuh uang banyak, Liz. Untuk melunasi hutang-hutang Hazly. Aku tak mungkin bersembunyi terus menerus," jawabnya, terlihat raut kesedihan terpancar dari raut wajah gadis tersebut. Laliza sedikit berpikir, ia sendiri juga masih kuliah. Tak tau harus merekomendasikan pekerjaan apa untuk membantu sahabatnya ini. Atau mungkin ... ada yang gadis ini rencanakan? Entahlah. "Kau kan, punya banyak kenalan teman Liz, coba kau tanyakan pada mereka, siapa tahu ada perkejaan untukku," pinta Hazel. Laliza tersenyum, tiba-tiba ia mengingat salah satu temannya yang punya usaha sebuah club malam. "Aku punya teman bernama Jeslyn, dia punya sebuah club malam yang lumayan ramai, aku dengar di sana butuh pekerja," ucap Laliza, dengan raut wajah berbinar. Hazel sedikit canggung, mendengar kata-kata club malam. Bahkan dia belum pernah satu kali pun memasuki tempat tersebut. Lalu, tiba-tiba dia harus bekerja di situ, bekerja sebagai apa dia pun tak tau. Gumamnya. Namun jika ia menolak, ia juga sangat merasa tak enak pada sahabatnya. Hazel juga tak ingin merepotkannya terlalu lama. Dan akhirnya dengan terpaksa Hazel menyetujui usul Laliza. Laliza yang merasa bimbang, berucap. "Tapi, Hez ... tak usah kerja di situ, aku tak yakin kau akan mampu melakukannya," Laliza mengurungkan niatnya setelah berpikir panjang. "Kenapa memangnya? Aku tak apa, sungguh, aku akan melakukan pekerjaan apapun asal gajinya banyak," sahut Hazel, tersenyum tipis. Laliza mengangguk dan langsung menghubungi sahabatnya tersebut. "Setelah aku menghubungi Jeslyn, dia bilang kalau pekerjaan yang dibutuhkan adalah seorang wanita penghibur," ucap Laliza, merasa sangat bersalah. Sontak Hazel membolakan matanya, ia tak mau jika harus menjadi wanita penghibur. Ia masih punya harga diri. "Ini bukan wanita penghibur seperti yang kau pikirkan, Hez. Yang dimaksud Jeslyn, wanita penghibur hanya sekedar menghibur pengunjung yang sedang sedih, mendengarkan keluh kesahnya dan juga memberinya solusi jika mau," jelas Laliza. Hazel sedikit berpikir, mungkin tidak ada salahnya mencoba pekerjaan itu. "Tapi ... kalau pelanggannya ngajak cek in gimana? Aku nggak mau," lirih Hazel, gelisah. "Tidak akan, karena pemilik club itu sudah menyediakan fasilitas tersendiri untuk pengunjung. Jadi, untuk bagianmu, kau hanya bertugas menemani pengunjung minum, sekedar mendengar curhatan mereka, minta tips. Udah gitu doang, jika kamu mau. Tapi ... kalau tidak, aku bisa mencarikan pekerjaan lain untukmu," ucap Laliza kemudian. "Tapi gajinya gede, kan?" tanya Hazel, memastikan. "Jangan tanyakan lagi kalau masalah gaji. Gaji di sana tiga kali lipat dari gaji pekerja pada umumnya." Hazel sangat tertarik dengan pekerjaan itu, ia tak peduli jika harus bekerja di club malam, yang terpenting ia bisa menjaga kesuciannya. Yang ia butuhkan sekarang adalah uang yang banyak, agar bisa cepat terbebas dari jeratan hutang. "Baiklah ... nanti malam kita ke club milik Jeslyn, untuk memperkenalkan dirimu!" seru Laliza, dan dibalas anggukan oleh Hazel. Malam pun tiba, sesuai dengan yang Laliza katakan, mereka kini menuju ke club malam milik Jeslyn. Sesampainya di club tersebut, Laliza langsung saja menuju ke ruang pribadi milik Jeslyn. "Ah, Liza. Kau sudah datang!" seru gadis yang sedang terduduk di kursi kerjanya, sembari menghadap laptop di hadapannya. Ia