
Whitney sudah tiba di parkiran restoran hotel tempat yang ditentukan Desta. Hari ini dia akan membantu Desta meyakinkan orang tuanya agar tidak menjodohkan Desta dengan pilihan mereka. Gugup, tentu saja ada, tapi Whitney sudah berjanji akan membantu pria itu. Jadi dia akan sebaik mungkin melakukan tugasnya.
"Aku udah sampai nih, kamu di mana?" tanya Whitney pada Desta melalui pesan whatsapp.
"Oke, tunggu aja di situ aku akan menjemputmu."
Lima menit berlalu, Desta tiba sembari mengulum tersenyum ke arah Whitney.
"Ada apa? Kenapa senyum melihatku? apa penampilanku aneh?" tanya Whitney yang merasa jadi tidak percaya diri.
"Kamu terlihat cantik," balasnya. "Cantik sekali, aku tersenyum karena baru menyadari bahwa kamu sangat cantik. Mungkin malam itu karena kita sama-sama mabuk jadi tidak menyadari kecantikan kamu," ucap Desta jujur.
Mendengar pujian Desta, Whitney hanya bisa tersenyum malu.
"Yuk, kita temui orang tuaku," ajak Desta. Keduanya pun masuk ke dalam restoran dan menemui sepasang suami istri yang menatap Whitney dengan mata penuh selidik yang ingin tahu apa benar wanita itu adalah kekasih anaknya atau hanya seseorang yang dia sewa untuk mengelakkan perjodohan yang mereka tentukan.
"Ayah, Ibu kenalkan ini Whitney, dia gadis yang baru aku kenal, tapi aku langsung jatuh cinta padanya pada pandangan pertama," ucap Desta memperkenalkan Whitney.
Gadis itu segera menyalami kedua orang tua Desta dan mengangguk hormat.
"Selamat siang, Om, Tante, terima kasih sudah mengundang saya," ucapnya hati-hati.
"Selamat siang, terima kasih kami ucapkan karena kamu mau datang memenuhi undangan kami," sahut Tomo tersenyum ramah, sementara ibunda Desta tampak hanya memberi senyuman sekilas.
Dari tatapan mata ibunya, Whitney sadar bahwa wanita itu tidak menyukai dirinya, padahal mereka baru saja bertemu.
__ADS_1
"Apa yang salah dalam diriku, kok ibunya menatap sinis? segitu nggak suka punya mantu kayak aku? aku juga nggak mau kali Bu sama anak ibu," batinnya.
Acara makan siang itu berlangsung dengan sedikit perbincangan mengenai kebenaran hubungan mereka karena kedua orang tua Desta benar-benar menginginkan anaknya cepat menikah.
"Jadi Om harap kalian bisa segera menikah walaupun mungkin baru mengenal tapi Kalau merasa sudah cocok nggak salah juga langsung serius ke jenjang pernikahan," ucap Om Tomo santai.
Whitney tidak menampik kalau sikap Tomo yang ramah membuat Whitney nyaman. Siapapun pasti betah punya mertua seperti Om Tomo. Tapi tidak dengan istrinya, wanita itu hanya sesekali menimpali ucapan suaminya, itu pun terkesan ingin menyudutkan Whitney.
Beruntung Desta selalu membelanya setiap wanita itu berusaha untuk menyudutkan Whitney.
"Tapi Yah, mereka masih terlalu cepat kalau memutuskan untuk menikah, kan baru juga kenalan," tutur Bu Sela, ibunda Desta yang tampaknya tidak setuju jika Desta memilihnya menjadi istri.
"Ya nggak papa toh Bu, kita juga dulu dijodohkan, buktinya sampai Desta seperti sekarang kita baik-baik saja, kan? jadi pernikahan itu bahagia atau tidaknya, langgeng atau tidaknya, bukan karena dijodohkan atau tidak tapi itu karena hati dan bisa saling menghargai," terang Tomo.
"Oh, saya nggak bekerja Tante, saya baru selesai kuliah jadi belum memikirkan pekerjaan," jawab Whitney terus terang.
"Baru selesai kuliah?" susulnya yang tidak ingin memberi Whitney celah untuk kabur.
"Tahun lalu sih, Tante selesai kuliahnya," jawab Whitney lemas. Dia semakin paham tujuan utama bu Sela adalah ingin menjatuhkannya di hadapan Desta, bermaksud membuka mata anaknya agar membatalkan keinginan putranya untuk menikahinya.
