
Kedua anak manusia itu serentak menoleh ke belakang, terkejut mendapati Agus yang sudah berdiri di belakang mereka dengan wajah penuh amarah.
"Om."
"Mas," ucap keduanya serentak.
"Dasar wanita sialan tidak punya hati nurani tega kamu membunuh anakku hanya demi mendapatkan pria ini. gimana perasaanmu sebagai seorang ibu kau membunuh darah dagingmu sendiri hanya demi memuaskan hasratmu!"
Tiara semakin panik bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan posisinya saat ini. Dia memilih mendekat ke arah Agus mencoba untuk menyentuh lengannya agar pria itu sedikit tersentuh.
"Mas aku mohon dengarkan aku. Kasih aku kesempatan, aku bisa jelaskan semuanya."
"Lepaskan! Kau tidak perlu menjelaskan apapun. Semuanya sudah jelas, harusnya dari awal aku memang tidak pernah menikahi wanita busuk sepertimu. Kau dan ayahmu sama saja, dalam pikiran kalian hanya ada uang, uang dan uang!"
"Dan kau," ucap Agus dengan tajam, kali ini dia menoleh ke arah Angkasa yang belum lepas dari rasa terkejutnya. "Aku datang ke sini mencarimu hanya ingin memberikan surat perceraian ini. Silakan tanda tangani dan aku kita anggap semuanya berakhir sampai sini!"
Angkasa menatap berkas yang disodorkan Agus padanya. Hatinya berat untuk menerima perceraian itu, ia tidak ingin bercerai dengan Clara, wanita yang kini mulai merasuki hatinya. Tapi dia juga punya harga diri. Rasa sakit yang diberikan Clara dengan cara meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun membuat harga diri Angkasa terluka.
Angkasa mengangguk dengan sorot mata tajam, mengambil berkas yang disodorkan Agus, dan mengeluarkan pena dari saku jasnya.
Dipandanginya sekali lagi isi surat itu. Dengan tangan gemetar, Angkasa membubuhkan tanda tangannya. Hanya perlu beberapa detik untuk mensahkan perpisahan itu. Akhirnya mereka sudah sah bercerai.
"Clara, dimana pun kamu berada aku berharap kamu bahagia," batinnya sembari menyerahkan kembali surat itu pada Agus.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Agus pergi meninggalkan keduanya. Begitupun juga Angkasa yang berlalu dari sana membawa sakit hatinya.
__ADS_1
Tiara berpikir sejenak siapa yang harus dia kejar, apakah Agus atau angkasa?
Angkasa jelas-jelas sudah menolak dirinya, mengatakan bahwa dia tidak akan pernah kembali padanya. Semua ini hanya permainan dari Angkasa.
"Lihat saja, suatu hari, aku akan membalas perbuatanmu padaku!" umpatnya menatap punggung pria itu yang sudah menjauh.
Memikirkan bahwa tidak ada lagi peluang yang bisa diraihnya bersama Angkasa, Tiara memilih untuk mengejar Agus.
"Mas aku mohon dengarkan. Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku tahu aku salah, Mas. Tolong, Mas, aku ingin kembali padamu," ucap Tiara dengan suara memelas, mencoba menahan pintu mobil Agus agar tidak melaju.
"Jangan pernah berharap! Tidak melaporkanmu ke posisi saja, sudah hal bagus untukmu! Satu hal yang perlu kau tahu, aku menyesal sudah menikahimu!"
***
Waktu berjalan cepat. Satu tahun di negeri orang membuat Clara sedikit bisa melupakan masa lalunya. Enam bulan di Jerman, Agus datang membawa berkas perceraian mereka yang sudah ditandatangani Angkasa beberapa bulan sebelumnya.
"Kamu belum mau pulang ke Indonesia?" tanya Agus saat mereka makan malam di salah satu restoran mewah.
"Aku nggak akan pulang dulu sebelum selesai kuliah, Pa. Atau mungkin aku akan sekalian cari kerja di sini aja," ucapnya mencicipi winenya.
