
Angkasa sudah mencoba menahan diri, dia menjauh dari Clara, nyatanya justru gadis itu yang menariknya hingga pertarungan malam itu tidak terelakan lagi.
Clara menjadi wanita seutuhnya. Ini pengalaman pertama baginya dan juga bagi Angkasa. Di bawah pengaruh minuman, Clara menuntut haknya sebagai istri.
"Aku istri kamu. Aku mau menuntut hak kulit. Lakukan kewajibanmu sebagai istri. Mungkin hanya di bawah pengaruh minuman ini aku berani mengatakannya, karena aku tahu, saat sadar, kau hanya akan memikirkan wanita itu." Clara terus saja bicara dalam pelukan Angkasa. Gadis itu bahkan sudah membuka seluruh pakaiannya, hanya tersisa dua lebar kain penutup di atas dan di bawah tubuhnya.
Dengan percaya diri menantang Angkasa yang kini duduk di sofa dan Clara santai duduk di pangkuannya.
"Clara, kamu akan menyesali semua ini besok pagi. Saat kamu sadar, kamu akan semakin membenciku," ucap Angkasa membelai rambut Clara, menyisipkan rambutnya ke balik telinganya.
"Aku gak peduli. Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, sekaligus membencimu? Hati ku sakit. Di sini sakit, Kasa!" Serunya membawa tangan pria itu ke dadanya.
"Kenapa aku gak bisa jadi wanita yang kau cintai? Kenapa harus istri ayahku?"
Angkasa diam. Dia sadar gadis itu sangat mabuk sekaligus merasakan sakit yang luar biasa dan dirinya lah penyebabnya. Kini justru dari dirinya pula gadis itu meminta penawar rasa sakitnya.
Angkasa menatap lekat wajah Clara yang cantik. Menyesali perbuatan jahatnya pada gadis itu.
"Aku bersalah. Ingatlah satu hal, aku siap menjadi sarang kebencianmu, saat esok kau bangun dan menyesali semuanya yang sudah terjadi antara kita malam ini. Entah besok, setelah kau sadar, apakah kau akan ingat atau tidak, tapi satu hal yang pasti, saat aku memutuskan menyentuhmu, maka hidupku adalah milikmu. Dan aku bersumpah tidak akan pernah menyakitimu lagi," ucap Angkasa menutup kalimatnya dengan ciuman yang panjang dan lama. Gairah kedua anak manusia itu bergejolak, keduanya merasa tengah terbakar, panas dan menginginkan lebih.
Angkasa membawa Clara menuju ranjang. Tempat yang menjadi saksi bersatunya mereka. Penuh perasaan, Angkasa menyentuh kulit mulus Clara. Berawal dari bibir hingga kini menjelajahi lehernya.
Lalu turun ke bawah, bermain di sana, menikmati apa yang ditawarkan Clara untuknya. "Kau begitu sempurna," bisiknya kembali melu*mat bibir sensual gadis itu yang sudah mulai bengkak karena ciuman panas yang mereka lakukan sejak tadi.
__ADS_1
Hanya terdengar lenguhan panjang dari bibir Clara saat angkasa memuja kedua miliknya yang menantang. Bermain dengan lidahnya. Satu tangannya menyentuh, mere*mas lembut bahkan bermain dengan puncaknya yang tampak merah muda. Seolah menimbang apakah ada sebesar telapak tangannya, tapi Angkasa memutuskan untuk menikmati saja, karena semua tampak pas di matanya.
Dia tidak menyangka Clara punya pesona yang luar biasa di balik pakaiannya yang sederhana, tanpa riasan yang berlebihan.
Nikmat itu tidak terperikan lagi bagi Clara saat pria itu sudah menyentuh bagian intinya. Mencium dan bermain di sana. Clara tersentak, tapi kembali terjerumus dalam pusaran kenikmatan yang baru kali ini dia cicipi.
Tangannya justru bermain dengan rambut Angkasa di bawah sana yang sibuk mencercap miliknya yang sudah basah dan siap.
"Aku mohon... cepatlah... ini menyiksa..."
Angkasa ingin memberikan malam yang terbaik bagi Clara. Ingin tampak sempurna bagi gadis itu walau Clara dalam keadaan mabuk.
