
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Angkasa yang kini memilih untuk tinggal di Indonesia beberapa minggu ke depan, Clara hanya diam. Pikirannya melayang jauh keluar sana menembus kaca mobil yang tengah melaju.
Pikirannya berkecamuk masih terganggu dengan ucapkan Angkasa sebelum mereka berangkat tadi.
Pria itu tidak ingin punya anak dulu! Bukankah mereka menikah agar memiliki keturunan? Clara juga baru tahu kalau Angkasa tidak menyukai anak kecil. Alasan ingin memiliki dirinya seorang diri tanpa ingin diganggu anak, adalah pemikiran yang salah dan bagi Clara tidak masuk akal. Tapi pikiran itu hanya sebatas dalam diri Clara saja tanpa mau mengatakan kepada suami mengenai pendapatnya.
"Akhirnya kalian sampai juga," sambut Gisel tersenyum, dia langsung menggandeng Clara masuk ke dalam rumah itu rumah yang mewah. Salah satu aset yang keluarga Mahesa miliki di Indonesia, sebelumnya Andre dan Alma sempat tinggal di rumah ini ketika mereka baru menikah sebelum memutuskan untuk hijrah ke Australia.
Di dalam ruangan yang sudah didekor indah, beberapa keluarga sudah hadir. Mereka menyambut kedatangan pengantin baru dengan pelukan dan juga senyum ramah.
Acara penuh dengan canda dan tawa semua orang bergembira dan mendoakan Mereka segera memiliki anak.
"Oh tidak, aku sudah mengatakannya kepada Clara kami tidak akan memiliki anak dalam waktu dekat," potong Angkasa tertawa
"Kenapa begitu? kamu nggak mau ya papa bahagia saat menggendong cucu papa?" ujar Andre.
"Bukan begitu, Pa. Clara dan aku masih muda masih punya banyak waktu untuk punya anak. Aku masih ingin menikmati kebersamaan kami dengan tidak diganggu oleh kehadiran anak. Aku nggak mau perhatian Clara habis tersita hanya untuk anak kami."
"Kamu itu ya bisa aja Kalau cari alasan," ujar Gisel yang disambut tawa para tamu yang lain.
Clara tidak mau banyak bicara, hatinya sedih tidak terkira. Padahal dia berharap begitu menikah dia langsung mempunyai momongan karena kalau ditunda dia takut apakah dia subur atau tidak hingga nantinya saat tiba waktunya Angkasa ingin punya anak justru dia yang susah memberikan Angkasa keturunan.
"Kenapa dari tadi kamu diam aja sih? akhirnya Angkasa peka terhadap perubahan sikap Clara. Mereka baru saja tiba di apartemen dan setelah masuk ke dalam, Clara langsung masuk dengan cueknya ke kamar mandi.
Angkasa menatap heran, Clara yang ngeloyor masuk kamar mandi tanpa menjawab pertanyaannya tadi. Dengan sabar dia menunggu dengan duduk di tepi ranjang hingga istrinya itu keluar.
__ADS_1
"Ada apa sih, Yang? kalau emang ada yang salah diomongin jangan didiamin. Aku kan nggak ngerti kamu maunya apa," ucap Angkasa memeluk Clara dari belakang.
"Nggak papa, Mas. Udah kamu mandi dulu sana, aku mau bersihin wajah aku dulu," ucapnya berusaha melepaskan tangan Angkasa dari pinggangnya.
Sebenarnya Angkasa ingin meminta jatahnya lagi malam ini tapi melihat Clara yang sudah berbaring di sampingnya dengan memunggunginya, artinya Clara tidak ingin lagi bercinta dengannya malam ini. Jadi, Angkasa hanya memeluk istrinya dari belakang dan ikut mencoba untuk tidur.
***
"Wah, udah masuk kerja aja pengantin baru," sapa Desta yang mendapati Clara sudah duduk di mejanya.
"Kamu, Des. Iya dong, mau sampai kapan nggak masuk? banyak pasien yang membutuhkan kita, jadi cuti harus segera berakhir," ucapnya tertawa renyah.
"Memang Anda dokter teladan ya, mementingkan kepentingan masyarakat banyak di atas kepentingan pribadi," goda Desta sembari bertepuk tangan.
"Udah ah, jangan godain aku terus. Katanya ada pasien baru masuk ya yang harus dioperasi hari ini?"
"Dih, apaan sih kamu, udah ah, yuk aku temenin kamu visit," ujar Clara menarik tangan Desta.