"Selesai kuliah tahun lalu tapi sampai sekarang belum dapat kerja, kok kayak nggak ada niat gitu ya?" sindir Ibu Sela
"Nggak boleh gitu, Bu, mungkin Whitney punya alasannya sendiri kenapa dia tidak bekerja, nanti juga kalau sudah timbul keinginan pasti cari kesibukan yang lain benarkan, Nak Whitney?" ucapan Tomo melihat ke arah Whitney.
"Bukan gitu, Yah, dia 'kan mau jadi istrinya Desta, dia tahu sendiri kalau anak kita seorang dokter, dokter bedah saraf lagi artinya pesta 'kan seharusnya punya istri yang bisa mengimbanginya, bukan hanya menjadi ibu rumah tangga biasa yang hanya menunggu suami ngasih uang. Kalau mama masih berharap Desta menikah dengan gadis satu profesi dengan dia."
__ADS_1
"Ibu nggak boleh gitu, yang menjalani rumah tangga itu 'kan aku, Bu, jadi aku yang memutuskan istriku itu ibu rumah tangga atau seorang pekerja. Aku lebih suka kalau istriku di rumah mengurusiku dan anak-anakku, itulah sebabnya aku memilih Whitney karena selain aku jatuh cinta padanya dia juga adalah tipe wanita impianku!"
Setelah melewati reli panjang, akhirnya pertemuan berkedok makan siang itu pun selesai. Desta pamit untuk mengantarkan Whitney pulang.
"Kayaknya ayah ibumu nggak setuju deh sama aku. Maaf ya, nggak bisa membantumu, jadi kamu siap-siap aja dijodohin," ujar Whitney tertawa sarkas, padahal Desta tahu kalau wanita itu juga sakit hati kepada ibunya karena sudah mempermalukan dirinya. Sikap tidak suka ibunya terlalu terang-terangan ditunjukkan di hadapan mereka. Mana ada sih wanita yang sanggup menahan rasa malu terlebih jika dipermalukan di depan calon mertua.
"Aku yang harusnya minta maaf. Maaf ya, mungkin ibuku sudah membuat kamu sakit hati," ucap Desta memahami perasaan Whitney, gadis itu hanya hanya mengangguk.
"Lantas kapan kita akan bertemu dengan kedua orang tuamu?" lanjut Desta ingin tahu kapan aksinya untuk membalas kebaikan Whitney hari ini.
"Aku sudah nggak punya ibu tinggal, Ayah. Nanti aku kabarin. Aku turun di sini aja ya, aku mau pergi ketemu dengan teman," ucap Whitey meminta Desta menurunkannya di tengah jalan
"Mau pergi ke mana? Biar aku antar," tawar Desta, dia tidak mungkin menurunkan Whitney di tengah jalan seperti ini sementara gadis itu tadi sudah membantunya.
"Nggak usah, Des aku turun di sini aja, nanti aku akan naik taksi. Udah kamu pergi aja kalau mau kerja," balas Whitney.
Walau sudah berulang kali membujuk tapi Whitney tetap menolak, dia memilih untuk tetap turun, akhirnya Desta menuruti kemauan gadis itu dan menurunkannya tepat di depan jalan Sudirman.
Sebenarnya Whitney bohong, dia tidak janjian dengan temannya bahkan dia juga tidak punya teman dia adalah gadis yang paling kesepian di dunia ini. Mungkin teman ada tapi bukan teman dekat yang bisa jadi tempat dia ceritakan mengenai masalah pribadinya.
Whitney memilih turun di situ karena perasaannya sedang tidak enak campur aduk karena ucapan Ibunda Desta.
Tamat kuliah, karena ingin fokus mendapatkan Angkasa Whitney tidak memikirkan masa depannya, tidak peduli dia bekerja atau tidak.
Selama ini ayahnya juga tidak memaksanya bekerja, bahkan ayahnya memberikan bulanan lebih daripada cukup untuk dia habiskan tapi setelah mendengar perkataan bu Sela, hati Whitney terbuka untuk memikirkan masa depannya. Dia merasa dianggap tidak mampu dan tidak berguna. Perasaannya hancur, dia sudah gagal mendapatkan Angkasa, kini ditambah lagi orang menganggapnya rendah dan tidak ada semangat untuk maju.
__ADS_1