
Hanya ada penyesalan di hati Agus ketika melihat anaknya yang masih belum sadarkan diri berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Agus bahkan tidak mau beranjak dari ruangan Clara.
"Mas, ayo kembali ke kamar mas. Jangan begini, toh kalau mas lihatin pun Clara tidak bisa langsung siuman."
"Ini salahku, Ra. Harusnya aku gak berdebat dengannya saat di mobil."
"Ini bukan salah Mas, tapi salah Angkasa. Seandainya dia gak masuk dalam kehidupan Clara, maka hal ini tidak akan terjadi!"
Agus merenung, menyesap perkataan Tiara yang dianggapnya masuk akal. Kebenciannya pun kini semakin menggunung pada pria itu.
Ingin sekali dia menghajar pria yang sialnya masih berstatus sebagai menantunya.
Agus menuruti Tiara. Dia memandang wanita itu dengan penuh haru dan rasa terima kasih. "Aku beruntung sekali memiliki mu di sisiku," ucapnya mencoba tersenyum. "Aku tidak bisa membayangkan apakah aku sanggup melalui ini sendirian."
"Sudah Mas. Aku akan selalu ada di sisimu," ucap Tiara dengan senyum munafiknya. Agus dan Clara mungkin tidak jadi mati, tapi gadis itu sudah koma, dan Agus, pria itu hanya tinggal menunggu kematiannya maka harta pria tua itu akan jatuh padanya.
***
Sebulan koma, akhirnya Clara bangun dari tidur panjangnya. Selama itu pula, Angkasa begitu setiap menemani Clara walau harus mencuri waktu agar tidak bertemu dengan Agus.
Namun, seminggu sebelum Clara siuman, Agus yang mengetahui kalau Angkasa masih mendekati anaknya, meminta anak buahnya untuk menjaga kamar Clara.
Orang yang pertama dilihat gadis itu adalah Agus, yang langsung dikenalinya sebagai ayahnya. Namun saat Tiara memperkenalkan diri sebagai ibu tirinya, gadis itu sama sekali tidak mengingatnya.
"Kamu gak ingat pada Tiara?" tanya Agus menatap wajah Clara. Tampak gadis itu berpikir, tapi rasa sakit yang menyentak membuatnya menyerah untuk mengingat. Dia hanya menggeleng lemah.
Dokter yang sudah memberitahukan masalah hilang ingatan sesaat yang dialami oleh Clara membuat gadis itu hanya mengingat kenangan dan orang-orang yang dulu ada dalam kehidupannya. Biasanya pasien sendiri yang akan memilih siapa yang tinggal dalam memorinya. Orang-orang itu adalah bagian terpenting dalam kehidupannya dan memberikan rasa nyama hingga terpilih menjadi orang yang dia ingat.
__ADS_1
Agus pun tidak ingin memaksa putrinya untuk mengingat lebih banyak. Seperti kata dokter, ini sifatnya hanya sementara, sewaktu-waktu ingatan Clara pun akan kembali dengan sendirinya.
"Ya sudah, lambat laun kamu juga pasti akan ingat aku. Mas, bisa ambilkan aku teh hangat?" pinta Tiara memberi kode agar Agus meninggalkan mereka.
Selepas Agus keluar, Tiara mengambil kesempatan untuk mencuci ingatan Clara sesuai dengan rencana yang baru saja dia susun setelah dokter menyatakan gumpalan dalam otak Clara membuat gadis itu hilang ingatan.
"Kita adalah teman dekat," ucapnya memulai narasi.
"Teman dekat?" tanya Clara seolah tidak yakin.
"Iya. Pertemuan kita dimulai saat aku menyelematkan nyawamu. Kamu hampir saja ditabrak mobil yang melaju, aku melihat hal itu dan berlari ke arahmu untuk menyelamatkan dirimu. Sejak itu kita berteman. Mungkin kamu lupa, tapi kamu sangat menyayangiku, sampai memintaku untuk menikah dengan ayahmu, karena memang ayahmu langsung jatuh hati padaku saat itu."
Kening Clara berkerut. Cerita Tiara sama sekali tidak masuk akal. Apa mungkin dia sampai menjodohkan wanita itu dengan ayahnya, yang dia sendiri benci mengetahui ayahnya menikah lagi.
