Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 47


__ADS_3

Clara tidak menyangka kalau pria yang ingin dia lupakan itu kini muncul di hadapannya. Clara tebak, pria itu pasti baru keluar dari rumah sakit karena, Desta menggantikannya untuk memberi izin kepada Angkasa untuk memperbolehkannya pulang hari ini.


Clara bukan ingin menghindari pria itu sehingga tidak masuk kerja, tapi kerena memang karena sakit. Mungkin karena terlalu kelelahan dan juga pola makan yang tidak teratur membuat Clara demam kemarin malam.


"Aku ingin bicara denganmu," ujar Angkasa.


Sebisa mungkin Clara meredam debar jantungnya yang bertalu, tatapan Angkasa yang tajam membuatnya semakin gelisah.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Clara dingin. yang bisa tidak ada lagi harus mereka bicarakan. Masa lalu mereka sudah jauh meninggalkan mereka.


"Boleh aku masuk?" tanya Angkasa melirik ke dalam rumah, memastikan apakah orang yang selama ini menentang hubungan mereka ada di rumah saat itu.


Sebenarnya Clara ingin sekali menolak, tapi tidak enak hati. Terlepas dari masa lalu mereka Angkasa adalah pasiennya. "Silakan," ucapnya tidak punya pilihan lain.


Bi Inem pelayan setia mereka, diminta Clara untuk membuatkan teh untuk Angkasa. Sama halnya dengan dengan Clara, pelayan itu juga terlihat terkejut mendapati sosok angkasa di ruang tamu mereka. "Baik, Non," ucapnya berlalu.


"Apa sebenarnya ingin kau katakan hingga kau harus jauh-jauh datang ke tempat ini?" tanya Clara to the points. Dia dia tidak ingin Angkasa berada lebih lama di rumahnya. Clara harus mengamankan jantungnya, berbahaya jika berada di dekat Angkasa lebih lama lagi.


"Sepertinya kedatanganku mengganggu waktumu, ya? Kau terlihat tidak senang akan kedatanganku? Apa kau takut ayahmu akan kembali mengusirku seperti dahulu makanya kau ingin aku buru-buru pergi dari sini?" ucapkan Angkasa dengan sinis.


"Kau tidak perlu mengatakan hal ini dan itu yang tidak masuk akal, sekarang kau datang ingin menyampaikan sesuatu padaku maka katakanlah. Maaf aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, aku harus beristirahat agar besok bisa bekerja," balas Clara dengan tegas. Dia membenci sikap angkuh Angkasa. Waktu tidak mengubah pria itu, dia tetap saja seperti dulu hanya, mengandalkan pikirannya sendiri dan menyimpulkan sesuka hatinya.

__ADS_1


"Aku ingin tahu apakah ingatanmu sudah kembali!"


"Aku rasa itu bukan urusanmu," jawab Clara kesal. Dia pikir pria itu datang untuk meminta maaf padanya, bahkan kalau Clara beruntung, dia berharap bahwa Angkasa akan menjelaskan mengenai kehadiran Whitney diantara mereka.


Diantara mereka? bukankah diantara mereka sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi? Clara malu dengan pemikirannya sendiri. Dia terkesan masih mengharapkan Angkasa.


"Clara, apa kau pernah memikirkanku satu hari dalam hidupmu setelah kau pergi dariku? tanya Angkasa menatap tajam mata gadis itu. Dia ingin mengunci pandangan Clara, agar wanita tidak bisa mencari celah untuk berbohong, memberikan jawaban yang sama sekali bukan dari hatinya.


Clara yang ditanya seperti itu hanya bisa membeku. Hatinya menjerit, "Tentu saja aku memikirkanmu di setiap hari-hariku setelah aku pergi menjauh darimu. Tidak sehari pun aku melewatkan waktuku, tanpa berharap kau datang mencariku. Bahkan saat aku melihatmu bersama wanita lain hatiku menangis, tapi masih pantaskah kau mendapatkan jawaban dariku?"batin Clara dengan tatapan yang masih terkunci.


Tiba-tiba dari sudut matanya meneteskan cairan bening. Angkasa yang melihat hal itu sudah tidak membutuhkan jawaban lagi itu. Air mata itu adalah jawaban yang paling tulus yang dia butuhkan dari Clara.


