Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 29


__ADS_3

Clara mengamati Angkasa yang sudah tertidur pulas di sofa yang ada di samping ranjangnya. Napas pria itu tampak teratur yang artinya sudah masuk dalam dunia mimpinya.


Raut wajahnya tampak kelelahan, yang membuat Clara tidak lagi mendebatnya saat keluar dari kamar mandi.


Tiba-tiba Angkasa bergerak dan wajahnya tampak merengut karena tidurnya yang tak nyaman.


Dengan tubuh setinggi itu tentu saja Angkasa pasti kesakitan harus menghabiskan malamnya selama beberapa hari ke depan dengan tidur di sofa.


Clara menimbang dalam hati, apa sebaiknya dia meminta Angkasa untuk tidur bersamanya di ranjang ini.


"Dia gak mungkin macam-macam. Tapi kalau pun macam-macam, bukankah kami sudah pernah melakukan itu?" gumamnya pelan.


Setelah memantapkan dalam hati, Clara mendekati Angkasa.


"Bangun... Hei... bangun!" serunya menggoyangkan tubuh Angkasa. Pria itu hanya menggeliatkan tubuhnya, merasa kesal karena tidurnya terganggu.


"Bangun, Mas. Pindah ke tempat tidur, sana."


Angkasa tidak bergerak, bak mayat yang tidak menginginkan apapun selain tidur. Saking kesalnya, Clara mencubit pinggang pria itu hingga mengaduh kesakitan.


"Sakit, Cla. Ada apa sih?" ucapnya menghapus bekas cubitan Clara dengan mata masih terpejam.


"Pindah. Tidur di ranjang aja."


"Gak usah. Biar aku aja di sini, nanti kalau kami tidur di sini, badan kamu bisa sakit semua."


"Dih, siapa juga yang mau tidur di sini. Kita tidur bareng aja di sana, tapi pakai pembatas."


Angkasa menatap wajah Clara. Kini ngantuknya hilang. "Kamu serius?"


Clara mengangguk, lalu karena malu buru-buru beranjak ke ranjang. Dia sudah membuat pembatas dengan menyusun bantal yang banyak di antara mereka.

__ADS_1


"Jangan macem-macem, jangan melewati batas ini!"


***


Angkasa sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Memilih pakainya yang masih berada di dalam koper yang tadi malam dia bawa.


Dengan langkah gontai berjalan keluar kamar menuju ruang makan, tapi di tengah jalan langkahnya dihambat oleh Tiara, yang menarik paksa tangan Angkasa menuju ruang samping yang tembus ke kolam berenang.


"Lepaskan! mau kamu apa sih?!" Angkasa menarik tangannya, menatap marah pada Tiara.


Tapi tidak malunya, wanita itu justru mengalungkan tangannya ke leher Angkasa. "Kasa, aku merindukanmu. Kita check in, yuk," ucapnya tanpa merasa bersalah.


"Dasar wanita gila! Pergi saja kau ke neraka!"


"Kesabaranku ada batasnya, Kasa. Kau tahu kan kalau Agus sangat menyayangiku, kalau sampai aku memintanya bercerai, dia pasti akan jatuh sakit. Dan kalau sampai itu terjadi, istri cantikmu yang akan bersedih. Oh, atau bagaimana kalau sampai dia tahu kita adalah mantan kekasih? Kau bisa bayangkan apa reaksinya? Dia akan meminta anaknya bercerai denganmu!"


Tawa Tiara menggema, dia senang kala melihat ada sedikit raut ketakutan di wajah Angkasa.


Entah sejak kapan mulanya, tapi ada yang aneh pada hatinya. Sejak mengucapkan janji suci pernikahan mereka, Angkasa merasa bertanggung jawab atas diri Clara, dan lebih lagi saat mereka sudah berbagi rasa malam itu, Angkasa tidak bisa jauh dari Clara.


Bahkan di kantor, wajah, senyum, bibir dan de*sahan gadis itu selalu bersarang dalam pikirannya. Dia tidak mungkin mau melepaskan Clara lagi. Mungkin terlalu dini untuk mengatakan kalau dia sudah jatuh cinta pada gadis itu.


"Jangan gila, kau Tiara. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku sudah menikah dengan Clara, selamanya hanya ada dia dalam hidupku."