begitu antusias menyambut kedatangan temannya yang baru saja memasuki ruangan pribadinya tersebut. "Aku membawa Hazel, dia gadis yang aku ceritakan padamu tadi pagi," ucap Laliza, memperkenalkan sosok gadis di sampingnya. Jeslyn memperhatikan wajah Hazel begitu intens, menelisik dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hazel sedikit tersenyum canggung. Merasa aneh dengan tatapan menelisik wanita yang terduduk di sana. "Bagaimana? Apa Hazel bisa diterima bekerja di sini?" tanya Laliza memastikan. "Em, bisa. Tapi ... kau sudah memberitahukan apa pekerjaannya disini, kan?" tanyanya kemudian. "Sudah, dan juga aku ingin kau melakukan sesuatu pada sahabat ku," pinta Laliza, sambil menoleh ke arah Hazel. "Apa? Katakanlah!" jawab Jeslyn dengan santainya, sedikit menyembunyikan senyumnya. Entah senyuman apa, yang jelas begitu sulit untuk diartikan. "Tolong jaga sahabatku selama dia kerja sini, dia begitu polos." Jeslyn yang mengerti arah pembicaraan Laliza segera menyahut. "Tentu. Aku berjanji padamu untuk selalu menjaganya, aku akan menganggap Hazel seperti adikku sendiri," tutur Jeslyn, terlihat begitu tulus sambil mengelus rambut panjang Hazel, lembut. Hazel tersenyum, jujur ia sangat merasa bahagia, karena di dunia ini masih ada orang yang begitu tulus menyayanginya. "Terima kasih, Jez." "Em, sama-sama." Menyahut ucapan Laliza, namun tatapan matanya tertuju pada Hazel. Pandangan teduh, begitu menghangatkan. Akhirnya Laliza mengajak Hazel untuk pergi meninggalkan ruangan Jeslyn. "Aku pamit dulu, nanti malam aku akan mengantarkan Hazel kesini lagi!" seru Laliza, sambil melambaikan tangannya ke arah Jeslyn dan dibalas anggukan pelan olehnya. "Terima kasih, Liz ... kau sudah banyak membantuku, aku tak tahu harus bagaimana untuk bisa membalas kebaikanmu," Hazel menggigit bibir bawahnya menahan air mata agar tidak menetes. "Cukup jadilah sahabatku yang terbaik, aku sudah merasa sangat bahagia. Aku tak butuh balasan yang lainnya," ucapan Laliza semakin membuat Hazel terharu, runtuh sudah pertahanan bendungan air matanya. Kini tanpa disuruh, air mata sudah mengalir membanjiri pipi tirusnya. "Liz ... terima kasih, terima kasih banyak." Hazel memeluk tubuh Laliza, begitu erat. Meluapkan segala rasa bahagianya saat ini. Laliza tersenyum, sedikit menyeka air mata yang sedikit menitik diujung mata nya. "Aku iklas membantumu Hez, jangan berterima kasih kepadaku, kita teman kan?" "Emm," Hazel mengangguk. "Iya kita teman," hatinya terasa menghangat, Laliza bagaikan sosok malaikat penyelamat untuknya. Andai saja Hazly mempunyai sifat yang sama seperti Laliza, mungkin akan lebih indah. Namun kenyataannya itu hanyalah sebuah andai-andai saja, tak mungkin menjadi nyata. "Jaga dirimu baik-baik nanti malam, maaf ... aku tak bisa menemanimu," ucap Laliza begitu merasa bersalah. "Pasti, aku berjanji akan selalu baik-baik saja," jawab Hazel, mantap. "Kau tahu, Hez ... aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri, jadi ... jika kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk bilang padaku, kau mengerti." "Iya-iya, aku mengerti, kenapa kau cerewet sekali sih." kekehnya. berakhirlah mereka bercanda ria, hari ini Laliza berencana ingin membelikan baju dan juga aksesoris untuk Hazel pakai malam ini, agar terlihat menarik perhatian pengunjung club.