Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 10


__ADS_3

"Cla, Mmmm... gimana ya ngomongnya," Ucap Vera yang merasa bimbang sekaligus tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Clara.


"Ada apa, sih? Kok kayak ketakutan gitu? Kenapa, Ver?"


Di sini lah kembali Vera merasa bimbang. Dia ibarat kata makan buah simalakama. Jika tidak cerita, dia merasa bersalah pada Clara, tapi kalau cerita takut Clara akan sakit hati, bisa-bisa malah benci padanya.


Dua hari lalu, saat dia menemani ibunya belanja keperluan bulanan, Vera melihat Angkasa jalan sambil bergandengan tangan dengan seorang wanita. Bahkan wanita itu mencium pipi pria itu tanpa malu. Belum sampai di situ, Keduanya yang berpasangan dengan Vera bahkan tidak mengenalnya sebagai sahabat Clara.


Vera tidak mengenali siapa wanita itu, yang pasti jelas kalau si pria adalah Angkasa. Artinya, pria itu sudah selingkuh di belakang Clara.


"Apa sih, jangan buat gue mati penasaran deh," ujar Clara menaruh perhatian lebih pada Vera yang masih terlihat bingung. Menghentikan untuk sesaat kegiatannya saling berbalas pesan dengan Angkasa, yang mengatakan lusa baru kembali ke Jakarta.


"Cla, kalau gue ngomong nanti, lo janji gak akan marah, ya?"


"Ada apa sih? masalah serius banget kayaknya."


Vera mengangguk. Dia sudah meyakinkan hatinya kalau dia lebih baik mengatakan yang sebenarnya pada Clara.


"Janji dulu."


"Iya, gue janji."


"Cla, kemarin kan pas nemenin nyokap belanja bulanan, gue... gue berpapasan dengan Angkasa. Dia jalan sama cewek lain."


Hening sejenak. Vera sudah siap menerima amukan atau pun makian Clara padanya. Vera tahu sendiri, betapa bucin sahabatnya itu pada Angkasa.


"Huaaaaahahaa...."


Bukannya marah, Clara justru tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Vera yang tadi sempat tegang, kini menjadi heran.


"Apa sahabat gue jadi gila seketika mendengar kabar ini, ya?" batin Vera bengong melihat Clara yang masih terus tertawa.


"Cla, lo stres ya, sampe-sampe gak bisa berhenti tertawa?"


"Gue gak stres, cuma geli aja. Mungkin lo harus nambahi min kaca mata lo deh, Ver. Yang lo lihat kemarin itu bukan Kasa. Orang cowok gue lagi di luar kota kok. Ada urusan bisnis," terang Clara masih menyisakan tawanya.


"Tapi gue yakin itu Angkasa, Cla."

__ADS_1


"Kalau itu emang Angkasa, dia pasti negur lo, kan?"


Vera diam. Menimbang dalam hati. Apa iya pria yang dia lihat itu bukan Angkasa? Kini ragu mulai menguasai pikirannya.


***


Sedikitpun Clara tidak memikirkan ucapan Vera. Dia yakin sahabatnya itu salah orang. Buktinya, Angkasa masih tetap menghubunginya, walaupun memang setiap komunikasi baik lewat pesan atau telepon, pasti Clara yang lebih dulu memulai.


Tapi Clara tidak menampik, ucapan Vera sedikit, hanya sedikit membuatnya semakin takut kehilangan Angkasa. Bukan tidak banyak wanita yang diluar sana yang menginginkan posisinya saat ini.


Zaman sudah semakin edan, dimana para wanita tidak akan puas jika tidak mendapatkan atau menggoda suami atau kekasih orang lain.


Demi mengurangi rasa gelisahnya, Clara menghubungi Angkasa, tapi nada sibuk pada nomornya membuat Clara membatalkan niatnya, dan memilih untuk berendam di bathtub.


Aroma terapi selama berendam tadi membuat tubuhnya rileks dan merasa ngantuk. Ingat kalau dia belum makan malam dan perutnya juga minta diisi, Clara turun berniat membuat segelas susu coklat sebelum dia tidur.


Saat keluar dari kamarnya, telinganya mendengar suara cekikikan dari kamar ayahnya.


Itu suara Tiara, sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon, tapi dari cara dia yang bicara dengan nada mesra, entah mengapa feeling Clara bilang itu bukan dengan ayahnya yang saat ini ada di Bali untuk urusan bisnis.


"Aku sudah merindukanmu, padahal kita baru saja bertemu siang tadi," ucapnya mesra. Bulu kuduk Clara berdiri. Perasaannya mulai tidak enak mendengar hal itu.


