Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 8


__ADS_3

"Kau tidak boleh melakukan hal itu. Kasihan Clara. Kalau kau tidak mencintainya, maka tinggal dia!" Ujar Tiara sedikit lebih tenang. Penjelasan Angkasa sedikit banyak membuatnya tenang. Hati pria itu masih ada untuknya. Hanya dirinya seorang.


"Aku akan melakukan apa saja yang buatku senang, tidak peduli dengan pendapat atau penderitaan orang lain. Sama halnya seperti yang kau lakukan padaku."


"Aku akan mengatakan pada Clara, kalau kau tidak punya perasaan apapun padanya. Kau hanya memanfaatkannya untuk menyakiti ku!"


Tiara berharap ancamnya akan membuat Angkasa takut dan mau melakukan apa yang dia minta, tapi ternyata pria itu justru tertawa terbahak-bahak. "Silakan. Aku tidak takut. Apa kau pikir dia akan mempercayaimu? Aku tidak takut kalau harus berpisah dengannya, justru aku takut dia akan kecewa padamu, bahkan lebih membencimu. Lalu, suamimu akan bilang apa kalau tahu aku adalah mantan kekasihmu?"


Wajah Tiara memucat. Dia kenal Angkasa yang dulu berhati lembut, tapi pria yang ada di hadapannya ini, dia tidak bisa menjamin kalau dia tidak akan melakukan hal gila itu.


"Kenapa kau lakukan ini, Kasa?" Air mata Tiara jatuh. Dia harus melakukannya. Dia tahu kalau air mata wanita adalah sumber kelemahannya.


"Hentikan tangis mu! Kau yang membuat aku mengambil jalan seperti ini. Kau yang buat aku jadi pria brengsek seperti ini! Apa kau lupa, yang jadi pembohong dan pengkhianat adalah dirimu? Malam itu aku memohon padamu, untuk menungguku. Tapi apa, kau malah menikahi pria tua itu. Apa yang kau inginkan, Tiara? Uang? Aku punya segalanya sekarang. Satu hal yang tidak kau tahu selama ini, ayahku jauh lebih kaya dari suamimu, dan aku adalah anak tunggal. Demi mendapatkanmu, aku yang sudah memutus hubungan dengan ayahku, kembali mendatanginya, memohon memberikan padaku perusahan dan kekayaan yang bisa aku berikan untukmu!"


Tiara terbelalak. Dia tidak menduga kalau Angkasa adalah anak orang kaya. Pantas saja dia bisa memiliki mobil semewah itu. Dia pikir pria itu hanya menyewanya demi menjerat Clara.


Selama ini yang dia ketahui, Angkasa adalah pria miskin, yang bekerja di bengkel. Mereka bertemu juga kala mobil sahabat Tiara masuk bengkel. Tiara yang saat itu bersama sahabatnya itu berkenalan dengan Angkasa yang memang sudah mulai tertarik sejak pandangan pertama.


Dua tahu berpacaran, memadu kasih, Tiara dan Angkasa sama-sama jatuh cinta. Tapi beberapa bulan terakhir, ayahnya mengatakan kalau bosnya berencana menikah lagi, dan menanyakan apakah ada wanita yang mau menikah dengan pria seumurannya, tentu saja ayah Tiara dengan sigap menawarkan anaknya pada Agus.


Awalnya Tiara memang menolak, tapi setelah diimingi-imingi ayahnya dengan segala kenikmatan duniawi yang bisa dia dapatkan dengan menikahi Agus, maka Tiara setuju.

__ADS_1


"Kasa, aku terpaksa. Ayahku memaksaku menikahi pak Agus."


"Harusnya kau bisa menolak kalau kau cinta padaku. Atau sebenarnya kau sama sekali tidak mencintaiku?"


Tiara mendekat. Menarik tangan Kasa, dan meletakkan di dadanya. "Selamanya jantung ini akan berdegup hanya untukmu."


Keduanya saling tatap. Tidak ada yang bisa menyangkal kabut cinta masih ada di mata Tiara. Angkasa yang juga sudah lama merindukan gadis itu, melupakan sakit hatinya untuk sesaat, dan segera mema*gut gadis itu. Mencium dan melu*mat bibir Tiara yang lembut. Ciuman panjang dan lama yang seolah jadi pembuktian kalau mereka sudah lama merindukan hal itu.


