Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 39


__ADS_3

Tiara menghubungi Angkasa setelah dia berada dalam taksi dengan dua koper penuh dengan pakaian dan juga perhiasan yang selama ini dia dapat dari Agus.


Tapi hingga panggilan kelima, Angkasa masih tidak mengangkat teleponnya juga. Malah yang masuk adalah panggilan dari Burhan, ayahnya.


Tiara tahu untuk apa ayahnya itu menghubunginya, jadi dia memilih untuk mengabaikan saja. Dia belum siap perang mulut dengan ayahnya itu.


Setelah diulang berapa kali pun, Angkasa tetap tidak mengangkat teleponnya. Tiara yang mulai takut terpaksa mengamankan barangnya juga disalah satu hotel mewah di bilangan Jakarta Selatan.


Baru setelah mandi dan berganti pakaian, Angkasa yang melihat panggilan itu mengangkat teleponnya.


"Ada apa, Ra?" tanyanya datar. Dia tidak ingin mengangkat panggilan dari wanita itu, tapi demi memuluskan rencananya, dia terpaksa menjawab juga.


"Kenapa lama benar sih ngangkat telepon ku? Kamu gak berusaha menghindari aku, kan? Kamu gak mempermainkan aku, kan?"


"Kenapa sih kamu mikir begitu? Aku tadi lagi banyak kerjaan, jadi gak pegang hape, ini baru siap mandi. Ada apa?"


Tiara akhirnya bisa bernapas lega. Dia pikir kekasihnya itu akan membohongi dirinya setelah ditalak tiga oleh Agus, gak lucu 'kan kalau dia pun tidak jadi mendapatkan Angkasa.


"Aku cuma mau bilang, aku udah ditalak tiga oleh mas Agus. Kini kita sudah bisa bersatu. Jemput aku ya, Sa. Aku ada di hotel The Luna."


Diam sesaat tidak ada balasan dari Angkasa. Dia hanya tersenyum simpul. Ikan sudah memakan umpannya. Kini terserah dia, mau digoreng atau malah diracun ikan itu.


"Jemput? mau kemana?"


"Ya, tinggal bareng kamu lah."


"Aduh, gak bisa dong. Kita belum nikah, lagi pula kamu kan belum resmi cerai."


Tiara tersenyum. Inilah keuntungan yang dia miliki, dengan hanya menikah sirih dengan Agus, untuk memutuskan pernikahan itu cukup dengan kata talak saja, karena toh pernikahan mereka tidak didaftarkan di pengadilan agama.


"Tenang aja, Sayang. Aku akan nikah sirih jadi kata talak dari mas Agus sudah mewakili segalanya untuk memutuskan hubungan kami."


Kini Angkasa yang berganti tersenyum. Dia tidak menyangka akan segampang ini membereskan siluman rubah ini.

__ADS_1


"Eh, tapi... tunggu dulu, kita tetap gak bisa menikah resmi dong, kamu 'kan harus cerai dengan Clara dulu, kalian nikah sah dicatat di pengadilan agama, kan?"


Itu dia yang menjadi tameng Angkasa nantinya. Dia akan mengulur mencari alasan kalau tidak bisa menikahi Tiara saat ini karena harus bercerai dulu, dan mengurus perceraian itu butuh waktu lama, lagi pula saat ini keadaan Clara yang tidak ingat apapun tidak memungkinkan melayangkan surat cerai padanya.


"Iya, aku akan urus. Aku mau tahu, bagaimana bisa dalam tempo sesingkat ini papa, maksudku pak Agus menceraikanmu?" Angkasa duduk di tepi tempat tidur. Dia ingin dengan nyaman mendengar semuanya.


"Awalnya dia gak mau menceraikanku, terpaksa aku mengatakan kebohongan yang dulu."


"Maksudnya?" sambar Angkasa yang semakin penasaran. Kalau dibawa masalah yang lalu, tebakannya ini berkaitan dengannya.


"Iya, aku bilang aja kalau kehamilan aku dulu itu adalah anak kamu."