Tapi karena dia sama sekali tidak ingat apapun, maka Clara memutuskan untuk percaya saja.
Semua kebohongan yang dikarang Tiara tampaknya begitu saja masuk ke dalam pikiran Clara.
Beratap terkejutnya dia, kala melihat ranjang kamar VIP itu sudah kosong. Rasa panik membuatnya menyeret kakinya secepat yang dia bisa menuju ruang informasi.
Entah dia harus senang atau malah sedih mendengar penjelasan dari dokter yang selama ini menangani Clara.
"Pasien sudah siuman, dan keluarganya sudah membawa pulang, hanya saja keadaan mbak Clara belum stabil. Gumpalan di dalam kepalanya membuatnya hilang ingatan sementara. Kemungkinan dia hanya mengingat kehidupannya jauh sebelum hari ini."
Seketika dunia Angkasa gelap. Pikirannya melayang pada kemungkinan yang menyakitkan yang bisa saja terjadi saat ini pada Clara dan dirinya. "Cla, kamu ingat aku gak? Apakah ada tempat dalam ruang memorimu untuk ku?" gumamnya berjalan lemas, keluar dari ruang dokter.
Hanya satu cara mencari tahu, apakah Clara masih mengingatnya atau tidak. Tapi seperti yang sudah dia duga sebelumnya, dia tidak diizinkan masuk untuk menemui Clara.
__ADS_1
"Clara...." teriaknya sekuat tenaga. Kedua anak buah Agus yang menjaga pintu masuk terus menghalangi Angkasa.
Penuh emosi, Angkasa yang sudah tidak peduli dengan apapun lagi, menghajar kedua orang itu hingga babak belur dah tersungkur di tanah, baru lah Angkasa melewati gerbang, dan masuk ke dalam rumah.
Clara yang mendengar namanya dipanggil berulang-ulang, keluar dari kamarnya dan tepat pada anak tangga paling atas, mereka saling berhadapan.
Clara mengamati Angkasa yang masih terengah-engah karena harus berlari menerobos masuk.
"Cla... akhirnya aku bisa melihatmu. Kamu sudah sadar, sayang?"
Clara jelas bingung, dia menatap aneh pada Angkasa. Clara sama sekali tidak mengingatnya. Dia ketakutan, baginya Angkasa adalah pria asing. Saat angkasa mendekat, Agus dan Tiara keluar dari kamar. Mereka yang juga mendengar teriakan itu ikut keluar karena mengenali pemilik suara itu.
"Berani-beraninya kau masuk ke sini!" Bentak Agus penuh amarah. "Ra, segera hubungi polisi!"
Keadaan semakin kacau. Angkasa tidak mempedulikan ancaman Agus. Dia mendekat ke hadapan Clara dan menarik tangan gadis itu masuk ke dalam kamar.
"Keluar kamu. Kenapa masuk ke kamarku? Kamu siapa? Aku gak mengenalmu!" Clara yang tampak ketakutan menjauh, mundur beberapa langkah hingga terduduk di tepi ranjang.
"Cla, kamu gak ingat aku? Aku Angkasa, suami kamu."
Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Clara, dan dengan ucapan tiba-tiba seperti itu, Clara tentu saja menganggapnya orang gila.
"Dasar pria gila. Pergi sana!"
"Cla, dengarkan aku, aku benar-benar suami kamu. Kita sudah nikah. Ini..., ini cincin pernikahan kita," ucap Angkasa menunjukkan cincin pernikahan mereka yang melekat di jemarinya. Saat Angkasa memeriksa jemari Clara, cincin milik wanita itu sudah tidak dikenakannya.
"Mana cincinmu?" tanya Angkasa panik. Clara tidak pernah melepaskannya. Apa saat di operasi kemarin, tim medis membuka perhiasan Clara? Lalu kemana cincin itu?
__ADS_1
Baru akan memberi penjelasan yang mungkin bisa membangkitkan kenangan Clara akan dirinya, pintu kamar yang dikunci Angkasa sebelumnya telah terbuka oleh dobrakan tiga orang pria raksasa.
"Seret pria breng*sek ini keluar!!"