
Clara terbangun karena dering ponselnya yang berulang kali memanggil. Dengan mata masih terpejam, dia meraba kasur di sampingnya.
"Halo?"
"Non, tuan besar masuk rumah sakit Charity. Non segera ke sana ya, bibi khawatir, Non," ucap Bi Inem dengan kekhawatiran yang terdengar jelas.
Dunia Clara seketika terguncang, rasa paniknya mulai menguasai hingga bingung harus bagaimana. Diliriknya jam di nakas, pukul lima pagi.
"Apa yang buat papa masuk rumah sakit subuh-subuh begini?" gumamnya segera mengikat rambut, mencuci muka dan menyikat giginya.
10 menit kemudian Clara sudah keluar dari kamar menuju pintu. Gerakannya yang berisik membuat Angkasa yang tidur ayam di kamarnya ikut terbangun.
"Kamu mau kemana subuh-subuh begini?"
"Mau ke rumah sakit. Papa masuk rumah sakit," ucapnya panik, diantara memakai sepatu atau memesan taksi online lebih dulu.
"Tunggu aku ikut." Angkasa bergegas menuju kamarnya hingga Clara menutup aplikasi taksi online di ponselnya.
"Menurutmu papa kenapa, ya?" Kepanikan membuat Clara tanpa sadar mengajak Angkasa bicara. Dia benar-benar butuh orang yang bisa menenangkannya.
"Papa pasti baik-baik saja. Kamu jangan panik dulu," jawab Angkasa bisa memahami kegelisahan istrinya.
Di lorong ruangan tempat Agus diperiksakan, Tiara sudah menunggu dengan gelisah. Jejak air mata masih jelas terlihat di pipinya.
__ADS_1
"Papa kenapa? Apa yang terjadi pada papa?" Bentak Clara penuh amarah. Di perjalanan tadi entah mengapa dia berinisiatif menghubungi bi Inem kembali, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Inem yang mendengar dengan jelas pertengkaran mereka menceritakan semuanya pada Clara.
Emosinya memuncak mengetahui kalau Tiara menuntut cerai. Dia mengakui kalau dirinya tidak mencintai Agus, dan memohon untuk segera menceraikannya.
"Apa yang sudah kau katakan pada ayahku?"
"Memangnya apa yang aku katakan? Aku tidak mengatakan apapun. Kami hanya bicara dan tiba-tiba saja mas Agus jatuh pingsan."
"Apa kau pikir aku gak tahu? Apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau meminta cerai pada ayahku?"
"Itu hakku. Aku rasa gak ada yang salah dengan hal itu, kenapa kau yang keberatan?"
Clara menatap benci pada Tiara. Entah apa yang dipikirkan wanita itu tapi dia sungguh membenci Tiara. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada papa, aku gak akan melepaskanmu!"
"Kamu ngapain ikutin aku, pergi sama. Kamu sama aja dengan wanita itu!"
"Kenapa marah samaku?" Angkasa menaikan dua alisnya, merasa geli karena ikut kena damprat.
Clara menatap tajam ke arah Angkasa. Satu kesimpulan muncul di benaknya, lalu mendekat ke depan pria itu. "Apa yang kalian rencana? Apa kau yang menyuruh Tiara menceraikan papaku, agar kalian bisa bersama lagi? Kau busuk! Kau bede*bah! Kau breng*sek!" makinya setengah menjerit, hingga beberapa pengunjung melihat ke arah mereka dengan tatapan ingin tahu.
"Pelankan suaramu, ini rumah sakit! Kenapa sih pikiranmu begitu buruk terhadapku! Berapa kali harus aku katakan, aku memang salah, wajar karena kesalahanku di masa lalu kau meragukanku, tapi aku mohon, cobalah sedikit saja memberi kepercayaan padaku? Bagaimana caraku agar kau percaya, aku tidak akan pernah kembali pada wanita itu, meskipun aku tidak menikah dengan mu!"
__ADS_1
Clara terdiam. Tubuhnya merosot ke lantai. Duduk dengan memeluk kakinya, menutup wajah dengan dengkulnya yang merapat ke dadanya.
Angkasa duduk melantai di samping Clara. Memberikan waktu pada gadis itu menenangkan dirinya. "Selama kau menjadi istriku, aku akan tetap setiap padamu. Mungkin bagimu ini adalah pernikahan bohongan, tapi walau begitu aku akan menganggapnya sakral."
Angkasa membawa Clara kembali ke koridor itu. Saat tiba di sana, Tiara sudah bersama seorang pria paruh baya yang ditebaknya adalah ayahnya. Seingat Clara, pria itu pernah datang ke rumahnya dan dikenalnya sebagai karyawan ayahnya.
"Clara, Om turut sedih ya, atas apa yang menimpa pak Agus. Semoga beliau segera sembuh."
Clara tidak menjawab, hanya mengangguk dan mengambil tempat yang jauh dari mereka. Tidak berselang lama, dokter yang sejak tadi memeriksa ayahnya muncul dari ruangan.
"Dokter, bagaimana keadaan papa saya?"
"Tuan Agus sudah membaik, tapi penyakit jantungnya kambuh hingga membuatnya daya tahan tubuhnya menurun. Beliau belum sadarkan diri, tapi masa kritisnya sudah lewat."
Clara memejamkan mata, bersyukur pada sang Pencipta karena sudah menyelamatkan ayahnya. "Apa selain serangan jantung, papa punya riwayat sakit yang lain, Dok?"
"Kita lihat nanti, kami harus menunggu sampai pasien sadar, baru bisa memeriksa kembali."
Setelah menerangkan hal itu, dokter itu pun berlalu. Setelah dipindahkan ke ranjang ruangan rawat inap, Clara diperbolehkan masuk. Lama dia pandangi wajah ayahnya. Bulir air mata kembali jatuh.
"Cla, jangan nangis lagi, nanti kamu sakit. Papa pasti akan baik-baik saja," ucap Angkasa merangkul pundak Clara yang masih berdiri mengamati ayahnya yang masih terpejam.
Melihat hal itu kebencian dan amarah Tiara muncul. Dia tidak akan terima kalau sekarang Angkasa justru mendekatkan diri pada Clara.
__ADS_1
"Kasa, aku begitu haus dan lelah, bolehkan aku meminta tolong menemaniku membeli minuman? Biarkan Clara yang berada di samping ayahnya, aku percaya kedekatan mereka akan membuat mas Agus segera sadar."
"Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan istriku!