Ponsel Angkasa merosot begitu saja di dadanya, terkejut atas ucapan Tiara. Gila, wanita itu mengatakan hal mengerikan itu pada Agus? Mungkin dengan begitu pria itu menceraikan istrinya, tapi sudah pasti akan semakin membenci Angkasa.


Bagaimana nanti dia bisa membersihkan nama baiknya pada pria itu? Ini namanya boomerang untuk nya.


"Astaga, Tiara, kenapa kamu mengatakan kebohongan sebesar itu?" ucap Angkasa panik. Menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Brengsek, itu memang yang aku inginkan, tapi gak juga gara-gara itu nama baikku di hadapan Om Agus makin buruk!


"Oh, iya, Sa. Ini yang dinamakan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Saat aku mengatakan hal itu, Clara masuk dan mendengar semuanya."


Duar!


Hancur sudah dunia Angkasa. Hal yang paling dia jaga, dia takutkan kini justru terjadi. "Clara mendengar semuanya?" tanyanya terbata, lalu mulai membersihkan tenggorokannya dengan deheman.


"Iya, kenapa? Apa kamu tidak suka dia tahu? Apa kamu masih peduli dengan perasaannya?" selidik Tiara. Dia tidak akan memberikan celah bagi Angkasa untuk mundur.


"Oh, gak. Itu gak mungkin. Hanya saja... sudahlah. Besok kita bertemu, kamu istirahat, ya."


***


Dua jam berpikir keras, ditemani minuman yang setiap mengalir ke tubuhnya seraya membakar tenggorokannya.

__ADS_1


Memikirkan langkah selanjutnya. Sejauh ini masalah Tiara yang harus disingkirkan dari keluarga Clara sudah tercapai.


Kini yang harus dia pikirkan justru cara menghadapi Clara. Wanita itu pasti sangat marah padanya karena mendengar semua perkataan Tiara.


"Aku harus menemui Clara besok. Aku harus menjelaskan semuanya, mengatakan padanya kalau ini semua hanya sandiwara," ucapnya bermonolog.


Sebelum pergi tidur, walau dia sendiri tidak yakin bisa terlelap, Angkasa menghubungi anak buahnya, mencari tahu kegiatan serta keberadaan Clara.


Angkasa juga akan mengirimkan fotonya di pesawat pada Tiara, agar dia percaya kalau dirinya melakukan perjalanan ke luar kota, hingga bisa leluasa menemui Clara.


"Tapi kalau Clara besok gak mau ketemu aku?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri.


Angkasa akan menggunakan segala cara yang penting wanita itu mau mendengarkan penjelasannya terlebih dulu. Bila perlu, dia akan menculik Clara.


Ah, memikirkan gadis itu, kembali rasa rindu itu muncul. Hatinya kini benar-benar yakin kalau dia sudah jatuh cinta pada wanita itu. Dia harus bersabar untuk bisa bersama wanita itu lagi.


Membayangkan jemarinya bermain di atas kulit lembut Clara membuat Angkasa yang sudah lama tidak mendapatkan pelepasannya bergidik, tubuhnya meremang dah terasa aliran darahnya memanas.


Sialnya, semakin lama bayangan Clara yang meliuk di bawah tubuhnya semakin memenuhi otaknya. Entah sampai kapan dia sanggup menanggung semua ini, berjauhan dengan istrinya.


Tidak punya pilihan lain, Angkasa memilih untuk bermain dengan Clara walau hanya sebatas khayalan saja. Dia masuk ke kamar mandi, membuka foto Clara yang banyak di ponselnya, lalu mulai olahraga lima jari.


Tubuhnya kini terasa ringan setelah melepaskan hasratnya. Direbahkan tubuhnya di ranjang, dengan memeluk bayangan Clara di ingatannya.


***


Setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya yang mengatakan Clara ada kuliah hari itu hingga pukul tiga sore, Angkasa bergegas bergerak menuju kampus.


Tidak lupa sebelum ke sana, dia singgah untuk sekedar berfoto bahkan melakukan panggilan video dengan Tiara.


Rizal sampai geleng kepala, sahabatnya itu rela membeli tiket hanya untuk bisa berfoto di dalam pesawat.


"Clara, aku ingin bicara denganmu!"

__ADS_1


__ADS_2