Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 16


__ADS_3

Angkasa sudah menunggu kedatangan Clara, begitu juga keluarganya serta Agus dan Tiara yang masih saja cemberut.


Seseorang berbisik di telinga Angkasa yang berhasil membuat wajah pria tampan itu memucat. Bola matanya terbelalak mendengar kabar yang mampu menghancurkan hidupnya dalam sekali menjentikkan jari.


"Apa kau yakin?" Hardiknya dengan suara tertahan pada anak buahnya yang dimintanya untuk memanggil Clara karena acara akan segera dimulai.


"Saya yakin, tuan. Kami juga sudah mencari di setiap ruangan, tetap tidak ada.


"Ada apa? tanya Alma khawatir. Dia bisa membaca raut wajah gelisah putranya.


"Gak ada apa-apa, Ma." Angkasa berusaha menenangkan hati ibunya walau dia sendiri pun sudah pucat pasi.


"Om, Clara kemana? Kenapa dia malah kabur?" tanya Angkasa setengah berbisik pada Agus.


"Apa? Om gak tahu. Kenapa dia malah kabur kalau dulu dia yang minta dinikahkan dengan cepat?"


Bisikan keduanya terdengar oleh Tiara yang membuat wajah mendungnya kini berubah jadi cerah.


"Sepertinya arah mata angin masih berpihak padaku," gumamnya dalam hati.


"Kasa, jujur pada mama, ada apa? Apa pengantin wanitanya tidak ada? Tidak datang atau malah kabur?"


Angkasa tidak bisa menjawab. Dia bingung harus berkata apa, dan ayahnya juga menatap kecewa padanya karena Andre yakin kalau pernikahan ini batal, maka Alma akan semakin drop.


Dugaan Andre benar, tidak lama Alma pingsan. Semua orang yang hadir dan melihat begitu panik. Angkasa dan Andre membawa Alma ke rumah sakit terdekat dari gedung itu.


Jantung Alma semakin lemah. Dokter meminta keluarga untuk tidak memberikan guncangan padanya baik berupa kabar buruk atau hal yang buatnya semakin tidak ingin bertahan.


"Mama... Maafkan aku, Ma. Aku mohon mama bangun," ucap Angkasa di sisi ibunya yang masih belum sadarkan diri.


"Kasa, biarkan mamamu berisitirahat. Kita harus bicara. Ikut papa."


Angkasa meletakkan kembali tangan Alma lalu melangkah ke luar menyusul ayahnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pernikahanmu batal? Jangan bilang pada papa kalau gadis itu kau sewa untuk menjadi pengantinmu?"


"Kenapa papa bisa berpikiran sempit. Papa memang selalu memandang semua yang ku lakukan selalu salah."


"Buktinya? Katakan pada papa, mana calon istrimu? Kalau sampai mamamu siuman dan kau belum membawa gadis itu ke hadapannya, dia akan memilih untuk menyerah pada penyakitnya."

__ADS_1


Momok yang menakutkan bagi Angkasa, membayangkan ibunya pergi untuk selamanya. Kasa menatap lurus ke depan, memandang bunga di taman rumah sakit, sementara pikirannya terus tertuju pada Clara.


Apa yang membuat gadis itu meninggalkan nya di tengah acara pesta pernikahan mereka? Bukankah selama ini gadis itu memang menyukai dirinya? Bahkan terlihat ngebet padanya? Lantas hal gila apa yang membuatnya lari dari pernikahan ini?


Aku harus menemukan gadis sia*lan itu! Karena ulahnya mamaku hampir saja meninggal!


***


Angkasa mulai mencari di rumahnya, gadis tentu saja tidak ada. Lalu dia mencari ke kampus, tidak ada juga. Barulah setelah Angkasa memerintahkan mencari gadis itu melalui nomor ponselnya, Clara bisa ditemukan.


"Di sini kau rupanya?" Hardiknya setelah Clara keluar dari rumah Vera. Dari kemarin dia memang bersembunyi di sini, mengganti nomornya setelah tiba di rumah Vera. Jadi saat melacak nomor itu, tempat ini lah jadi titik terakhir nomor itu aktif.


Awalnya Clara tidak mau keluar. Tapi setelah Angkasa mengancam akan menghancurkan rumah itu dan mempersulit orang tua Vera yang hanya sebagai pengusaha kecil-kecilan.


"Ada apa mencariku?"


"Ada apa? Kau tanya ada apa? Kau masih bisa bertanya seperti itu? Kau pergi dari pernikahan kita!"


