Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 44


__ADS_3

Begitu Clara tiba di Indonesia, gadis itu langsung menuju rumah sakit untuk bertemu dengan ayahnya. Pak Budi, tangan kanan ayahnya sekaligus pengganti Burhan menyambutnya dengan wajah sedih


"Bagaimana keadaan Papa, Om?" tanya Clara sedih. Matanya sudah merah akibat menangis sepanjang perjalanan.


"Dokter sedang mengupayakan penyembuhan tuan Agus. Kita semua berharap tuan akan baik-baik saja," jawab pak Budi.


Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya pintu operasi dibuka dan beberapa tim medis yang mengurus ayahnya keluar dari ruangan itu.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Clara dengan air mata yang tidak bisa disembunyikannya.


"Kami sudah mengupayakan yang terbaik. Terjadi komplikasi pada tubuh tuan Agus akibat penyakit yang dideritanya."


"Bagaimanapun saya mohon selamatkan ayah saya. Lakukan apapun untuk menyelamatkan ayah saya, Dokter, saya mohon..." ucapnya terisak.


"Kami minta maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Sebaiknya anda segera menemui pasien. Pastinya beliau juga ingin bertemu dengan Anda untuk yang terakhir kali," terang sang dokter dengan penuh simpati.


Begitu Clara masuk, tatapannya hanya berpusat pada wajah pucat ayahnya yang berbaring di ranjang rumah sakit dengan keadaan tidak berdaya. Beberapa selang yang dipasang di tubuhnya, membaut kesedihan Clara bertambah. Napas pria itu pun terdengar lemah.


Clara mendekat menggenggam tangan ayahnya seolah itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.


"Papa, ini Clara datang, Pa," bisiknya disela tangisnya.


Keadaan Agus saat ini membuatnya tidak bisa menjawab panggilan putrinya. Dia hanya bisa mendengar dan tetesan air mata di sudut matanya menandakan kalau dia begitu gembira bertemu dengan putrinya itu.


"Papa tahu, aku sekarang sudah ingat semuanya," ucapnya sembari menghapus tetesan air mata di pipinya. "Aku ingat kenangan indah kita saat bersama mama. Papa aku merindukan, maafkan aku, anak yang tidak berbakti ini. Seharusnya aku ada bersamamu saat ini, saat di mana papa membutuhkanku," ucapnya.

__ADS_1


Pak Budi yang ada di sudut ruangan, tidak kuasa dan akhirnya ikut meneteskan air mata.


Agus akhirnya menghembuskan napasnya. Duka yang mendalam begitu dirasakan Clara atas kepergian ayahnya. Tidak ada siapapun yang menemaninya saat dia butuh sandaran. Kepergian ayahnya membuat Clara sadar bahwa kini dia sudah sendiri, dia harus kuat demi melanjutkan hidupnya.


Pemakaman Agus digelar hari itu juga. Clara masih setia menangisi kepergian ayahnya dengan memeluk batu nisan Agus. Clara begitu terpukul, dia hancur sehancur-hancurnya. Penyesalan terbesarnya adalah ketika ayahnya memintanya untuk kembali ke negara ini Clara menolaknya hanya karena merasa takut bertemu dengan Angkasa. Lantas apakah kesalahannya itu patut dilimpahkan kepada Angkasa?


"Sudahlah Clara sebaiknya kita pulang," ucap Tomi, pengacara keluarga mereka. Hari ini Pak Tomi akan membacakan wasiat yang ditinggalkan oleh Agus.


Sebenarnya Clara tidak peduli mengenai harta warisan ayahnya tetapi karena pengacara itu mengatakan Agus juga meninggalkan sepucuk surat untuknya yang dia tulis ketika dokter sudah memvonisnya mengidap penyakit kronis.


Rombongan keluarga Clara tiba di rumah. Di dalam ruang kerja ayahnya, Clara yang duduk dengan menunduk mendengarkan setiap baris kalimat dari Tommy.


Walau tidak dibacakan pun, semua orang juga pasti sudah tahu kalau harta warisan Agus akan diserahkan seluruhnya kepada putri satu-satunya yaitu Clara.