"Janji ya sayang, besok kita ketemuan lagi. Apa aku datang ke kantor mu lagi?"


Kini Clara yakin kalau ibu tirinya sedang bicara dengan pria lain. Dia tidak mungkin bicara dengan ayahnya semesta itu. Selama mereka menikah tiga bulan ini, sikap Tiara malah semakin dingin. Clara sudah mulai percaya pada Tiara, tapi apa yang dia dengar malam ini, membuatnya meragukan wanita itu lagi.


"Kalau sampai lo bohongi bokap gue, lihat aja nanti, gue akan buat perhitungan sama lo!"


***


Pikiran Clara tersita oleh percakapan yang dia dengar dari kamar ayahnya. Kasihan ayahnya jika selama ini ternyata dibohongi oleh istrinya itu. Didepan Agus, Tiara selalu bersikap sopan seolah menjadi istri yang taat dan setia. Nyatanya?


"Kok bengong? Kenapa?" Sikut Vera membuyarkan lamunan Clara.


"Kalau gue bilang nyokap tiri gue selingkuh, lo percaya, gak?" Tanya Clara menjawab pertanyaan Vera dengan pertanyaan.


"Gue gak bisa jawab, Cla. Gue kan gak kenal nyokap baru lo."

__ADS_1


Clara diam, membenarkan ucapan Vera. Saat ingin mengatakan sesuatu, teman sekelas mereka Mimi mendatangi dan menyerahkan dua buah undangan. "Lo pada datang ya ke party gue ntar malam."


Baik Clara ataupun Vera membaca yang mengangguk, tanda mereka akan datang.


"Gue gak punya gaun, gimana dong?" ucap Vera mengerutkan kening.


"Habis ini kita ke rumah gue aja. Kita berangkat dari sana. Lo pake baju gue."


Selayaknya para gadis muda, keduanya penuh semangat saat mempercantik diri dengan riasan. Vera lebih bersemangat lagi kala melihat gaun-gaun Clara yang cantik-cantik dan pastinya mahal.


"Pasti gaun ini lo beli di luar negeri, ya? Gila, bagus-bagus banget."


"Kalau lo suka, ambil aja. Lo tahu sendiri


gue paling malas pakai gaun kalau gak terpaksa."


"Eh, by the way, pada kemana semua orang-orang, sepi amat rumah lo?"


"Bokap gue masih belum pulang. Lusa baru balik dari Bali. Nyokap tiri gue gak tahu kemana," jawab Clara yang tengah sibuk menghubungi Angkasa sejak tadi, tapi nomor pria itu tidak aktif. Bahkan pria itu tidak menghubunginya pagi ini setelah melihat panggilan darinya semalam.


Satu sisi Clara merasa Angkasa tidak bersungguh-sungguh padanya, di satu sisi kala pria itu berkata lembut kala mereka bertemu, Clara yakin kalau Angkasa menyukainya. Tapi masa iya orang pacaran seperti mereka yang jarang komunikasi?


"Cla, gue lapar. Makan, yok?"


Clara hanya mengangguk, bangkit dari ranjangnya membawa Vera ke dapur. Di anak tangga terakhir, mereka berpapasan dengan Tiara yang tampaknya baru saja pulang. Akhir-akhir ini dandanan Tiara tampak lebih seksi dan riasan di wajahnya terlihat sangat tebal, sangat berbeda kala mereka pertama kali bertemu, atau pun seminggu setelah menikah dengan ayahnya.


"Loh Cla, udah pulang?" Sapa nya tersenyum ceria.


"Udah," jawabnya asal. Sejak mendengar percakapan Tiara semalam, entah mengapa Clara jadi kembali tidak menyukai ibu tirinya itu.


"Ini teman kamu?" Ucapnya melihat ke arah Vera yang terdiam mematung memandangi Tiara.


"Iya. Ini Vera. Ver, ini Tiara, istri bokap gue. Udah ya, kita mau makan," ucap Clara berusaha bersikap tenang, tidak menunjukkan rasa bencinya pada Tiara. Dia juga tidak mau berburuk sangka, siapa tahu ternyata itu hanya obrolan dengan sahabatnya. Kadang kalau sudah terlalu kompak dengan seseorang, cara ngobrol pun layaknya orang pacaran.


"Kenapa lo bengong? kayak habis lihat setan?" Sikut Clara membuyarkan lamunan Vera.


"Gue harus bilang apa, Cla. Ibu tiri lo adalah wanita yang gue lihat jalan sama pacar lo!"

__ADS_1


__ADS_2