"Katakan kau menginginkanku, katakan kau ingin aku berada di dalam mu," bisik Angkasa dengan suara parau, karena sejatinya dia pun saat ini sedang menahan gejolak yang sudah membakar tubuhnya sejak tadi.
Clara berubah liar. Mungkin perasaannya yang selama ini dia pendam membuatnya merasa ingin melepaskan hasrat yang memang dia miliki pada Angkasa.
Mengikuti instingnya, Clara naik ke tubuh Angkasa, menciumi leher hingga dada pria itu. Memberi jejak panas di sana. Hampir di semua permukaan dada bahkan perutnya, gadis itu memberi tanda merah.
Angkasa sudah bersiap di atas gadis itu. Mereka sama-sama sudah polos, tidak melekat sehelai benangpun.
"Jangan katakan membenciku, karena kau dilahirkan hanya untuk mencintaiku. Dulu, sekarang dan selamanya, hingga maut memisahkan kita," ucap lembut selembut ciuman Angkasa yang membungkam bibir Clara tepat saat pria itu memasukinya.
Angkasa tidak berhasil pada usaha pertamanya, dia kembali mencoba, dengan pelan, dan saat tiba di titiknya, dia menghujam keras, sekali dorong hingga benteng menjulang di dalamnya yang selama ini terlindungi, kini robek bersama cairan segar yang bisa dia rasakan.
__ADS_1
Terasa sakit dan perih kala Angkasa memasuki miliknya yang sempit, tapi rasa sakit itu perlahan hilang, ditenangkan oleh ciuman pria yang kini sudah menyatu dengannya.
Perlahan, dengan pelan rasa sakit itu hilang berganti dengan rasa nikmat yang diberikan Angkasa padanya setiap pria itu menggoyangkan tubuhnya.
Tidak ada ucapan hanya terlukis indah di wajah Clara penuh kenikmatan dan begitu puas, ketika keduanya mulai lagi menaiki puncak yang sama-sama mereka daki, dan berhasil sampai di atas sana, hanya rasa puas yang terlukis di wajah keduanya.
Angkasa menarik tubuh gadis itu, menyelimutinya bersama tubuhnya. Terlelap dengan membawa ingatan yang indah yang akan selalu bersemayam dalam hati mereka berdua.
***
Clara menggeliat, sinar mentari pagi samar menembus gorden hotel, membuatnya terjaga dari tidurnya yang lelap dan terasa nikmat.
Kehadiran Angkasa di sampingnya, membuatnya tersadar akan keadaannya. Dengan takut-takut, Clara mengintip ke balik selimut. Wajahnya pucat, saat mendapati dirinya tidak mengenakan apapun. Diliriknya kembali pria yang ada di sampingnya, sama dengannya tanpa pakaian.
Wajah Angkasa tampak masih sangat tenang, berlayar di samudra mimpi. Kepala Clara masih terasa sakit, sulit untuk mengingat yang terjadi.
Sedikit demi sedikit dia ingat kalau dia minum dan kemungkinan mabuk, tapi satu hal yang dia yakini kalau dia sudah berada bersama Angkasa di atas ranjang dengan keadaan seperti ini, pria itu pasti sudah memperko*Sanya.
Rasa sakit pada pangkal pahanya kembali memperjelas semua yang terjadi. Clara menangis, tanpa suara. Dia mengutuk kejam perbuatan Angkasa yang sudah memanfaatkannya saat dirinya tidak sadarkan diri.
Saat Tora menyarankan mereka minum untuk menyelamati diri mereka atas kerja keras mereka di desa itu, Clara yang awalnya menolak akhirnya mau minum juga karena malam itu memang sedikit dingin karena habis turun hujan, dan juga Clara tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak setia kawan.
Mungkin saat dia tidak sadar itulah, angkasa sudah merenggut kesuciannya secara paksa. Kebenciannya semakin menumpuk kini pada pria itu. Penuh amarah, Clara membangunkan Angkasa. Memukul lengan pria itu
__ADS_1
"Bangun, atau aku akan membunuhmu!" Pekiknya yang berhasil membuat Angkasa terjaga dari tidurnya.