Setidaknya dengan bekerja dia bisa melupakan kegelisahannya untuk sesaat, mungkin nanti kalau dia sudah siap untuk berbicara dengan Angkasa, dia akan membujuk pria itu dan mengubah cara pandangannya.
***
Malamnya Angkasa mulai mendekati Clara, pria itu tiba-tiba saja sudah berada di belakang mencium tengkuk wanita itu hingga punggungnya, menyampirkan tali gaun tidurnya hingga punggung mulusnya terekspos hingga bibir Angkasa dengan bebas bisa menjelajah setiap jengkal kulit mulus Clara. Ciuman itu berhasil membakar Clara, dia mulai panas hingga meremat sisi gaunnya agar tidak mendesah. Angkasa menggendong tubuh Clara menuju ranjang, membaringkan istrinya dengan lembut dan mulai mencium bibir Clara, perlahan hingga lama-kelamaan menjadi ciuman yang menuntut. Ciuman panas itu airnya dibalas, saling bertukar rasa cinta yang ada di antara mereka. Angkasa terus memburu, puas mencium bibir Clara tanpa lupa meninggalkan jejak panas di leher wanita itu. Angkasa lalu turun ke bawah bermain dengan dua milik Clara yang membusung tinggi, menantang untuk ditaklukkan.
Angkasa menghisap, menggigit dan mengulum serta meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Dia turun semakin ke bawah dan menciumi milik inti Clara bermain dengan lidahnya sehingga gadis itu mengerang dan kembali menghempaskan kepalanya ke belakang.
__ADS_1
"Mas..." de*sah Clara
"Iya, Sayang..." balasnya kembali naik dan melu*mat bibir Clara. Setelahnya Angkasa segera buka seluruh pakaian istrinya Dia sudah cukup terbakar dan ingin segera memasuki tubuh Clara.
Angkasa pun membuka boxernya, lagi-lagi Clara terkesiap melihat senjata milik suaminya yang begitu panjang dan besar, yang membuat Clara semakin panas.
Clara sudah siap, tapi bukan naik ke atas ranjang Angkasa justru berjalan ke arah laci nakas dan mengeluarkan pengaman yang ingin dia sarungkan ke senjatanya.
Bola mata Clara melotot melihat apa yang dilakukan Angkasa. Dia bergidik ngeri saat mendapati suaminya ingin menggunakan pengaman untuk bercinta dengannya, seolah dia seperti seorang pelacur yang dimainkan dengan menggunakan pelindung.
Tiba-tiba Clara turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Angkasa yang sedang sibuk menggunakan sarung pengamannya terperanjat yang menghentikan aksinya.
"Sayang, apa kabar baik saja?"
Sepuluh menit berlalu, tapi Clara belum juga keluar dari kamar mandi, sementara senjata Angkasa yang tadi sudah tegak dan siap lepas landas, akhirnya menciut kembali. Penuh kesal Angkasa membuang pengaman itu ke sembarang tempat, berjalan ke arah pintu kamar mandi dan menggedor pintu secara kasar.
"Clara, ada apa? keluar! apa yang terjadi? Kamu kenapa sih? kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Angkasa yang berubah menjadi kesal, hasratnya yang tadi sudah membumbung tinggi dan ingin dipuaskan kini menjadi turun dan tentu saja hal itu membuatnya uring-uringan serta kepalanya terasa sakit.
"Clara buka pintunya atau aku dobrak pintunya," ancam Angkasa yang sudah mulai habis kesabarannya.
Akhirnya mengalah, keluar dari kamar mandi dan memunguti pakaiannya dan mengenakan kembali. Angkasa hanya diam dengan berkacak pinggang memperhatikan tingkah istrinya.
"Sebenarnya ada apa ini? di mana-mana pengantin baru itu penuh dengan momen romantis, mesra, bukan malah marah-marahan seperti ini. Kalau kamu diam aja siapa yang tahu apa isi hatimu. Kalau kamu nggak suka atau ada yang kurang pas hatimu, diomongin, kasih tahu biar aku tahu harus apa," ujar Angkasa duduk di samping Clara.
Clara yang sudah memendam kekesalannya beberapa hari ini, memutuskan untuk buka suara.
__ADS_1
"Aku nggak setuju dengan keputusan kamu untuk memakai alat pengaman setiap kita bercinta. Aku bukan pelacur yang harus kau batasin dengan menggunakan alat itu!" seru Clara dengan penuh amarah.