
Dua hari berlalu, tidak ada kabar dari Angkasa, Clara pun tidak berusaha mencarinya walau hatinya khawatir dan mencari keberadaan pria itu.
Tapi sore harinya, Clara tidak bisa tinggal diam lagi. Dia mandi, bersiap untuk pergi mencari suaminya itu.
Clara buru-buru pergi, sebelum ayahnya pulang. Agus benar-benar marah pada Angkasa dan tidak membiarkan Clara pergi menemui pria itu.
"Papa gak bisa gitu, dia suami aku, Pa. Dimana dia berada, di situ seharusnya aku berada," ucap Clara bersikeras mau pergi. Tapi hati Agus tetap membatu. Malah dia sudah berani mengancam Clara.
"Kalau kamu masih bersikeras, papa akan mengirimmu kembali ke luar negri!"
Clara gentar, hingga membatalkan niatnya untuk pergi kemarin. Ini semua tidak lepas dari pengaruh Tiara, yang menyiram bensin pada api amarah yang kini berkobar di hati Agus.
"Ini masalah harga diri keluarga, Angkasa sudah menghina kita dengan mendekati Clara hanya demi memuaskan dendamnya."
Semakin digosok Tiara, terlebih sembari menyodorkan tubuhnya, tentu saja Agus merasa semakin jatuh pada ucapan Tiara.
"Kamu mau kemana?" suara Tiara yang berasal dari belakang Clara menghentikan langkah gadis itu. Clara berbalik, menatap tidak peduli pada Tiara.
"Kenapa? Apa kini kau sudah punya hak melarang ku pergi?"
"Tergantung. Kalau kau ingin pergi menemui Angkasa, maka aku punya hak melarangmu. Aku ibu tirimu, istri ayahmu, jadi aku punya hak untuk mengontrol mu!"
Clara mendengus dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi begitu saja, tidak peduli dengan teriakan Tiara yang memintanya berhenti, bahkan mengancam akan melaporkan pada ayahnya.
__ADS_1
Clara sudah muak dengan ancaman dan keadaan di rumah itu. Mungkin dia juga marah pada Angkasa karena awal mendekatinya adalah justru ingin mendapatkan Tiara kembali, tapi melihat sikap cuek bahkan terkesan jijik yang ditunjukkan Angkasa pada Tiara, Clara percaya omongan pria itu kalau dia sudah tidak menyukai Tiara lagi.
Oke lah, mungkin Angkasa salah karena ingin merusak hubungan ayahnya dengan Tiara, tapi setiap orang berhak mendapat satu kesempatan lagi.
Taksi yang membawa Clara berhenti di depan post pengamanan. Clara masuk ke lobi apartemen, dan berbuat untuk naik ke lantai lima, tempat Angkasa berada.
"Selamat sore, Mba Clara, lama tida bertemu," sapa penjaga apartemen yang saat itu bertugas di lobi.
"Selamat sore, Pak. Ang... suami saya ada di atas?" tanya Clara ingin menyebutkan nama Angkasa di awal namun memilih untuk meneguhkan statusnya. Entah mengapa ada perasa senang sekaligus bangga kala dia menyebut Angkasa sebagai suaminya.
"Seperti bapak Ada. Bahkan sudah dua hari pak Mahesa tidak kelihatan."
Clara semakin panik, apa yang terjadi pada suaminya hingga berhari-hari tidak kelihatan?
"Saya ke atas dulu, Pak."
Berulang kali memencet bel, tapi pintu tetap tidak terbuka. "Bego, Clara bego, ngapain mencet bel, kan aku tahu passcode nya!" gerutunya mengomeli kebodohannya sendiri.
Setelah menekan beberapa angka, pintu apartemen itu terbuka. Clara masuk dan melihat ruangan itu tampak sepi, rapi seperti biasa karena memang setiap hari ada bibi yang beberes di apartemen itu.
Clara sudah memeriksa dapur dan ruang kerja Angkasa, pria itu tidak ada juga di sana. Clara masuk ke dalam kamarnya untuk meletakan tas, lalu bergegas ke kamar Angkasa.
Begitu pintu terbuka, Clara mendapati pria itu berbaring di sana, dalam keadaan tertidur terlentang.
__ADS_1
Penuh kepanikan Clara segera mendekat. Meletakkan tangannya di kening Angkasa, memeriksa suhu tubuh pria itu yang tepat seperti dugaannya, Angkasa demam.
"Mas... Bangun Mas..." Clara yang sudah duduk di samping ranjang, mencoba menggoyangkan tubuh Angkasa. Kala lengan Angkasa yang digoyangkan tidak bisa membangunkan pria itu, Clara mencoba menyentuh pipi Angkasa.
Sepertinya sentuhan lembut di pipi Angkasa membuat pria itu tersadar. "Cla, kamu datang? Aku sakit, Cla..." ucapnya menggenggam tangan Clara. Gadis itu tidak bisa membendung perasaan hangat di hatinya.
"Aku ke sini mau ngambil pakaian, papa minta aku pindah kuliah ke Sidney lagi," ucap Clara menggoda Angkasa. Amit-amit deh, mana mau dia pergi dari sisi pria itu. Saat menunggu di bawah rinai hujan, hati Clara sudah terbuka selebar lebar nya untuk pria itu. Tatapan pria itu tulus, mungkin Angkasa belum ada cinta di hatinya untuk Clara, tapi jelas Clara bisa lihat kalau Angkasa benar-benar tulus ingin bersamanya.
"Apa? Gak boleh, aku gak mengizinkannya!" sambar Angkasa mencoba duduk dengan susah payah. Dia bersusah untuk menarik kembali tangan gadis itu yang sempat dia tarik kembali.
"Kenapa gak boleh? Kalau papa udah kasih perintah mana ada yang bisa menolak."
"Kamu 'kan istri aku, Cla. Masa mau ninggalin aku. Tempat kamu itu di sisiku." Angkasa mengeratkan genggamannya, membawa tangan Clara ke jantung hatinya.
"Cla, aku tahu kalau awal kebersamaan kita dasarnya sudah salah, niatku tidak baik, aku akui, tapi itu dulu. Entah sejak kapan, kamu masuk dalam hatiku, yang jelas aku sudah gak bisa mengeluarkan mu dari sana."
Clara yang sejak tadi mendengar dengan mata saling menatap, kini jadi malu dan menunduk. "Tatap mataku, Cla. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku akan buktikan kalau aku serius padamu."
Tangan Angkasa mengangkat dagu Clara hingga wanita itu mengangkat wajahnya, tanpa kata, Angkasa menyatukan bibir mereka.
Lama dan penuh perasaan. Demam Angkasa seolah hilang, berganti dengan gembira dan suka cita di hatinya.
Malam itu Clara memutus untuk tidak pulang, memilih merawat suaminya dan mulai bicara hati ke hati. Dia yakin masih ada kesempatan buat mereka.
__ADS_1
"Istirahatlah," ucap Clara menyelimuti Angkasa yang sudah kenyang setelah menyantap bubur yang dibuat Clara, walau sedikit asin, tapi karena dibuat dengan kesungguhan hati yang tulus, Angkasa menghabiskan dalam sekejap.
"Kamu gak mau tidur di sini? Di rumahmu aja kita tidur satu ranjang," ucap Angkasa berharap Clara mau tetap tinggal.