'Clara putriku,


Saat kamu membaca surat ini, papa pasti sudah tidak berada di dunia ini lagi. Papa harap kamu tetap kuat. Jangan larut dalam kesedihan atas kepergian Papa. Raihlah kebahagiaanmu.


Clara, Papa sangat menyayangimu, papa ingin sekali menghabiskan saat-saat terakhir Papa bersamamu, tapi Papa tidak mau memaksa kamu untuk ikut pulang dengan Papa. Maafkan papa, Cla, saat terakhir mengunjungimu di luar negeri sebenarnya ingin mengatakan mengenai kesehatan Papa yang memburuk, tapi Papa tidak sanggup, tidak ingin melihatmu menangis dan bersedih atas keadaan papa.


Clara, Papa banyak bersalah kepadamu, harusnya Papa tidak memaksamu bercerai dengan angkasa. Di saat terakhir, Papa baru tahu kalau ternyata Tiara sudah membohongi Papa. Ternyata anak yang saat itu dia kandung adalah darah daging papa. Dia menggugurkannya hanya demi bisa bersama Angkasa.


Papa bersalah kepada Angkasa yang tidak mempercayainya saat itu, justru memintanya untuk meninggalkanmu. Jika kamu memang mencintai Angkasa maka kejarlah cintamu. Papa berharap dengan atau tanpa ingatanmu yang dulu, kamu akan bahagia.


Salam sayang, Papa.'

__ADS_1


Clara kembali melipat surat itu, menyatukannya dengan surat wasiat ayahnya. Dia akan menyimpannya sebagai kenangan, selayaknya harta karun dari peninggalan ayahnya.


Gadis itu menarik napas panjang. Dalam suratnya, ayahnya menjelaskan mengenai Angkasa dan memintanya untuk mengejar pria itu jika memang dia adalah orang yang Clara cintai. Tapi apa gunanya? ini sudah sangat terlambat.


"Angkasa apakah masih mungkin ada cerita antara kau dan aku? sementara di sisimu sudah ada dia, Ataukah aku harus melupakanmu saja dan mencari kebahagiaanku sendiri? tapi di mana kebahagiaanku berada? sejauh aku melangkah hingga kembali ke tempat ini aku tetap bisa menemukan orang yang bisa menggantikanmu dalam hati."


Demi menjaga Marwah ayahnya Clara memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Lagi pula lulusan terbaik di luar negeri seperti dirinya tentu akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan di negerinya sendiri.


Tidak sampai satu bulan Clara diterima bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta.


Untuk urusan perusahaan ayahnya, Clara mempercayakan kepada Pak Budi yang tidak lain juga masih kerabat mereka sendiri.


Saat ayahnya masih hidup, beliau sudah memperkenalkan Budi sebagai orang yang jujur, jadi Clara percaya kalau Budi akan bisa mengembangkan perusahaan ayahnya.


"Terima kasih kamu sudah mau bergabung di rumah sakit ini. Perkenalkan ini anak saya, dokter Desta," ucap kepala rumah sakit sekaligus pemilik rumah sakit permata bunda.


"Saya Clara," ucap Clara menyodorkan tangannya ke hadapan dokter muda dan tampan itu. "Senang bertemu dengan Anda."


"Sama-sama, Dokter. Semoga kita bisa menjadi tim yang kompak," ujarnya tersenyum, yang sempat menarik perhatian Clara.


Sejak perkenalan itu Clara dan dokter Desta menjadi dekat. Keduanya sering menghabiskan waktu istirahat bersama-sama. Awalnya Clara merasa segan karena perhatian yang diberikan oleh dokter tampan itu, bagaimana tidak, bukan sekali atau dua kali, Desta membawakan sarapan pagi untuknya. Saat berkunjung ke luar kota atau melakukan perjalanan ke luar negeri sebagai utusan dari rumah sakit untuk menghadiri seminar, Desta juga tidak akan lupa membawa oleh-oleh untuk Clara.


"Jangan terlalu baik ah, nanti aku jatuh cinta loh sama kamu," goda Clara tersenyum. Tentu saja dia hanya bercanda dengan perkataannya itu.


"Kamu nggak tahu ya, tujuan aku justru ingin membuatmu jatuh cinta padaku."

__ADS_1


__ADS_2