"Gak usah bohong di hadapanku. Aku tahu kau tidak mencintainya, ini hanya peran yang saling menguntungkan diantara kalian. Kau menikahinya demi membuat ibumu senang, dan dia menikahimu untuk membuat aku tidak kembali padamu."


Angkasa tidak ingin mendebat Tiara, tidak ada gunanya dan dia juga tidak ingin peduli pada wanita itu. Angkasa membuka pintu samping dan saat itu Clara sudah berdiri di hadapannya, menatap tajam padanya. Sialnya Tiara dengan sengaja ikut keluar dan tepat di belakang Angkasa.


Hati Clara serasa diremas. Tatapan kekecewaan terpancar jelas di matanya. Dia benci pada Angkasa, yang ternyata omongannya tidak bisa dipercaya. Matanya bergantian menatap Angkasa lalu Tiara.


"Cla, ada apa?" Tanya Tiara merasa tidak bersalah.

__ADS_1


"Oh... gak. Gak ada apa-apa, kok," jawabnya setelah bisa mengendalikan diri. Lalu menoleh pada Angkasa dengan perasaan yang ditekan sekuat mungkin agar tidak memaki pria itu. "Ini, aku siapkan bekal makan siang untukmu."


Angkasa menerima tempat makanan itu, menatap punggung Clara yang sudah menjauh. "Duh, ada yang terluka, nih. Gimana itu ya, apa yang saat ini ada di pikiran gadis itu, ya?" ucap Tiara memanas-manasi Angkasa.


"Dasar wanita gila!" umpatnya seraya pergi mengejar Clara. Tapi gadis itu tidak ada di dapur, sehingga dia mencari di kamar mereka.


Suara gemericik air membawa Angkasa mendekat ke arah kamar mandi. "Cla, kamu di dalam? Bisa kita bicara? Aku mau jelaskan."


Tidak ada sahutan, hanya suara air yang mengalir. "Cla, kamu keluar sebentar, dong. Aku jadi gak tenang kalau begini."


Masih tetap tidak ada tanggapan, Angkasa benar-benar putus asa kini. Dia mengutuk kebodohannya karena begitu gampangnya masuk dalam perangkap Tiara.


"Kalau kamu gak mau buka, ya udah. Aku pergi kerja dulu, ya. Nanti malam kita bicarakan lagi."


Setelah meyakini kalau Angkasa sudah pergi, barulah Clara keluar dari kamar mandi. Tangisnya pecah di atas ranjang. Dia sendiri tidak tahu mengapa menangis, bukankah dia tidak peduli pada Angkasa, lalu mengapa terasa sakit mengetahui mereka sedang berduaan. Mana yang katanya Angkasa akan setia, yang tidak sudi kembali lagi pada Tiara?


"Dasar baji*ngan!" umpatnya dengan berurai air mata.


***


"Wajah lo suntuk kenapa lagi, sih?" tanya Vera yang sudah duduk di hadapannya, membawa dua gelas teh manis dingin.


"Gue kesal banget sama Angkasa. Coba aja lo pikir, gue ngegab mereka berduaan di area kolam renang," terangnya mengaduk-aduk es teh nya dengan sedotan plastik berwarna putih.


"Emang mereka lagi ngapain?"


"Gak ngapain sih, udah usai. Kali udah kelar berbuat mesum."


"Lo yakin mereka berbuat mesum? Kenapa ya, dari cerita Bian sama gue, pas lo di desa kemarin, Angkasa begitu perhatiannya sama lo, malah ya dia bilang pria itu bucin banget sama lo. Apa lo gak pernah berpikir, bisa aja ini trik Tiara untuk menjebak Angkasa, biar lo benci sama suami lo dan dia mulai mendekati Angkasa lagi."


Clara diam sejenak. Dari wajahnya Angkasa saat keluar dari pintu itu, terlihat sangat marah lalu berubah terkejut saat melihatnya. Kalau memang Angkasa menemui Tiara diam-diam, untuk apa dia sampai mencarinya ke kamar, memintanya keluar agar dia bisa menjelaskan masalahnya?

__ADS_1


"Apa iya, gue harus mendengarkan penjelasan dia ntar malam?"


__ADS_2