Pria itu berpindah tempat duduk di samping Clara. "Kalaupun saat ini kau mengatakan bahwa kau tidak mengingatkanku, kau sudah melupakanku maka simpan untuk dirimu sendiri, karena air matamu sudah menjelaskan bahwa di hatimu masih ada aku," ujar Angkasa, kedua tangannya menghapus cairan bening yang semakin banyak turun.


Gadis itu tidak ingin menjadi pelakor. Dulu rumah tangganya hancur karena seorang wanita yang berada di antara mereka. Clara tahu rasa sakitnya mengetahui pasanganmu bersama wanita lain. Dia pernah ada di posisi itu, jadi dia tidak mau Whitney merasakan apa yang dia rasakan dulu ketika Angkasa dan Tiara masih saling berhubungan di belakangnya.


"Untuk apa lagi kau tanyakan semua itu? jangan lagi membahas masalah kita saat kau dan aku sudah berpisah. Kita sudah memilih jalan hidup kita masing-masing sekarang di sisimu ada Whitney, cintai dan sayangi dia. Jangan pernah mendatangiku lagi karena itu akan melukai perasaannya," kata Clara berusaha mencoba ikhlas, walau terasa sulit.


"Aku tidak mencintainya, aku terpaksa bertunangan dengannya dan itu pun karena saran darinya untuk membantuku. Ibuku yang sedang sekarat mengharapkanku memiliki pasangan untuk menggantikanmu, saat itu yang aku pikirkan adalah agar ibu bisa pergi dengan tenang setelah mengetahui aku sudah punya tunangan."


"Ibu meninggal?" tanya Clara syok.

__ADS_1


"Banyak yang sudah terjadi setelah kau meninggalkanku. Ibu mendengar bahwa kita sudah bercerai, lalu dia jatuh sakit dan tidak lama setelah itu beliau meninggal."


Wajah lembut ibu Angkasa yang selalu bersikap baik padanya melintas dalam ingatannya, tiba-tiba tangisnya pecah. Dia merasa bersalah karena sedikit banyak dirinya ikut menyebabkan kematian ibunda Angkasa.


Tangis Clara semakin pecah, tubuhnya bergetar hingga Angkasa menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


"Sudah, Cla. Jangan menangis lagi, mama sudah tenang bersamaNya." Angkasa terus mengusap punggung gadis itu agar menjadi tenang.


Perlu beberapa menit untuk Clara bisa kembali menguasai dirinya. Tangisnya reda hanya tersisa isakan. Dia memperhatikan baju Angkasa yang sudah basah oleh air matanya.


"Aku minta maaf, aku larut dalam kesedihanku. Aku turut berduka atas kepergian mama," ucap Clara.


Angkasa hanya tersenyum lalu mengangguk lemah. Dia yakin, dari atas sana ibunya sudah melihat pertemuan mereka, dan pastinya berharap semoga bisa kembali bersama.


"Kau tahu papa juga sudah meninggal, itulah alasan mengapa aku kembali ke tanah air," ujar Clara lirih. Kali ini Angkasa yang terkejut.


Pantas saja sosok Agus tidak keluar. Padahal sejak tadi dia was-was sosok yang menakutkan akan keluar dari dalam rumah itu. Mertuanya sudah menghadap Sang pencipta. Dia bahkan tidak tahu kabar ini, tidak ada berita yang memuat tentang kepergian Agus.


"Papa meninggal dunia? tapi kenapa tidak ada media yang memberitakannya? Aku bahkan tidak tahu kalau papa sudah meninggal," ujar Angkasa masih menyimpan keterkejutannya.


"Semua itu saran dari om Budi, agar harga saham perusahaan Papa tidak turun."

__ADS_1


Kini Angkasa mengerti keadaannya. Perasaannya semakin kuat ingin melindungi Clara. Angkasa bisa menebak bagaimana rapuhnya gadis itu hidup sebatang kara.


"Cla, banyak yang sudah kita lalui bersama. Banyak air mata yang sudah kita korbankan rasa sakit hati dan kecewa yang kita alami tidak membuat kita bisa membuang perasa di hati. Kita dipertemukan lagi mungkin ini sudah takdir dari yang Kuasa. Aku mohon, Cla, kembalilah padaku."


__ADS_2