Kedatangan Papanya yang membawa surat cerai itu, entah mengapa membuat relung hati Clara sakit. Dia dia memang belum mengingat semu tentang masa lalunya, tentang hidupnya dengan angkasa. Tapi satu hal yang pasti rasa sakit itu ada mengetahui diluar sana ada seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya kini menjadi orang asing.
Kini setelah menyelesaikan kuliahnya, Clara diterima di salah satu rumah sakit di Jerman. Dalam tiga tahun ini, Clara juga tidak membuka hatinya bagi pria manapun. Bukan dibuat-buat, kenyataannya memang sulit baginya untuk bisa menyukai seseorang.
Hari ini, seperti biasa sebelum berangkat ke rumah sakit, Clara singgah ke restoran cepat saji untuk membeli spaghetti bolognese dan secangkir kopi. Clara yang berjalan santai melihat seorang anak kecil yang terlepas dari genggaman ibunya, berlari mengejar bolanya yang terlepas dari pelukannya. Bola itu menggelinding hingga ke jalan raya. Anak kecil itu berlari mengambil tanpa melihat ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat.
__ADS_1
Melihat hal itu tanpa memikirkan hal lain, Clara berlari ke tengah jalan raya untuk menyelamatkan anak itu. Tepat mobil itu berhenti di depannya membawa satu ingatan pada Clara. Kepalanya berputar, sakit dan tiba-tiba saja Clara pingsan.
Ketika siuman, gadis itu sudah berbaring di ranjang rumah sakit. Dari seorang suster Clara mendapat informasi kalau dia pingsan di jalan setelah menyelamatkan seorang anak. Clara hanya diam mendengarkan suster itu bicara.
Tiba-tiba dia menangis, menyadari dirinya kini sudah mengingat semuanya. Dia ingat Angkasa, dia ingat kalau dia sudah menikah dengan pria itu sekaligus sudah bercerai.
Setelah dokter menyatakan dia boleh pulang, hari itu Clara menghabiskan waktunya di apartemen, memikirkan banyak hal. Memikirkan apa yang harus dilakukan. Apakah masih ada kesempatan untuk kembali pada Angkasa?
Selama ini gadis itu memang mengikuti berita mengenai Angkasa.
Baru-baru ini pria itu dinobatkan menjadi pengusaha muda sukses yang kini mempunyai banyak anak perusahaan. Dan kabar yang paling menyakitkan bagi Clara, Angkasa sudah tidak sendiri lagi. Seseorang sudah berada di sisinya, menemaninya.
Dari portal berita yang dia baca, kelihatannya Angkasa juga mencintai wanita itu.
Seharusnya dia bisa ikhlas. Bukankah dia yang meminta perceraian ini? tapi bagaimana dengan pertimbangan kalau dia meminta perceraian ini di saat ingatannya hilang? di saat dia tidak mengingat bahwa sesungguhnya dia benar-benar mencintai Angkasa?
Jika Angkasa bisa melupakan dirinya dan kembali menjadi berhubungan dengan seorang gadis, lantas kenapa dirinya masih menutup diri? Lantas kenapa dia tidak bisa move on dari perasaan terhadap Angkasa?
Oh, dia sungguh merindukan pria itu. Sumpah demi apa pun, Clara ingin sekali bertemu dengannya.
Tapi dia juga bingung jika semesta menghendaki mereka bertemu, apa yang harus dia katakan? Bukankah kini mereka adalah dua orang asing? Clara juga tidak mau menjadi pengganggu hubungan Angkasa dengan kekasihnya.
Bergumul dengan pemikirannya tiba-tiba ponsel Clara berbunyi. "Halo?"
Seseorang di seberang sana sedang memberitahukannya mengenai keadaan ayahnya yang saat ini sedang dalam keadaan kritis dan meminta Clara untuk segera kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Wajah Clara pucat, dia bingung harus bagaimana. Setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan Clara segera bergegas, malam itu juga dia harus kembali ke Jakarta.
"Papa, aku mohon, papa harus sembuh. Tunggu aku kembali."