"Pernikahan yang kau butuhkan untuk menyenangkan orang tuamu, kan?"


"Maksudmu?"


"Jangan lupa kau juga setuju untuk kita menikah secepatnya."


"Yah, Awalnya aku memang menginginkan mu. Tapi tidak lagi, setelah..."


"Setelah Apa?" Desak Kasa penasaran.


"Gak penting! Intinya aku gak ingin berhubungan lagi denganmu, apalagi menikah denganmu!"


"Kau jangan macam-macam. Jangan mempermainkan ku!" Angkasa kalut, usahanya untuk membawa Clara semakin sulit. Angkasa semakin memegang tangan Clara dengan kencang, hingga membuat gadis itu merintih kesakitan.


"Lepaskan tanganku, kau brengsek! Aku membencimu. Aku mengutuk hari dimana aku jatuh cinta padamu!" Air mata Clara turun, dia semakin sakin dan semakin membenci Kasa.


Sementara pria itu terdiam, membeku kala Clara mengakui lagi kalau dia mencintai pria itu, setidaknya pernah ada masa itu. Kalau kini berubah menjadi benci, gadis itu pasti punya alasan.


"Mengapa kau membenciku? Bukankah kau mencintaiku?"


"Cuih! Aku tidak akan mencintai pria yang sudah berselingkuh dengan istri ayahku!"

__ADS_1


Angkasa terdiam. Wajahnya pias. Hal yang selama ini dia tutup rapat dari Clara, nyatanya diketahui gadis itu. Tapi dari mana dia tahu?


"A-apa?"


"Kenapa? Kau terkejut? Hahahaha... Jangan pasang tampang bloon seperti itu. Tidak pantas bagi pemain seperti mu!" Umpat Clara histeris. Vera yang mendengar dari dalam rumah hanya bisa berdoa semoga kedua orang yang sama-sama keras kepala itu tidak saling bunuh.


"Jadi, tuan Mahesa, apa menurutmu aku masih mau menikah dengan pria busuk seperti mu? Pria yang akan memiliki anak dari ibu tiriku tersayang? yang ternyata adalah mantan kekasihmu?!"


Angkasa semakin kehilangan kata-kata. Dia terjatuh lebih dalam lagi ke dalam jurang. Berapa dia sudah menyakiti hati gadis itu sejak lama. Tapi tunggu dulu, bayi katanya?


"Bayi apa maksudmu?"


"Gak usah berlagak bodoh. Kau pikir aku tidak punya bukti perselingkuhan yang kalian lakukan di rumahku? Di hari kau memberikan cincin breng*sek ini?!" Clara yang semakin tersulut emosi melepas cincin pemberian Angkasa malam itu, yang baru dia sadari masih dia kenakan di jari manisnya.


Angkasa memungut cincin itu. menggenggam dalam telapak tangannya sembari menutup mata. Dari semua kebohongan yang dia katakan pada Clara, memberikan cincin ini satu-satunya hal jujur yang dia lakukan.


Dia sengaja membelikan cincin itu kala hari itu dia lewat toko dan entah mengapa melihat cincin itu mengingatkannya pada gadis itu.


"Anak yang dikandung Tiara bukan anakku, tapi anak ayahmu. Selama aku berhubungan dengan Tiara sejak dulu, aku gak pernah menyentuhnya. Aku menghormatinya. Jadi, setelah aku tahu dia hamil, aku memilih untuk mundur, mengubur semua perasaanku padanya."


"Dan kau berharap aku akan percaya?"


"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Kau boleh minta pada ayahmu untuk tes DNA. Aku tidak takut. Aku memang menyukainya, tapi tidak pernah menyentuh dirinya lebih dari batas!"


Hening seketika. Clara sibuk dengan pikirannya, begitu pula dengan Angkasa. Clara tidak tahu apakah harus percaya atau tidak dengan perkataan Angkasa. Kalau benar itu adalah anak ayahnya, maka....


"Tuan, anda diminta Tuan besar kembali ke rumah sakit. Ibu kritis...."


Angkasa mengangkat wajahnya, menatap penuh harap pada Clara. Dia rela memohon di hadapan gadis itu, bila perlu bersujud, asal Clara mau menikah dengannya.


"Clara, aku tahu aku salah, dan mungkin tidak bisa kau maafkan, tapi aku mohon tolong aku. Bantulah aku sekali ini saja. Menikahlah denganku..."


*


*


*


Mau gak ya Clara nikah sama Mas Angkasa?🙄

__ADS_1


__ADS_2