
Tiara menunggu di depan informasi di rumah sakit itu, sementara Angkasa pergi menebus obat mertuanya dari dokter yang menangani Agus.
"Kita pulang," ujar Angkasa tanpa menoleh ke arah Tiara yang masih termangu, seolah rohnya keluar dari tubuhnya. Dia bangkit, mengikuti langkah Angkasa yang sudah jauh di depannya.
Sekali lagi Tiara memegang pipinya yang masih terasa panas bekas tamparan Angkasa di mobil tadi. Itu memang salahnya karena rasa frustasinya dicueki Angkasa dia memutar stir dan hampir saja mereka kecelakaan.
Untuk menyadarkan wanita itu, Angkasa harus menampar Tiara. "Hentikan kegilaan mu, Tiara. Kalau kau mau mati, maka mati sendiri aja, gak usah ngajak-ngajak!" umpat Angkasa penuh emosi.
Tiara sudah pernah dipukul ayahnya beberapa kali, dia sudah terbiasa, tidak pernah diindahkannya, tapi ketika yang melakukan adalah Angkasa, hatinya tergores sakit. Selama pacaran dengan pria itu dulu, dia tidak melakukan kekerasan, jangankan memukul untuk berbicara kasar saja dia tidak pernah.
Tiara sesak, hatinya bertanya-tanya, apakah benar di hati Angkasa benar-benar sudah tidak ada dirinya? Kenapa Tiara merasa tidak terima?
***
Setelah menyerahkan obat pada Tiara, tanpa menunggu komentar Angkasa pun naik ke atas. Dia ingin mencari Clara, entah mengapa ada dorongan ingin memeluk wanita itu.
"Aku pikir kamu udah tidur," sapanya masuk ke dalam kamar, mendapati gadis itu rebahan di tempat tidur bermain ponsel.
"Belum ngantuk!" ucapnya ketus. Dia tidak ingin pria itu menganggap kalau dia bel tidur hingga saat ini karena menunggu suaminya itu pulang, walaupun memang itu yang sebenarnya.
Clara sungguh tidak tenang sejak kepergian mereka. Tadi dia sudah ingin mengajukan diri untuk ikut, tapi tidak jadi karena Tiara langsung mengatakan kalau sebaiknya Clara menjaga Agus saja di rumah.
Angkasa hanya tersenyum melihat istrinya yang berusaha mempertahankan harga dirinya yang tinggi. Dia masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya kembali. Dia tidak ingin sedikitpun bau Tiara menempel padanya.
Melihat Angkasa yang keluar hanya dengan lilitan handuk, Clara menegakkan tubuhnya, mengerutkan kening. "Kenapa mandi lagi? Bukan tadi mau berangkat menyempatkan mandi?" Wajah Clara sudah menunjukkan kerisauannya.
Dia benci dengan isi pikirannya. Dia ingin menghalau tapi tidak bisa, tetap saja bersarang keraguan pada Angkasa. Apa yang kedua orang itu lakukan saat berada di luar tadi?
"Gerah, Sayang...," sahut Angkasa mengedipkan sebelah matanya ke arah Clara yang berhasil mengirimkan gelenyar hangat di hatinya hanya karena panggilan sayang.
"Kenapa lama baru pulang?" Clara tidak bisa menyembunyikan perasaan ingin tahunya.
Angkasa tidak menjawab, terus memakai bajunya dan setelahnya lalu duduk di dekat Clara.
__ADS_1
"Kami hampir kecelakaan tadi. Tiara bertindak gila lagi. Dia hampir membuat kami kecelakaan dengan memutar setir, dan- aku terpaksa menamparnya."
Mulut Clara menganga tidak menyangka kalau seperti itu kejadian. Mendengar Angkasa hampir mengalami kecelakaan mengapa membuat hatinya takut.
"Apa dia akan cerita pada papa?" Tanya Angkasa menatap wajah Clara. Gadis itu membuang muka, tidak sanggup menerima tatapan yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang.
Kalau pun nanti Tiara mengadu dan ayahnya marah pada Angkasa, dia bersedia membela suaminya itu. Dia percaya pada Angkasa setelah melihat sikap Tiara yang selalu berusaha mencari jalan untuk berduaan dengan Angkasa atau untuk sekedar mengambil perhatian pria itu.
Asik bicara di kamar, tidak lama terdengar suara ribut dari kamar ayahnya. Clara ingin segera berlari ke sana, tapi tangannya segera ditarik Angkasa. "Biarkan dulu, itu urusan rumah tangga mereka."
"Tapi kalau terjadi hal buruk pada papa?"
Angkasa setuju, mereka tidak bisa mengambil resiko sekecil apapun. Keduanya keluar dengan langkah pelan.