Tiara mendekatkan tubuhnya, melingkarkan lengannya di leher Angkasa agar lebih intens mencicipi rasa yang ditawarkan pria itu. Tiara sudah lupa statusnya kini yang sudah menjadi istri Agus.


Ini yang diinginkan Angkasa. Berhasil membawa gadis itu bersamanya kembali. Dia menang, tidak peduli dengan siapa yang sudah dia tumbalkan. Seraut wajah cantik yang dalam ingatan tersenyum padanya, lalu berubah murung saat menunggunya kembali di pesta malam itu, membuat Angkasa tiba-tiba menghentikan ciuman itu.


"Tinggalkan suamimu. Kita pergi dari sini," ucapnya terengah-engah, mengatur kembali napasnya.


"Kasa, dengarkan aku. Kasih aku waktu. Aku tidak mungkin meninggalkan Agus saat ini. Pria itu sedang sakit-sakitan dan ayahku juga akan marah besar padaku kalau sampai aku meninggalkan pria itu."


"Berapa yang ayahmu butuhkan, aku akan. Berikan!" Hardik Angkasa yang tidak ingin terlalu lama bermain dalam lingkaran setan ini. Dia juga tidak tahan harus bersandiwara di depan Clara yang begitu polos mencintainya sementara hati dan pikirannya berada pada wanita lain.


"Bukan masalah itu," ucap Tiara bohong. Dia hanya tidak mau rugi. Perkiraan dia, seperti yang disampaikan ayahnya, paling lama tiga atau empat bulan lagi, Agus akan mati direnggut penyakit kankernya. "Begini saja, kita masih bisa tetap berhubungan, dibelakang mereka. Nanti setelah waktu yang pas, aku akan minta cerai pada pak Agus, dan kita bisa menikah."


Angkasa ragu akan perkataan Tiara. Tapi dia juga tidak ingin membuat masalah baru. Tiara mau kembali padanya sudah menjadi tujuan rencananya dan itu sudah berhasil, jadi untuk apa dia harus persoalkan yang lain.

__ADS_1


"Satu bulan?"


"Iya, aku akan usahakan secepat itu," ucapnya mengecup sekilas bibir Angkasa.


"Tidak lebih. Dan aku ingin aku menjadi satu-satunya pria dalam dirimu. Aku tidak mau tahu, kau bisa menghindari pria itu, membuat berbagai alasan agar dia tidak menyentuhmu. Ingat Tiara, kalau sampai kau menipu ku, maka aku akan menikahi Clara, hingga kau menjadi ibu mertuaku. Kau tahu aku sungguh-sungguh."


"Iya, Sayang. Aku paham. Kita kembali, ya. Aku takut kalau pak Agus sudah pulang."


***


Agar tidak mencurigakan, Tiara yang lebih dulu pulang. Dia langsung masuk ke pintu samping, yang tembus ke kolam berenang. Sementara Angkasa seolah sedang menjelajahi taman di rumah itu, berjalan dengan santai.


"Mas Kasa dari mana aja?" Tanya Clara cemas. Dia pikir pria itu pulang, kala mendatangi ruang tamu, dan tidak mendapati Angkasa di sana.


"Aku berjalan-jalan di taman rumahmu. Ternyata tanah pekarangannya luas, ya?" Jawab Angkasa seraya tersenyum. Clara tanpa canggung sudah menggandeng lengan pria itu.


"Aku udah siap masak. Kita makan sekarang, yuk. Papa juga sudah pulang."


Suasana di ruang makan itu tampak menyeramkan bagi Tiara. Seolah sadar sudah berbuat dosa, Tiara hanya dia, takut menatap Agus apalagi kalau sampai melirik ke arah Angkasa. Berbeda dengan Angkasa yang santai, menikmati makan malamnya.


"Gimana masakan Clara? Ini sampai om terkejut anak gadis om bisa masak kayak gini. Baru pertama kali loh, ini. Kamu memang luar biasa Kasa, memberikan pengaruh positif bagi Clara," ucap Agus yang sejak awal pertemuan dengan Angkasa begitu hangat padanya.

__ADS_1


"Enak, Om. Sudah bisa dipinang dong, kalau begitu, Om."


__ADS_2