"Apa yang kau bicarakan? Apa kau sadar atas apa yang kau bicarakan itu?" Terdengar suara Agus nyaris hampir berupa teriakan.
"Aku bersumpah, aku mengatakan yang sebenarnya." Kali ini mereka mendengar suara Tiara bersamaan dengan tangisannya.
Tidak lama terdengar suara langkah tergesa-gesa yang mendekat ke pintu kamar mereka. Angkasa segera menarik tangan Clara untuk menjauh. Ingin kembali ke kamar sudah terlambat, keduanya memilih untuk turun ke ruang keluarga.
Pria itu sudah menebak, kalau Tiara akan mengadu, dan berharap semoga wanita busuk itu tidak memutar balikkan fakta.
"Angkasa!" Teriak Agus dari anak tangga teratas, penuh amarah mendatangi mereka.
Angkasa tidak gentar. Cepat atau lambat hari ini akan datang. Dia sudah perhitungkan hal itu. Dia hanya berdoa, semoga apapun yang terjadi, Clara tetap percaya padanya.
Kini kedua pria itu sudah saling berhadapan. Dari belakang Agus tampak Tiara juga ikut turun, sembari terus menangis terisak seperti wanita yang terzolimi.
"Pa..."
"Diam kamu!"
Bbuk! Angkasa menerima satu pukulan dari Agus yang mendarat mulus di wajahnya.
__ADS_1
"Papa...!" Pekik Clara berlari menghampiri Angkasa yang sempat mundur selangkah saat menerima pukulan Agus.
"Lepaskan bajingan ini! Minggir Clara, biar papa habisi bang*sat ini!"
"Papa, hentikan. Aku mohon!" Seru Clara berdiri di antara keduanya. Clara membelakangi Angkasa menghadap pada ayahnya. Dia bersedia menjadi tameng untuk suaminya.
"Papa bilang minggir. Pria seperti dia tidak pantas kamu lindungi. Papa mau kamu bercerai dengan dia!"
Sontak semua orang kecuali Agus membelalakkan matanya. Dia tidak pernah masalah tamparan yang diceritakan Angkasa tadi akan membuat ayahnya begitu marah hingga ke ubun-ubun.
"Apa yang papa bicarakan? Kenapa aku harus bercerai dengan Angkasa?"
"Karena dia pria brengsek! Kamu mau tahu apa yang telah dia lakukan pada Tiara? Dia menamparnya!"
Clara diam sesaat mengumpulkan semua keberanian dan juga energinya. Dia akan tetap berdiri di samping suaminya.
"Menyingkir dari sana, Cla. Papa akan menghajar pria ini! Dasar pria tidak punya moral! Apa kamu mau punya suami seperti ini?"
"Mas Kasa sudah menceritakan semuanya, Pa. Dia punya alasan untuk menampar Tiara saat itu!"
"Oh, iya? Papa ingin tahu apa alasan dia?" Tantang Agus dengan dada naik turun karena emosi yang bergemuruh.
"Tiara ingin membuat mereka kecelakaan dengan mengambil kendali setir, kalau Angkasa tidak menampar Tiara, maka mereka bisa mati dalam kecelakaan itu, Pa."
"Itu semua bohong. Penipu ini sudah mencuci otak kamu. Dasar bajingan, jangan harap kamu bisa menipu saya, jangan harap kamu bisa bersembunyi di balik pernikahanmu dengan putriku."
Clara menatap heran pada Agus. Ayahnya itu selama ini selalu bisa mengontrol emosi dan berpikir dua kali sebelum melepas amarahnya. Sebenarnya apa yang sudah dikatakan Tiara pada ayahnya itu.
"Mas... aku takut, Mas," ucap Tiara mendekat dan menyentuh lengan Agus.
"Sudah, kamu jangan takut, aku akan melindungimu. Manusia bejat seperti ini yang harus diusir dari sini!"
"Papa sadar. Apa papa lebih memilih mereka mengalami kecelakaan?" Clara masih belum mengerti jalan pikiran Agus. Harusnya dia bertanya mengapa istrinya itu melakukan hal itu. Clara yakin wanita itu pasti sudah memutar balikkan keadaan hingga semua kesalahan jatuh pada Angkasa.
__ADS_1
"Papa, aku minta maaf karena sudah memukul istri papa, tapi wanita itu memang sudah kehilangan akalnya." Kali ini Angkasa angkat bicara. Pembelaan Clara atas dirinya sudah memberikannya keberanian membuka aib ini.
"Tutup mulutmu! Aku gak mau dengar apapun dari orang seperti mu. Segera tinggalkan rumah ini, dan ceraikan anak saya!"